
SEBUAH komplek yang lengkap di masa lalu, beberapa buah bangunan tua, ada Lumbuang namanya, kantor wali, dan gudang, bangunan itu berjejer di Balaisatu, bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda. Salah satu bekas gedung itu, yang paling besar, seperti gedung pertemuan, atau mirip kantor, dimanfaatkan untuk sekolah tsanawiyah, namun tak berapa lama sekolah agama itu tidak ada murid dan gurunya. Kini gedung itu difungsikan kembali.
Ada tiga ruangan untuk belajar dan satu ruangan kecil sebagai kantor. Tidak ada ruang perpustakaan, tidak ada labor, tidak ada musholla tidak ada wc. Kalau mau ke wc biasanya di samping sekolah ada kolam dan disudutnya ada ****** disanalah murid-murid buang hajat atau hanya sekedar kencing, kalau tasasak benar. Sebuah sekolah menengah dengan sarana yang jauh dari memadai. Seperti nenek diberi bedak dan gincu, seronok sekali. Bangunan bekas sekolah agama itu, yang telah lapuk, yang tidak pernah dirawat dan terlantar beberapa tahun terakhir, sekarang difungsikan kembali.
Dindingnya baru dikapur kelihatan putih bersih, sementara cat daun pintu dan kusen juga baru, tetapi kayu-kayunya banyak yang dimakan rayap, tembok dindingnya banyak yang bolong sehingga kelihatan sasaknya menyumbul keluar. Atapnya sudah karatan berwarna coklat tua dimakan usia. Untuk membiayai perbaikan gedung SMP Bengkawas setiap penduduk dikenakan iyuran wajib, ketetapan pak wali dan pemuka masyarakat, cerdik pandai, alim ulama, ninik mamak serta bundo kandung, pokoknya setiap elemen masyarakat dilibatkan dan ikut serta, mereka bekerja sama dan sama-sama bekerja.
Balaisatu biasanya sepi, hampir tidak ada orang lalu lalang kecuali hari sabtu dan jumat, dua kali seminggu, baru ramai. Kalau hari sabtu memang hari balainya, banyak penggalas yang tiba dari luar kecamatan. Sementara hari jumat disamping untuk persiapan menghadapi hari balai besok harinya, juga pada hari jumat banyak kaum lelaki singgah di balai sebelum ke masjid. Sekadar makan siang di lapau nik Bendang atau di lapau Nauman, atau sekadar beli tembakau dan daun nipah sama Buyung Laili.
Sekarang jadi beda, balai menjadi ramai setiap hari oleh anak-anak sekolah yang menjadi warga baru. Mereka datang dari daerah lain.
Di balaisatu ada pula seorang babinsa, ia baru menetap, namanya Slamet, beserta istri dan sepasang anaknya, yang perempuan namanya Dewi. Mereka tinggal di sebuah rumah dibelakang balai dekat surau wakaf, surau tempat orang balai melaksanakan sholat Zuhur dan Ashar. Pak Slamet menjadi motor penggerak yang menghidupkan kembali banyak kegiatan olah raga, bola volley, bulu tangkis dan bola kaki. Lapangan bulutangkis dan lapangan bola volley yang semak ditumbuhi ilalang dan rumput liar kembali diperbaiki.
Ibuk-ibuk banyak menyewakan kamar di rumahnya diantaranya Suna perempuan paruh baya. Rumahnya besar, ia hanya tinggal berdua dengan anak gadisnya. Banyak lagi rumah lain yang juga disewakan.
__ADS_1
Murid-murid memenuhi halaman sekolah. Kebanyakan mereka duduk-duduk atau berdiri berkelompok sesama mereka yang berasal dari satu sekolah sebelumnya, atau dari satu kampung. Mereka berpakaian putih-putih, ada juga beberapa yang celana atau roknya berwarna lain.
Pagi ini dilaksanakan upacara bendera dan pembukaan hari pertama sekolah. Murid-murid telah berbaris menurut kelas masing-masing. Mejelis guru ikut pula berdiri di emperan sekolah, tidak banyak, ada sembilan orang. Yang paling ujung kelas tiga, mereka berbaris dengan rapi, yang perempuanya cantik-cantik, dan yang laki-laki gagah sekali.
Kemudian kelompok selanjutnya kelas dua, mereka pun tak kalah rapinya. Kelas dua ini lebih banyak ketimbang kelas tiga. Cuman ada beberapa anak lelaki yang rambutnya gondrong, tetapi tetap membuat mereka gagah dalam barisan itu.
