Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Menikam Jejak


__ADS_3

ADA PENAMBAHAN waktu enam bulan, satu semester. Firdaus urung naik kelas, ini kebijakan menteri pendidikan. Padahal menurut guru semua pokok bahasan sudah tersajikan, semua bahan ajar sudah disampaikan. TIK sudah tercapai. Tetapi sekarang naik kelas ditunda enam bulan. Pak Mentri, Syarief Thayeb ada-ada saja.


"Ini kebijakan, kita tidak perlu persoalkan, apalagi pertanyakan! Kita harus ikuti, kita akan perbanyak alokasi jamnya untuk matematika, bahasa indonesia dan bahasa inggeris. Begitu kata buk Yet, kepala sekolah kita kemaren!" Timpal Yusri.


Yusri, sang ketua kelas angkat bicara. Ia membantah karena ada banyak suara bersileweran, yang kurang enak didengar saling menyalahkan, maklum mereka semua sudah pengen duduk dikelas tiga... Usaha dan perjuangan mereka seperti sia-sia, bukan sia-sia tetapi harus ada perpanjangan dan penambahan waktu lagi. Bagi yang kurang bagus mah untung, masih terbuka kesempatan untuk memperbaiki nilai, yang sudah bagus bisa lebih bagus lagi.


Bagaimana dengan Firdaus?


Tidak sengaja, Firdaus berpapasan dengan Andung. Wanita tua itu baru kembali dari masjid Ihsan sehabis menunaikan shalat Zuhur, sementara Firdaus akan ke TB Sovia, mau mencari bacaan baru.


"Andung sampai lupa, rupanya kamu Daus. Kamu jauh berubah, kurusan dan rambutmu, bukan rambut anak sekolah, panjang kayak itu seperti preman. Di mana kamu tinggal sekarang? Masih di Kepala Pasar, di rumah si Pode yaa, toke tomat itu..."


"Iya Andung..."


"Kamu mau kemana? Sudah sholat Zuhur??"


"Mau nyari buku, sudah anduang, saya sudah sholat!" Dan disambungnya dalam hati, "Sekarang belum, lagi galau, mau nyari hiburan dulu." Andung tidak dengar karena Firdaus hanya mengucapkan dalam hati.


Ketika Andung teringat janjinya pada ibu Daus maka diajaklah anak lelaki itu singgah di tokonya.


"Ada yang mau Andung sampaikan sama Kamu, tapi tidak di sini, di kedai saja."


"Iya Anduang."


"Mau sekarang? atau setelah Kamu dapat buku."


"Sekarang saja Anduang, buku bisa dicari nanti..." Anak lelaki itu mengikuti Andung Nureka kemudian mereka menyeberangi jalan utama, beberapa buah toko di belakang Raja Pulpen, pertokoan penjual kain, konveksi di sanalah tokonya.


"Syahrial, ini Firdaus yang tinggal sama Anduang sebelum kamu...."


Mereka bersalaman. Syahrial sudah SMA kelas satu, ia tinggal dan makan bersama Andung, makanya setelah pulang sekolah ia full bantu-bantu Andung.


"Kamis yang lalu ibumu singgah, dia bercerita banyak prihal kamu,"


"Ya, Anduang."


"Kenapa begitu? Kamu ada masalah? Di sekolah atau di tempat tinggal mu? padahal dulu rajin, ta'at dan patuh pada orang tua... Bercerita lah pada Anduang... Mungkin Anduang bisa bantu."


Daus terdiam.

__ADS_1


"Sekolah kamu juga sering tidak masuk..."


"Itu tidak benar Anduang!"


"Kamu sering tidak bikin tugas, pekerjaan rumah selalu dikerjakan di sekolah, menyontek punya teman..."


beberapa kali orang tuanya dipanggil sekolah, dan beberapa kali buat surat perjanjian.


Firdaus terdiam, ia tidak berani menatap mata Andung. Ia duduk merunduk mamandang lantai.


