
Farida tidak kuat mendengar omongan ibunya, sudah sedari tadi ia masuk ke bilik, menangis. Bantal dan guling sudah basah oleh air matanya. Air mata itu belum juga mengering masih tetap mengucur deras, membasahi sprei dan selimut.
Makian ibunya kepada Firdaus terlalu pedas di telinganya, ia tak kuat mendengar, ia malu dan sedih. Rasanya ia sungguh tidak akan kuat menemui dan memandang muka Firdaus. Alangkah kasihannya anak lelaki itu, didamprat dan dicaci-maki habis-habisan oleh ibunya. Andaikan Bu Anjar yang ngomong kayak ibunya tadi sungguh tak sanggup lagi ia hidup.
Saat hujan deras telah reda, tak ada tetes air yang turun selain hawa dinginnya yang tersisa, gadis itu bangkit dengan wajah yang kusut, mata sembab dan rambut awut-awutan bagai gadis lupa ingatan yang baru dipasung. Ia merapikan tempat tidurnya, melipat selimut lalu ia menyeka wajahnya dengan telapak tangan, ia angkat telapak tangan itu, basah oleh keringat dan air mata, lalu ia ambil secarik kertas yang terselip di pinggir tempat tidur, kertas berbunga, surat cinta yang ia terima dari Tasri teman sekolahnya beberapa minggu yang lalu...
Menyesal ia kenapa surat itu tidak jadi diberikan kepada Firdaus tempo hari, ya ketika itu ia kesal karena Firdaus mencuekinnya, mengacuhkannya. Ia berencana akan menyerahkan surat itu saat hari terakhir Firdaus bekerja. Dan mengatakan pada Firdaus ia belum sempat, kalau ia dikirimi surat dan ia pengen tahu bagaimana tanggapan Firdaus. Dan selanjutnya tentu ia minta untuk dibuatkan balasannya, begitu rencananya. Tapi sayang sepertinya rencana itu tak bakal terlaksana, tidak akan pernah. Hari ini, ya hari ini.... Tetapi sepertinya senja telah datang tentu para pekerja itu telah pulang, pulang untuk tidak kembali lagi besok pagi.
Ia mengintip keluar lewat jendela, ia senggengkan kain pintu, lalu menoleh keluar, kosong, hari telah mulai gelap.
Bagaimanapun kencangnya badai, seberapapun derasnya hujan, seterik apapun panasnya kemarau, namun akhirnya akan reda juga. Saat kecamuk di dadanya telah berkurang, saat air matanya tidak turun lagi, saat mulutnya sudah bisa kembali dibuka, saat itulah mereka berdua, cucu dan nenek itu bicara di biliknya.
"Kamu tidur lama sekali, mau nenek bangunkan pintu terkunci, lihat wajahmu kusut, mandilah! jangan ditunda juga nanti keburu magrib!"
"Nek... ibu marah sekali karena pot bunga dipecahkan Daus! Daus itu anak buk guru Rida, dulu Rida sering kerumahnya belajar bersama, bu Anjar sangat baik memperlakukan Rida, kayak anak sendiri, tapi ibu...."
"Mandi sana dulu, nanti ceritanya, nenek tidak ke surau, hari mendung seperti mau hujan!"
Farida bergegas ke luak di belakang rumah, syukur nenek tidak tahu sedih yang ia derita. Ia memang berlebihan menyikapi kemarahan ibunya pada Firdaus. Kalau nenek tahu pasti ia akan beranggapan begitu.
"Bukan gara-gara pot pecah ibumu marah, itu hanya kasende saja... Ibumu tahu pot itu sudah rusak dari dulu, ibumu juga berniat ingin membuangnya tapi belum kesampaian.... "
"Ibumu marah karena Firdaus itu anak dari gurumu itu, ia anak si Anjar...."
"Kenapa nek?"
__ADS_1
"Ini masalah lama Nak, Kamu tidak perlu tahu.. tak ada gunanya!"
"Nek, ceritakan biar Rida tahu juga Nek, gimana nek..."
"Nanti kamu akan tahu juga!"
"Nek, tolong nek, ceritain...."
"Bukan sekarang.... Atau kamu tanya langsung sama ibumu..."
"Nek... ceritain!"
"Ya, nanti..."
"Nenek enggak sayang sama Rida!"
"Cerita aja Nek, aku siap mendengarkan, insyaallah aku kuat... Insyaallah aku tetap sabar.."
