
FIRDAUS DUDUK di lantai papan ruang tengah sambil bersandar ke dinding. Kakinya terasa pegal dan kesemutan makanya ia bersilonjor sembari memijat-mijat kakinya yang sakit. Ketika punggungnya terasa gatal digigit kepinding yang bersarang dicelah papan dinding rumah ia bangkit mencari samek kemudian meluruskan samek itu dan menusuk-nusukan diantara celah papan berulang kali. Tercium bau menyengat, tandanya ia berhasil membunuh beberapa ekor.
"Mampus kau kepinding tak berotak!, Kau lebih breksek ketimbang Nyamuk, ya nyamuk lebih terhormat, ia masih sempat permisi dengan merengong rengong sebelum menghisap darah sementara kepinding, kau dari balik pakaian menghisap darah orang, makanya darahmu bau kalau dibunuh! Beda dengan nyamuk..." rutuknya sambil terus berusaha membunuh lebih banyak lagi. Setelah puas menjadi pembunuh dan merasa sudah aman, ia kembali bersandar dan kembali sibuk dengan kakinya.
Beberapa hari terakhir ini hari selalu hujan rinai yang berulang-ulang.. Tidak deras memang tetapi lama dan tidak kunjung reda membuat aktivitas diluar banyak yang tertunda, membuat orang orang betah berkurung dalam rumah.
Sang ayah melihat anaknya sibuk dengan kakinya mencoba peduli dengan sebuah perhatian yang jarang sekali diperbuatnya.
"Kanapa kakimu?"
"Sakit kalau ditekan, terasa ngilu!"
"Kecapean?"
"Mungkin!"
"Itu akibat berulang ke sekolah beberapa hari ini, kamu naik sepeda terlalu memaksakan tenaga menempuh jarak yang lumayan jauh dan hampir separuhnya menanjak yang cukup tinggi!"
"Tapi sudah selesai mendaftarnya, hanya tinggal menunggu pengumuman!"
"Terserah kamu lah!""
"Nggak parah kok, nanti juga baikan..."
"Kalau kamu rutin dan santai mengayuh tidak dipaksakan tidak akan membuat saraf dan otot kaget. Kamu lihat ayah menempuh jarak sekian kilometer dengan jalan kaki tetapi karena santai dilakukan tidak membuat otot kram dan kejang! Justru kalau diam di rumah tanpa ada aktifitas yang membuat loyo!"
__ADS_1
Firdaus menghentikan kegiatannya dan mendekati meja melihat ayahnya yang sibuk dengan buku-buku.
"Kamu harus bersyukur, nilaimu cukup bagus, ayah yakin kamu pasti bisa diterima di sekolah negeri, tapi andai kau lebih serius kemarin tentu nilaimu akan lebih baik! Kapan nomornya keluar?""
"Tapi Ayah, aku pingin di Padang...!"
"Ayah sih, setuju saja, tapi kalau nilai segini kamu mendaftar ayah tak yakin kamu diterima, sedang di sini saja belum pasti diterima, makanya kemaren apa ayah bilang, belajar dan belajar, tapi kamu masih saja keluyuran, masih saja hilir mudik, itulah hasilnya usahamu itu....! Sekarang gini saja, Kalau kamu tidak diterima disini, Kau boleh sekolah swasta di tempat kamu mendaftar bersama mamakmu kemaren..!"
"Hore! Mudah mudahan aku sekolah di kota, cita-citaku jadi seorang dosen bakal tercapai... Jauh dari orang tua membuat waktu belajar menjadi panjang, nggak mikirin yang lain kecuali belajar. Nggak disuruh ini nggak disuruh itu... Hehehe mantap!"
"Ingat! Kalau kamu tidak diterima di sekolah negeri...! Tapi kalau kamu diterima kau harus sekolah di sini, dan lupakan keinginanmu untuk bersekolah di kota! "
Tiba-tiba Anjar masuk kembali dari balai desa, entah mengurus posyandu atau KB. Wajah Anjar kelihatan letih setelah mengikuti beberapa kagiatan di kantor wali.
"Ya, kalau kamu rajin dan nilainya bagus bisa dibelikan sepeda motor buat sekolah!" Ibunya turut memberi janji agar Firdaus tambah semangat.
"Ibu serius! Tapi bukan buat malala, bukan untuk keluyuran, bukan untuk gagah-gagahan!!"
"Hebat Ibu, terimakasih walau baru rencana, aku senang sekali mendengarnya."
"Ini bukan hanya rencana, tapi akan jadi kenyataan... Kamu tunggu saja!"
"Iya Bu, aku percaya, karena selama ini jarang rencana dan janji ibu yang meleset kecuali ada yang lebih penting...
