
RIUH sekali saat jam olahraga, kelas satu A digabung dengan kelas satu B, kebetulan ada salah satu lokal jamnya dinaikkan karena salah sorang guru tidak datang.
Pakaian olahraganya beraneka ragam. sebanyak murid sebanyak itu pula ragamnya. Ada kaos putih, kaos oblong berwarna-warni, pakaian olah raga sekolah lain, mungkin punya kakaknya, ada yang lengan panjang dan banyak pula yang lengan pendek. Sekolah memang belum mampu menyediakan pakaian seragam olahraga seperti sekolah-sekolah lain.
Anak lelaki berlarian ke lapangan bola kaki dekat Simpang ampat yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari sekolah.
Anak perempuan ikut pak Bursal ke lapangan volly. Firdaus dan beberapa orang teman lelakinya juga ikut, mereka mau nonton atau mau ke lapau. Firdaus memang kurang suka bola kaki dan bola volley, kecuali jadi penonton, menjadi suporter kalau ada pertandingan.
"Eii, kamu ndak ikut main bola, Das..?"
"Takut kena bola, masih sakit!" jawabnya sambil memegang kepalanya yang masih diperban, mungkin Dasril mengindap penyakit gula, kalau luka sembuhnya lama sekali, pamburuak daging bahasa neneknya.
Tempat duduk penonton, kalau di warung biasanya disebut palanta terbuat dari bambu dan ditanam ketanah dibuat empat persegi mengelilingi lapangan, panjangnya masing-masing sekitar dua meter terisi penuh, semuanya anak perempuan. Masih banyak yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Anak laki-laki tidak beberapa orang, ada enam atau tujuh orang.
Bursal berdiri di tengah lapangan. Ia terlihat tinggi sekali diantara muridnya yang pendek-pendek, kelihatan kontras sekali. Ia mempermainkan bola kemudian meniup pluit menyuruh mereka maju dan mendekat padanya.
"......Pergantian pemain boleh sesering mungkin, pokoknya kalian semua harus kebagian, Nah!! Sebagai awal masing-masing enam orang! Selebihnya di pinggir lapangan!"
"Ingat!!! kita berolahraga bukan bertanding, jadi bermainlah dengan santai...."
Masing-masing kelas menyiapkan enam orang anggotanya. Mereka gembira sekali, sebentar terdengar sorak-sorainya, sebentar terdengar tepuk tangan, silih berganti.
Dua orang anak perempuan yang duduk di depan Dasril beranjak pergi, mungkin ke warung, atau kembali ke lokal. Dasril menarik tangan Firdaus.
"Duduk, Yuk! Mumpung ada yang kosong...!"
"Ah kamu! berdiri sebentar saja sudah panek, apalagi kalau berjam-jam, dasar tulang itik!!"
"Kamu menjagokan kelas mana?"
"Tentu saja Satu A, Kau lihat.... pemainnya bonsor-bonsor seperti buldozer. Nengok saja sudah ngeri, apalagi mau melawan! Kau lihat Dekon, nggak perlu nyentuh bola, kena anginnya saja bolanya sudah melayang, apalagi si Westi batuknya saja bisa memblok bola!!"
"Belum tentu, Daus... iyakan Eda, pasti kelas kita yang jago! lihat Rosnaiti walau badannya kecil gerakannya seperti kijang liar, Lisma yang kurus mampu meloncat tinggi...!!"
"Kita lihat saja, kelas mana yang lebih jago!"
Eda menengahi mereka. Daus dan Dasril tertawa terpingkal-pingkal melihat permainan kawan-kawannya. Servicenya banyak yang nyangkut, tidak sampai ke sebelah atau menyentuh net. Dan kalau bolanya sampai maka tidak ada yang dapat mengembalikan.
Firdaus menoleh pada anak perempuan yang duduk di samping Dasril, anak itu kebetulan tengah menoleh pula padanya. Mereka beradu pandang. Tidak segarang beberapa waktu yang lalu. Hmm, sepertinya bendera putih sudah dikibarkan. Artinya menyerah atau berdamai?
__ADS_1
"Kalian belum saling kenal....??"
"Sudah kok!! Iya kan Daus...?" kata anak perempuan itu memelas setelah menepuk pundak Dasril.
"Iya...! Aku tahu perkenalanan di warung Ancu Asau... perkenalan yang sulit dilupakan hahaha...."
Dasril tertawa ngakak, lalu bangkit dan pergi meninggalkan mereka. Kini palanta buluh itu banyak yang kosong, murid-murid perempuan itu pindah berkumpul di samping lapangan, beberapa orang saja yang masih bertahan, termasuk anak perempuan temannya Dekon dan Firdaus.
Firdaus menggeser duduk mendekati Eda.
"Maaf kejadian di samping sekolah tempo hari, Aku tidak bermaksud kasar, dan rokmu menjadi kotor! Kemudian yang di lapau Ancu Asau, rokmu juga kotor, kakimu sakit, tapi yang lebih sakit tentu saja hatimu...
