Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Saat Terakhir


__ADS_3

MURID-MURID berbaris teratur sesuai dengan kelasnya masing-masing. Halaman sekolah yang tidak begitu luas jadi penuh sesak. Pagi ini bukan waktunya upacara bendara, tetapi upacara penutupan semester ganjil dan penerimaan rapor hasil belajar satu semester.


Dalimi membuka acara, dengan serius murid-murid mendengarkan.


Suaranya khas, enak didengar, ia sering menjadi pembawa acara di acara-acara yang diadakan oleh pemerintah nagari, atau acara MTQ di masjid atau acara lainnya.


   


"...anak-anak kami sekalian, alhamdulillah kita telah menyelesaikan kegiatan kita satu smester ini, sebentar lagi kalian akan menerima hasil kerja kalian tersebut. Yang perlu Bapak garis bawahi, kalian harus lebih meningkatkan semangat dan cara belajar kalian, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Janganlah sarana yang kita jadikan alasan untuk sebuah keberhasilan ataupun kegagalan, sarana hanya sebuah alat untuk membantu kita mendapatkan hasil yang lebih baik dengan usaha yang maksimal tentunya.... bagi anak-anak kami yang telah berhasil menjadi pemuncak-pemuncak pada semester ini kami ucapkan selamat dan pertahankanlah apa yang telah diraihkemudian kepada anak-anak kami yang belum berhasil mendapatkan yang terbaik, mari untuk hari-hari selanjutnya lebih kita lebih giat, lebih rajin sehingga mendapatkan yang terbaik pula...."


      


Dalimi berhenti sebentar mengambil nafas sebelum kembali melanjutkan.


      


"...pemuncak-pemuncaknya akan kita panggil ke depan, silahkan nanti yang namanya disebut berdiri di depan majelis guru dan menghadap pada teman-teman kalian....!"


"Dan bagi kalian yang belum bisa menjadi yang terbaik, tingkatkan cara belajar selama ini, mungkin hanya separuh hati, atau setengah hati, atau sering main, atau tidak serius... Maka robahlah cara itu!


      


Selanjutnya ia mulai membacakan dan memanggil  juara-juara mulai dari kelas satu sampai kelas tiga,


".... INILAH pemuncak-pemuncak kita, kemudian sebagai juara umum jatuh pada kelas satu...A, yaitu Firdaus !!....! Kepada seluruh pemuncak kami ucapkan selamat! Nah, anak anak sekalian, setelah bubar nanti, masuklah lokal masing masing bergantian dengan kelas dua dan kelas tiga,  dimulai dari kelas terendah, kelas satu!! untuk mendapatkan rapor masing-masing!..!! Selebihnya tunggu di luar dulu."


Firdaus begitu bersemangat, ia berdiri dengan gagah berani. Dari tempat ia berdiri ia berusaha mencari-cari dimana Eda berada. Tidak terlalu sulit, akhirnya ia menemukan. Gadis itu mamandang dan tersenyum padanya.


Firdaus senang karena anak perempuan itu sudah benar-benar pulih dari demamnya. Firdaus sempat meraba keningnya kemaren, terasa agak panas. Firdaus menyarankan agar minta obat saja pada buk bidan Nelly, saran itu diterima Eda. Dengan ditemani Dekon mereka pergi ke BKIA yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari rumahnya. Sekarang lagi musim demam panas tinggi, kalau tidak ditangani dengan cepat ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti si Karim dan si Kadir. Kedua anak lelaki itu berakhir dengan kematian.


Sedang khusuknya melaksanakan upacara penutupan semester ganjil tiba-tiba di barisan depan kelas satu terjadi kegaduhan. Beberapa murid perempuan berhamburan pada satu titik, salah seorang murid tiba-tiba jatuh tersungkur. Untung teman yang berdiri dibelakangnya dengan sigap dapat menangkap tubuh lemas itu. Walau dapat ditangkapnya tetapi ia tidak bisa menahan, tubuh yang lemas itu tetap jatuh ke rerumputan.


Firdaus yang ada di depan tentu saja dapat melihat dengan jelas. Menyadari yang pingsan itu Eda, ia langsung terbang. Ia tidak peduli walau hanya ia seorang anak lelaki yang membantu. Persetan! Anak perempuan itu digotong ke ruang guru...


