
EDA BERDIRI berkacak pinggang disamping Dasril. Ia tidak menyangka kalau Firdaus belum menyelesaikan tugas prakaryanya padahal sekarang sudah masuk pula tugas yang baru. Ia jadi iba apalagi anak itu baru kena tinju Nono pareman Simpang Gobah. Tapi tidak mungkin juga maladeni canda Dekon di depan banyak orang. Akhirnya ia berkata sembari memandang pada Firdaus.
"Kalian ketinggalan berita, punya Firdaus udah siap, hanya tinggal dikumpul sama Ibuk, iyakan Daus?!" kata Eda lembut.
"Kemaren kami kerjakan bersama di rumah Lisma!" sambungnya manja.
"Apaaa?" Azwar terkaget, mana ia percaya.
"Benar??? Aku nggak percaya, pasti omong kosong... " Jaswan berkata sembari menggeleng -gelengkan kepala.
"Sungguhkah... Kalau benar, berarti anteneku kurang tinggi... Harus dipertinggi biar nggak ketinggalan berita..! " Suardi ikut pula berkoar.
"Apa nggak salah orang, punya Oleng kali... Kemaren kulihat kalian sibuk di teras rumahnya. Mungkin mengerjakan tugas prakarya itu, hehehe.... saking asyiknya sampai nggak tahu orang lewat hahaha...!"
"Eh Buyung, kamu ikutan ngasih minyak tanah... Nggak mempan! Minyak tanahmu basi!"
Firdaus terkekeh, mana ada anak perempuan itu ke tempat Oleng, kemaren mereka seharian selalu bersama. Suardi tidak tahu itu, ia hanya asal menyerobot saja.
"Tanya aja sendiri kalau tidak percaya, kan orangnya ada... " setelah berkata, kemudian anak perempuan itu berlalu sambil tersenyum manis dan melambaikan tangan.
Dengan senyum di bibir Firdaus mengikuti Dekon. Hatinya begitu senang. Senyum dan kata-kata Eda begitu sejuk di telinganya dan senyum itu amat manis dan teramat manis. Padahal kata kata Eda barusan hanyalah bualan belaka. Sejak kapan Eda tau kalau prakaryanya sudah siap? Dan tinggal menyerahkan saja sama buk guru... Ahayy.. Eda memang pintar jatuh sekarang, tidak seperti waktu di warung Ancu Asau dulu, bengis!
Pelajaran prakarya bagi Firdaus seperti momok yang menakutkan. Setiap tugas yang dikerjakan selalu paling akhir saat an jurytime, atau saat perpanjangan waktu... Kayak sepak bola aja.... Dulu saat anyaman rotan membuat pelambut kasur. Padahal tidak sulit, anak anak lain dapat mengerjakan dengan mudah, tetapi bagi Firdaus butuh waktu lebih dari dua minggu, itu masih belum siap juga. Untunglah Nurhadiah bermurah hati membawanya pulang dan mengerjakan di rumahnya. Besoknya setelah oke baru Nurhadiah memberikan kepada Firdaus.
Malam itu telah beberapa kali Lisma mengajarinya tetap saja jahitannya tidak rapi. Kain starimin segi empat itu telah menyampureh karena sering dibuka pasang, benang-benangnya banyak yang sudah copot dan kotor.
Akhirnya Lisma menyerah, "Dasar otak udang! Bagaimana lagi mengajarimu?" seraya meninggalkan Firdaus dan kembali duduk dekat Yanti dan Marta.
Firdaus tersenyum kecut dan memandang kebawah. Berharap Jaswan dan Maryon datang. Yang kelihatan hanya sawah berjejer dengan padi menguning, mulai dari sawah Mandarek, Cintuak, Kandang Lawan sampai ke Banda Upah dan Sawah Laweh. Jauh disana
Di sebelah barat bukit Nyaru berdiri dengan gagah perkasa dan diujung sebelah selatan terhampar padang Simawang membentang luas. Pohon kelapa menjulang tinggi diantara pohon-pohon lain bagai bedil yang siap memuntahkan pelornya kalau musuh datang.
Awan hitam bergumpal-gumpal diselingi warna kelabu seperti bunga kol yang telah ranum karena telat dipanen.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, akhirnya Jaswan dan Maryon datang juga. Mereka ke surau dulu makanya mereka terlambat, begitu lapor mereka. Sekarang mereka jadi bertujuh.
"Masih saja kain stramin itu yang kamu osong-osong, orang sudah sampai di bulan! Kasihan kamu! Eii nona nona cantik, bantu dong temanku ini... Bisa senewen nanti kalau nggak ada yang bantu juga!"
__ADS_1
"Mari kubantu...kasihan. " Eda menawarkan bantuan.
"Wah, bagus sudah ada yang kasihan ama kamu Daus, selama ini hanya masa bodoh hahaha!"
