
"YAKINLAH... Kita pasti lulus! Kita telah berusaha, kita sudah belajar tunggang-tunggik.. Dan kalau kita melanjutkan kita sebaiknya berhenti ke surau, kita tidak bisa seperti dulu lagi, kebiasaan jelek itu harus dibuang...! Selain sekolah hanya main melulu, kadang mandi pun lupa. Sepandai apapun kita membagi waktu, harus ada yang dinomorsatukan, harus ada yang diprioritaskan, dan harus ada yang jadi korban juga!"
"Berhenti mengaji....? "
"Tidak ada yang berhenti! Kita berhenti mengaji kalau kita sudah mati. Kita tetap belajar, mungkin irama dan tajwidnya, kalau mau, dan kalau suara mendukung pula, kayak Maryon suaranya merdu. Tidak harus tiap malam karena kita punya tugas juga dari sekolah. Beda dengan mereka-mereka itu, walau telah khatam tetap datang dan mengaji di surau.... " kata Firdaus panjang lebar.
"Aku masih ingin ke surau! Aku tak bisa bayangkan, apa kerjaku setiap malam, tidur senja? Ah, tidak mungkin. Mana mau mata ini diajak tidur... mau main ke lapau, nggak mungkin juga... Masih anak kecil...! " timpal Jaswan dengan suara bergetar.
"Boleh-boleh saja, tidak ada yang melarang... Buya juga tidak. Buya pasti mengerti! Buya pasti turut memikirkan dan memberikan yang terbaik buat kita... "
"Kak Miati tugas rumahnya begitu banyak, bertumpuk-tumpuk, Dia sibuk sekali... Padahal malam Minggu, kadang sampai larut malam... "
Dan kembali ia bergumam.
"Berbeda dengan jamannya Kak Midar, yang lelaki sampai mengaji makna karena mereka sudah tidak sekolah, malah itupun banyak yang tidak tamat, ataupun yang tidak sekolah. Kala itu lazimnya lelaki bujangan tidur di surau atau di rumah kosong!"
"Hhmmm...."
Anak lelaki yang duduk disebelahnya hanya bisa mendehem mendengar khutbah temannya seakan tidak rela berpisah dengan masa kecilnya, atau barangkali gamang menjalani masa remaja yang akan dilalui atau mungkin juga sudah tidak sabaran berharap masa itu datang secepatnya dan mereka segera ada disana.
"Fitri pacarmu gimana...? "
"Sepertinya Dia tetap ngaji, seperti yang lain, kecuali yang sekolahnya mau tamat seperti kita... "
"Bukan itu, tapi hubungan Kalian.. "
"Hubungan? He he he, terdengar lucu Jas, Dulu memang selalu kepikiran, dulu Aku selalu memikirkannya, dulu Aku memang begitu menyukainya, alangkah senangnya ketika berada didekatnya, memandang tak pernah jemu, waktu berlalu terasa begitu cepat. Saat Aku masih ikut gembala kerbau kami sering main bersama, main kejar-jejaran, mandi di tabek Kamariah, mengejar dan menangkap burung pikau, jatuh dan bergulingan di padang rumput, bersama-sama teman yang lain tanpa rasa canggung, mengasikkan sekali...."
"Di sekolah kita sering mengganggunya ketika mereka main tali, Kita rampok talinya, Kita bawa lari, lalu mereka mengejar Kita, Mereka marah tapi juga senang.... Kalau di surau Kita sering minta bedak, pinjam sisir malah Kita juga sering dibelikan kue...alangkah indahnya.. Tapi...."
Hening sejenak.
"Waang ndak cimburu....? Akhir akhir ini sepertinya..... " Jaswan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Iya aku tau ....tahun batuka musim baganti, sakali aie gadang sakali tapian barubah.....!"
__ADS_1
"Maksudnya? "
Lama mereka terdiam. Firdaus tidak langsung menjawab, ia menghela nafas panjang terasa berat sekali seakan untuk menjawab pertanyaan itu butuh tenaga besar.
"Sepertinya... Fitri masa laluku." jawabnya pelan sekali. Seperti keluhan seorang lelaki yang telah dewasa padahal remaja pun belum jadi.
Sembari menggarut luka di kakinya yang terasa gatal, luka bekas jatuh saat ikut goro di sekolah. Di sekolah ada pembuatan kolam ikan, untuk menyemennya pak Basir, pak Kepala Sekolah memerintahkan seluruh murid kelas empat, lima dan enam mengangkat pasir dari Lubuak Sareno. Karena kurang hati hati berjalan di samping surau Parik di pematang sawah yang licin karena baru saja habis ditambak, Firdaus terjatuh dan ember yang berisi pasir di kepalanya jatuh menimpa kakinya. Untung pasirnya tidak terserak, tetapi kakinya berdarah...
Banyak yang iba dan kasihan termasuk Syaprul... dan Wirman .. Dua temannya yang sama sama menyukai Fitri. Mereka menurunkan pasir bawaannya lalu menolong Firdaus. Sedang Fitri yang berada di barisan depan, ketika mendengar suara ribut ribut, hanya memandang iba pada Firdaus yang jatuh itu. Hanya kasihan.
