
JASNIDAR, muncul di pintu. Anak-anak berlarian ketempat masing-masing, kemudian duduk dengan tertib. Suasana jadi hening. Ia berdiri di depan kelas memandang sekeliling mengawasi muridnya satu persatu. Semacam mengabsen, begitulah kebiasaan guru yang satu ini. Tepat di wajah Firdaus pandangannya terhenti, sementara Firdaus yang dipandang diam menunduk, tidak berani beradu pandang. Dalam hati Firdaus berdoa.
"Mudah mudahan ya Allah buk Jas menerangkan catatan minggu yang lalu... bukan menyuruhku melanjutkan catatan... Ya Allah, sungguh aku tidak berani berdiri di depan kelas, Aku bukan tidak patuh pada perintah guru.... ampunilah hambamu ini... "
"Firdaus ! Lanjutkan cacatan minggu kemaren, usahakan tamat, kalau bisa minggu depan kita ulangan!!" Suara Buk Jas memutuskan doa Firdaus. Kontan tanpa menunggu lama Allah belum kabulkan sebagian doanya. Doa yang tadi dibacanya dalam hati. Ah, barangkali karena ia berdoa tidak dalam keadaan berudhu, tidak dalam keadaan suci dari hadas besar dan hadas kecil, bukankah tadi bersinggungan dengan Dekon yang bukan mahram?
Firdaus diam tidak beranjak dari kursinya.
"Firdaus??!! Kamu dengar?" nada bicara sudah tinggi. Matanya melotot, seakan mau terbudur keluar, wajahnya kelihatan garang, garang sekali. Barangkali Bu Jas ada masalah di rumah jadi terbawa bawa ke sekolah. Membuat emosinya mudah tersulut.
"Maaf Buk, Saya tidak bisa.... "
Firdaus bingung. Apa yang mesti dikatakannya? Buk Jas marah sekali, bukan hanya pada Firdaus tetapi melebar kepada semua murid. Ia mencak-mencak, katanya murid sukar diatur dan tidak mau mendengarkan nasehat guru. Kelas satu A kelas yang paling susah diatur. Padahal penyebabnya cuma satu, karena Firdaus tidak mau mencatatkan buku cetak di papan tulis. Firdaus tidak mematuhi perintah gurunya. Keterlaluan sekali anak ini. Sudah pandai mengacuhkan gurunya. Ada apa gerangan?
"Ayo siapa yang mau???"
Semua diam, tidak ada yang bersuara.
"Siapa??? "
Murid-murid tetap diam, tidak ada yang berani menatap mata buk guru. Semuanya menunduk.
Akhirnya Jasnidar kembali ke kantor meninggalkan kelas yang hening pageh. Ia manggok karena merasa tidak diacuhkan oleh murid-muridnya.
Sepeninggal buk guru lokal jadi gaduh.
"Jual mahal.... "
"Merasa pintar.... "
"Kita sumua yang rugi... "
"Kenapa Daus yang disalahkan? Toh selama ini Dia sudah mencatatkan untuk kita? Seharusnya ibu guru yang salah, meninggalkan lokal begitu saja setelah marah-marah, padahal itu tugasnya... dia kan digaji...! "
"Padahal kita semua bayar uang sekolah..."
"Ketinggalan lagi dehh, dibanding lokal lain...!!! "
"Kalian hanya bisa menyalahkan, tadi waktu Ibuk nyuruh kalian ngga ada yang berani...!! Kenapa diam saja? Giliran ibu pergi baru berani bicara, dasar kalian!!!"
"Kalian tahu, Sehabis mencatat untuk kita, di rumah dia harus mencatat ulang ke bukunya dengan meminjam bukuku.... Supaya catatannya nggak ketinggalan...!!!"
__ADS_1
Semua bersuara saling membela dan menyalahkan. Ada beberapa orang yang mencoba membela Firdaus tetapi lebih banyak yang menyalahkan, gegara Firdaus semua jadi teraniaya, catatan mereka jadi ketinggalan, kelas mereka akan dicap menjadi kelas nakal.
