
ANAK LELAKI itu berpegangan pada besi panjang, kadang miring ke kiri kadang ke kanan, kadang maju kedepan kadang bagai ditarik mundur ke belakang, kadang bagai didorong ke depan, berayun-ayun kayak beruk. Tangannya yang berpegangan erat pada besi terlihat berotot dan keras, disitu, di pergelangan tangannya terlihat jelas bekas luka sekitar lima centi panjangnya, menjalar seperti seekor sipasan. Ya, lelaki itu Firdaus, ia berdiri sambil bergantung pada besi di loteng mobil yang dibuat khusus untuk tempat berpegangan. Ia memasang kuda-kuda, ingat pelajarannya pada Pak Ujir guru silatnya, supaya tidak jatuh seperti nenek tua tadi. Kalau pun ia jatuh kesebelah kanan tentu akan menimpa gadis yang ditolongnya, kalau jatuh kesebelah kiri akan menghimpit bapak gendut yang tengah tertidur pulas. Tapi ia tidak akan jatuh dan tidak ingin jatuh. Ia sudah terlatih, bagaimana kencangnya goyangan saat ia bermain oyak-oyak di pohon ambacang besar di atas bukit belakang rumahnya. Awalnya ketika baru belajar memanjat, ia sering jatuh, sering terhempas terlempar dari dahan yang dioyak kencang oleh anak-anak yang lain. Karena permainan itu dilakukan tidak sekali dua kali tapi sering dan berulang-ulang. Sampai ia terbiasa dan hampir tidak pernah jatuh seperti lengket pada dahan pohon ambacang berlumut itu.
Firdaus sambil berdiri merebahkan kepalanya kebahu, sebelah tangannya berpegang pada besi, ia menoleh ke kanan bawah.
"Oo kamu..." sapanya.
Gadis itu mendongak balas memandang anak lelaki yang menyapanya, dan tersenyum.
"Kenapa berdiri?" tanya gadis itu kemudian. Perasaan tadi ia sudah duduk dua deret dibelakangnya, kenapa berdiri tepat pula disampingnya. Apakah anak lelaki itu ingin mendekatinya atau ada maksud lain? ada maksud tertentu?
"Kasian nenek itu, tadi sempat jatuh menimpaku makanya aku suruh duduk menggantikan tempatku..."
"Kamu baik dan santun." puji gadis itu. Biasanya kalau ada gadis yang memuji lelaki, maka sang lelaki akan sangat tersanjung membuat lobang hidungnya besar, tapi anak lelaki itu biasa saja, jelas terlihat dari wajahnya yang datar.
Sebetulnya tidak enak ngobrol berdua, ditengah banyak orang dan yang satu duduk dengan santainya sementara yang lain tegak sambil menahan beban tubuh agar tidak terjatuh. Yang satu harus menundukkan kepala dan yang lain harus menengadah supaya bisa saling melihat lawan bicara. Tetapi mereka dalam suasana yang tidak mengenakkan itu tetap juga ngobrol berdua seperti dua orang sahabat yang tengah berbasa-basi.
"Biasa aja, nggak istimewa kok...."
Tadi ia menolong gadis itu karena ia ingat kakaknya, seandainya kakaknya yang bawaannya sebanyak itu, sendeng penteng alangkah sedih hatinya kalau tidak ada yang bermurah hati mau membantu, kini ada gadis lain yang kebetulan pula mirip kakaknya, spontan hatinya tersentuh untuk menolong, hanya itu, tidak mengharapkan pujian apalagi imbalan....
__ADS_1
Kemudian nenek tadi, ia ingat neneknya Rasila yang berdiri terantuk-antuk karena tidak ada tempat, ia ada disana enakan duduk bersandar dan bisa tiduran, hatinya berontak. Neneknya sudah tua, sudah lemah dan sudah tidak tahan berdiri berlama-lama apalagi diatas bus berjalan yang kadang miring ke kiri kadang kekanan, bisa jatuh menimpa penumpang yang lain, dan akhirnya memang jatuh. Ia baru kepikiran... Tiba-tiba nenek itu sudah menimpanya. Spontan ia berdiri dan menyerahkan bangkunya, tidak berharap pujian apalagi imbalan.... Sesuatu yang sangat manusiawi. Hanya saja kadang orang melihat dari sudut yang berbeda, atau tidak melihat sama sekali, maka ceritanya akan berbeda. Masa bodoh atau cuek. Sebagian orang banyak yang begitu.
