Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Bangku Sialan


__ADS_3

"SEBELUM PELAJARAN dimulai, Ketua kelas.... kumpulkan pekerjaan rumah minggu kemaren, dan kamu Firdaus , catatkan soal-soal ini di papan tulis, nanti kalau sudah selesai kumpulkan.!! Ketua kelas tolong antar ke kantor, paham..??!!" kata pak Hamzah dengan suara bariton dan dialek kampungnya yang kentara sekali.


Kemudian guru matematika itu meninggalkan kelas dan membawa kertas latihan yang tadi dikumpulkan Azwar si ketua kelas. Beginilah nasib sekolah swasta, di kampung lagi. Sebentar-sebentar guru tidak datang, atau hanya mengirimkan buku untuk dicatatkan di papan tulis. Tapi itu lebih baik ketimbang tidak ada kegiatan sama sekali.


Biar sang guru tidak paham betul dengan pelajaran yang diajarkannya, bukankah ia punya buku pegangan, yang akan menuntunnya mengajari murid muridnya. Guru mengajar sambil belajar juga, bisa mengabdi dan ilmu juga bertambah. Guru yang berstatus pegawai negeri di sekolah ini ada beberapa orang, mereka guru sekolah negeri yang diperbantukan ke sekolah swasta ini, mereka itu Buk Nur guru PMP, Maini guru Ekonomi, Rawanis guru Bahasa Inggeris, Selebihnya guru honor yang mempunyai latar belakang pendidikan yang memadai untuk menjadi guru. Mereka adalah pahlawan, pahlawan tanpa tanda saja yang namanya terukir dalam sejarah kampung sebagai pendiri lahirnya sebuah sekolah menengah pertama. Walau hanya dengan honor yang seadanya mereka tetap menjalankan tugas di tengah-tengah kesibukan gandanya.


Sejalan dengan berjalannya waktu, yang tidak pernah lelah, tak pernah berhenti barang sedetik pun, sarana dan prasarana mulai dilengkapi. Yang namanya sekolah swasta di kampung, perkembangannya memang tidak pesat. Apalagi sekolah yang hanya mengharapkan belas kasihan disamping bantuan pemerintah yang tidak seberapa. Justru yang pesat perkembangannya baLaisatu dan daerah di sekitarnya, dimana mana berdiri warung darurat, tempat berjualan tumbuh menjamur, tidak hanya pagi hari, tapi siang sampai sore ramai.


Firdaus pun ketiban rejeki. Pohon rambutannya berbuah lebat dan sudah mulai dipanen. Ia tidak hanya mengonggok di pinggir jalan di depan rumahnya sekarang ia berani menjojokan sampai ke Balaisatu, hasilnya lumayan, buat menambah kacionya.


Ia memang rajin menabung, semenjak sekolah telah banyak kacio yang dibelahnya karena telah penuh. Ia membuat sendiri dari ruas pohon bambu. Ia tidak pernah membeli. Dan Firdaus akan menyimpan uang yang telah terkumpul pada ayah tidak pada ibunya. Firdaus tidak mau, dulu pernah disimpan sama ibunya tapi jumlahnya sering berkurang makanya ia tidak mau lagi.


Firdaus juga sering mendapat uang dari neneknya, kadang ia disuruh mencangkul rumput di halaman, suatu ketika disuruh mengupas kelapa untuk dijual, pada saat lain di suruh ke heller mengantarkan jamua untuk digiling menjadi beras. Untuk semua itu ia selalu mendapat persen.


Saat jam istirahat Firdaus dan Azwar tidak keluar kelas.


"Ayoklah, Daus ... ngapain duduk di kelas, bosan! Enak kita di luar ngobrol-ngobrol..." Azwar mengajaknya.


"War... kalau mau keluar silahkan, Aku lagi nggak enak badan, perutku terasa mulas... tadi malam Aku kurang tidur. nanti kususul kalau udah baikan!"


Azwar tidak banyak omong, ia pun turut duduk disamping Firdaus. Mereka ngobrol tentang masa lalu, masa ketika mereka sekolah sebelum memasuki sekolah ini.


"Aku juga pernah sekolah di Kajang, kelas empat...! Aku dipindahkan Ibu, agar bisa mengasuh adikku yang paling kecil kebetulan di sana seminggu pagi, seminggu siang..."


"Kamu anak guru?"


"Iya, Bu Anjar itu ibuku?"


"Oooh... Pak Rustam itu ayahmu?" Firdaus mengangguk sedang Azwar terlongo kagum.


"Kamu kenal Indra, Jasmi, Martias. Mereka sering mengolok-olokku, menjodoh-jodohkan aku dengan Liyati, itu.., yang rumahnya pendakian dekat mesjid."


