Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Berjuang Yes!


__ADS_3

SEHABIS mengajar di surau, Abdul datang menemui angku Rustam, pertemuan dua orang guru, satu guru SD dan yang lain guru ngaji, bukan untuk bersilaturrahim dan bukan pula untuk membicarakan prihal anak didiknya, tapi demi memperjuangkan nasib dan masa depan'anak lelaki itu. Abdul yakin sekali, Angku Rustam pasti akan mengizinkan anak lelakinya ikut kerja, apalagi bersamanya, bukankah ia seorang guru ngaji, seorang lelaki yang tak suka merokok, tidak suka duduk di lapau, kejelekannya hanya satu, suka bergaul dengan banyak anak gadis orang, bak permen karet, lengket kesana lengket kesini bawaannya riang melulu,dan itu bukan suatu aib, bukan sesuatu yang buruk, bukan sesuatu yang memalukan, makanya ia dapat predikat Udin Candu....


"Begini Angku, ambo datang kesini ada yang mau disampaikan sama Angku, ini mengenai Daus anak Angku, katanya dia sedang libur, tidak ada kerjaan, bosan di rumah! Makanya ambo tawarkan ikut bekerja, paling tidak cari pengalaman, biar tahu bagaimana susahnya cari uang itu! Tidak hanya pandai menghambur-hambur pemberian orang tua, dan dia mau, malah sangat bersemangat! Cuman dia takut ngomong sama Angku....!"


Abdul berhenti sebentar melihat reaksi Rustam. Rustam tidak kaget, karena selama ini anak itu memang betah sama teman dibandingkan berada di rumah sendiri. Apalagi setelah anak itu remaja, rasanya ia semakin jauh saja dari orang tuanya, dari Rustam dan Anjar.


Percaya diri Abdul pulih kembali, tidak menyangka sambutan Rustam diluar dugaannya. Sebelumnya ia menyangka akan dimarahinya, paling tidak disalahkan oleh Rustam. Eh nggak tahunya Rustam biasa-biasa saja, ekspresi wajahnya tetap datar dan bersahabat. Tidak sedikit juga terpancar rasa tidak senang apalagi marah. Luar biasa sekali angku yang satu ini.


"Bagi ambo ndak masalah Dul! dia mau tidur, mau kerja, terserah dia, asal ndak ikut mabuk-mabukan, berjudi dan mengganggu ketentraman orang! Tolonglah kamu masukkan kebenaran padanya, beri dia nasehat, kemaren kami suruh mendaftar dia menolak! katanya mau SMA di Padang, kalau tidak, dia tak akan sekolah! kami bukan keberatan, tapi untuk kuliah nanti, yaa, harus di kota, disini kan ndak ada perguruan tinggi! Kami ndak mau merepotkan mamaknya yang di Padang...."


Ia diam sebentar menarik nafas panjang, sepertinya yang diomongkannya begitu berat, atau begitu sulit yang telah menguras begitu banyak tenaga.


"Biasanya Dul, mulut teman lebih asin, lebih didengar ketimbang omongan orang tua sendiri. Mudah-mudahan katamu didengarnya...!" lanjutnya lagi.


"Ya, angku! ambo coba... ambo permisi pulang, sudah malam!"


Firdaus menanti Abdul di warung bersama Mardi Mantipu dan Wansa Sanurila. Melihat Abdul datang, serempak mereka bertanya.


"Aku deg-degan, semua kata yang sudah kupersiapkan hilang, wajah angker angku Rustam membuat nyaliku ciut. Tapi Alhamdulillah aman, nggak masalah...! kamu diizinkan, tapi sebaiknya kamu tetap bicara juga sama ayahmu nanti!"


"Mantap!" Seru Firdaus sambil mengacungkan dua jempol.


Sekarang ia bekerja dengan perasaan nyaman karena sudah dapat restu dari ayahnya. Kalau sebelumnya ia sembunyi-sembunyi berangkat kerja sekarang sudah tidak lagi. Ia tidak harus menunggu ayahnya berangkat duluan, yang kadang terasa menyiksa juga.


"Ambo sudah sampaikan sama angku Rustam, Pak. Dia tidak masalah asal bisa menahan diri, ini hanya pengisi waktu lowong, bukan jadi kuli benaran. Kalau sewaktu-waktu dia ada pengurusan sekolahnya kita harus kasih ijin...."

__ADS_1


"Baguslah, kamu bilang kalian kerja dimana?"


"Tidak Pak, angku Rustam tidak nanya sejauh itu... Emangnya kenapa Bapak?"


"Ambo pikir kamu bilang kerja di sini, di rumah kami!"


"Nggak pak!"


"Ya. Sudah!"


Kenapa nggak kamu bilang rumah kami? Ada sesuatu yang aneh dengan kata-kata itu. Kami, tentu saja Bahar dan Marlina!


Entahlah...


