
FIRDAUS makan siang sekedarnya, eh, bukan sekedarnya, tapi sampai nambah dua kali. Akhirnya menghabiskan sisa nasi di periuk, tanggung, buat malam nanti masak lagi yang baru pikirnya. Makan sebanyak itu tentu saja membuat perut kekenyangan menjadikan mata mengantuk. Dan, musibah kantuk itu datang juga, suatu penyakit yang sering hinggap akhir-akhir ini. Sekuat hati dilawannya, setelah makan ia tidak duduk tapi langsung berganti kostum... Lebih baik cepat dari pada terlambat sampai di sekolah.
Setelah sholat Zuhur empat rakaat, beberapa menit kemudian ia sudah selesai berganti pakaian, siap untuk berangkat hanya tinggal memakai sepatu, proses yang paling akhir. Setelah mengunci pintu kemudian menaroknya di bawah batu disamping jenjang ia berangkat.
Melenggang ia menyusuri jalan keluar dari rumah andung. Melangkah arah selatan lewat kepala pasar depan masjid Ihsan terus keluar disamping toko buku Jaya bergabung dengan teman-teman yang lain, entah dari sekolah mana berjalan di trotoar beriringan. Sinar matahari cukup terik terasa menggigit kulit. Di depan kantor bupati lumayan, tidak terlalu panas karena disana banyak pohon besar. Saat akan menyeberang jalan Firdaus diteriaki oleh seseorang.
"Daus...!!! "
Firdaus menoleh, sialan ia lupa siapa namanya, tapi yang jelas tentu teman selokalnya. Ia mencoba mengingat ingat, memutar otak dengan keras, tiba tiba terlontar sebuah nama Nurudin, seorang dukun dikampungnya. Kemarin waktu berkenalan ia memperkenalkan nama Nurdin lantas memorinya menyimpan Nurudin dukun.
"Kamu ngekos dimana Din? "
"Aku tinggal sama orang tua. "
"Oo, dimana? "
"Di samping Gema. Ayahku jualan di pertokoan Toko Tinggi"
Firdaus terdiam, pikirannya menerawang mengingatkan kata gema... Yang ia tahu, ada dua gema, gema ateh dan gema bawah. Dua-duanya studio foto. Ada satu lagi foto studio Jaya namanya, langganan buya Muchtar, setiap khatam alquran tukang foto itu dipanggil membuat pastpoto yang akan ditempel di ijazah. Pada kesempatan itu banyak dimanfaatkan oleh murid-murid surau serta guru untuk berfoto ria. Tentu saja tidak gratis. Hasilnya akan keluar dan dapat dilihat seminggu kemudian. Menanti dengan harap harap cemas akankah bagus atau jelek. Kalau bagus alhamdulillah dan kalau jelek ya diterima juga dengan alhamdulillah.... Tetapi pada umumnya hasilnya bagus karena Datuk Jaya sudah sangat profesional sekali. Jadi tidak usah dan tidak perlu khawatir.
Sewaktu khatam dulu, Firdaus juga sempat memanggil Datuk Jaya ke rumahnya untuk membuat foto keluarga...Foto-foto itu masih ada, dipajang di dinding beranda rumah. Momen-momen penting kalau mau diabadikan maka harus dipanggil tukang foto, di kampungnya ada pak Nurman yang punya tustel, bisa dipanggil. Ketika tamat SD dulu, Nurman lah yang dipanggil oleh pak Basir ke sekolah. Rata rata foto yang dihasilkan foto hitam putih, tidak berwarna, bukan tidak ada yang warna konon khabarnya bayarannya mahal karenanya tukang foto tidak menyediakan. Pokoknya asal ada tukang foto mereka akan menyempatkan untuk berfoto.
"Oiiii, lagi mikirin apa?"
"Ah nggak, kampung mu dimana?"
"Tabek, "
"Oooo, Aku Balimbiang"
"Anak Balimbiang tidak ada yang jadi orang..."
"Ya, kalau anak balimbing jadi orang tandanya kiamat sudah datang!"
"Ada apa dengan sekolahmu, kok muridnya pindah berjamaah, di sekolah kita ada enam orang..."
"Sekolah kami kelebihan murid makanya sebagian disuruh pindah, maklum sekolah favorit."
"Gitu yaa, apa tidak sebaliknya, kekurangan guru ..."
__ADS_1
"Terserah kamu.... Yang jelas sekolah Itu memang sudah over kapasitas..."
Di simpang tiga dekat beringin besar Firdaus dan Nurdin belok kanan, lewat di depan kantor bupati, kantor DPR dan rumah dinas pak bupati kemudian belok kanan lagi pada persimpangan berikutnya. Disitulah sekolahnya berseberangan dengan SMEA dan di samping pengadilan agama. Tidak butuh waktu lama, kurang dari sepuluh menit mereka sudah sampai. Ia meletakkan tas kemudian ikut bergabung dengan beberapa teman bercengkerama di lapangan belakang menunggu bell berbunyi.
