
FITRI atau Pipit sering digalak-galakkan, dijodoh-jodohkan dengan Firdaus. Hubungan dua anak manusia menjelang beranjak remaja memang aneh. Kata suka tak pernah terucap, apalagi disampaikan pada pasangan tetapi ada dan mereka memiliki dan merasakannya. Kalau orangtuanya tahu, atau mendengar anaknya maota atau memperkatakan anak perempuan orang maka orangtuanya terutama ibuknya akan marah dan bilang, "Alah mampakecek-an anak uranglo, kadipabini-an laii... " Maka sang anak akan malu malu kucing, malah ada yang mukanya merah seperti tomat masak.
Di dinding surau, di tembok jembatan, di dinding sekolah, dan dimana mana tulisan nama mereka berdua ada dan mudah ditemukan yang ditulis dengan kapur atau dengan arang. Malah seperti di lantai congkong ronda dipahat dengan pisau, entah kerjaan siapa. Bagi Fitri atau Pipit, gadis jolong gadang, ia tidak marah, karena ia juga senang sama anak lelaki itu, melebihi senangnya ketimbang teman teman anak lelakinya yang lain, apalagi Firdaus anak gurunya di sekolah. Firdaus kakak kelas dua tingkat diatasnya. Kalau di surau mereka satu level, mereka seonggok, sama sama anak ajar Kifli ... Tidak hanya dengan, Firdaus, Fitri pernah juga dijodoh-jodohkan dengan anak lelaki lain tetapi dengan Firdaus lah yang bertahan agak lama. Fitri adalah cinta monyet pertamanya Firdaus.
Fitri tahu Firdaus tidak tampan, wajahnya biasa biasa saja kalau tidak boleh dibilang jelek. Tapi kan ia anak seorang guru, ibunya guru dan bapak nya juga guru. Apalagi, konon khabarnya disekolah ia juga pintar, Keren bukan....
Pernah suatu kali, Firdaus dan Fitri berbarengan pulang dari sekolah. mereka bukan berdua saja, masih banyak kawan yang lain. Bukan karena janji,hanya kebetulan saja atau mereka telah paham dengan kebiasaan masing-masing. Biar mereka tidak pernah janjian, mereka tetap bisa bersama-sama. Apalagi untuk janjian, ngomong berdua langsung saja mereka belum pernah, bukan apa-apa selain ada rasa malu, malu-malu kucing. Di depan kawan-kawannya sering terjadi komunikasi pujian atau sindiran lewat kawan itu yang ditujukan kepada pujaan hati. ya, kawan sering menjadi korban perasaan...
Kala itu sepanjang jalan kawan-kawannya bertepuk tangan menggalak-galakan Firdaus dan Fitri. Hanya itu! Fitri sampai menangis, barulah kawan-kawannya berhenti.
Sedang Firdaus cuek saja, mau marah yang menggalakkannya jauh lebih besar ketimbang dirinya, walau umur mungkin Firdaus yang lebih tua. Ia hanya bisa diam, ia tidak bisa marah.
Lagian di lubuk hatinya yang paling dalam ia juga suka. Kenapa tidak, Fitri gadis mungil yang cantik, kulitnya hitam manis, rambutnya panjang diikat dengan pengikat rambut berwarna merah. Senyumnya manis, kalau ia tersenyum kelihatan dua lesung pipit di kedua pipinya. Walau usia berbeda beberapa tahun tetapi di surau mereka satu onggok. Amboi ...
__ADS_1
Dulu, ketika mamaknya Mukhtar masih tinggal di surau seberang, bersama anak dan istrinya, Mukhtar lah yang mengajari Firdaus kakak beradik mengaji. Tapi sayang Mukhtar pindah ke kota propinsi, kota Padang bersama anak dan keluarganya.
Akhirnya Firdaus belajar bersama ibu nya di rumah. Namun endingnya selalu tidak manis, karena Firdaus pemalas sekali dan selalu kena marah. Akhirnya ibunya menyerahkan Firdaus kepada buya Kutar untuk dididik di surau Belok. Dipanggillah buya Kutar ke rumah dalam rangka menyerahkan Firdaus. Maka resmilah Firdaus jadi anak siam Buya dan satu onggok dengan Fitri.