"Saat aku mendengar suara azan pak Katik yang mengiba-iba, membuat hati saya luluh tanpa saya sadari pandangan jadi kabur, mata saya basah Anduang, teringat saya yang sudah lalai, sering melupakan sholat malah berhari-hari pernah tidak mengerjakannya, di rumah tak pernah belajar lagi, mana bisa belajar dengan baik, kadang ada yang mabuk, tenggen karena minuman keras....kelakuan saya sudah parah sekarang Anduang, rasanya pingin berhenti saja sekolah.


Tengah malam saya sering terbangun, seharusnya saya sholat mengadu pada Tuhan, tapi itu tak saya lakukan... "


Anak itu menumpahkan rasa sesaknya sama perempuan tua itu dan dengan bijak pula Andung memberi nasehat-nasehat.


"Jika begitu tinggal aja sama Anduang lagi,Tapi tidak di kamar belakang, kamar itu sudah ada yang menempati. kamu di kamar depan, kamu harus secepatnya pindah dari rumah Pode itu..."


Syahrial malam itu ikut membantu Firdaus mengangkut barang-barangnya yang tidak seberapa. Dipan, kasur dan sebuah peti kayu, itu saja.


"Aku dengar pembicaraan ibumu dengan Anduang, ibumu sudah angkat tangan dengan tingkahmu, ada apa Daus? Kok bisa begitu?"


"Yang kamu dengar belum seberapa Yal, itu bagian kecil aja..."


"Iya!, Aku lebih buruk dari sekedar cerita yang kamu dengar! Sekarang aku mau tobat dan belajar yang benar..."


"Bagus!"


"Ajari aku matematika dan bahasa Inggris, pelajaran itu momok yang menakutkan, karena aku tidak mengerti, tidak paham yang diterangkan guru!"


"Siap!"


Sekarang ia merasa tenang dan damai suatu perasaan yang jarang didapatnya di Lorong rumah Pode. Suatu perasaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.


"Menurut cerita ibumu, kamu sekarang sudah kenal sama perempuan...."


"Bukan sekarang saja! Kamu juga bukan?" potong Daus.


"Ibumu tidak marah, jangan jadikan sebagai batu penarung tapi sebagai penyemangatlah! Bikin surat tiap sebentar, apa tidak ada kerjaan lain? Jangankan bantu orang tua, bantu diri sendiri aja sudah tidak punya waktu, begitu kata ibumu yang sempat aku dengar!"

__ADS_1


"Anduang tau juga?"


"Iya!"


"Aku jadi malu..."


Daus memang sering mengungkapkan perasaannya pada selembar kertas, malah kadang di lembaran tengah buku tulis, dan ia lupa memisahkan atau merobek dari buku tulis itu. Kadang surat yang sudah diamplop diletak di sembarang tempat, akhirnya ia jadi lupa dan surat itu ibunya yang membaca. Kelalaiannya ini menjadi jejak bagi ibunya untuk melacak perkembangan anak bujangnya. Dan hubungannya dengan anak gadis, yang diklaim pacarnya itu adalah sebuah hubungan aneh, hubungan misterius.


"Nggak usah malu, santai aja... Kapan-kapan perkenalankan ya gadismu itu padaku, siapa tahu aku juga berjodoh dengan salah satu temannya, hehehe..."


"Nggak masalah..."


Mereka tertawa, senang.


Besoknya dengan langkah yang ringan ia berangkat bersama Syahrial menuju sekolahnya yang baru, SMP Satu.


Ini kali kedua ia menginjakkan kaki di sekolah ini. Dua tahun yang lalu, kurang lebih ia mendatangi sekolah ini, masuk ruang kepala sekolah, dan berharap bisa diterima menjadi murid, kepala sekolahnya masih kepala sekolah yang sama, tapi ketika itu ia kurang beruntung, ia tidak diterima karena semua lokal sudah penuh, sudah over kapasitas.


