Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Anak Bawang


__ADS_3

GADIS kecil itu melayangkan pandang kepenjuru halaman, dulu ketika kakak sepupunya Erma masih tinggal dirumah ini, halaman selalu bersih, bunga-bunga hampir tidak pernah layu kehausan, malah Erma sering memberinya pupuk kandang, tahi kerbau atau tahi sapi yang sudah kering. Tetapi semenjak Erma bekeluarga, ia ikut suaminya, jadilah halaman itu bagai taman tak bertuan, tak terurus, terlantar dan menyedihkan.


"Ah, Ka.. kamu mau bilang aku pemalas? jangan mutar dong... langsung saja, emang gitu kok!" Ada perasaan berat, jengah dan tidak enak yang membersit direlung hati gadis itu beberapa hari terakhir ini ia memberanikan diri berkamu, kalau sebelumnya lebih sering memanggil tidak jelas, tidak berkamu atau suatu panggilan khusus. Haruskah gadis itu merubah panggilannya? Supaya perasaan tidak enak itu hilang? Dan kembali seperti semula?


"Kenapa marah?"


Gadis itu bukan marah, tanpa sengaja ia merasa tersindir dengan kata-kata Daus. Sinar matanya yang tadi teduh bagai air Telaga Nio, setiap dipandang setiap itu pula rasa damai menyusup ke dada Firdaus.  Hanya Daus yang merasakan. Parijon, Sarin dan Pami tidak merasakan apa-apa, kecipratannya juga tidak karena ini masalah hati. Mereka hanya merasa senang, servis tuan rumah begitu baik, itu saja sehingga membuat mereka senang dan semangat kerja jadi full. Tapi sinar mata itu kini diselimuti kabut tipis yang samar-samar.


Seketika gadis itu tersadar. Eh!! apa yang barusan ia omongin, kenapa ia jadi pemarah? Bukankah Daus tidak bilang ia malas, batinnya. Ia saja yang merasa, yang diomongkan Daus memang kenyataan dan bukan mengada-ada. Farida saja yang terbawa perasaan.


"Maksudku taman dan halaman ini sudah tak terurus semenjak kak Erma sudah berkeluarga... Aku juga tidak punya waktu... Lagian aku juga nggak pandai!" Katanya kemudian berusaha memperbaiki suasana.


"Hehehe, Ya itu maksudku padahal halamannya luas dan kalau dibuat taman sederhana saja alangkah indahnya....! Masa iya rumah dihuni gadis cantik tapi tak berbunga, nggak lucu aja.. Mau kubantu?"


"Bantu ngapain?" tanya gadis itu bimbang.


"Ya, bikin kebunlah.. kayak yang di rumah, walau si Erma tidak disini lagi, bukankah ada kamu yang gantikan merawatnya. Taman memang perlu dirawat agar tetap segar dan indah."


"Bagus, aku suka, kalau kamu ndak keberatan! Dari dulu aku menginginkan itu, tapi tak ada yang bisa bantu!"


"Dengan senang hati aku bantu, tapi jangan lupa imbalannya yang gede....!"


Nenek lewat dari rumah seberang jalan membawa segepok sirih. Ia mendengar pembicaraan cucunya


"Astagfirullah.. sama orang segede itu kau berkamu saja Rida? Kau gadang kulidah, tidak bagus didengar orang, seperti kami tidak mengajari mu tata krama... Panggil uwan kek, atau panggil uda kenapa?"


"Nggak apa-apa Nek, mau sebut nama juga nggak apa-apa, umur kami tidak terpaut jauh, paling dua tiga tahun!"


"Maaf ya Daus, cucu nenek telah merepotkan kamu, minta membereskan ini dan itu, padahal itu bukan kerjamu... Untunglah boss kamu masih kerabat kami... Coba kalau orang lain pasti kamu sudah kena marah! Tadi nenek dengar minta dibuatkan taman pula..."


"Nenek terlalu berlebihan, aku hanya bantu merapikan, dan tidak pula merasa terpaksa... "


"Seharusnya upahmu ditambah... Nanti kubilang sama Bahar,..."


"Nggak usah Nek! Aku tidak minta bayaran!"


"Nah kamu dengar Rida, Daus tidak mau dibayar, kamu jangan bersilantas angan juga sama dia! Dan jangan berkamu juga, mencanda terdengarnya... Mentang mentang Daus kuli!"