Lokal semakin gaduh, lebih gaduh daripada di balai. Di balai tidak segaduh ini, di balai walau gaduh masih terdengar suara tawa ... Tapi disini gaduh yang tak punya irama, amburadul.
Tiba tiba terdengar suara pekikan anak anak perempuan, rupanya Nono yang sedari tadi hanya diam saja di kursinya tiba-tiba bangkit dan bergegas menuju Firdaus. Nono meninju kepala Firdaus. Firdaus memiringkan badannya, akhirnya tinju itu mendarat di bahu kirinya. Melihat kejadian itulah anak anak perempuan menjerit.
"Waang jan sok hebat, sok jual mahal... Gara-gara Waang ibuk guru marah... Itu nan kalamak di Waang...!!!"
Firdaus ingin membalas, tapi teman teman menyabarkannya... Kemudian ia kembali duduk, cuek dan melupakan yang barusan terjadi.
"Udah... Udah... Orang gila diladeni..! '
"Ngga usah dilawan Us...!!! "
"Sok bagak!!! "
Firdaus tetap cuek, mau bilang apalagi, memang salahnya. Menyesal ia tadi sewaktu jam istirahat memakai sepeda mini. Sepeda itu punya Abdurrahman anak lokal sebelah, yang dipinjamnya dari Angku Sui. Sepeda mini itu tidak baru juga, tapi bagi Firdaus ada yang baru. Geriginya punya banyak pilihan, mau yang kendor atau yang keras mengayuhnya. Dan Firdaus pengen mencoba sesuatu yang baru. Selama ini ia hanya baru melihatnya tapi belum pernah mencobanya.
Setelah insiden keributan yang dilakukan Nono, dan lokal sudah kembali tenang Azwar si ketua kelas bergegas ke kantor membujuk kembali Bu Jasnidar, ia tidak ingin gara-gara hal sepele semua jadi korban, tetapi Azwar tidak menceritakan keributan kecil yang terjadi sepeninggal Jasnidar di lokalnya.
"Ooo begitu, kenapa tidak ngomong dari tadi..? Sekarang bawa saja buku ini, terserah siapa yang akan mencatatkan, Ibuk tidak mau tahu.. nanti kalau sudah selesai tolong bukunya dikembalikan lagi sama Ibuk...!"
Azwar sang ketua kelas kembali ke lokal. Karena tidak ada yang bersedia maka terpaksa ia sendiri yang menulis di papan tulis. Walau tulisannya naik turun kadang miring kebawah kadang miring keatas. Sang Ketua kelas sudah bertanggung jawab demi kebaikan lokalnya.
Setelah lonceng berbunyi, Azwar mengakhiri catatannya, kemudian ia memanggil Firdaus ke depan kelas.
"Firdaus...!!! kemari...! "
Enggan Firdaus bangkit, dengan manarok kedua tangan dibelakang ia melangkah ke samping Azwar.
"Saya jelaskan kepada rekan semua, biar tidak ada salah duga, salah sangka, supaya masalah yang terjadi hari ini klir... tadi.... sudah banyak kata kata sumbang, kata yang tidak pada tempatnya yang ditujukan pada Firdaus, yang mungkin terasa pedas dan menyakitkan, padahal Firdaus tidak mau karena... "
Azwar memutar badan Firdaus menjadi menghadap kepapan tulis, lalu ia menyinsingkan bajunya keatas dan kelihatanlah celananya robek panjang di pisaknya. Celana Firdaus agak kekecilan maka jelas sekali terlihat robeknya.
"Firdaus menolak karena itu, seperti yang kalian saksikan. Aku yakin tidak ada yang berani berdiri di depan kelas dalam kondisi seperti ini!!!"
"Ooooo.... "
"Pantas.... "
__ADS_1
"Haa malu ngeliatnya... "
"Seharusnya tadi ngomong terus terang sama ibuk...."
