
BAHAR jarang yang berlama-lama di Simpang, tetapi hari ini ia betah melihat dan mengawasi tukang bekerja. Biasanya ia datang sebentar kemudian pergi lagi, itupun tidak tiap hari, kadang sekali dua hari, kadang tidak datang sama sekali berhari-hari. Walau datangnya seperti hantu, tiba-tiba datang dan tiba-tiba menghilang tapi ia sangat teliti dan serius memperhatikan para pekerja dan hasil pekerjaannya. Tidak hadirnya salah seorang pekerjanya juga tidak luput dari perhatiannya. Orang yang tidak datang itu justru anak yang telah menarik dan menyita perhatiannya.
Bahar melihat Firdaus anak yang baik, rajin dan sopan, sungguh jauh berbeda dengan teman-teman yang seusia dengannya. Anak lelaki seusia itu maunya hanya bermain menghabiskan waktu hilir-mudik atau nongkrong di lapau, kebanyakan begitu. Tapi anak itu beda, hal ini yang membuatnya suka.
Hari ini penilaian dan anggapannya tentang anak itu berobah seratus delapan puluh derajat hanya karena anak itu hilang dari peredaran. Ia sudah beberapa hari tidak menampakkan batang hidungnya. Anak itu tidak ada bedanya dengan anak anak yang lain. Sama saja! Akhirnya ia berpendapat kembali, pendapat yang ia anggap benar.
"Dul! Kok si Daus tidak kerja lagi, apa dia tidak kuat atau bosan, aku sudah perkirakan dari dulu, masa iya anak sebesar itu yang kau ajak! Awalnya dia cukup rajin kulihat, mau belajar dan gigih! Tidak kalah juga dibanding dengan kalian yang sudah mahir, Kayaknya anak itu suka kerja keras! Tapi yang namanya anak-anak toh akhirnya ia lelah, bosan dan pergi juga!!!" ada nada kecewa dan prihatin karena terlanjur memberikan penilaian bagus tetapi ternyata kurang tepat.
"Iya Pak, bukan begitu, dia pekerja gigih Pak, pantang menyerah! Kalau bapak nggak percaya, boleh coba kasih tantangan, baru bapak yakin kalau dia itu pekerja keras!"
"Dia sudah minta izin, mau mengurus STTBnya, itu sudah selesai... " lanjut Abdul.
"Kemaren dia berangkat ke Padang bersama mamaknya! Katanya urusan sekolah! Padahal gajinya juga belum aku kasih!" sambung Abdul lagi.
"Ok begitu... Aku pikir dia lari meninggalkan pekerjaan, anak muda biasa begitu, kalau terasa enak ya lanjut.. tapi giliran berat dan susah main kabur saja..." Bahar senang, rupanya penglihatannya tidak salah...
"Dia sebetulnya butuh perhatian orang tua, butuh sokongan keluarga, ibunya sibuk, ayahnya juga sibuk, kadang ia bertingkah aneh maksudnya cuma pengen perhatian, pengen dianggap dan diakui keberadaannya...."
"Di rumahnya tiada kemesraan, tiada canda tawa, yang ada hanya kekuasaan dan otoritas sepihak... Begitu menurutku Bapak... Dengan kami teman-temannya ia patuh dan penurut, periang dan ceria tetapi di rumah ia sosok pendiam yang sukar diatur, pembangkang!"
"Dia kepengen sekolah di kota, tapi orang tuanya tidak setuju, untuk berjaga-jaga dia akan mendaftar di sekolah swasta di tempat mamaknya. Jika dia tak diterima di sekolah negeri otomatis dia akan ikut mamaknya, begitu ceritanya kemarin..." Jelas Abdul panjang lebar.
"Ooo begitu rupanya!"
Dari jauh Bahar memperhatikan anak lelaki Anjar itu. Setelah tugasnya selesai, membuat adukan semen, menyiapkan batu kali, mengisi ember penampung penuh, seharusnya selesai sudah, paling menambah yang kurang, air, adukan semen atau batu. Namun ia beralih kerja yang lain, ada susunan batu yang copot ia ganti dengan batu yang baru, yang miring ia perbaiki. Mencari orang seperti anak itu dalam usia masih ingusan memang agak susah. Pekerja yang ulet dan sungguh-sungguh, yang memberi warna bagi orang disekelilingnya, tapi sayang seribu sayang anak itu putranya si Anjar!
"Daus, batunya abis...!"
__ADS_1
Tergopoh-gopoh ia datang membawa batu kali dengan keranjang rotan dan meninggalkan kerja ekstranya memperbaiki susunan batu di pagar samping.