Setelah ditangani oleh beberapa murid dari gugus Pramuka bidang kesehatan dimotori dua orang gadis Asliati dan Arnis menjalankan tanggung jawabnya dengan sempurna. Hebat-hebat anak pandu itu, tak sia sia mereka pernah di kirim ke Sibolangit.


Hari ini adalah hari terakhir dan Ingat akan janjinya, Firdaus menunggui Eda sampai siuman, baru ia bergegas ke lokal untuk mendapatkan rapornya, agak lama baru selesai setelah itu baru ia kembali ke ruang guru mau menjenguk Eda.


Firdaus tidak menemukan Eda. Anak perempuan itu sudah diantar beberapa temannya kembali ke rumah begitu kata pak Hidayat, satu satunya guru yang masih bujangan.


"Kenapa kamu nyari dia?"


"Anu pak, karena dia mau pulang kampung, saya mau titip sesuatu... "


"Hahaha, titip apa tuh?"


"Rahasia perusahaan pak!"


"Busyet kamu, masa sama guru sendiri pakai rahasia...."


"Hehehe.." lalu Firdaus meluncur keluar dari kantor dan terus menyusul Eda. Di jalan ia berpapasan dengan Yanti dan Marta yang baru kembali habis mengantar Eda pulang.


"Kemana Daus?"


"Mau kerumah kalian, ketemu Eda. Aku kira masih di kantor. Eh nggak taunya udah kalian antar!"


"Maaf tadi nggak sempat ngasih tau kamu! Abis buru-buru sih, kami juga belum kebagian rapor!"


"Ya, nggak apa-apa?"


"Terus aja, di rumah ada etek dan Uni... Kami kesekolah lagi! Maaf tidak bisa menemanimu, Daus."


"Biasanya juga enggak pernah ditemani... Hehehe... oke!"


Dari balik pagar ia melihat anak perempuan itu di beranda duduk bersandar di kursi rotan. Ia sudah melepas seragam sekolah dan mengganti dengan baju rumah. Firdaus mengucapkan salam, anak perempuan itu membalas seraya berdiri menyambut kedatangannya.


"Terima kasih atas perhatian dan bantuannya. Tadi pagi tak sempat sarapan, semalam juga tidur larut, beres-beres kemudian begadang sama Dekon dan Marta. Tapi setelah makan bubur kacang padi aku sudah mendingan. Dan sekarang sudah kembali seperti semula."


"Aku cemas, jangan-jangan kamu demam panas tinggi, sekarang lagi musim. Tapi syukurlah... Kamu sudah sehat..."


"Iya, Alhamdulillah.... "


"Aku nanti sore mau pulang, kita akan berpisah. Walau waktu dua minggu tidak lama, kehendak Allah siapa yang tahu..."


"Aku banyak salah, telah mengotori sepatumu, bilang kata kata yang tidak pantas, yang menyakitkan dan memusuhimu..."


"Aku sudah memaafkan, aku tak pernah menganggap kamu bersalah.. kamu sedang galau karena diburu Oleng, malah kamu sempat diancam pula... Lupakan semua itu dan buang jauh, yang boleh kita simpan hanya kenangan manis saja...."


"Sekali lagi terimakasih... Dan juga suppor mu selama kita belajar bersama. Kemudian aku pernah bilang.... "


Firdaus diam sebentar.


"Bilang apa? "


"Kalau Aku juara,  kubakal kasih ke Kamu hadiahnya...Niih buat kamu!" kata Firdaus bersemangat.


"Kok...!" Helda kaget dan heran.


"Sesuai dengan janji itu, ini untuk Kamu... lagian Aku punya dua!"


"Aku hanya bergurau, Aku tidak serius...Sungguh!" ia tidak mau menerima, dengan halus ia berusaha menolak. Tetapi Firdaus memaksa terus, akhirnya ia ambil juga.


"Terima kasih....!" ujarnya pelan.

__ADS_1


Firdaus tertawa senang.


"Nah! Gitu dong....!"


