Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Bangsal Pak Pode


__ADS_3

SEMULA IA ia akan berangkat dengan sepeda, memang bimbang sih, saat mendapati sepedanya gembos akhirnya ia putuskan jalan kaki saja, siapa tahu nanti dapat tumpangan, oplet atau sepeda motor. Di Simpang ia ketemu dengan Muzti dan Rivaldi yang juga mau ke kota.


"Eii Daus, kamu ikutan pindah?"


"Iya, pindah ke skp!"


"Pulang tiap minggu? tinggal dimana? Kenapa ikutan pindah??" Firdaus diberondong dengan banyak pertanyaan.


"Di Lantai batu, numpang di rumah kenalan ibu, sebelum dapat rumah!"


"Di tempat aku aja, masih kosong dan dekat pasar, kalau kamu mau." Rivaldi menawarkan tempatnya.


"Oh ya, kutanya ibu dulu, kalau kata ibu oke aku akan pindah ke tempat Uda..."


"Kok nanya ibu? emang ibumu yang mau pindah? Pindah aja dulu, nanti baru dikasih tau, toh ibumu tak bakal datang kerumah. Nanti kami bantu mindahin barang-barangmu, gimana???"


Anak itu jadi terdiam, tidak tahu harus bilang apa lagi... Sepertinya Rivaldi begitu bersemangat mengajaknya tinggal bersama, sedang anak itu bimbang apalagi serumah dengan Muzti.


"Kita sekamar bertiga dengan Muzti?"


"Tidak. Musti di rumah yang lain pula. Kita hanya berdua, ada saudara yang punya rumah, kadang nginap, atau saudara yang lain.... Kamarnya gede dan panjang.... Pokoknya sipp lah!"


"Gitu ya.."


Anak itu semakin bimbang.

__ADS_1


Batusangkar bukan kota besar, hanyalah sebuah kota kabupaten yang ramai sekali seminggu, tiap hari kamis. Kalau hari Kamis banyak jalan yang ditutup dan dijadikan pasar tempat berjualan., karena pasar nya memang tidak luas dibelah oleh jalan utama. Pedagang dari berbagai daerah akan berdatangan menjual aneka hasil bumi, hasil kerajinan dan lain sebagainya. Setiap malam Kamis surau dagang yang terletak dibelakang masjid Ihsan ramai. Di depan surau itu ada kolam besar tenpat mandi para penginap dan orang orang sekitarnya. Dan hari-hari biasa orang yang berlalu lalang, orang yang jualan tetap orang itu ke itu saja. Hampir dikata tidak ada wajah baru.


Firdaus sering mandi di kolam surau, pagi dan sore. Kalau subuh sering ia orang pertama yang memakai kolam untuk berendam. Jarak kolam dengan rumah tidak jauh sekitar tiga puluh meteran tetapi karena jalannya berliku dan berbelok jadi agak jauh.


Pernah suatu kali ia mandi jam dua tengah malam, karena di kamarnya memang tidak ada jam dinding dan tidak ada juga yang punya arloji. Ketika itu Firdaus terjaga dari tidurnya, perasaan tidurnya sudah sangat lama, ia duduk di pinggir dipan, dipan besi bercat biru yang kalau bergerak sedikit saja akan menimbulkan bunyi, ia melihat sekeliling, ada dua dipan yang masih kosong, dipan Anis dan dipan Asek. Rivaldi dan Yunbur masih terlelap. Diam diam Firdaus mengambil handuk dan sabun kemudian berangkat menuju surau. Ia pun mandi seperti biasa, hanya kali ini ia tidak menemukan siapa-siapa, tidak ada satu manusia pun yang dijumpainya. Setelah mandi ia kembali ke rumah dan langsung masuk lorong. Ketika ia akan memakai baju sekolahnya tiba-tiba jendela terbuka, lalu nongollah Anis sama Asek. Melihat Firdaus sudah siap mandi dan mau bersiap dengan pakaian sekolah, mereka berdua kaget.


"Kamu gila apaa...!!!"


"Jam segini sudah mandi!!!"


"Emang jam berapa sekarang Da Sek?"


"Baru jam dua..."


"Apa???"