"Ya ya, Aku tahu, kamu pernah nggak naik kelas yaa?"


"Bukan tapi, Aku tak tahan diolok-olok terus, hanya beberapa bulan, akhirnya Aku berhenti. Aku tak mau sekolah lagi. Waktuku setahun itu kuhabiskan untuk mengasuh adikku!"


"Pantas!" Aswar terbahak seraya menepuk-nepuk meja.


"Pantas kenapa?"


"Nggak ah, ntar kamu marah!"


"Awas kamu ketua, nanti kalau butuh bantuan, aku nggak mau bantu..."

__ADS_1


"Jangan gitu kawan! Masa iya... kita kan sahabatan.... pakai main ancam segala! Aku cuma mau bilang pantas kamu begitu mudah pindah dan keluar masuk sekolah, kamu juga pintar, rupanya ayah ibumu guru!"


Sesaat mereka terdiam, larut dalam pikiran sendiri-sendiri. Tiba-tiba perut Firdaus bersuara, bunyinya jelas terdengar. Aswar tertawa lagi, "Cacingmu bernyanyi, Kau lapar?"


"Iya, tadi tidak makan siang, ibu belum masak, Sekarang perutku nggak mules lagi, tapi jadi lapar, pengen makan lontong, kamu ikut?" Firdaus bangkit dari kursi.


Azwar menggeleng dan pindah duduk ke sebelah Suardi yang baru masuk lokal. Firdaus bergegas keluar, beberapa anak perempuan dari lokal lain tersenyum heran melihat ia berjalan terburu buru.


"Daus, kemana? Buru buru amat..."


"Iya nih, ngisi kampung tangah..." balas Firdaus. Warung ancu Asau yang tadi ramai sekarang sudah sepi, anak-anak sudah banyak yang masuk lokal.


"Ketupat Ncu! separoh..." anak lelaki itu memesan makanan.


"Saparoh? lagi ndak berselera atau tak punya uang? " Oleng menyindir Firdaus. Anak lelaki itu tidak menanggapi, tidak perlu ditanggapi makanya ia pura-pura tidak dengar. Oleng bukan anak lelaki berotak cerdas tetapi anak lelaki berotot kawat, meladeninya sama saja dengan menggilakan diri....


Sebelum mulai menyendok Firdaus berbasa-basi pada anak perempuan yang duduk paling ujung, anak perempuan itu tersenyum dan balas mengangguk. Menyadari anak lelaki yang tersenyum itu adalah anak lelaki yang mengotori roknya beberapa hari yang lalu wajahnya berubah menjadi dingin. Rupanya ia masih marah karena pertengkaran di samping sekolah beberapa hari yang lalu. Sialan, kenapa ketemu perempuan tak beradat itu lagi?


"Aku duluan ya, perutku jadi mual... Mau ke belakang dulu!" Oleng pamit pada anak perempuan itu yang raut mukanya tadi berobah masam. An itu tersenyum padahal tadi sepertinya ia mencuekin Oleng. Gadis itu tidak menjawab tetapi mengangguk sambil tersenyum.


"Kok baru mancogok, Dauss... tadi kemana?" ancu Asau


"Bikin tugas Ncu, tanggung...!, semalam sakit perut, dimabuk jengkol, udah beberapa hari ini sambal jengkol melulu....!" jawabnya acuh menyendok lontongnya buru buru, mulutnya terisi penuh lalu didorongnya dengan setengah gelas air.


Di bangku panjang itu tinggal mereka berdua, Firdaus diujung kiri dan anak perempuan itu diujung sebelah kanan. Firdaus tidak tahu namanya, yang ia tahu gadis itu cantik dengan rambut sebahu, kulitnya hitam manis. Ia melihat pertama kali di rumah ancu Marina, ia teman Dekon. Kemudian beberapa hari yang lalu mereka bertengkar di samping sekolah.


"Bruaakk...!!!!" tiba tiba bangku terjungkit karena berat sebelah dan menghantam pantatnya, terasa sakit.


"Aduh!!!...." anak perempuan itu menjerit, ia jatuh terduduk di tanah, kakinya ditimpa bangku, roknya kotor kena kuah lontong. Ia meringis, sakit dan malu. Firdaus jadi iba dan merasa sangat bersalah.


"Maaf..Aku tak sengaja, ada yang sakit, Aku yang salah!" Firdaus berusaha membantu anak itu berdiri tetapi ia menepiskan tangannya yang berusaha membantu.


"Anjiii....!!!" sumpah sarapah meluncur deras, segala nama binatang disebutnya. Muka gadis itu merah bagai kepiting direbus. Roknya kotor lagi seperti kena mencret anak bayi, dan kakinya membiru..