Ia memandang anak yang duduk berjuntai didepannya, yang selalu menjadi perhatiannya beberapa bulan terakhir. Walau waktu yang begitu pendek tetapi mampu menghadirkan kisah panjang yang indah dalam hatinya. Sekarang mereka harus berpisah. Liburan semester akan memisahkan mereka, untuk sementara waktu sampai sekolah dimulai lagi nanti.


"Ada apa Daus?"


Lama baru ia menjawab. Sepertinya perpisahan ini perpisahan yang menyakitkan. Berpisah seperti tidak akan ada pertemuan lagi. Sesaat terasa syahdu berselimut kabut, duka larut dalam hati masing-masing.


"Karena kita akan berpisah dan kamu akan pulang dan ketemu dengan keluarga...! Ada seseorang titip salam buat gaek Tukang Janin, bilang Angku Imam Usman masih sehat, mudah-mudahan Tukang Janin sehat juga. Kalau umur panjang, suatu saat nanti beliau akan datang kerumahmu...."


"Siapa Angku Imam?"


"Kakekku dan juga sahabat Tukang Janin!"


"Untuk apa?"


"Melamar cucu Tukang Janin, buat aku hehehe... Mudah mudahan gaek Janin bisa menerimanya...! Hahaha ya tentu saja buat silaturrahim! mereka kan sahabatan....! Lemot amat sih...."


"Ihh kamu Daus.... Jadi kamu kenal sama kakek?"


"Dulu jaman ketek-ketek, aku belum bersekolah, aku diajak gaek ke kampungmu mencari Tukang Janin karena gaek mau memperbaiki surau, aku jatuh masuk kolam di depan rumahmu saat buang hajat, gulai cempedak buatan ibumu terlalu enak.... Kemudian disini aku juga sering melihat kakekmu bekerja memperbaiki surau kami..."


"Jadi kamu bocah itu?"


"Dulu bocah tapi sekarang sudah bujang!"


"MasyaAllah, akhirnya ia kutemukan juga! Aku memang pernah berkhayal ketika kakek nyuruh sekolah di kampung ini. Siapa sangka kamu orangnya!"


"Perpisahan selalu membuat kerinduan!"


"Ya, Eda... Aku akan merindukan kamu, Aku tidak suka perpisahan, tapi ini harus terjadi..."


Dari rumah tek Upik, salah satu rumah di pinggir jurang batang bengkawas terdengar sayup-sayup sampai, dendang salung lagu ratok maik ka turun.  Liriknya mengiba-iba membuat pilu terasa. Walau Eda tidak suka salung, tapi mampu juga membuat perasaannya berduka. Saat ia pamit, nanti sore ia akan balik ke kampungnya. Firdaus tidak bisa menjawab hanya sebuah anggukan.


*                    


ADA PENAMBAHAN waktu belajar enam bulan. Kenaikan kelas diundur dan proses belajar mengajar diperpanjang satu semester lagi. Semua murid urung naik kelas, kebijakan menteri pendidikan dan kebudayaan. Padahal menurut guru semua pokok bahasan sudah tersajikan, semua bahan ajar sudah disampaikan, TIK sudah tercapai. Lalu sekarang naik kelas ditunda enam bulan. Pak Mentri, Syarief Thayeb ada-ada saja. "Ini kebijakan menteri, kita tidak perlu persoalkan apalagi pertanyakan! Kita harus ikuti, kita akan perbanyak alokasi jamnya untuk matematika, bahasa indonesia dan bahasa inggeris. Begitu kata buk Yet, kepala sekolah kita kemaren!" Timpal Yusri.


"Olahraga seharusnya juga begitu...!" kata Indra.


"Kita tunggu saja, mudah-mudahan begitu.." harap Evion.


"Aku sih nggak masalah, kita jalani saja!" Firdaus pasrah.


"Oke, kita tidak perlu berdebat dan saling menyalahkan. Besok daftar pelajaran baru keluar, mari kita patuhi..." Yusri, sang ketua kelas menanggapi suara yang bersileweran, saling menyalahkan, maklum mereka semua sudah pengen duduk dikelas tiga... Usaha dan perjuangan mereka seperti sia-sia, bukan sia-sia tetapi harus ada perpanjangan dan penambahan waktu lagi. Bagi yang kurang bagus mah untung, masih terbuka kesempatan untuk memperbaiki nilai, yang sudah bagus bisa lebih bagus lagi.