"Nebeng aja disudut bangkuku dikit, biar sempit asal hati lapang, insyaallah akan nyaman. Kamu pasti capek berdiri lama-lama." gadis itu bicara dalam hati. Gadis itu menggeser pantatnya merapat ke orang disebelahnya sehingga ada celah disamping kirinya.
"Duduklah atau kamu mau berdiri sampai ke kota? Dua sampai tiga jam bukan waktu yang pendek!" kembali gadis itu menyambung, masih dalam hati.
Pemuda gondrong itu tidak menjawab, tidak akan pernah menjawab sebab gadis itu tidak pernah mengungkapkan kata hatinya. Ia hanya berharap siapa tahu ia bisa mendengar kata hatinya itu.
"Ado baliek pitih...! Agen nio turun!" Pak Raman bersorak berulang-ulang kalau ada uang penumpang yang belum dikembalikan. Tapi tidak ada sahutan. Bus melambat kemudian agen itu melompat turun, terdengar derap sepatunya mengikuti bus yang tetap berjalan, kemudian hilang di telinga. Suatu keahlian khusus, kalau tidak terbiasa jangan coba-coba, terjengkang tantangannya. Dulu waktu masih kecil, masih SD Firdaus pernah juga bagayuik di bus, ikut ikutan trend dijaman itu, kadang harus menempuh beberapa kilo menyongsong bus yang akan ditumpangi, eh bukan karena sang sopir tidak tahu kalau kita menumpang, tepatnya barangkali bus yang akan digayuti, pas dijalan buruk, bus melambat buru buru mengejar bus bergelantungan di tangga belakang terus naik ke tenda... Suatu kebanggaan bagi mereka bisa duduk di tenda. Saat mau turun Firdaus meloncat ke jalan, sampai di tanah ia langsung terjerembab. Lutut dan sikunya berdarah. Pengalaman pertama, sampai akhirnya ia mengerti bagaimana teknik melompat dari bus yang sedang berjalan. Dan khusus anak surau belok jangan sampai ketahuan Buya, kalau sempat ketahuan, hukumannya cukup berat, telapak tangan dirotan, langsung Buya yang turun tangan langsung. Sakit sekali.
Di pasar Simabur bus berhenti, dua orang penumpang naik, ikut berdiri bersama yang lain yang sudah lebih dulu berdiri. Firdaus yang berbadan kecil dan kurus semakin terjepit diantara penumpang yang berbadan besar, kekar dan tinggi. Kendati yang berdiri berdesakan, saling dorong, yang duduk dibangku dengan tenang, anteng menikmati perjalanannya, ada yang tidur dengan mimpinya yang indah, ada yang ngobrol dengan teman disebelahnya sembari tertawa lepas, ada yang tenang-tenang saja. Begitulah kondisinya tetapi tidak ada kecemburuan padahal sama-sama bayar...
Menjelang air mancur lembah Anai, ada sebuah penurunan pendek yang cukup miring, sang sopir bukan mengerem malah tambah memijak gas, bus seperti terbang tidak memijak aspal dan membuat perut serasa dihembus dan dikocok. Firdaus memejamkan mata, menikmati lagi main oyak osai di pohon ambacang di belakang rumah, ketika dahan ditarik turun, persis sama dengan bus ini.
"Pargedel jagung, angek-angek!!"
Seorang orang penjaja makanan menyorakan galasnya dari pintu belakang menyelinap diantara penumpang..
"Kacang tojin!!!" dari depan terdengar pula, hebat anak-anak penjaja makanan itu, padahal bus tidak pernah berhenti menaikkan mereka, tahu-tahu sudah ada di dalam bus. Mereka memang anak pemberani yang gesit dan lincah.
__ADS_1
Meninggalkan lembah Anai suara anak-anak penjaja yang nyaring itu sudah tidak terdengar lagi. Mereka telah turun saat bus melambat di tikungan jembatan sempit. Mereka lebih ahli ketimbang agen bus soal turun dari bus. Kendati bus berlari kencang tetapi mereka dapat turun dan mendarat dengan baik.
Di Sicincin bus berhenti lagi.
Penjaja makanan menawarkan lewat jendela bus, aneka macam. Dan dua orang penjaja ada yang naik ke dalam bus.
"Talua asin!!!" sorak yang satu.
"Pisang abuih!!!" sorak yang lain.
Akhirnya bus melaju lagi.
*
Jangan lupa like dan komen...
Mana suaranya rang Balimbiang,
Yuk kita bernostalgia...
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah kasih semangat...