"Iya Nek... Akan aku robah mulai sekarang!"

__ADS_1


Sebetulnya tidak ada yang salah, kemaren dulu saat ia baru belajar di rumah gurunya dan saat pertama jumpa dengan Firdaus, anak bujang gurunya itu, biar kelihatan akrab dan bersahabat gadis itu menyapa dengan menyebut namanya saja. Terdorong ia ketika itu... akhirnya untuk surut pun susah. Sama Erma ia panggil kakak, sama Mustapa panggil uda, sama Mardi juga, sama Herman jelas, Herman memang sudah tua, sama Wansa apalagi, ia sudah berumur juga. Kok sama Firdaus ia berkamu saja? Sebetulnya mulutnya memang berat, tapi lebih tidak enak lagi kalau harus memanggil uda. Bukan apa-apa, hanya karena malu saja dan....


Gadis itu senang sekali, bukan karena tamannya akan rapi dan indah, bukan karena halaman rumahnya akan bersih, tetapi karena, karena anak lelaki itu yang sekarang tengah menatapnya dengan berbinar, kembali mengetuk pintu hatinya.


"Ya, besok-besok akan kubuatkan! Aku akan bikinkan kamu taman sederhana! Tapi kamu harus janji....!" tukas Daus penuh keyakinan, penuh kepastian.


"Janji apa?" tanya gadis itu antusias, penuh semangat sembari tangannya teracung, tapi kemudian tangannya turun kembali, memungut sebuah kerikil dan mempermainkannya. Ia semakin merasa dirinya kecil, jiwanya kerdil karena anak lelaki itu memandangnya tulus. Saat saat seperti ini gadis itu melihat Daus begitu dewasa, begitu berwibawa.


"Akan merawatnya! Membuat sebuah taman tidaklah sesulit menjaga dan merawatnya. Kamu masih ingat bukan? Cerita kita saat ke surau dulu? saat kita sering mencuri pandang kemudian malu malu, saat kamu minta diajari pidato perpisahan di sekolahmu, saat kita jalan bertiga, kadang berempat, aku dan dua atau tiga temanmu? Tidakkah kamu merasa sedikitpun walau hanya kami, aku dan Mustapa, sedang kamu bersama Dewi dan Nani..." tiba-tiba Daus terdiam karena Parijon lewat.


"Kau enakan duduk ngobrol! di belakang kerjaan masih banyak, mau kubilang sama boss yaa....!!!"


"Sssttt, tolong kamu handel dulu... Punggungku masih nyeri... Lagian nih Farida minta dibikinin taman!"


"Handel ya handel bro, tapi rokoknya gimana?"


"Nanti aku yang beliin!" timpal Farida.


"Bagus!" sambut Parijon dan berlalu sambil tertawa ngakak.


"Kamu masih ingat, dulu aku pernah ngasih surat tak beralamat, tahukah kamu itu buat siapa?"


"Aku masih menyimpannya, karena Dewi membuangnya waktu itu... Aku menyukainya, sebuah puisi yang indah"


"Ya...."


"Aku sengaja! kalau ditulis sebuah nama tentu tidak bagus, sesama kalian pasti ada perasaan tidak enak, sesama kalian bisa bersaing yang bisa membuat persahabatan kalian bubar, iyakan?"


"Iya juga!"


Mereka sama-sama terdiam sejenak, larut dalam angan masing-masing.


"Gimana tamannya?"


"Aku janji, kusiram setiap pagi, kuberi pupuk dan kusiangi! Percayalah...!"


"Itulah upahnya!"


Wajah Farida berbinar bahagia. Sesuatu yang diberikan anak lelaki bujang itu selalu menjadi yang istimewa. Seperti perlindungan ketika ia dikejar anjing beberapa tahun yang silam, rasa aman yang diberikannya masih terpatri sampai sekarang. Ketika itu ia masih kanak-kanak, dalam keadaan cemas dan takut, takut setengah mati, cemas dan putus asa kemudian pasrah, lalu ada seorang penyelamat, seseorang yang membantunya, alangkah besarnya arti pertolongan itu dan membekas sampai waktu yang lama... Malah ketika itu ia sempat berjanji akan membalasnya suatu saat nanti ...