*


Tidak sengaja, Firdaus berpapasan dengan Andung. Wanita tua itu baru kembali dari masjid Ihsan sehabis menunaikan shalat Zuhur, sementara Firdaus akan ke TB Sovia, mau mencari bacaan baru. Ia berniat menghindar, tapi terlambat, Andung sudah mengenalinya.


"Eh Anduang."


"Andung sampai lupa, rupanya kamu Daus. Kamu jauh berubah, kurusan dan rambutmu, bukan rambut anak sekolah, panjang kayak itu seperti preman. Di mana kamu tinggal sekarang? Masih di Kepala Pasar, di rumah si Pode yaa, toke tomat itu..."


"Iya Andung..."


"Kamu mau kemana? Sudah sholat Ashar??"


"Mau nyari buku, sudah anduang, saya sudah sholat!" Dan disambungnya dalam hati, "Sekarang belum, lagi galau, mau nyari hiburan dulu." Andung tidak dengar karena Firdaus hanya mengucapkan dalam hati.


Ketika Andung teringat janjinya pada ibu Daus maka diajaklah anak lelaki itu singgah di tokonya.


"Ada yang mau Andung sampaikan sama Kamu, tapi tidak di sini, di kedai saja."


"Iya Anduang."


"Mau sekarang? atau setelah Kamu dapat buku."


"Sekarang saja Anduang, buku bisa dicari nanti..." Anak lelaki itu enggan mengikuti Andung Nureka kemudian mereka menyeberangi jalan utama, beberapa buah toko di belakang Raja Pulpen, pertokoan penjual kain, konveksi di sanalah tokonya.


"Syahrial, ini Firdaus yang tinggal sama Anduang sebelum kamu...."


Mereka bersalaman. Syahrial sudah SMA kelas satu, ia tinggal dan makan bersama Andung, makanya setelah pulang sekolah ia full bantu-bantu Andung.


"Kamis yang lalu ibumu singgah, dia bercerita banyak prihal kamu,"


"Ya, Anduang."


"Kenapa begitu? Kamu ada masalah? Di sekolah atau di tempat tinggal mu? padahal dulu rajin, ta'at dan patuh pada orang tua... Bercerita lah pada Anduang... Mungkin Anduang bisa bantu."


Daus terdiam.


"Sekolah kamu juga sering tidak masuk..."


"Itu tidak benar Anduang!"


"Kamu sering tidak bikin tugas, pekerjaan rumah selalu dikerjakan di sekolah, menyontek punya teman... beberapa kali orang tuamu dipanggil sekolah, dan beberapa kali pula buat surat perjanjian."


Firdaus kembali terdiam, ia tidak berani menatap mata Andung. Ia duduk merunduk mamandang lantai, ia mengumpulkan keberanian dan mulai menyusun kata-kata.


"Benar Anduang, Aku tidak mengerti dan tidak tau apa yang harus dibuat. Dulu ada abang teman sekampung, dia sudah tamat, tinggal aku yang anak sekolah, selebihnya orang pasar yang menumpang tidur..." kata Daus terbata-bata.

__ADS_1


"Saat aku mendengar suara azan pak Katik yang mengiba-iba, membuat hati saya luluh tanpa saya sadari pandangan jadi kabur, mata saya basah Anduang, teringat saya yang sudah lalai, sering melupakan sholat malah berhari-hari pernah tidak mengerjakannya, di rumah tak pernah belajar lagi, mana bisa belajar dengan baik, kadang ada yang mabuk, tenggen karena minuman keras....kelakuan saya sudah parah sekarang Anduang, rasanya pingin berhenti saja sekolah.


Tengah malam saya sering terbangun, seharusnya saya sholat mengadu pada Tuhan, tapi itu tak saya lakukan... "


Anak itu menumpahkan rasa sesaknya sama perempuan tua itu dan dengan bijak pula Andung memberi nasehat.


Ada yang tidak diceritakannya tentang seorang anak gadis, anak gadis yang selalu membuatnya agar segera pulang kampung. Ia tahu diri, belum saatnya berbagi cerita dengan orang lain. Dan ia juga tahu, ia masih bocah!