Akhirnya luluh juga perasaan nenek itu maka bercerita lah ia tentu saja dengan sebuah syarat, Rida tidak boleh melanjutkan permusuhan ini, mengakhiri dendam yang sudah be
"Ibumu dan Anjar dulunya sahabat karib walau umur mereka terpaut beberapa tahun sampai suatu ketika mereka sama mengajar menjadi guru sukarela di sekolah yang berbeda. Dan saat pengangkatan menjadi pegawai ibumu terkendala masalah umur yang belum cukup. Maka dipalsukanlah tahun kelahirannya dengan menuakan beberapa tahun. Ibumu akhirnya diterima menjadi pegawai, tapi belum beberapa bulan berjalan dengan tiba-tiba kepegawaian ibumu dibatalkan dan dicabut, ibumu harus mengganti kerugian negara dengan membayar sejumlah uang karena ibumu terbukti memalsukan data...
Dan kamu tahu, justru orang yang ngasih tahu pemalsuan dokumen itu si Anjar! teman akrab ibumu. Siapa yang tidak akan terpukul, siapa yang tidak akan sedih.... begitu ceritanya"
"Kakekmu marah besar dapat berita kalau yang membocorkan pemalsuan itu tunangan keponakannya sendiri. Kakekmu meminta semua sawah yang dibuat oleh keluarga keluarga Anjar yang dulunya diserahkan oleh adiknya yang merupakan bapaknya Anjar. Keluarga mereka tidak boleh mengolah lagi..."
__ADS_1
"Keluarga Anjar tidak tinggal diam, ia juga membalas perbuatan keluarga kita dengan memutuskan pertunangan Anjar dengan Sahrudin mamakmu dengan memulangkan tando. Sejak saat itu putuslah persahabatan mereka dan merengganglah hubungan dua keluarga itu."
"Apakah cerita itu benar nek?"
"Nenek tidak tahu kebenarannya, nenek hanya dengar saja, Tapi kamu tidak usah perdulikan itu, lagi pula masanya sudah berlalu, dendam lama tidak perlu dilanjutkan dan kau tidak perlu memikirkannya. Kamu jalani saja seakan kamu tidak pernah dengar cerita itu..."
Ia duduk termangu. Ia tidak yakin semua itu, pasti cerita yang sesungguhnya tidak demikian. Ia yakin sekali, orang orang dulu hanya menerima khabar burung tanpa pernah menyelidik kebenarannya. Dua buah keluarga besar sampai bermusuhan bertahun tahun karena tidak ada komunikasi dua arah, tidak ada cek dan ricek.
Jadi begitulah, rupanya ada dendam turunan, dendam warisan, sepertinya harus diperpanjang lagi, ibunya ingin begitu. Apakah ia harus ikut pula dalam permainan ini?
Untung nenek tidak paham apa yang tengah terjadi dengan hatinya. Untung ia belum bercerita banyak dan memberi isyarat kalau ia menyukai anak musuh keluarganya itu.
Kini ia berdiri di sebuah persimpangan, jalan mana yang akan ditempuhnya? Ia harus melewatinya karena ia mesti sampai di tujuan. Suka tidak suka, mau tidak mau ia harus menentukan sikap. Tapi untuk surut, tak pernah terpikirkan olehnya.
Lama ia diam, berpikir keras dalam memilih jalan yang akan ditempuhnya. Sepertinya jalan terang sudah tertutup kabut sejak lama, mustahil ia menempuhnya.
Wajah Firdaus selalu terbayang... Saat terakhir ia meninggalkan anak itu yang tengah dikata-katai ibunya. Wajah kaget yang merah padam menahan geram yang alang kepalang. Tapi tidak ada jawaban, ia tertunduk dengan diam. Sampai disitu Farida lari kedalam bilik mengunci pintu dan berkurung diri.
Karena perlakuan ibunya itu, cinta dan sayangnya bukan padam, tetapi semakin besar dan menyala. Dan semenjak peristiwa itu ia sudah tidak dapat menemui Firdaus lagi. Ia juga tidak tahu entah bagaimana akhirnya peristiwa itu. Yang jelas renovasi rumahnya telah selesai, Abdul sudah tidak bekerja lagi. Setiap hari gadis itu kembali bersekolah sambil mengayuh sepedanya, bersama teman-temannya.
*
Terimakasih telah berkunjung,
Jangan lupa like dan komennya.
__ADS_1
Terimakasih dan jangan pernah merasa bosan.