Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Jadi Guru Semalam


__ADS_3

WAKTU magrib telah panjang dan hampir habis. Suara azan memang tidak terdengar dari masjid karena letaknya cukup jauh, dan suara bedug yang ditabuh garin masjid juga tidak bisa didengar dari sini, paling yang punya radio kalau lagi hidup baru tahu kalau waktu sudah masuk. Pada umumnya para bapak dan andeh-andeh sudah bisa menebak dan memperkirakan dengan pasti. Kadang kadang inyiek-inyiek tak membuka telakungnya dan tetap duduk diatas sajadah sampai waktu Isa masuk.


Di depan pintu Farida Bahar, Nani dan Dewi mencegat Firdaus setelah ia selesai sholat. Ia masih pakai telakung membuat wajahnya seperti gadis remaja tujuh belasan. Anggun.


Anak lelaki Bu gurunya itu baru kembali dari Lapau padahal sudah ditunggu sedari tadi. Tanpa menunggu lama Farida langsung menyapa dan menyampaikan maksudnya.


"Tolong ciek yo!!??" katanya sambil menyodorkan sebuah buku tulis dan pena, tentu saja dengan malu-malu. Kalau bukan bu Andjar yang menyuruhnya mana berani ia minta tolong pada anak bujang bu Andjar.


'Tadi dicari-cari Ibu..." lanjutnya.


Firdaus bingung, memandang tidak percaya, pasti ada hubungannya dengan anak ini, ngapain lagi ibunya mencari, batinnya.


"Ini buku apa? Oh ya tadi aku main ke lapau nengok orang main domino, jadi lupa pulang.. " jelasnya sambil memandang Farida, Dewi dan Nani bergantian.


"Konsep pidato! untuk perlombaan tujuh belasan!!"


"Ooo... lomba dimana??"


"Aku ditunjuk Pak Basir, tapi aku ndak bisa bikin pidato, tadi kata Ibu.. kamu hebat, makanya tolong dong, ..!"


"Hehehe... nggak juga, tapi bisa lah sikitiit... kapan???"


"Yaa sekarang!! kapan lagi. besok kamu sudah berangkat lagi, baru pulang Sabtu depan!!!"


"Oo gitu, boleh... tapi kalau jelek jangan ngomel, karena aku bukan ahlinya...." Ia mengambil buku tulis dan pena yang diberikan Farida lalu membawanya ke bilik. Firdaus memang senang menulis dan suka membaca, pekerjaan yang sangat disukainya. Tak heran banyak temannya yang minta dibuatkan surat cinta... Imma, Budi dan Nasir diantaranya. Mereka-mereka itu sukses pacaran walau belum sampai ke jenjang pernikahan.


Firdaus keluar dari bilik kemudian duduk dikursi. Tanpa kesulitan ia menulis kata demi kata, baris demi baris menjadi kalimat. Disebelahnya Farida memperhatikan dengan kagum. Ya, sejak dahulu ia memang mengagumi anak gurunya itu.


"Nah, udah selesai! Coba sekarang Ida baca,...."


"Bukan Ida, tapi Rida..." Nani membetulkan ketika anak lelaki itu menyebut dengan nama yang salah.

__ADS_1


"Maaf tulisannya cakar ayam! Tapi itu tidak penting....! pahami maksudnya, itu yang lebih penting... Kita harus mengerti akan apa yang Kita omongkan, bagaimana intonasinya, dimana penekanannya, dimana harus berhenti. Dimana harus pelan, dimana harus kencang...." lanjutnya tanpa mengindahkan protes Nani.


"Kasih contoh lah...!"


"Nah begini Ida.., kamu marah kalau aku panggil Ida?!"


Farida menggeleng, "Panggil apa saja boleh..." Ada perasaan jengah, kikuk atau apalah namanya menyapa anak lelaki itu.


Firdaus berdiri, tangannya berpegangan pada punggung kursi, pandangnya lurus ke depan, pada Farida, anak perempuan itu tersipu malu.


"Berdiri santai aja, jangan kaku, ambil nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan, baru ucapkan salam, usahakan pandangan kita menyebar, tidak hanya terfokus pada satu titik. Caranya mulai dari kiri perlahan kepala diputar kekanan sambil mengucapkan salam. Dalam berpidato bahasa tubuh juga dibutuhkan! Setiap penekanan variasikan dengan sedikit anggukan kepala, itu akan lebih baik...!" katanya panjang lebar seperti seorang guru besar, padahal ia hanya mengulang apa yang telah dijelaskan oleh Dastur guru bahasa Indonesia di sekolah. Baru dua hari yang lalu ia belajar tentang berbicara di depan orang banyak termasuk pidato ini.


"Sekarang coba!!" perintahnya. Alaamak, sudah pandai main suruh, ngajarinnya cuman segitu aja.