"Kau mau berubah?"


"Mau Anduang."


"Bagus!"


"Jika begitu sama Anduang lagi, Tapi tidak di kamar belakang, kamar itu sudah ada yang menempati. kamu di kamar depan..." bujuk Andung. Kalau dibiarkan berlama-lama anak ini bisa semakin rusak.


"Kamu harus secepatnya pindah dari rumah Pode..."


Syahrial malam itu ikut membantu Firdaus mengangkut barang-barangnya yang tidak seberapa. Dipan, kasur dan sebuah peti kayu, itu saja.


"Aku dengar pembicaraan ibumu dengan Anduang, ibumu sudah angkat tangan dengan tingkahmu, ada apa Daus? Kok bisa begitu?"


"Yang kamu dengar belum seberapa Yal, itu bagian kecil aja..."


"Haaa!!!"


"Iya!, Aku lebih buruk dari sekedar cerita yang kamu dengar! Sekarang aku mau tobat dan belajar yang benar..."


"Bagus!"


"Ajari aku matematika dan bahasa Inggris, pelajaran itu momok yang menakutkan, karena aku tidak mengerti, tidak paham yang diterangkan guru!"


"Siap!"


Sekarang ia merasa tenang dan damai suatu perasaan yang jarang didapatnya di Lorong rumah Pode. Suatu perasaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.


"Menurut cerita ibumu, kamu sekarang sudah kenal sama perempuan...."


"Bukan sekarang saja! Kamu juga bukan?" potong Daus.


"Ibumu tidak marah, jangan jadikan sebagai batu penarung tapi sebagai penyemangatlah! Bikin surat tiap sebentar, apa tidak ada kerjaan lain? Jangankan bantu orang tua, bantu diri sendiri aja sudah tidak punya waktu, begitu kata ibumu yang sempat aku dengar!"


"Anduang tau juga?"


"Iya!"


"Aku jadi malu..."


Daus memang sering mengungkapkan perasaannya pada selembar kertas, malah kadang di lembaran tengah buku tulis, dan ia lupa memisahkan atau merobek dari buku tulis itu. Kadang surat yang sudah diamplop diletak di sembarang tempat, akhirnya ia jadi lupa dan surat itu ibunya yang membaca. Kelalaiannya ini menjadi jejak bagi ibunya untuk melacak perkembangan anak bujangnya. Dan hubungannya dengan anak gadis, yang diklaim pacarnya itu adalah sebuah hubungan aneh, hubungan misterius.


"Nggak usah malu, santai aja... Kapan-kapan perkenalankan ya gadismu itu padaku, siapa tahu aku juga berjodoh dengan salah satu temannya, hehehe..."


"Nggak masalah..."


Mereka tertawa, senang.


Besoknya dengan langkah yang ringan ia berangkat bersama Syahrial menuju sekolahnya yang baru, SMP Satu.


Ini kali kedua ia menginjakkan kaki di sekolah ini. Dua tahun yang lalu, kurang lebih ia mendatangi sekolah ini, masuk ruang kepala sekolah, dan berharap bisa diterima menjadi murid, kepala sekolahnya masih kepala sekolah yang sama, tapi ketika itu ia kurang beruntung, ia tidak diterima karena semua lokal sudah penuh, sudah over kapasitas.


Sekarang ceritanya lain, justru tanpa diminta sekolah, ia dan seluruh teman-temannya wajib bergabung.... Apa ia senang? Karena situasinya tidak sama... Keinginan seperti dulu sudah hilang. Sekarang ia biasa-biasa saja, malah di lubuk hatinya yang dalam ia merasa tidak senang, tidak enjoy.... Ada beban yang yang ditanggungnya.