Upacara segera dimulai, suara komandan upacara terdengar berwibawa. Pami namanya, gagah sekali, ia berjalan dengan tegap melapor pada inspektur upacara, pak kepala sekolah.
Bendera telah berkibar di puncak tiang, dan komandan upacara mengistirahatkan barisannya. Acara selanjutnya sepatah kata dari inspektur upacara.
"... Khusus kelas satu, Selamat datang! Sebagai keluarga baru tentunya kalian belum mengenal keluarga kalian, sepintas bapak akan perkenalkan! yang berdiri di depan sebagian guru kalian! mulai dari pinggir sekali, Pak Hamzah mengajar Matematika, Syaipur guru Bahasa Indonesia, Dalimi guru Agama dan yang jangkung Bursyal guru Olahraga, kemudian yang cantik-cantik, Surbaina guru Pendidikan Moral Pancasila, Maidarli guru Ilmu Pasti Alam, Jusmaini guru Ilmu Pengetahuan Sosial dan Rawanis guru Bahasa Inggeris... dan ada beberapa lagi, pada hari ini belum sempat hadir.... dan saya sendiri Khadir, mengajar Matematika..... sama dengan Pak Hamzah, sekalian saya merangkap kepala sekolah "
Pak Khadir dengan lancar memperkenalkan semua guru yang berbaris rapi. Ketika nama salah seorang guru disebutnya maka guru itu maju selangkah kemudian membungkukkan badan untuk kemudian mundur lagi.
__ADS_1
"... yang baris paling kiri, kakak-kakak Kalian kelas tiga, merekalah cikal-bakal sekolah ini, mereka adalah pahlawan yang rela berkorban dan mengubur cita-cita demi terwujudnya sekolah menengah di kampung kita, jumlahnya tidak banyak, mereka berasal dari nagari kita! dan nagari disekitar kita. Setelah mereka terusir dari sekolah awalnya kemudian mereka menumpang belajar di gedung SD, tanpa sarana dan prasarana. Memang sangat miris sekali. Mereka adalah para pahlawan dengan semangat membara di dada masing-masing, kalau kalian pengen tau bagaimana sakit dan susahnya menuntut ilmu itu, tanya lah pada mereka, kakak-kakakmu itu. Tahun berikutnya murid kita bertambah dua lokal, Kita telah maju selangkah lagi karena kita telah memiliki gedung, gedung yang ada sekarang ini... Alhamdulillah!" Khadir berhenti sejenak. Kesempatan itu dipergunakan oleh murid-murid untuk bertepuk tangan, entah siapa yang memulai, bunyinya gegap gempita dan penuh semangat. Setelah hening, kembali Khadir melanjutkan pidatonya.
"Anak-anak sekalian, kita mesti bersyukur dengan adanya sekolah menengah di kampung ini, betapa beratnya perjuangan Bapak Yusan pencetus dan pendiri serta kepala sekolah kita, beliau didemo dan dimusuhi orang sekelilingnya, beliau dikatakan guru yang tidak adil, guru yang tidak profesional, namun dengan keberanian yang luar biasa dan dengan bantuan masyarakat semua, tujuannya tak lain agar kalian dapat bersekolah tidak hanya sampai SD saja...!!, Sekarang kita sudah memiliki gedung dan guru, makanya kalian beruntung, sekarang sekolah kalian bukan sekolah kelas jauh lagi, tapi kalian merupakan sekolah swasta yang berdiri sendiri!!." Khadir berhenti sejenak, keringat telah mulai membasahi pipinya karena begitu semangatnya ia berpidato.
"Untuk itu anak-anak semua, jangan kalian sampai kalah dengan sekolah yang lain. Materi yang diberikan sama, dengan guru yang hampir sama pula, walau kita akui kita memang sangat kekurangan fasilitas. Bapak yakin dengan semangat kalian yang luar biasa, semua kekurangan itu dapat kita atasi dengan kebersamaan dan kerja keras."
Khadir berhenti lagi, kali ini agak lama, entah apa yang akan disampaikannya. Murid-murid menunggu dengan sabar, tapi tidak dalam kesunyian karena suara suara dan bisik-bisik mulai kencang terdengar.
*
Terima kasih telah hadir, jangan lupa like dan komennya, biar semangat terus dan biar kelar
__ADS_1