Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Bukan Sekolah Keputrian


__ADS_3

Pengurusan pindah sekolah tidak lama, yang lama menunggu kepala sekolah yang akan meneken buku rapor. Firdaus juga pernah dengar, Djusan namanya. Bapak itulah yang bersikeras dan merintis berdirinya Sekolah Menengah Pertama di kampungnya, sekolah yang akan ditinggalkannya. Bapak itulah yang sekarang ditemui ayahnya.


Konon ceritanya, yang ia dengar dari mulut ke telinga uni-uni dan uda-uda kakak kelasnya, berawal dari suatu peristiwa yang cukup menggemparkan. kepala sekolah yang orang kampungnya itu didemo oleh warga sekitar yang anaknya tidak diterima, seperti masalah membawa berkah, berkah buat anak nagari terutama.


Setelah surat didapat, anak dan ayah itu terus ke kota kabupaten, kota Batusangkar. Ada dua buah sekolah negeri yang telah didatangi, tapi kedua-duanya menolak dengan alasan sekolah penuh. Barulah di SKKP, sekolah ketiga yang mereka datangi, mereka diterima, Alhamdulillah.


"Sekolah Kita bukan sekolah keputrian lagi, Pak! Tetapi sudah dilebur menjadi sekolah umum, sekarang hanya tinggal kelas dua dan kelas tiga! Bapak tidak perlu khawatir, kelas satu sekarang dua lokal, itu sama banyak yang laki dan perempuan... " jelas Bu Kepala Sekolah melihat keraguan ayahnya.


"Dan Kamu besok boleh masuk, seragam sekolah kita baju putih dan celana putih, kecuali hari Sabtu pakaian pramuka lengkap! Kita sekolah siang sampai semester genap ini berakhir. Kamu paham? "


"Paham Buk. " jawab Firdaus sambil mengangguk.


Selesai pengurusan sekolah, Ayahnya mengajak Firdaus singgah di toko kain Andung Nureka pemilik rumah tempat Miati tinggal, sebelum Miati melanjutkan sekolahnya ke kota lain.


"Jadi namamu Firdaus? "

__ADS_1


"Iya Nek... "


"Jangan panggil Nenek, panggil Andung saja, sama seperti kakakmu Miati."


"Iya.... Andung... "


"Nah begitu labih baik. Daus tinggal di rumah Andung saja dulu sebelum Daus dapat rumah. Kebetulan kamar yang ditempati kakakmu masih kosong sampai sekarang."


"Alhamdulillah, untuk sementara Kamu dapat tinggal di rumah Andung, disamping itu Kamu harus berusaha mencari tempat kost, Ayah sarankan yang dekat masjid, dan ada teman satu sekolah... Kan begitu lebih baik Andung? " Angku Rustam berkata panjang lebar.


"Begitu lebih baik...Pak Guru, Nanti Andung bantu.. Mudah mudahan dapat.. Kapan mau masuk sekolah? " tanya Andung kemudian.


"Nanti Andung suruh Marzuki cucu Andung membersihkan kamarnya. Sekarang dia belum pulang sekolah. Marzuki sekolah agama... Dia bisa jadi teman Daus.. " lanjut Andung kemudian.


"Oh ya, peti kakakmu masih ada, masih disimpan di kamar itu, sekalian sama kompornya, kamu boleh periksa sekarang kalau gemboknya ada... Daus bisa pakai itu semua nanti... "

__ADS_1


"Besok saja Andung, sudah hampir sore, takut nanti tidak ada tumpangan pulang ke kampung. "


"Baiklah Pak Guru.... Nak Daus.. "


"Kami pamit, Assalamualaikum.. "


"Waalaikum salam... "


Mereka meninggalkan Toko kain Andung Nureka.Dari toko kain Andung Nureka mereka keluar ke jalan raya yang membelah pasar Batusangkar, belok kanan, di rumah makan Selamat mereka berhenti, mengisi kampung tengah, makan. Setelah makan wajah Firdaus yang tadi kuyu tak bersemangat kembali berseri seri. Setelah makan mereka kembali berjalan arah ke panggung, sebelum simpang rumah sakit mereka berhenti dan berdiri di depan SD sebuah bengkel sepeda, nasib lagi mujur, di simpang Bioskop Karia mereka ketemu mobil ABS Mak Asai yang baru dari bengkel. Dengan mobil itu mereka pulang.


*


Terima kasih telah hadir dan


Jangan lupa like dan komennya

__ADS_1


Para sahabat sekalian...


Biar semangat Author kembali bangkit kayak semula....


__ADS_2