Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Minggu Pagi


__ADS_3

SEBUAH pekerjaan yang membosankan, harus bangun pagi sekali di saat mata masih mengantuk, menempuh jarak yang cukup jauh, beberapa kilometer melalui jalan setapak yang dikanan kirinya tumbuh semak belukar. Rumput dan semak belukar itu masih basah oleh embun semalam membuat kakinya terasa dingin dan geli. Apalagi kalau ada duri sikajuk kaki akan terasa sakit dan perih. Jarak sawah akan bertambah menjadi puluhan kilometer baginya.


Sembari berjalan Firdaus mengenang tugas rutinnya setiap hari. Tugas-tugas itu tidak ada yang menyenangkan, semuanya membosankan...


Pergi mengembalakan itik menyusuri pematang sawah yang licin karena baru ditambak atau baru digali pangkurannya kadang ia terjatuh kedalam sawah membuat baju atau celana basah kuyup menjadikan pagi semakin dingin. Bagaimana susahnya merunduk dan merangkak didalam kandang kalau tidak mau kepala keceduk lantai rumah memungut telur, mencari carinya diantara tahi itik yang cair dan dingin. Semuanya dikerjakan sebelum berangkat ke sekolah, sendirian pula karena tidak ada yang membantu.


Ketika itik dijual, ayahnya menggantinya dengan kambing. Kesibukan pagi jadi berkurang, namun pekerjaan sepulang sekolah jadi bertambah. Firdaus harus mencari rumput dan dedaunan. Setelah kambing berkembang biak, ayah menjualnya lagi menggantinya dengan kerbau. Kendati ia selalu naik kelas, mulai dari pengembala itik, naik menjadi pengembala kambing kemudian naik lagi menjadi pengembala kerbau. Biar selalu naik kelas tapi predikatnya tetaplah seorang anak kubalo. Pada predikat yang sesungguhnya, ketika ia bersama rombonganya menghalau kerbau ke bukit predikat anak gembala menjadi sangat mengasyikkan.


Jadi anak gembala banyak sukanya ketimbang dukanya. Ia bisa bermain dengan teman-teman, mandi dan berenang di empang Batang Puding sepuasnya sampai badan menggigil dan mata merah. Berlarian diantara semak belukar dan padang ilalang mengejar burung pikau. Mencari belut sepanjang pematang sawah yang baru siap dipanen. Alangkah senangnya.


Dukanya juga ada, pernah suatu kali kerbaunya hilang, dicari cari tidak ditemukan, takut ia pulang. Rupanya kerbau itu bergabung dengan kerbau orang lain. Pernah juga kakinya diinjak kerbau, waduh, sakitnya minta ampun. Yang tidak bisa ia lupakan ketika ia ditanduk kerbau, tanduknya nyangkut masuk kedalam sarawanya, ia jungkir balik, malah sampai sarawanya robek dan berubah menjadi rok!.


Kerja di sawah ia juga pernah coba, ia sering jadi anakajang, yang menyebarkan benih dan pupuk kandang pada ancu-ancu tukang tanam. Di kampung itu yang menanam padi memang tugas perempuan, sama halnya dengan menyiang dan menampi kalau padi sudah dipanen.


Ia masih ingat suatu malam beberapa tahun yang lalu. Ia sebetulnya enggan pergi tapi karena ayahnya memaksa, ia berangkat juga menemani ayahnya menunggui sawah dari hama babi yang sebentar lagi akan disabik.


Perjalanan itu mungkin berjarak sekitar dua atau tiga kilo lebih, dapat ditempuh kurang lebih satu jam. Jalannya sangat sulit, setelah menempuh jalan bebatuan kemudian jalan setapak, kadang menurun kadang mendaki, tak jarang menelusuri pematang sawah. Firdaus hampir tak pernah mematikan lampu senternya malam itu.


Ketika akan sampai di sawah, tinggal menuruni sebuah bukit lagi, sampailah mereka. Ada yang aneh, pondok dikelilingi lampu suluh, banyak sekali. Dari atas bukit jelas sekali terlihat. Firdaus hanya heran, lampu apa itu? Ia hanya bertanya dalam hati dan terus saja mengikuti ayahnya menuruni bukit.


Barulah esok harinya ayahnya bercerita, kalau lampu yang semalam itu lampu lampirik, bulu kuduknya jadi merinding. Tapi benarkah, apakah ia tidak salah lihat malam itu? Entahlah.... tak seorangpun yang dapat menjelaskan secara logika, sampai sekarang.


Hari benar-benar telah siang, sinar mentari mulai terasa hangat menyengat. Teman-temannya tengah membakar ubi kayu, entah mereka ambil dimana, ada Dasril, Acin, Karia, Jusdi dan beberapa yang ia tidak tahu namanya.


"Pulanglah Daus, burungnya sudah pada kenyang!"