Dicobanya mengingat ingat, dalam setiap kesempatan dimana ada Fitri dan ada pula Syaprul dan Wirman bagaimana tingkah mereka, bagaimana sikap mereka, bagaimana caranya mereka, sepertinya mereka memang menyukai Fitri, menyukai sebagai teman lawan jenis yang tidak pernah membosankan. Tapi bukan mereka saja, tidak hanya Syaprul dan Wirman tetapi semua anak lelaki memang suka pada Fitri, tentu saja karena Fitri cantik, baik hati dan tak memilih teman.. Lalu pantaskah ia cemburu.... Rasanya tidak.... Sudah cukup baginya gadis kecil itu yang menghadirkan rasa suka pada lawan jenis.
"Bosan waang ya... "
Pikiran Jaswan melayang jauh, mengembara melalang buana melintasi ruang dan waktu. Kadang ia iri dengan sahabatnya yang satu ini. Sahabat yang kadang seperti lelaki dewasa tapi kadang bertingkah seperti anak ingusan. Firdaus memang anak beranjak remaja yang aneh, tetapi walau bagaimanapun dia tetap seorang sahabat yang baik.
"Terserah Waanglah....!" sambung Firdaus kemudian, lalu ia bangkit dari palanta lapau, saat itu matanya sudah mulai mengantuk. Perlahan dirogohnya saku bajunya dan mengeluarkan dua buah gulo-gulo saka, yang masih tersisa, yang satu dilemparkan pada Jaswan. Permen itu jatuh di sarungnya, Jaswan membuka bungkus dan mengambil isinya lalu melemparkan masuk mulut.
"Yuk... kita ke surau....." ajaknya sambil menarik tangan Jaswan.
Jarak lapau dengan surau tidak jauh, hanya beberapa puluh langkah. Dan surau itu tidak terlalu besar, sementara murid yang mengaji cukup banyak, terang saja tidak muat, maka disambunglah kesamping kiri yang ukurannya lebih besar dari surau, mereka menamakan dapur. Padahal bukan dapur karena memang tidak ada tempat untuk memasak, tidak ada tungku, tidak ada periuk atau sejenisnya yang menandakan sebuah dapur. selain sebuah ruangan lepas tanpa sekat. Itulah yang mereka sebut dapur.
Di tempat itulah cinta banyak lahir, ada yang sampai ke jenjang pernikahan dan banyak juga yang layu sebelum berkembang. Begitulah hidup, dalam ada selalu ada yang tiada, karena keduanya antara ada dan tiada saling melengkapi dan saling mengadakan. Tidak usah bingung, karena hanya bisa dinikmati.
JASWAN membuka pintu, bunyinya berderit. Dalam gelap mereka berjalan meraba raba takut menginjak anak-anak yang sudah duluan tidur. Dalam keheningan malam, suasana surau semakin senyap. Hanya binatang malam yang sudi bersuara membuat kelam menjadi seram.
"Waang masih lapar? "
"Sudah tidak, supermi rendam tadi cukup mengenyangkan, apalagi ditambah karak oleng.. Lumayan lah... " begitulah kalau tidur di surau mereka sering kelaparan. Tentu saja, karena sore sebelum berangkat ke surau mereka sudah makan malam padahal mandeh mereka belum masak lagi, mereka sering makan dari sisa nasi dan lauk makan siangnya.
"Besok cepat bangun, biar bisa ketemu Fitri...! "
Biasanya Fitri dan bebera temannya sering duduk manis di titian betung yang menghubungkan surau dengan pondok. Dan Firdaus duduk pula di beranda surau dan menghadap pada titian betung, Mereka bergurau sesama teman, sesekali mereka beradu pandang, Firdaus dan Fitri. Itu saja sudah membuat mereka senang dan bahagia. Apakah besok akan begitu lagi?
"Ngaak ketemu juga ngak apa apa... Emang nya dapat apa?" Kalau dulu yang dibutuhkannya hanya sebuah senyuman, itu sudah cukup, sudah lebih dari cukup malah... Tiada yang lain. Karena dengan sebuah senyuman itu ia sudah sangat senang ....
__ADS_1
"Goreng ubi angek.... Ha ha ha... "
Salah satu jajanan favorit dilapau Baruah, yang di buat Kak Jus istri Wan Ajis. Biasanya goreng ubi tak pernah lama ada dalam talam yang dialasi daun pisang, kadang pakai kertas buku yang sudah tidak terpakai lagi, sering baru keluar dari kuwali langsung ludes. Jusna memang tak menggorengnya banyak banyak.
Biasanya setiap hari minggu pagi, anak anak surau tidak langsung pulang. Mereka duduk dihalaman surau, sebagian ada di pintu pondok, dan yang lain berkerumun di lapau Ajis, bersenda gurau tertawa lepas dan saling membuluskan teman. Walau hanya begitu tetapi mereka senang sekali... Bahagia.