Itu juga kebetulan bukan aku sengaja, pantatku juga dihajar bangku. Kamu tahu, kalkulator yang kutarok di saku belakang juga juga pecah kacanya dan tidak bisa dipakai lagi... Itu punya ayah...'
"Aku juga minta maaf..."
"Kita belum berkenalan, aku tahu namamu lewat Dekon, Aku Daus, Firdaus... Kamu Eda, Heldawati bukan?"
Mereka bersalaman, tidak enak menolak anak lelaki itu telah menyodorkan tangannya. Bukankah ia yang memulai? Seharusnya ialah yang lebih dulu, ia yang harus mengakhiri. Ia hanya kaget tak menyangka dan tak terbayang akan bertemu di lapangan.
Mereka bubar, jam olah raga telah berakhir. Seiring mereka meninggalkan lapangan. Firdaus dan Elda berjalan berdampingan. Langkah mereka pendek dan pelan.
"Ya, bila mau ulangan.... kami bertiga sejak SD sering belajar bersama, tapi lebih banyak mainnya!!"
"Kata Lisma, di rumahnya kita juga bisa belajar bersama, gimana... kalau kita coba kapan-kapan, maukan..?"
"Aku sih enggak keberatan, coba nanti kuomongkan sama Jaswan dan Maryon...!!"
Mereka berpisah, memasuki lokal masing-masing.
Baru tiga kali mereka bertemu, dua kali dalam suasana yang tidak nyaman. Pertama ketika mereka bertabrakan di samping sekolah, Kedua ketika Helda terjatuh dari bangku dan sekarang yang ketiga tetapi mereka kilihatannya begitu akrab. Bagi Firdaus serasa ia sudah mengenal anak perempuan itu begitu lama, begitu nyambung komunikasi yang dijalin, lancar dan mengalir.
"Eda...! Aku pernah ke kampungmu..! Kakek punya kenalan disana, rumahnya sebelum simpang empat kira kira dua ratus meter...!" suatu kali saat keluar main Helda dan Daus mengobrol lagi.
"Oh.. ya, sebelum simpang empat, berarti... rumahnya dipinggir kolam, sebelah kanan!"
"Ya betul! Ada pohon nangka besar di halamannya, buahnya lebat sekali...!"
"Orangnya tinggi kurus dan kepalanya botak, kalau berjalan sedikit pincang, di pipi sebelah kiri ada tompel agak besar, ada bulunya??!!"
__ADS_1
"Kok Kamu tahu semua sih!?"
Eda mengangguk, hatinya senang sekali.
*
FIRDAUS tercenung, ia teringat kejadian lama. Ketika itu Firdaus belum sekolah, kakeknya Angku Imam mengajaknya ke sebuah kampung, yang jaraknya sangat jauh. Setelah naik oplet sampai di Rambatan kota kecamatan kemudian mereka jalan kaki lagi. Rasanya cukup lama, sampai kakinya lecet karena sandalnya kekecilan, sempit.
Kakeknya ke kampung itu mau mencari tukang untuk memperbaiki surau. Karena lapar dan keletihan makan Imam begitu banyak, ada gulai kesukaannya, gulai cempedak, sampai ia bertambuh beberapa kali. Setelah makan, perutnya memilin-milin karena terlalu kenyang.
Di samping rumah ada kolam, ada pula jambannya. Malang tidak dapat ditolak, mujur tidak dapat diraih, malang tiba di Firdaus , saat ia selesai cebok, mau keluar dari ******, kakinya terpeleset.
Byurr!!!
Ia tercebur.. Kolam itu cukup dalam, megap-megap ia timbul tenggelam. Ia memang tidak pandai berenang.
Melihat ada yang jatuh masuk kolam, seorang bocah perempuan, barangkali seusianya, atau mungkin lebih muda, berlari sambil berteriak-teriak memanggil ibuknya.
Azwar lewat di depan mereka, tangan Firdaus ditariknya. Lamunannya buyar, di hadapannya Helda masih berdiri.
"Ngapain bingung, Udah mau lonceng. Masuk yuk!" ajak Azwar
"Ah, jangan gitu Ketua... kami lagi ngobrol..., duluan aja!" kata Firdaus seraya melepaskan tangan Azwar.
"Eda, kamu punya buku Biologi?"
Anak perempuan itu mengangguk.
"Pinjam, ya...?! ceritanya besok-besok kita sambung! Ada yang mau kutanyakan ama Kamu Eda "
Lagi-lagi ia mengangguk, Firdaus mengikutinya di belakang. Tidak lama berselang loncengpun berbunyi tiga kali. Anak anak berlarian masuk lokal, Firdaus juga.
*
Terima kasih telah singgah,
jangan lupa like dan komennya
author akan sangat berterimakasih
__ADS_1