Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Belajar Bareng Tanpa Jaswan dan Maryon


__ADS_3

SEBENTAR lagi senja datang, seperti senja-senja kemaren di rumah Andjar sore ini juga kelihatan ramai. Ada beberapa orang, enam orang anak perempuan, mereka murid-murid yang sering belajar bersama. Mereka duduk di tembok dekat jenjang menunggu pemilik rumah, guru mereka yang sedang ke sumur. Merasa terlalu lama akhirnya mereka berenam menyusul gurunya itu.


"Kenapa tidak masuk saja, pintu tidak dikonci.. "


"Kami juga mau berudhu' buk."


      


"Ibu duluan ya, hati-hati sumurnya dalam. "


      


Anjar berlalu sembari menjinjing ember cuciannya meninggalkan anak-anak perempuan itu, Dewi dan teman-temannya. Setelah malam mereka duduk di lantai, diatas tikar rotan. Mereka membentuk lingkaran, di tengah ditarok lampu semprong kambang api yang kacanya sudah sedikit menghitam dan buram. Sebetulnya lampu kambang api itu cahayanya cukup terang tapi itu tadi, semprongnya sudak tak bening makanya cahayanya agak redup. Lampu kambang api itu termasuk lampu berkelas dan tak sembarang rumah memilikinya.


Dewi yang paling besar badannya diantara mereka mengeluarkan buku dari tas kain dan mengambil secarik kertas.


      


"Coba sekarang Aku yang baca soal, nanti siapa yang tau, boleh jawab, tapi tak boleh rebutan, mengerti...." perintahnya bagai seorang guru.


      


"Jangan yang mudah. "


      


"Biar bisa mikir. "


      


"Yang mudah mah, percuma aja! "


      


"Baik... "


Kendati Dewi anak seorang tentara, yang bertugas sebagai babinsa, namun ketegasan dan ketangkasan tidak terpancar dari sikapnya, malah terkesan Dewi terlalu feminin... Ketegasan dan ketangkasan bapaknya tidak menurun kepada anak gadisnya itu. Barangkali karena ia seorang perempuan...


      

__ADS_1


Anjar muncul dari belakang dan memandang murid-muridnya satu persatu, seakan mengabsen, Dewi, Elis, Nani, Ida, Emi, dan Daita. Mereka murid kelas enam yang baru naik kelas. Dan mereka meminta untuk belajar dan menghafal di rumahnya. Anjar tidak keberatan karena kegiatan seperti itu sudah berlangsung sejak lama secara turun-temurun, tamat yang satu muncul lagi yang baru.


      


"Daus! ! coba kamu nyalakan lampu strongkeng, gelap begini mana bisa belajar, kecil-kecil nanti mata kalian pada rusak!" kata Anjar katika melihat Firdaus masuk.


      


"Tapi, Bu... kita tak punya spirtus lagi..."


      


"Ah, tanpa spirtus, kok kemaren Kamu bisa..."


      


"Sudah tahu habis, belum juga dibeli." gerutunya dan mengambil lampu yang tergantung dan membawanya ke belakang rumah. Dengan sigap ia menyalakan lampu, awalnya api membesar, ia tidak gugup, dengan cekatan ia menyetop minyak keluar, api kembali reda, sesaat ia membiarkan.


      


Ia bisa, ia sering bantu bantu buya menyalakan strongkeng di surau tempat ia mengaji. Sesaat kemudian dengan cekatan ia memompa minyak lampu kemudian kembali memutar dan membuka minyak.


      


      


Diantara mereka Farida yang paling pintar dan selalu rangking pertama. Farida punya otak encer, iq tinggi, daya ingat hebat. Ia juga rajin dan ringan tangan, ia pernah menolong mencuci piring yang kotor, ia juga suka bersih-bersih, malah ia juga ikutan membantu Bu Anjar di dapur, memasak.


      


Firdaus mengambil lampu semprong membawanya ke kamar, lalu ia menutup pintu. Malam ini ia tidak ingin kemana mana tidak juga ke lapau, ia ingin belajar, Haa! Maryon dan Jaswan temannya tidak datang. Kemanakah mereka gerangan, padahal mereka punya latihan matematika yang harus dikerjakan dan dikumpulkan besok. Masa bodoh! Bukankah guru matematikanya Pak Hamzah yang suka masa bodoh, tidak punya sanksi apalagi hukuman buat para murid malas.