Kendati gelap, mereka paham dimana tempat yang masih kosong walau mereka bukan penghuni tetap. Ya, memang tidak setiap malam mereka tidur di surau, hanya kadang kadang saja, seperti malam ini. Dan tidak pula semua anak anak yang tidur di surau, barangkali yang rumahnya jauh, tidak punya teman untuk pulang bersama, atau yang bapaknya tak sempat menjemput dan barangkali juga karena memang mereka suka nginap di surau. Mereka tidak banyak, paling sekitar sepuluh sampai lima belasan orang.
Sebetulnya tidur di surau banyak dukanya, apalagi bagi anak mandeh yang selalu tidur dibawah ketiak ibunya. Karena tidak ada bantal apalagi kasur, tikar pun tidak. Tidur hanya diatas lantai papan. Dan banyak nyamuk.
Di pojok sebelah kanan, di situlah yang belum ditempati. Pojok sebelah kanan dianggap tempat yang angker, siapa yang tidur disana sering bermimpi buruk. Firdaus , Jaswan dan Maryon tidak peduli, mereka ingin tidur. Mereka telah mengantuk dan tak menunggu lama mereka pun pulas, kecuali Firdaus.
Ketika Firdaus bangun, hari sudah siang sekali. Teman temannya, Jaswan, Maryon dan Helmi dan anak anak yang lain sudah duluan bangun dan sudah pulang. Anak perempuan yang tidur di dapur juga sudah tidak ada lagi.
Mereka telah pulang ke rumah mereka masing masing. Surau bena-benar sudah sunyi. Buyarlah impiannya untuk ketemu Fitri. Paling tidak untuk yang terakhir kalinya sekedar bertukar senyuman untuk disimpan dalam hatinya yang paling dalam.
Kalau tidak Midar kakaknya yang membangunkan mungkin Firdaus masih tidur. Ya, ketika Midar sampai di surau ia mendapati Hamzah duduk di tembok loneng bandar. Hamzah yang punya hidung besar makanya anak-anak memberi gelar si Bulando.
Dari Hamzah, Midar tahu kalau Firdaus masih tidur. Ia geleng geleng kepala melihat adiknya masih tidur manyingkalu berselimut kain sarung. Panas matahari telah masuk kedalam surau lewat jendela yang setengah terbuka.
Walau bagaimana pun kelakuan adiknya tetapi ia tetap sayang. Daripada adiknya kena marah biarlah ia yang dimarahi ibu atau ayahnya. Midar sering begitu, kalau Firdaus yang memecahkan piring atau gelas, ia tampil mengakui ialah yang tak sengaja memecahkannya. Atau apa saja ulah perangai adiknya, ia selalu tampil sebagai penyelamat, sebagai pahlawan.
Pernah suatu kali, ketika Midar dan Firdaus disuruh ayahnya menyabit rumput untuk kerbaunya, mereka pergi bareng, di jalan mereka berpisah, Midar memilih ditempat yang rumputnya banyak sementara Firdaus memilih ditempat yang nyaman walau rumputnya tidak seberapa. Beberapa waktu kemudian karena Midar rajuiknya sudah terisi penuh ia memanggil manggil Daus, tapi daus asik main pupuik daun galundi sementara rajuiknya baru terisi alasnya saja. Midar geleng geleng kepala melihat perangai adiknya
"Kamu pulang sana, bawa rajuik yang sudah terisi ini, nanti kalau Ayah nanya bilang kakak masih nyari rumput..."
"Tapi kak...."
"Nggak apa apa, biar kakak yang meneruskan pekerjaan kamu... Ayah pasti senang dan kasih kamu izin bermain ...."
Terdede-dede Daus manjujuang rajuik yang sudah terisi penuh, terasa sakit di kepala karena tali nilon bulatan ekor rajuik tanpa ada singgulung sebagai alas kepala, tapi ini jauh lebih ringan kalau dibandingkan dengan menyabit rumput dari satu pematang ke pematang yang lain. Dan benar saja Daus dapat pujian dari ayahnya, dan ia tersenyum kecut, yang dipuji itu bukanlah perbuatannya. Dan Midar yang isi rajuiknya tidak sepadat punya Firdaus tentu saja dapat omelan dari sang ayah.
"Lihat punya Daus, masih anak kecil tapi pekerjaannya jauh lebih bagus dari kamu yang sudah dewasa! Ini kamu, sudahlah rajuik isinya sagalama waktu habis berjam-jam pula... dasar perempuan!" Ciloteh ayahnya. Midar hanya diam ketika itu. Yang penting adiknya selamat dari marah ayah dan ibunya.
Pernah Daus memecahkan dua buah gelas sekaligus karena kena bola yang disepaknya, gelas itu bekas minum tamu yang belum sempat dibersihkan Midar. Lagi-lagi Midar mengakui pada ibunya ia yang tak sengaja memecahkannya. Tidak hanya cukup pengakuan dan rasa penyesalan, hukuman tetap dijalankan, apalagi kalau bukan dicambuk pakai tali nilon. Ia rela demi menyelamatkan adik tersayang.
__ADS_1
*
jangan lupa tinggalkan jejak tanda pernah berkunjung atau singgah, tentu saja like dan komennya, sebagai penyemangat author, tak lain hanya terimakasih untuk semua.