__ADS_1


"Kita buktikan!" tantang Daus sambil tersenyum miring.


"Terima kasih..." terbata gadis itu membalas dengan malu-malu lalu bergegas kedalam rumah meninggalkan Daus terpana dengan seribu rasa.


Sungguh beruntung ia diajak Abdul ikut berkuli, tidak digajipun ia rela...


Entah apa yang akan terjadi sekiranya Abdul mengetahui, ia telah merayu adiknya walau hanya saudara jauh, mudah-mudahan Abdul mau mengerti dan tidak mem-PHK-nya.


Hanya saja ada yang menusuk hatinya, yang selalu kepikiran setiap waktu, nasehat Wansa dulu, masih terngiang-ngiang di telinga.


"Kalau kau pingin berhubungan dengannya kau harus siap untuk kecewa, kemungkinan itu lebih besar.. karena Ida bukan gadis sembarangan, dia gadis berkelas di kampung kita... kalau tidak dokter mungkin dosen....!" dan Wansa Sanurila menyebut dua nama, orang kampungnya... yang ketika itu baru kuliah pada tingkat akhir.


"Ah, persetan... aku tak peduli!!" jawabnya ketika itu karena ia memang tak ada perasaan khusus, ia hanya iseng. Teman sebayanya punya perempuan maka ia ikut pula, ikut-ikutan! Tapi kini ia tidak iseng lagi, ia bersungguh-sungguh. Bukankah ia telah menamatkan SMPnya dan sebentar lagi akan menjadi siswa SMA. Rasa suka Itu tumbuh karena mereka sudah jarang ketemu, sementara dalam khayalan selalu ada. Kalau pun bersua hanya sekali seminggu, saat Daus pulang, barangkali awalnya begitu.


Ada perasaan mustahil, sesuatu yang tidak mungkin, banyak orang bilang begitu. Hubungan seperti itu tidak akan pernah bersatu, tidak akan pernah berlanjut. Ia tidak selevel, ia anak bawang, remaja baru tumbuh, perjalanannya masih panjang, masih jauh, sedang keluarga Farida berharap, kalau tidak disunting orang kaya, orang berharta, atau orang kantoran, paling tidak seorang guru....


Herman juga pernah bilang, yang membuat hatinya sakit mendengar celoteh Herman.


"Kamu cuma bisa pacaran, ya sekadar itu, jangan berharap lebih. Apalagi bikin janji sehidup semati.." sakit memang, tapi apa hendak dikata selain diam, dan menganggap tidak pernah dengar omongan itu, masuk telinga kanan lalu keluar di telinga kiri. Apa memang bisa begitu? Semudah itu menanggapi kata-kata pedas seorang sahabat? Bisa saja, tapi bekasnya tidak akan pernah hilang sampai kapanpun...


Mentari sudah condong ke barat, sinarnya tidak garang lagi tapi masih terasa menggigit kulit. Sehabis sholat ashar mereka bersiap siap kembali bekerja, namun sepertinya Daus tidak banyak pekerjaannya lagi, hanya bersih bersih.


"Boss! Aku besok ndak ikut kerja...!"


"Kenapa?? Waang bosan??! atau capek?!"


"Bosan nggak juga, besok aku akan ke sekolah, ngambil ijazah!! kan tanggal 15....! Sesuai saran kamu, kupikir-pikir ada juga benarnya, walau ogah tapi aku bakal mendaftar juga di sini... mungkin nanti setelah sekolah berjalan aku bisa pindah!"


"Kalau begitu bolehlah... aku tidak akan mencari pengganti, tapi benar yaa setelah urusanmu selesai kau akan kerja lagi...!"


"Iya, Bos...!!"


Mereka mengemasi peralatannya karena hari telah sore. sembari menunggu Bahar datang mereka saling olok, saling tuba, seperti tak akan ada kesudahannya.


Daus duduk di sudut rumah, bersandar pada dinding, ia menjauh dari Abdul dan memandang lepas ke samping paviliun. Di sana ada Farida tengah membersihkan beras ketan, menyisihkan atah dan beras. Ia meletakan niru di pangkuanya. Sekali-sekali ia memandang pada Daus dan sebaliknya.


*


Terimakasih telah berkunjung,

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya


terimakasih atas supportnya.


__ADS_2