      


Konon khabarnya, Hamzah salah seorang sarjana ekonomi, otaknya brilian sekali dan ia sangat rajin. Kuliahnya selesai tepat waktu. Namun malang baginya, setelah selesai kuliah ia diguna-gunai orang karena ia tidak mau menerima pinangan seseorang. Seseorang itu marah dan merasa tersinggung, lalu seseorang itu mencari orang pintar, dukun. Konon ceritanya begitu, entah iya entah tidak murid murid tidak ada yang tahu. . Hamzah berubah, penampilannya berubah drastis, berubah seratus delapan puluh derajat. Kendati telah diobat kesana kemari tetap saja ia tidak bisa sembuh seperti semula, tetapi otaknya tetap encer, ia tetap pintar.


      


Mereka bertiga, Firdaus, Jaswan dan Maryon tiga serangkai itu hampir tiap malam belajar dan tidur bersama di rumah Firdaus. Semenjak lama mereka memang selalu berteman, sering belajar bareng. Kedua orangtuanya, ayah dan ibunya Jaswan dan Maryon percaya pada Firdaus, yang ayah dan ibunya seorang guru. Firdaus anak guru!

__ADS_1


Kalau ditempat lain boleh lah berbagga hati menjadi seorang anak guru, tapi jangan di kampung ini... Nagari Balimbiang ini gudangnya guru, disetiap sudut ada yang berprofesi guru, diantaranya mulai dari yang paling tua, yang dikenalnya, Angku Jalumin, Angku Samin, Angku Tami, Angku Jarin, Angku Ampek, Angku Dana, Angku Ajin, Angku Kamba, Angku Darwis, Cumano, Muslim, Mayar, yang perempuan Buk Nuwa, Buk Simah, buk Jarana, buk Jarali, Buk Nurahai, Buk Ranik, Buk Munah... Itu yang sudah senior. Yang muda muda, yang yunior juga tak kalah panjang catatannya. Jadi tidak perlu bangga jadi anak guru... Kecuali Firdaus yang nota bene, anak seorang guru, dan ia ada memiliki sedikit prestasi... Mudah mudahan dengan sedikit prestasi itu bisa membimbing dan membantu mereka dalam belajar. Buktinya ada, nilai mereka cukup bagus ketika tamat kemarin. Kira kira begitu pemikiran orang tua kedua sahabat Firdaus.


      


Sekolah Bengkawas masih kelihatan sepi karena kelas dua dan kelas tiga tengah asik berkutat dengan pelajarannya. Tidak ada suara ribut, tidak terdengar suara riuh, yang terdengar hanya suara guru yang tengah menerangkan pelajaran. Daus berdiri di jendela, melongok ke dalam lokal memperhatikan kakak dan udanya belajar, alangkah tenangnya. Apakah karena sudah siang? Sudah belajar dari pagi sehingga membuat mereka capek, atau memang demikian cara belajarnya... Dan ketika lonceng berbunyi, dengan santai mereka mengemasi buku-bukunya dan dengan tertib mereka keluar meninggalkan lokal, tentu saja setelah guru lebih dulu keluar.


      


Udara terasa agak panas, langit membiru tanpa secuilpun awan putih. Setelah lokal kosong, Firdaus masuk berniat menarok tasnya di laci, tetapi diambilnya lagi, barangkali ada barang berharga didalamnya, tentu saja takut diambil orang. Belum satu pun manusia yang ditemuinya, dan ia kembali keluar mau nongkrong di warung Ancu Asau. Di halaman ia berpapasan dengan beberapa anak perempuan, sebagian mereka menyapa Firdaus karena mereka saling kenal.


      


"Haii Daus..." sapa Netti.


      


"Uss...." tegur Lisna.


Dibukanya kancing bajunya yang paling atas lalu ditarik-tariknya, dengan berbuat begitu ia berharap timbul angin dan mendapat kesegaran, bisa mengurangi kegerahan. Sebagian anak anak mulai berdatangan, dari kejauhan ia melihat Jaswan dan Maryon. Mereka berkejaran, bukan berkejaran tetapi Maryon mengejar Jaswan. Sepertinya ada yang mereka ributkan, pasti Jaswan habis menjahilinya, dan Maryon tidak terima makanya ia mengejar, ingin membalas. Mereka selalu begitu, tidak pernah akur, bagai kucing dengan anjing.


      


Firdaus melambaikan tangan memanggil, terengah-engah mereka datang menghampiri Firdaus karena habis berkejaran, Jaswan tertawa senang sementara Maryon marah cemberut.


      


"Semalam kemana kalian? Padahal tadi malam rumah ramai, ada anak kelas enam...." kata Firdaus seraya melepaskan tasnya yang ditarik Jaswan dan Jaswan bergegas membawanya masuk lokal....


      


Bel berbunyi, bukan bell tapi besi bekas plat mobil yang dipukul dengan besi, bunyinya berdentang beberapa kali. Murid murid memasuki lokalnya dengan tertib.


*


Terima kasih atas kunjungannya,


jangan lupa like dan komennya,


author sangat butuh..    

__ADS_1


__ADS_2