Pernah suatu hari Firdaus sampai berkelahi karena hal sepele. Kala itu tidak hanya mencemoohkan saja tapi sudah sampai main dorong-dorongan. Karena ada biangnya, ada propokator, yang memanas manasi, siapa lagi kalau bukan Katar... Anaknya tuk Aceh yang perangainya suka membuat keonaran... Katar memang nakal, tapi hatinya baik.
Firdaus terjatuh, ia bangkit dan langsung mengejar Pemi, salah seorang yang mendorongnya. Firdaus langsung menubruknya dengan sebuah pukulan, tidak hanya itu. Firdaus mundur dan mengambil ancang-ancang untuk mendongkak Pemi, karena tidak siap Pemi pun tersungkur.
Teman-temannya bersorak kegirangan membuat lingkaran. Tidak ada yang berniat melerai. Syukurlah tidak berapa lama berselang lewat Wirdana salah seorang guru di sekolah mereka, ia lah yang melerai pergumulan itu. Dengan berteriak teriak dari jauh mereka tidak mengacuhkan, barulah setelah pak Wirdana menarik salah seorang, mereka berhenti dan kerumunan itu bubar. Muka keduanya jadi merah padam karena pergumulan... dan karena teriknya matahari disiang itu.
"Bubar!!! Kalian semuanya pulang... Dan Kamu juga Kamu jangan diulang lagi, atau besok Saya panggil ke kantor.... " hardik pak Wirdana.
Firdaus dan Pemi sama sama menundukkan wajah, begitu Wirdana mendamaikan mereka. Ketika Wirdana tahu yang berkelahi itu Firdaus anak salah seorang guru di sekolahnya wajahnya tidak garang lagi.
__ADS_1
"Kamu anak Andjar, Daus..... dan Kamu Pemi, anak Marahusi. Andjar dan Marahusi itu sepupu, jadi kalian masih saudara, Kalian paham? "
Akhirnya mereka salaman, damai. Semuanya berakhir tiada dendam yang dibawa pulang. Tiada usaha balas dendam yang mesti diselesaikan, karena perasaan mereka telah pulih seperti semula.
Hubungan Firdaus dengan Fitri memang hubungan yang aneh. Kalau berhadapan mereka saling salah tingkah dan malu-malu. Perasaan saling suka, orang lainlah yang memproklamirkan. Kalau ada ataupun tidak ada protes berarti mereka sudah jadian.
Fitri anak itu sangat cantik, kulitnya hitam manis, rambutnya panjang diikat dan kadang dijalin kebelakang. Ia agak pemalu, seperti anak-anak perempuan yang lain, apalagi kalau berhadapan dengan seseorang yang disuka atau yang dijodohkan kawan-kawannya. Ia jadi kikuk, malu-malu tetapi mau.
Firdaus tidak begitu ingat lagi bagaimana awalnya, yang pasti ia sudah jadian sama Fitri. Mereka satu onggok di surau, guru bantunya Kifli. Lewat Mustafa ia sering minta bedak viva atau meminjam sisir. Ia juga sering dibelikan kerupuk atau goreng ubi.
Ketika usia hubungan mereka menginjak beberapa bulan, mereka sudah agak berani, sudah berani saling tatap, kadang bicara dengan bahasa isyarat, dan mereka berdua begitu paham maksudnya.
Suatu kali ketika di kampung hilir, di Pasirranggai ada keramaian, ada acara hiburan salung Syamsimar semalam suntuk. Saat teman satu onggok sibuk membicarakan acara itu. Firdaus memandang Fitri dan pada saat yang sama anak itu melihat ke arah Firdaus, mata mereka bersirobok, mereka saling tatap lalu Firdaus tersenyum dan menganggukkan kepala, Fitri membalas dengan anggukan pula. Sangat pelan sekali, tidak ada yang tahu, mereka baru saja saling membuat janji. Janji untuk pergi bersama....
__ADS_1
*
Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komennya, selalu itu yang author butuhkan, penyemangat biar semangat terus...