"Aku kasihan sama kain stariminnya, yang sudah dekil dan kembang bulu! Orangnya nggak perlu dikasihani hehehe..."
Eda melirik Firdaus, anak lelaki itu tetap tersenyum kendati wajahnya berubah murung.
"Iba hati awak, sangka awak kasihan sama awak.. eh nggak taunya kasihan sama kain doang.. padahal yang capek itu awak...."
"He he he.... Sini. "
Dan Firdaus juga kelihatannya sudah putus asa. Firdaus menatapnya tak percaya.
"Mau bantu? kemaren kamu bilang punyaku udah siap, tinggal nyerahkan aja ke ibuk, gitu kan? masih ingat? hayo.. mana??? "
"Maaf kalau kamu tersinggung, aku hanya ikut permainan Dekon... yang selalu menyudutkan kita.. maaf ya Daus.. . sekarang mari, sini..... kubantu!"
Firdaus mendekat dan menyerahkan kain starimin pada Eda, lalu ia menunduk memperhatikan tangan Eda.
Tangan Eda yang mungil dan halus memegangi tangan Firdaus , mengajarinya menjahit yang benar. Firdaus memandang Eda dan anak itu balas menatap, tidak berkedip.
"Mau diajari ngga...? "
"Mau...! Mau....! "
"Ah, tertusuk juga nggak apa-apa..."
"Nanti sakitl!"
"Ya dikasih obatlah... "
"Ha ha ha.... Nanti berdarah! "
"Berdarah?" tanya Firdaus kecut, nyalinya jadi ciut.
"Kenapa? "
"Ah nggak.. Ribut melulu kapan jadinya punyaku...? Ei.. Ada yang bisa bantu ngga, Yanti atau Marta... Tolong dong.... "
"Aku juga kurang pandai Daus, takut nanti tambah amburadul.... " Marta memberi alasan.
"Apalagi aku... Maaf yaa.... " tambah Yanti."
"Ok deh, kita sadar diri... Masa minta tolong maksa... " Firdaus ngambok.
"Sini biar aku yang nyiapin... kamu ngeliat aja sambil belajar... " Akhirnya Eda kembali mengambil kain starimin Firdaus lalu mulai menjahit.
Tek Rahma tersenyum memandangi anak-anak itu.
__ADS_1
"Bertengkar terus...! Belajarnya kapan??" katanya pelan.
Mereka saling pandang, sama-sama terdiam dan kembali fokus pada pekerjaan mereka. Yanti dan Marta kembali asik dengan bukunya masing masing. Sementara Jaswan dan Maryon turut pula sibuk membolak-balik buku yang dipegang masing-masing.
Lisma datang dari belakang membawa rebus ubi.
"Makan roti dulu, biar semangat belajarnya!"
"Terimakasih...."
"Wah.. Mantap Lis... "
"Yanti suka banget mah... Apalagi panas panas kayak ini"
Angin bertiup kencang, berebutan memasuki rumah lewat celah sasak bugis yang belum sempat disemen. Kain jendela berkibar-kibar, bunyinya berdepak-depak. Angin menyapu starimin dan kertas-kertas yang ada diatas meja.
Serentak mereka menghambur ke satu titik, dalam waktu yang bersamaan dengan tujuan yang sama untuk menangkap kertas-kertas yang berterbangan. Tidak menyangka sama sekali, mereka saling bertubrukan, pipi mereka beradu, untung tidak kencang, tidak sempat cidera, walau tidak kencang tapi akibatnya luar biasa, mereka sama sama merasa terbang, tinggi sekali. Sedetik mereka terdiam, menikmati kecelakaan itu.
Sementara kertas-kertas tetap saja berterbangan kemana-mana, mereka gagal menyelamatkannya. Bukan gagal, tetapi sudah tidak semangat lagi karena tubrukan pipi tadi tulang mereka jadi lunglai. Disaat badai mengamuk dan yang lain cemas justru mereka berdua salah tingkah, salah tingkah yang mendebarkan, salah tingkah yang bahagia, sederhana sekali.
Tek Rahma mulutnya komat-kamit menyebut nama Allah. Firdaus memandang keluar, pohon kelapa yang menari-nari seakan mau tumbang, membuat nyalinya ciut.
Angin semakin menggila. Atap rumah yang pakunya copot melambai-lambai, bunyinya berdentang-dentang menghempas kasau. Daun-daun kering berseliweran lewat jendela. Rumah yang terletak di atas bukit Calagi itu bergetar.
Untung badai tidak berlangsung lama. Hujan deras datang menggantikan badai. Dari celah sasak dinding rumah hawa dingin menyeruak masuk.
Firdaus berniat pulang kerumahnya mengajak Jaswan dan Maryon. Tetapi karena malam telah larut Tek Rahma melarang dan menyuruh tidur di rumahnya saja, tidur di ruang lepas di atas tikar.
*
Terima kasih telah hadir,
jangan lupa like dan komennya
biar author tambah semangat
__ADS_1