Walau sering bertemu, bukan hanya sekedar kelihatan jauh saja, dan sering bertegursapa tetapi mereka sekarang berada dalam jarak yang begitu dekat membuat hati mereka berdebar-debar. Farida berdiri di belakang kursi, tangannya bersitekan pada sandaran kursi, matanya menatap lurus. Ia malu, mulutnya terkunci, seakan.


"Jangan kaku! santai saja ... ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan, ini akan mengurangi kegugupan, yang paling penting anggap saja orang yang didepanmu bodoh semua..!!! karena saat ini kita yang paling pintar!!! " Lagi lagi ia mengulang motivasi yang disampaikan Dastur, saat ia memberi semangat kepada murid-muridnya. Padahal kalau ia sendiri yang disuruh berpidato ia juga akan gugup. Ia hanya baru dapat teori, sedang praktek juga belum pernah, kecuali kata kata perpisahan saat ia tamat SD dulu.


"Itu baru beberapa orang di depanmu, bagaimana kalau ramai, tentu semakin tidak fokus, ayok coba lagi...!" Biar ada seribu orang yang ada di hadapannya, yang mendengarkan pidatonya ia tidak akan grogi, ia tidak akan salah tingkah, ia akan fokus, asal anak lelaki gurunya itu tidak ada disana, tidak memandangnya dengan sinar mata yang, yang tidak bisa dijelaskan.


Ibunya datang dari belakang.


"Bagus, Rida..!! Coba suaranya agak kencang lagi...." pujinya.


"Dari tadi ditunggu-tunggu... baru datang langsung pergi lagi....! Bagaimana sekolahmu, betahkan...?" lanjutnya bertanya pada Firdaus.


Memang jauh berbeda dengan sekolahnya yang lama, tentu saja. Itu sudah pasti, Padahal sekolah barunya itu bukan sekolah favorit, bukan sekolah kelas atas juga. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana lengkapnya sarana dan prasarana di sekolah favorit itu, SMP satu kemudian SMP dua. Ada beberapa temannya yang bercerita kalau saat mendaftar kemaren semuanya memilih SMP satu tapi justru terlempar ke SKKP ini. Bagi Firdaus sekolah sekarang sudah sangat bagus...


"Alhamdulillah..Bu, besok lebihkan belanja, banyak yang mau dibeli, sumbu kompor harus diganti, beli gembok peti dan perlengkapan lainnya....!!" lapornya.


"Ya, besok bilang sama ayahmu! sudah malam!! belajarnya sudah cukup nanti telat bangun!"

__ADS_1


Firdaus bangkit dari dipan, mengendap-endap ia keluar dari bilik, takut menimbulkan suara gaduh, yang dapat mengganggu tidur anak anak perempuan yang tidur di darek, di ruang tengah, ia terus kebelakang, kerongkongannya terasa kering, ia ingin minum. Diambilnya cerek lalu dituangkan kedalam tekong, dan dibawanya ke bilik. Matanya tidak mau diajak kompromi, setiap dipejamkan selalu saja wajah Itu yang terbayang melayang-layang dalam pikirannya. Dulu ia juga pernah merasakan hal yang sama, tapi yang ini beda, meletup-letup tapi santai, kalau pun ia berkhayal, khayalannya hanya sebatas untuk hari itu, paling melimpah pada esok harinya. Kini ia berandai bukan lagi untuk besok hari, tapi meluber menjadi hari esok...


Pagi harinya ia bangun lebih cepat, entah karena sudah kebiasaan, entah karena ada maksud tertentu, biarpun semalam ia setengah bergadang gara-gara mata tak mau diajak kompromi, tak mau diajak kerjasama.


"Tumben bangunannya cepat..."


"Kalian juga, masih gelap dan dingin!"


"Ya, takut keinjak?"


"Orang jalan emang pake kaki, tapi kan ada mata buat ngeliat...."


"Siapa tahu matanya micing... kayak semalam, mengendap-endap kayak pencuri, di rumah sendiri...."


"Hhaaa, kamu belum tidur ya, pasti susah tidur karena mikirin seseorang, anak SD belum boleh mikirin laki-laki, nanti ibunya marah...! Kecuali mikirin...."


"Mikirin apa?"


"Aku!"


Farida terdiam, tidak menyangka anak gurunya itu akan ngomong spontan, untung mereka hanya berdua, anak-anak yang lain lagi di luar. Gadis itu malu-malu tapi hatinya senang. Disini senang, disana senang, dimana-mana hatiku senang, la la la...


*


Terima kasih telah mampir,


jangan lupa like dan komennya,


author butuh untuk penyemangat,


biar cepat tamat, insyaallah....

__ADS_1


__ADS_2