Menjelang siang, besoknya Firdaus mendatangi komplek toko tinggi, toko buku Asra, ia mau belanja kebutuhan sekolahnya, sebetulnya bukan belanja tapi ngutang masuk bon ayahnya.
"Kenapa kamu pindah sekolah, Jang?"
"Ya, Pak, namaku Daus, bukan ujang, Pak. Aku pindah sekolah biar bisa ngutang di toko Bapak!"
"Hhaaa!!!"
"Jangan kaget Pak, itu salah satu, masih banyak alasan yang lain. Tapi yang ada hubungan dengan Bapak cuman itu!"
"Kalau boleh tau alasan yang lain?"
"Ingin mendapat yang terbaik, Pak!"
"Kamu hebat, Daus. Kamu tinggal di mana?"
"Di lantai batu Pak, di rumah Anduang!"
"Ooo di rumah Buk Hajjah Nureka"
"Aamiin."
Asra mencatat barang yang ditumpuk Daus. Ada beberapa buah buku cetak, buku tulis,sampul... Dan buku tulis berbunga, Asra memandang Daus.
"Ini?"tanya sembari mengangkat buku tulis berbunga itu, "Buat belajar juga?"
"Iya Pak, buat penyemangat belajar! Ada kalanya kalau belajar melulu kita jenuh, Nah.. kita perlu rileks, itu perlu penyegaran..."
"Hahaha... anak Angku Rustam!"
"Kenapa Bapak tertawa?"
"Bapak suka gayamu....Kamu sudah pintar kenapa harus sekolah lagi? emangnya nanti mau jadi apa?"
"Bapak juga hebat, jarang-jarang aku ketemu orang sepintar Pak Asra, selalu update... Aku sekolah bukan mau jadi ini-itu, bukan Pak! Aku mau jadi diri sendiri aja..."
__ADS_1
Setelah dicatat semua, tanpa ada yang tertinggal baru ia pulang. Mudah-mudahan Ayahnya tidak marah, walau kebutuhan sekolah karena yang diambil cukup banyak tentu jumlahnya akan banyak pula. Insyaallah ia akan belajar sebaik dan serajin mungkin. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Mantap.
Sampai di rumah ia membongkar kantong kresek mencari kertas berbunga yang tadi diambil di toko Asra, tapi tidak ketemu. Pasti tertinggal, pikirannya. Sialan Pak Asra, nyuruh balik lagi....
Mumpung masih pagi dan pekerjaan rumah juga sudah selesai, semalam dibantu Buya Syahrial jadi langsung siap. Walau buya lebih banyak membantu Andung di toko tapi ia tetap punya waktu belajar setelah sholat Isa sebelum berangkat ke toko. Malam malam toko harus juga dijaga dan ditinggali. Makanya ia kembali ke Toko buku Asra.
"Maaf lupa memasukan! Hanya kertas ini yang tertinggal... Yang lain sudah semua." Ujar Asra.
"Kok bisa ya pak? Perasaan tadi udah dikantongi semua, mungkin karena buru-buru jadi ada yang tertinggal!"
"Namanya aja kelupaan, makanya lain kali periksa dulu, masih untung yang ketinggalan belanja kamu, gimana ceritanya kalau yang tertinggal yang lain...."
"Misalnya,Pak?"
"Kepala kamu!"
"Ah bapak, bapak suka juga bergurau ya, aku suka... Boleh kasih saran nggak pak.. demi kemajuan toko bapak..."
Aduh anak ini bawel banget, kalau bukan anak pelanggan setianya mungkin sudah ditendang saking kesalnya. Namun karena ia orang jualan, separuh umurnya sudah dihabiskan hanya untuk jualan, mulai dari menyewa kios kecil sampai bisa memiliki toko, maka ia punya pengalaman segudang. Lagian ia sudah tua, darah mudanya sudah tidak punya. Maka meskipun harimau di dalam yang keluar tetap kambing.
"Saran apa?"
"Bapak cari pegawai.... Aku mendaftar pegawai paruh waktu!"
"Kenapa?"
"Sepertinya bapak udah jenuh, layanan bapak sudah nggak maksimal, ada pegawai, bapak bisa santai dan tinggal duduk di meja kasir? Hehehe"
Anak itu terus mencerocos tanpa dapat dibendung.
"Kalau bapak yang melayani aku khawatir langganan bapak banyak yang lari.... Hahaha"
Firdaus tertawa senang setelah mempergarahkan Asra, dan ia berniat pulang. Tapi didepan toko ia dicegat oleh dua orang perempuan.
*
Terimakasih telah berkunjung,
jangan lupa like dan komennya
__ADS_1
sungguh sangat berarti buat author
terimakasih.