"Kok baru datang, Daus?"


"Makan ubi, yuk..!"


Tapi sial bagi Firdaus, ubi yang tersisa di tungku sudah gosong, hangus. Dasril berbaik hati, membagi punyanya separuh karena ia mengambil yang paling besar.

__ADS_1


"Ambil aja, niih.. " katanya seraya menyerahkan pada Firdaus.


"Makasih, ini enak sekali, gurih dan harum, aku memang belum sarapan... "


"Pantas! Oh ya kamu bawa bungkusan apa?" Karia bertanya melihat Firdaus membawa kantong asoy kecil. Firdaus baru sadar, padahal tadi ia berniat akan melahap sambil berjalan sarapan yang dibungkuskan Miati, tapi entah kenapa ia lupa. Miati pasti membungkusnya ketan dan goreng pisang yang dibeli ibunya di lapau.


"Ini obat padi, tak lama lagi mau panen, segala macam hama harus diusir, terutama pianggang, begitu kata kakekku..."


"Kamu bawa kumayan? sebanyak itu???"


"Apa salahnya? emangnya tidak boleh?"


"Heran saja..!"


Firdaus ikut duduk di sebelah Dasril. Bau ubi panggang memenuhi dangau-dangau sawah. Begitu khas dan membuat perut menjadi lapar. Lezatnya lagi...


Firdaus mengedarkan pandang ke dalam dangau-dangau, ada beberapa orang yang duduk, dua orang perempuan, yang satu namanya Ida, yang satu lagi yang berambut panjang digerai, ia tidak tahu namanya, kemudian ada Karia, Torik dan Jusdi. Mereka ada yang asli orang Payo dan ada juga yang berasal dari Sawahkareh kampung dimana ayahnya mengajar.


"Aku semalam tidur di surau, bangunnya kesiangan! Jadi yaahh terlambatlah....!"


"Berapa menit Kamu butuh waktu untuk sampai disini? "


"Tergantung... Kalau jalan santai sekitar setengah jam-an lah... Tapi kalau jalan cepat mungkin dua puluhan menit..."


"Jika berlari pasti lebih cepat lagi!"


"Iya! Tapi sampai disini aku langsung pingsan. "


"Hahaha... Janganlah.. nanti kami yang repot!!! "


Semua tertawa, semua gembira. Hilanglah penatnya, sembuhlah kakinya yang tadi digores duri sikajuik.

__ADS_1


"Alah abih padi dek unggeh..... Hehehe.."


"Baa lai nyeh.. " Jusdi juga ikut ikutan.


"Yo meeang... "


Mereka tertawa gembira mendengar dialek Ida yang medok menirukan bahasa kampungnya Firdaus. Firdaus memang sudah kenal baik dengannya dan ia juga pernah beberapa kali ke rumah Ida.


Sulin ayahnya Ida seorang tukang kayu. Keluarga ini berhubungan sudah sejak lama. Rumah Anjar, mulai dari membangun, pengembangannya kalau ada yang ditambah atau dirombak selalu Sulin yang dipanggil, makanya Firdaus dan Ida cukup akrab. Karena kedekatan dan hubungan itu rumah mereka juga mirip terutama warna catnya. Mungkinkah? Ah, jangan berprasangka buruk, tidak baik terutama untuk sebuah hubungan, apalagi berniat menuduh orang tanpa bukti pula.


Balanjung makan ubi panggang akhirnya selesai juga. Mereka bubar, ada yang kembali ke sawahnya ada yang pulang. Sekarang yang tersisa hanya mereka bertiga, Dasril, Jusdi dan Firdaus.


Firdaus menyobek asoy bawaannya lalu mengeluarkan sebuah bungkusan yang tadi katanya kumayan untuk mengusir pianggang. Ketika dibuka rupanya sedikit ketan dan sebuah goreng pisang.


"Setan kamu, kirain tadi serius!"


"Hahaha..."


"Yuk kita preteli bertiga! Pasti lebih enak ketimbang ubi bakar tadi."


"Oke bos!!!"


Setelah sarapan kedua itu ludes Firdaus duduk bersandar pada tiang memandang ke sawahnya, seperti sudah menguning dan siap untuk dipanen. Untunglah ayahnya memberi tua-tua mirip orang-orangan yang dipasang baju bekas, kalau ada angin ia bergoyang goyang menimbulkan suara, banyak sedikit burung pasti jadi takut. Yang paling sering mangajuik unggeh pastilah ia dan sekali-sekali Midar kakaknya.


Pernah Firdaus tidak sampai ke sawahnya karena keasyikan bermain. Bermain dan bersenda gurau dengan teman sebaya memang mengasikkan, bisa lupa tugas dan lupa waktu, seperti Firdaus....


*


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen, selalu itu yang paling penting buat author,


terima kasih..

__ADS_1


      


__ADS_2