DENGAN menggunakan sepeda beberapa hari kamudian ia melihat papan pengumuman di komplek SMA. Pekarangan sekolah sudah dipadati orang seusinya, dan yang paling bersesak disekitar jendela kaca yang ditempeli kertas pengumuman. Entah gembira entah sedih hatinya ketika mencari-cari namanya, ia menemukan diurutan 154, empat nomor dibawahnya diberi garis merah.
__ADS_1
"Selamat, kamu diterima!"
"Marwan! Kamu gimana? Diterima juga?"
Marwan manggeleng.
"Hanya kamu dan Baruna, kami tidak seberuntung kalian... Tapi khabarnya ada penerimaan tahap dua, mudah-mudahan aku bisa diterima, bagaimanapun caranya..." ujar Marwan mantap.
Marwan mambayangan seseorang, Adhino pamannya yang bekerja disebuah instansi di kota ini, ia pasti bisa meloloskannya.
Furdaus diterima di sekolah negeri! Hanya ia dan Baruna. Ada beberapa teman sekampung yang dijumpai, mereka berwajah lesu dan tidak gembira. Pasti mereka tidak diterima. Wajah-wajah itu kuyu kehilangan gairah dan semangat, kecuali Marwan dan Arman.
Sedang ia ada diterima tetapi tetap tidak bersemangat, wajahnya tetap datar tidak sedih dan tidak juga senang. Ia memang berharap agar tidak diterima biar bisa melenggang ke kota walau di sekolah swasta.
Kini keinginannya untuk bersekolah di Padang pupuslah sudah. Walau bagaimana sekolah negeri jauh lebih baik dari pada sekolah swasta, terutama dari segi finansialnya, begitu kata ayahnya. Karena ayahnya sudah punya ketetapan ia harus patuhi dan ikuti walau setengah hati.
Dan juga ada sedikit rasa bangga ia bisa menyisihkan sebagian teman temannya yang tidak beruntung, artinya ia masih punya sesuatu yang masih bisa dibanggakan ketimbang kawan-kawan yang tidak bernasib mujur itu. Terbersit juga rasa syukur di hatinya... Alhamdulillah, gumamnya sembari meninggalkan komplek sekolah SMA negeri.
Ada rasa sesal kenapa kemaren barang-barangnya dibawa pulang semua, tiada yang ia sisakan, termasuk peti dan dipan, kompor dan periuk. Tentu ia tidak akan repot sekarang, hanya tinggal melanjutkan sewa rumah. Tapi itu Firdaus ia bahati surang, tanpa mau mendengarkan saran dan kata orang tuanya. S inekarang ia belum berniat mencari rumah, atau melanjutkan rumah yang lama, sementara ia akan berulang dari kampung dengan sepeda menempuh jarak sepuluh kilometeran itu.
Di rumah ia tidak banyak bicara, tidak banyak berinteraksi dengan penghuni lain, dengan orang tua dan kakak-kakaknya, barangkali karena letih berulang yang cukup menguras tenaga. Ia sering berkurung di kamar atau menghilang dari rumah pergi sama teman-temannya.
Mau menjumpai Farida ia sudah tidak berani. Farida sudah tinggal bersama ibunya di Balai, pernah terlintas di pikirannya untuk mencegat sekembalinya Farida dari sekolah, tapi pikir punya pikir keinginan itu dibuangnya jauh-jauh, ia kasihan pada Farida kalau ibunya sempat tahu... Bisa saja Marlina mengeluarkan Farida dari sekolahnya. Ia memang tidak berharap melanjutkan sekolah Farida, tamat SD saja sudah cukup. Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi toh nantinya ke dapur juga, kira-kira begitu prinsipnya, prinsip orang kampung.
Dan hubungannya dengan Farida suka hidup-hidup mati kayak lampu sein, ini sudah beberapa bulan mereka tidak pernah ketemuan. Firdaus sering bersama teman temannya hilir lapau mudik lapau, begadang sampai larut malam. Kalau tengah malam baru pulang kerumahnya, buka songkok nasi, makan sambal kayak kucing kadang ada pakai nasi, kalau lagi lapar, kemudian bikin kopi atau teh... Lalu pergi lagi.... Ayah dan ibunya hanya mengurut dada menahan sabar.
__ADS_1
Ulah Firdaus sering bikin kesal keluarga, ayah ibu dan kakak-kakaknya. Perangainya selalu dibuat-buat supaya orang kesal dan jengkel. Di rumah kalau ngambil nasi piringnya sampai penuh dan ditambah lagi dengan sambal yang banyak, kadang sampai meluber, nasi itu sering tersisa lalu ditinggalkan begitu saja... Sering bikin teh atau kopi manis, kadang sudah bersemut-semut karena tidak jadi diminum dan diabaikan begitu saja. Sungguh banyak perbuatannya yang sia-sia, mubazir. Tidak ada yang menegur karena mereka semua tahu Firdaus lagi kecewa berat, lagi mencari ilik-ilik buat mengundang perhatian dan melepaskan kekesalan hatinya.