"Tuh masih banyak! Pakai yang ada dulu, baru minta lagi!" sungutnya dengan suara kencang tentu saja sambil tersenyum miring.
"Jangan yang gede dong, yang sedang elok aja... Nih pasangan udah tinggi, nantik roboh!"
"Yang ini nggak laku?" ujarnya sembari menunjuk onggokan batu.
"Sekarang butuh yang sedang, yang gadang buat pasangan bawah!"
"Oke bos, siap laksanakan!"
Belum siap yang satu, perintah yang lain datang lagi. Tergopoh-gopoh ia berpindah melayani yang lain, malah kadang disuruh beli rokok ke lapau Angku Aji.
"Kok jauh banget, lapau Kak Sima aja, dekat!"
"Di situ mahal, lagian barangnya usang... Nggak lasuah boy!"
"Kan enggak lama, pakek sepeda dong biar cepat!"
"Ihhk marasai, selalu kena suruh!"
"Orang suruhan emang begitu! Nikmati aja, kalau suatu saat kamu jadi boss, kamu bisa balas dendam!"
"Nggak ah, kalau aku jadi bos, bukan bos yang tukang suruh-suruh!, Bos yang kayak itu suka dibenci bawahan! Kalau aku maunya mah jadi direktur!"
Bahar tersenyum sumbang melihat kelakuan tukang-tukangnya mempeloncoi anak itu. Tapi anak itu tetap melakukan dengan senang hati berbeda terbalik dengan omongannya. Sekembali dari lapau belum sempat menarok sepedanya Abdul sudah kasih perintah lagi.
__ADS_1
Dan hampir saban sore kalau sampah banyak ia selalu membakarnya di sudut parak yang cukup berjarak dari rumah, dibuat lobang penampung sampah, disitulah ia membuat unggun. Sampah yang menumpuk karena jarang dibakar hanya dibiarkan membusuk sedikit demi sedikit habis dilalap api.
Bukan sekadar bekerja pelepas utang atau sesuai perintah tapi kadang bekerja menurut maunya juga, ada saja yang ingin diperbuat dan dilakukannya. Ia tidak memperhitungkan tenaga yang terbuang percuma, ia tidak mempersoalkan waktu yang habis karena mengerjakan yang bukan job-nya. Seperti mengatur dan membongkar bunga, merapikan dan membersihkan halaman, hanya cuma-cuma... Tidak mengharapkan imbalan lebih. Caranya menjalani hidup di lingkungan mana saja membuat orang di lingkungan itu mudah menaruh simpati.
Semenjak ia ikut bersama Abdul dan bekerja sebagai kernet karena tangannya yang ringan rumah menjadi adem dan hijau tertata rapi. Itu yang membuat Bahar suka dan senang pada anak Anjar yang masih terhitung keponakane jauhnya juga karena mereka sepersukuan.
Benar kata mertuanya, ia harus membayar keringat anak itu. Ia tidak ingin berutang keringat pada siapapun termasuk pada anak itu walau ia sendiri tidak ada menyuruh dan memintanya. Ia bisa saja tidak menggajinya karena ia tidak meminta, tidak menyuruhnya lalu kenapa harus menggaji? Bisa saja ia berdalih begitu. Tapi Bahar bukan tipe seperti itu.
"Sutan tahu anak siapa yang dibawa si Adul kerja? Dia anak Anjar.. Kalau Lina tahu pasti ia akan beruro-turo,
Sutan lihat Anak itu begitu rajin, santun..."
"Aku juga berpikiran yang sama dengan andeh, suasana di rumah jadi berubah... Dia masih kemenakanku juga, tapi anak itu tidak tahu karena ia memanggil Bapak padaku..."
"Ya, itu yang mau aku sampaikan, karena dia telah banyak bekerja diluar tugasnya maka Sutan harus kasih upah juga..."
"Sutan lihat halaman rumah kita, pagar dan halaman belakang, sudah rapi dan bersih...."
"Dan dia pula yang buat kebun bunga itu, Rida yang minta.... Anak gadis Sutan sudah besar, sudah tahu pula dengan bunga!"
Bahar akan membalas dengan cara lain karena ia yakin anak itu tidak butuh uang... Dan kalau dikasih juga pasti ia menolak.
*
Jangan lupa like dan komen...
Mana suaranya rang Balimbiang, rang Minang
__ADS_1
Yuk kita bernostalgia...
Terima kasih buat yang sudah kasih semangat