Seragam putih-putihnya tanggal diganti putih-hitam. Ini SMP ketiga, enam bulan di SMP Bengkawas, dua tahun di SKKP, dan sekarang insyaallah setahun di SMP satu.. Telah tiga kali ia menjadi anak baru di tempat yang baru. Setiap tempat tentu memiliki suasana yang berbeda. Pada sekolah terakhir, di SKKP awalnya ada perasaan tidak nyaman, karena kurang dianggap atau tidak dianggap sama sekali. Biasa, pindah dari tempat yang kecil ke tempat yang besar, dari sekolah kampung ke sekolah kota. Tapi perasaan itu bisa ditaklukkannya, ia bisa menang. Ia bisa menarik simpati guru-guru cantik, di SKKP cuma seorang guru laki-laki, pak Dastur, yang suka naik sepeda motor Yamaha, lari tidak seberapa tapi raungnya allahurabbi.


Guru-guru cantik itu, diantaranya buk Des yang mengajari cara membuat patron, belajar menjahit, ada buk Mas guru memasak, mengajari aneka masakan moderen dengan mempergunakan alat yang canggih pula... Sungguh betah sekali waktu itu, ilmu dapat perutpun kenyang. Di SKKP ia belajar hidup mandiri, hidup bersih berdayaguna dan berdayasaing. SKKP-ku, sekarang sudah tiada, yang bakal jadi kenangan buat diceritakan pada anak-cucu kelak.


SMP satu gedung utamanya mirip dengan sekolahnya yang lama, bangunan tua tetapi kokoh. Bedanya gedung utama sudah banyak ditambah dengan bangunan baru, jadi komplek ini menjadi sangat luas. Soal kebersihan, ketertiban SKKP masih yang terdepan, membuat murid dapat belajar dengan nyaman.


Jauh di belakang ada kafetaria, tempatnya bersih dan sejuk. Disana banyak pohon rindang. Besok-besok ia akan mencoba jajan disitu. Capek berkeliling dan waktu belajar juga mau dimulai akhirnya mereka kembali ke lokalnya.


Mereka bertiga Firdaus, Evion dan Indra selalu jadi pelengkap penderita, sering tidak kebagian peran, selalu kebagian yang terakhir, dan sering berada diluar forum. Pendatang selalu menjadi perlakuan yang tidak mengenakkan. Tapi masa bodoh, yang penting harus tamat dan mendapatkan ijazah.


Namanya Jefri, badan tinggi berdegap, ganteng dan kaya, ia ketua kelas Tiga satu, temannya David tinggi semampai agak kurusan mereka berdua teman sering bikin ulah. Di kelas tiga satu Firdaus hanya bertiga, Evion, Indra warga baru, selebihnya penduduk lama. Diantara mereka hanya seorang yang mau bersahabat dengan mereka, Slamet Siniaga, orang Batak non muslim. Berempat mereka sering bercerita dan berkumpul, yang lain mah cuek, merasa tidak selevel.


Pernah pembagian kelompok untuk tugas Bahasa Indonesia, pementasan sebuah drama, boleh karya orang lain boleh juga dibikin sendiri. Firdaus yang bikin naskah sendiri, penggalan cerita tentang kehidupan mereka sendiri, orang-orang yang tersisih. Ketua kelas yang membentuk kelompok, kelompok terakhir merupakan kelompok penampung, yang tidak termasuk kelompok manapun berarti masuk dalam kelompok ini. Firdaus, Evion, Indra, Slamet dan empat orang anak perempuan jumlahnya delapan orang, sementara kelompok yang lain cuma enam orang. Ketika penilaian berakhir justru kelompok terakhir ini sebagai pemuncak, kelompok yang paling bagus nilainya, padahal awalnya mereka tidak dianggap sama sekali.


Saat latihan kesenian sama Pak Edi, sebagai ekstrakurikuler, di aula yang merangkap gedung kesenian, Evion unjuk gigi dengan segudang kebolehannya, hampir semua alat musik ia bisa mainkan, pun suaranya luar biasa merdu. Orang-orang terpinggirkan berubah menjadi orang yang dikagumi, orang-orang yang diperhitungkan, paling tidak di kelasnya Daus.


"Sepertinya prestasi bisa merubah keadaan!"


"Kamu benar, Makanya raihlah terus agar tidak dikucilkan!"


Mereka tertawa lepas, sekarang tidak ada yang mesti dikhawatirkan.


*


Terima kasih telah mampir


jangan lupa like dan komennya


buat penambah semangat author


biar jadi rajin update.

__ADS_1


__ADS_2