"Sangko wak si Daus nan alah sombong, sok dan jual mahal... Kiranya.. Hmm... "
Orang yang paling merasa bersalah Nono, tentu saja ia telah terlanjur meninju Firdaus. Ia termasuk anak lelaki yang sportif. Ketika ia tahu Firdaus punya alasan yang kuat untuk tidak berdiri di depan kelas ia mendatangi Firdaus yang tengah duduk ngobrol bertiga, Dekon dan Azwar. Sebetulnya di dalam lokal tadi Nono pengen minta maaf, tapi Ia punya pertimbangan lain. Kemudian Jaswan dan Dasri ikut bergabung bersama mereka.
"Kompak nih yee... "
"Ketua sama sekretaris akur.. "
"Mantap!!! "
Saat itulah Nono datang menghampiri Firdaus, menarik tangannya mengajak berdiri.
"Maafkan aku, aku telah meninjumu, tapi kamu tidak salah, aku yang keliru... Maukah kamu memaafkan?" pinta Nono tulus.
"Kusangka kamu melawan guru, aku tak ingin lokal kita dapat predikat jelek, nanti bisa berkembang ke guru lain. Selama ini lokal kita lokal aman, tertip dan tidak pernah ribut, aku tidak mau itu... andai tulisan ku tidak cakar ayam, aku mau saja menggantikan kamu mencatatkan ke papan tulis."
Firdaus meraba bahunya yang tadi ditinju Nono.
"Santai aja kawan, aku juga maklum, kamu terlalu bersemangat, apalagi Buk Jas orang sekampungmu, aku pun akan berbuat hal yang sama..."
"Hanya saja kamu tidak nanya, tidak selidiki, langsung bertindak, akibatnya ya seperti ini... Untung yang kau tabok aku, coba yang lain, pasti akan terjadi perang antar kampung, antar nagari... Bisa jadi masalah besar!"
"Ya, Daus, makanya aku minta maaf, aku salah... Untuk kamu ketahui, Buk Jas salah satu tokoh perempuan di nagari kami...."
"Kutraktir kamu semangkuk bakso Inar, itung-itung sebagai penebus dosa tapi besok ya, sekarang aku nggak punya uang lebih?
"Ok kawan!"
Eda melewati rombongan itu sekembali dari warung.
"Heii.. sini...!! Masih beberapa menit lagi baru bell!" Dekon menahannya dan ngajak ikut bergabung.
"Serius banget kayaknya, takut mengganggu, masalah interen kali!" tolak Eda berniat ke lokal.
"Ah nggak juga, tadi ada sedikit insiden di kelas tapi udah kelar tinggal salamannya aja!" lalu Dekon menceritakan bagaimana detailnya.
"Kasihan!"
"Apanya?"
"Yang kena tinju."
"Nah itu dia! yang mau aku omongin, kalau kasihan bantu dong, tugas prakaryanya belum jadi jadi juga! Kata Daus mau minta tolong ama kamu Eda, tapi yah... takut ditolak! takut kamu enggak mau bantu! Kalian kan musuhan...!"
Firdaus memmburu Dekon, rol ditangannya beraksi. Pantat Dekon jadi korbannya, Dekon meringis kesakitan, semua orang tahu, itu hanya sandiwara.
"Bukan begitu, tadinya aku minta tolong ke Dia....!" ujarnya sembari menipuk bahu Dekon lagi.
"Dasar kamu Dekon! ndak mau, ya bilang aja terus terang, ngapain nyuruh Eda!" sambung Firdaus gelagapan. Tidak menyangka Dekon akan mengusilinya. Dekon mengerdipkan sebelah matanya pada Firdaus.
"Udah ditolong, bukan terima kasih, ee malah marah!!"
*
Terima kasih telah hadir,
jangan lupa like dan komennya,
__ADS_1
terima kasih untuk semua