Firdaus bersandar pada pohon kuini. Sepertinya jarak dan waktu membuat dirinya asing. Setiap ia memperhatikan anak gadis setiap itu pula kerinduannya datang akan masa lalu, saat mereka belajar bersama. Saat Farida ada di rumahnya. Saat Farida begitu dekat dengannya. Saat ia berani mencubit pipinya.


"Enaknya kerja sekarang, minumnya istimewa terus. Lama-lama bisa gemuk kita...!" olok Sarin suatu ketika.


"Ya, selalu ada suguhannya!!, kemaren goreng pisang, sekarang godok ubi, waduh lezaaat..!" timpal Pami.


"Tapi kawan kita sepertinya patah selera!! Bawaannya kenyang melulu... Padahal kemarin makannya yang paling banyak..."


"Sekarang mah melihat aja udah kenyang! Hehehe...!" sambung Parijon.


"Tapi jangan sampai ketahuan boss! Bahaya!"

__ADS_1


"Walau teman, tapi masalah jodoh itu ranah keluarga...."


Firdaus tidak menanggapi seloroh mereka  walau di situ tidak ada Abdul bos mereka yang masih ada hubungan keluarga dengan Marlina. Sembari beristirahat diteguknya lagi teh manis yang tadi disuguhkan Farida.


Ada yang mengganjal hatinya, nasehat Wansa Sanurila dulu, saat mereka tidur di pondok menunggui pohon durian masih terngiang-ngiang ditelinganya.


"Farida masih keluarga Abdul, aku bergaul dengan Abdul sudah lama, sementara kau masih kanak-kanak kami sudah berteman, karena kita akrab kemudian Abdul ikut juga akrab dengan kamu, kamu sahabat kecil kami... Kalau sekedar berteman masa remaja, Abdul nggak masalah tapi kalau untuk berlanjut ia angkat tangan, ia tahu selera eteknya, kendati kamu dari keluarga yang strata sosial cukup diatas, bapak guru mandeh guru, dan engkau sendiri masih ingusan, masih menyusu ke ibu... Dua tiga tahun lagi ia akan menjadi gadis cantik kembang desa, sementara kamu masih sekolah... Ini hanya menurut pendapat ku saja, kau tak perlu percaya, tamat SMA, ia tak bakal melanjutkan...."


"Kalau pingin serius kau harus siap untuk kecewa, kemungkinan itu lebih besar.. karena Rida bukan gadis sembarangan, dia gadis berkelas di kampung kita... kalau tidak dokter mungkin dosen....!" dan Wansa Sanurila menyebut dua nama, orang kampungnya... yang ketika itu baru kuliah pada tingkat akhir.


"Ah, persetan... aku tak peduli!!" jawabnya ketika itu karena ia memang tak ada perasaan khusus, ia hanya iseng. Orang punya pacar, ia juga harus punya kalau boleh tidak hanya satu tetapi dua tiga atau berapa saja. Karena hanya sekedar status saja tanpa embel-embel yang lain.. Pernah dalam kurun waktu yang bersamaan di sawah tempat ia menghalau burung ia dekat dengan Ida, di kampung seberang ia punya Eli, di kelompok surau ia punya Fitri.. di acara malam kesenian ia punya Yenni, Yarti. Ah, itu mah bukan hubungan hati, itu hanya pertemanan biasa. Bisa juga iya dan bisa juga tidak.


Tetapi kini beda, ia tidak iseng lagi. Ia selalu memikirkan gadis itu, ia ingin selalu bersama. Ada rasa yang berontak, ia tidak mungkin akan bersatu, karena begitu beratnya, mereka tidak selevel, ia anak bawang, remaja baru tumbuh, perjalanannya masih panjang, masih jauh, sedang keluarga Farida berharap, kalau tidak disunting orang kaya, orang berharta, atau orang kantoran, paling tidak seorang guru....


Herman juga pernah bilang, yang membuat hatinya sakit mendengar komentarnya.


"Waang cuma bisa pacaran, ya sekedar itu, jangan terlalu berharap banyak!! Apalagi untuk sampai ke pernikahan, ibaratnya kerbau tidak mungkin memanjat kelapa!"


Mungkin karena banyak tantangan, banyak aral yang melintang, banyak kerikil yang berserakan, dan banyak masalah membuat rasa menjadi dewasa, membuat sayang menjadi kokoh. Orang tua yang menentang, ada teman yang menganggap remeh, menganggap receh... Itu semua bukan membuat goyah tetapi semakin kokoh berurat dan berakar.


Baginya kata-kata itu dijadikan sebagai penyemangat. Dan tanpa disadarinya ia semakin memperkokoh pondasi cintanya. Ia harus berjuang dan berjuang, gagal atau berhasil itu soal lain. Berjuang yes, gagal no, itu adalah penyemangat hidup dalam berjuang.


*


Terimakasih telah berkunjung,

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya,


terimakasih telah membuat author bersemangat.


__ADS_2