"Sekali lagi maaf, Aku memang salah, tapi,,, tidak seluruhnya kesalahan ada padaku, sungguh! Aku tidak sengaja." mohon Firdaus dengan suara bergetar. Katanya membela diri dan bukan melempar kesalahan. Kendati gadis itu telah menginjak-injak harga dirinya dengan kata-kata kotor, dengan sebutan yang tidak pantas.


"Tuuh... Kamu berdiri seenaknya, lihat rok Eda jadi kotor, kakinya membiru dihimpit bangku." Ancu Asau juga ikut serta menghakimi Firdaus.


Firdaus hanya diam, merasa berdosa. Padahal bukan ia yang salah, yang bikin bangku yang paling salah. Kenapa bikin kaki bangku seenaknya tanpa memikirkan keselamatan orang, kenapa kaki bangku menjorok kedalam, seharusnya di pinggir saja biar tetap stabil.


Azwar hanya tertawa ketika Firdaus menceritakan kejadian yang baru dialaminya. Firdaus menepuk punggung Azwar, "Amak aangg....!!" umpatnya.


Pak Dalimi memandang tajam, mereka jadi terdiam. Sesaat kemudian mereka telah serius mengikuti pelajaran agama.

__ADS_1


*


"Sekolah Kita bukan sekolah keputrian lagi, Pak! Tetapi sudah dilebur menjadi sekolah umum, sekarang hanya tinggal kelas dua dan kelas tiga! Bapak tidak perlu khawatir, kelas satu sekarang dua lokal, itu sama banyak yang laki dan perempuan... " jelas Bu Kepala Sekolah melihat keraguan ayahnya.


"Dan Kamu besok boleh masuk, seragam sekolah kita baju putih dan celana putih, kecuali hari Sabtu pakaian pramuka lengkap! Kita sekolah siang sampai semester genap ini berakhir. Kamu paham? "


"Paham Buk. " jawab Firdaus sambil mengangguk.


Selesai pengurusan sekolah, Ayahnya mengajak Firdaus singgah di toko kain Andung Nureka pemilik rumah tempat Miati tinggal, sebelum Miati melanjutkan sekolahnya ke kota lain.


"Jadi namamu Firdaus? "


"Iya Nek... "


"Jangan panggil Nenek, panggil Andung saja, sama seperti kakakmu Miati."


"Iya.... Andung... "


"Nah begitu labih baik. Daus tinggal di rumah Andung saja dulu sebelum Daus dapat rumah. Kebetulan kamar yang ditempati kakakmu masih kosong sampai sekarang."


"Alhamdulillah, untuk sementara Kamu dapat tinggal di rumah Andung, disamping itu Kamu harus berusaha mencari tempat kost, Ayah sarankan yang dekat masjid, dan ada teman satu sekolah... Kan begitu lebih baik Andung? " Angku Rustam berkata panjang lebar.


"Begitu lebih baik...Pak Guru, Nanti Andung bantu.. Mudah mudahan dapat.. Kapan mau masuk sekolah? " tanya Andung kemudian.


"Insyaallah besok Andung... " jawab Angku Rustam pendek.


"Nanti Andung suruh Marzuki cucu Andung membersihkan kamarnya. Sekarang dia belum pulang sekolah. Marzuki sekolah agama... Dia bisa jadi teman Daus.. " lanjut Andung kemudian.


"Oh ya, peti kakakmu masih ada, masih disimpan di kamar itu, sekalian sama kompornya, kamu boleh periksa sekarang kalau gemboknya ada... Daus bisa pakai itu semua nanti... "


"Besok saja Andung, sudah hampir sore, takut nanti tidak ada tumpangan pulang ke kampung. "


"Baiklah Pak Guru.... Nak Daus.. "


"Kami pamit, Assalamualaikum.. "


"Waalaikum salam... "


Mereka meninggalkan Toko kain Andung Nureka.Dari toko kain Andung Nureka mereka keluar ke jalan raya yang membelah pasar Batusangkar, belok kanan, di rumah makan Selamat mereka berhenti, mengisi kampung tengah, makan. Setelah makan wajah Firdaus yang tadi kuyu tak bersemangat kembali berseri seri. Setelah makan mereka kembali berjalan arah ke panggung, sebelum simpang rumah sakit mereka berhenti dan berdiri di depan SD sebuah bengkel sepeda, nasib lagi mujur, di simpang Bioskop Karia mereka ketemu mobil ABS Mak Asai yang baru dari bengkel. Dengan mobil itu mereka pulang.


*


Terima kasih atas kunjungannya,

__ADS_1


mudah mudahan terhibur,


jangan lupa like dan komennya


__ADS_2