Di lorong itu anak sekolah ada tiga, Firdaus, Rivaldi dan seorang lagi Yunbur namanya. Kemudian ada dua orang preman pasar, Anis dan Asek. Kerjanya sering bergadang hampir tiap malam. Di belakang lorong ada bandar, yang tidak terlalu lebar bisa dilompati, diseberang bandar itu rumah orang tua Anis, persisnya dibelakang loket bus Sari Expres. Mereka, kalau pulang selalu lewat samping rumah orang tua Anis kemudian melompat bandar lewat jendela yang tidak pernah terkunci baru sampai di dalam lorong.


Mereka berlima penghuni tetap lorong kalau malam hari. Jika siang kadang bisa ramai, Yunbur sering bawa temannya, Rival juga sering dikunjungi Muzti, mungkin sekedar ngobrol atau menumpang makan. Kalau Senin Selasa Rabu, sambal yang dibawa dari kampung, biasanya sambal gorengan, goreng ikan bilih yang paling sering atau samba lado tanak sekali-sekali, masih banyak, Musti rajin datang.


Lorong panjangnya sekitar sepuluh meter dan lebarnya dua setengah atau tiga meter, berjejer lima buah dipan dan satu meja panjang, letaknya di lantai bawah bagian belakang, mungkin dulunya kandang atau gudang. Dari depan rumah tidak kelihatan kalau ada kamar di bawah bagian belakang. Mungkin karena posisi tanah yang rendah daripada menimbun maka dijadikanlah sebuah kamar berbentuk lorong.


Disamping itu ada juga penghuni tidak tetap yang sering juga ada dilorong itu, Zainal dan Ujang, Ujang ini anaknya pak Pode. Zainal pemuda yang sering bantu-bantu mengambil dan memuat tomat dagangan pak Pode dari Pato, sebuah negeri penghasil tomat nomor satu. Pak Pode perawakannya kecil, barangkali tidak berbeda jauh dengan Firdaus tetapi pamberangnya alahurabi. Biar tubuhnya kecil suaranya, masyaallah keras sekali. Firdaus pernah kena tampar hanya karena ia makan sambil berdiri. Ia diberi kue pastel oleh Da Asek, dan langsung memasukkan ke mulut, kebetulan Pode ada disana. Pode menghampiri dan tangannya terangkat kemudian mendarat di pipinya. Srepp!!! Sebuah tangan mendaratkan di bahunya. Karena ia mengelak secara reflek. Sakitnya mah tidak seberapa, tapi malunya... Karena disana banyak orang.


"Kamu tau kesalahan mu??"

__ADS_1


"Maaf Pak, tahu Pak, makan sambil berdiri..."


"Bagus!!!"


Sejak saat itu ia tidak mau lagi makan sambil berdiri biarpun cuma makan kue ringan. Pelajaran yang diberi pak Pode terlalui menyakitkan, walau karena kesalahannya juga. Ia akan ingat selamanya... Tapi ia tidak dendam, karena pak Pode melakukan tidak dengan wajah garang, dan tamparannya pun tidak sepenuh hati.


Suatu kali Musti datang, saat nasi sudah masak. Rivaldi mengambil piring dan langsung menyendok nasi dari periuk yang masih panas, Firdaus juga berbuat yang sama. Saat mau menyuap, Musti datang tanpa diperbasakan ia juga berbuat yang sama, dengan lahap mereka makan bertiga.


Setelah makan Musti menyuruh Firdaus membeli dua batang rokok commondore, ia menyerahkan uang dolar. Rival dan Musti tersenyum aneh, Firdaus tidak menggubris, entah apa yang ditertawakannya, bergegaslah ia ke warung. Karena malas disuruh bolak-balik dan uang pun cukup untuk empat batang rokok maka Firdaus menghabiskan semua uang itu.


"Baik betul kamu disuruh beli dua ee malah dibelikan empat... Makasih ya bro.."


"Sekali-sekali kan nggak apa ya Daus, mumpung lagi ke warung...."


"Hahaha.."


"Heheee...."


Mereka kompak tertawa, Firdaus hanya melongo, tidak tahu kenapa kedua abang-abangnya itu gembira sekali hari ini. Jawabannya didapatnya beberapa menit kemudian, rupanya Musti mengambil uang yang ada di sakunya yang tergantung di dinding, uang itu yang diserahkannya untuk beli rokok, sialan umpat Firdaus... Hanya bisa begitu.


"Nanti kapan-kapan ku ganti lagi, sekarang aku nggak punya uang, benaran..." Katanya berusaha menghibur Firdaus yang kesal amat sangat


*


Terimakasih telah mampir,

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya


Terimakasih juga atas dukungannya.


__ADS_2