Sekarang ceritanya lain, justru tanpa diminta sekolah, ia dan seluruh teman-temannya wajib bergabung.... Apa ia senang? Karena situasinya tidak sama... Keinginan seperti dulu sudah hilang. Sekarang ia biasa-biasa saja, malah di lubuk hatinya yang dalam ia merasa tidak senang, tidak enjoy.... Ada beban yang yang ditanggungnya.


Seragam putih-putihnya tanggal diganti putih-hitam. Ini SMP ketiga, enam bulan di SMP Bengkawas, dua tahun di SKKP, dan sekarang insyaallah setahun di SMP satu.. Telah tiga kali ia menjadi anak baru di tempat yang baru. Setiap tempat tentu memiliki suasana yang berbeda. Pada sekolah terakhir, di SKKP awalnya ada perasaan tidak nyaman, karena kurang dianggap atau tidak dianggap sama sekali. Biasa, pindah dari tempat yang kecil ke tempat yang besar, dari sekolah kampung ke sekolah kota. Tapi perasaan itu bisa ditaklukkannya, ia bisa menang. Ia bisa menarik simpati guru-guru cantik, di SKKP cuma seorang guru laki-laki, pak Dastur, yang suka naik sepeda motor Yamaha, lari tidak seberapa tapi raungnya allahurabbi.


Guru-guru cantik itu, diantaranya buk Des yang mengajari cara membuat patron, belajar menjahit, ada buk Mas guru memasak, mengajari aneka masakan moderen dengan mempergunakan alat yang canggih pula... Sungguh betah sekali waktu itu, ilmu dapat perutpun kenyang. Di SKKP ia belajar hidup mandiri, hidup bersih berdayaguna dan berdayasaing. SKKP-ku, sekarang sudah tiada, yang bakal jadi kenangan buat diceritakan pada anak-cucu kelak.


SMP satu gedung utamanya mirip dengan sekolahnya yang lama, bangunan tua tetapi kokoh. Bedanya gedung utama sudah banyak ditambah dengan bangunan baru, jadi komplek ini menjadi sangat luas. Soal kebersihan, ketertiban SKKP masih yang terdepan, membuat murid dapat belajar dengan nyaman.


Jauh di belakang ada kafetaria, tempatnya bersih dan sejuk. Disana banyak pohon rindang. Besok-besok ia akan mencoba jajan disitu. Capek berkeliling dan waktu belajar juga mau dimulai akhirnya mereka kembali ke lokalnya.


Mereka bertiga Firdaus, Evion dan Indra selalu jadi pelengkap penderita, sering tidak kebagian peran, selalu kebagian yang terakhir, dan sering berada diluar forum. Pendatang selalu menjadi perlakuan yang tidak mengenakkan. Tapi masa bodoh, yang penting harus tamat dan mendapatkan ijazah.


Namanya Jefri, badan tinggi berdegap, ganteng dan kaya, ia ketua kelas Tiga satu, temannya David tinggi semampai agak kurusan mereka berdua teman selokalnya yang sering bikin ulah. Di kelas tiga satu Firdaus hanya bertiga, Evion, Indra warga baru, selebihnya penduduk lama. Diantara mereka hanya seorang yang mau bersahabat dengan mereka, Slamet Siniaga, orang Batak non muslim. Berempat mereka sering bercerita dan berkumpul, yang lain mah cuek, merasa tidak selevel.


Pernah pembagian kelompok untuk tugas Bahasa Indonesia, pementasan sebuah drama, boleh karya orang lain boleh juga dibikin sendiri. Ketua kelas yang membentuk kelompok, kelompok terakhir merupakan kelompok penampung, yang tidak termasuk kelompok manapun berarti masuk dalam kelompok ini. Ketika penilaian berakhir justru kelompok terakhir ini sebagai pemuncak, kelompok yang paling bagus nilainya, padahal awalnya mereka tidak dianggap sama sekali.


*


Terimakasih telah berkunjung,


jangan lupa tinggalkan jejak,

__ADS_1


like dan komennya


Terimakasih atas dukungannya.


__ADS_2