Senandung Lembah Kinawai

Senandung Lembah Kinawai
Surat Tak Beralamat


__ADS_3

BARU PERTAMA kali ia pulang dengan perasaan yang tidak menentu, yang tak bisa disebutkan. Penuh semangat tentu saja, cemas ada sedikit, malu ya kalau ketahuan orang banyak, ragu pasti kalau ditolak.... Semuanya lebur menjadi satu. Diatas oplet anak lelaki itu duduk termenung, bahkan orang sudah pada turun karena sudah sampai tidak juga disadarinya. Ia baru tersadar ketika sopir oplet meneriakinya. Bergegas anak lelaki itu turun sambil menyandang ransel di pundaknya. Balaisatu sudah usai hanya tinggal orang memuat dagangannya ke tenda oplet dan mobil cigak baruak.


Lewat Mandarek anak itu pulang ke rumahnya menghindari jalan simpang ampek. Dari tugu ia berjalan arah ke selatan, lewat depan balai adat menurun sedikit lalu belok kiri disamping rumah Jamin terakhir rumah Khaidir yang terletak paling ujung berbatasan dengan sawah.


Ia berdiri sejenak memandang keseberang melintasi jejeran sawah. Ada beberapa rumah tertutup rimbunnya pepohonan. Jelas terlihat rumah Kahar penjaga bukit Calagi bagian selatan yang berdiri angkuh dipinggang bukit. Ia menyusuri pematang sawah Mandarek tembus di luak duo dan kembali sampai di jalan gadang terus ke hilir.


Pintu rumahnya terbuka, dipanggil panggil tidak ada orang, justru beberapa ekor ayam yang ada dalam rumah, ketika dikajuik ayam itu berterbangan keluar lewat jendela. Rumah itu memang kosong, tadi angin kencang yang membuka pintu dan melihat pintu terbuka berebutan ayam itu naik. Bu Anjar dan Rustam masih di kantor wali sedang Marni Dan Pami adik-adik Firdaus mungkin masih di tempat neneknya, bermain.


Firdaus tidak berniat ke lapau. Waktu magrib masih lama, ia ambil sabun dan handuk terus ke luwak dibelakang rumah nek Rasila. Ia ingin mandi biar lebih segar karena nanti malam ia akan ke surau bertemu kawan sama besar dan menjumpai anak perempuan itu.


Tunggulah! Ia akan proklamirkan.. tidak hanya kemerdekaan yang mesti diproklamirkan, rasa suka dan sayang juga, kalau hanya dipendam di dalam hati, kalau hanya bergelora dalam dada siapa yang akan mengira.. siapa yang akan tahu? Paling tidak buat anak itu, anak gadis yang telah membuat tidurnya tidak lelap, resah dan gelisah...


Setelah sholat Maghrib berindap indap ia ke kamar kakaknya mengambil pengharum menyemprot sarung dan bajunya kemudian ia berangkat. Ia tidak duduk di lapau takut dan malu dicemeehkan uwan-uwan yang juga tengah ngobrol disana, tapi ia duduk di tembok loneng sendirian menunggu Jaswan... atau Maryon ataupun Mustapa....


Sudah lama juga ia tak ketemu Jaswan dan Maryon, khabarnya mereka masih mengaji di surau. Firdaus dapat khabar dari teman teman yang lain, dan Mustapa juga bilang begitu, kendati Mustapa sudah tidak ke surau lagi sama seperti halnya Firdaus. Tapi yang datang bukan mereka, justru Herman...


Herman lebih tua beberapa tahun dari Firdaus, tapi mereka tidak terlalu akrab, hanya sekedar bertegur sapa. Herman sudah SMA, ia anak guru juga. Wansa ikut pula bergabung disamping Herman. Mereka seangkatan, tapi Wansa sekolah di kampung, sekolah agama.


Beberapa menit kemudian Mustapa datang, ia berselimut sarung kemudian duduk pula di tembok disamping Firdaus. Tak menunggu lama mereka berdua begitu asyik bercerita, tentu saja cerita anak perempuan tiga serangkai, Dewi, Nani dan Farida. Rupanya Herman dan Wansa ikut menguping obrolan Mustapa dan Firdaus, membuat mereka tertarik dan ikut bergabung.


"Kalian membicarakan anak pak Slamet ya, Dewi memang cantik...." Herman ikut nimbrung.


"Siapa yang mau nembak, Mustapa apa Daus?"


Firdaus aus menggeleng, "Bukan.... Mustapa juga bukan, kami hanya membicarakan mereka, mereka sering belajar di rumah bersama ibu.."


"Tandanya kalian punya maksud.... buruan, ntar keduluan orang..." Mustapa memang ada hati pada Dewi, Herman bisa menebak. Dan Mustapa hanya tertawa menanggapi ucapan Herman.


"Kamu gimana Daus, sepertinya Rida cocok buat kamu..."


"Benarkah? doain aja.... aku memang mau melamar anak itu buat pacarku"


"Kamu berani?" Herman menantang


"Kenapa nggak..!"


Firdaus menjawab pasti. Herman bawaannya sedikit sombong, kalau ngobrol orang lain hanya sebagai pendengar, yang cerita itu dirinya, suatu keadaan yang tidak balance, tidak seimbang. Ia bukan sombong tetapi demikianlah karakternya.


Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, mujurnya Dewi dan Farida lewat didepan mereka, mereka mau ke lapau, mau belanja. Malangnya nyali Firdaus diuji, untuk membuktikan kata-katanya sama Herman tadi.


"Eii kalian...!" Herman memanggil.


Kedua anak perempuan itu berhenti sejenak dan menoleh.


"Dewi...! Rida...! Ini Mustapa dan Firdaus mau bicara!"


Serombongan lelaki sedang duduk di tembok loneng bandar. Dewi dan Farida tetap berlalu hanya menoleh tanpa menjawab panggilan Herman.


"Kenapa kalian diam, kalian


memang gadang sarawa hahaha.... nanti kalau mereka balik... tunjukkan kejantanan kalian..."


Firdaus bukan tidak berani melayani tantangan Herman, tadi ia begitu semangat karena ia ingin melawan kesombongan Herman yang menganggap remeh dirinya dan Mustapa, eh siapa sangka anak itu justru lewat didepan mereka. Kalau mau menyampaikan isi hatinya mengapa harus di jalanan, di depan banyak orang? Ini bukan kompetisi, ini bukan pertandingan, begitu pikiran Firdaus.


Di lapau Ateh dua orang anak perempuan itu menunggu goreng ubi yang masih dalam kuali, belum matang, yang tersisa ada dua buah kecil dan sudah dingin pula, mereka mau yang hangat... makanya mereka menunggu agak lama.

__ADS_1


"Siapa orang orang yang memanggil kita barusan Wi?"


"Sepertinya ada Daus..."


"Iya, yang satu lagi, yang berselimut itu Mustapa.. ituu yang sering menggodamu... tapi yang memanggil kita aku nggak tau... wajahnya kurang jelas, dia duduk ditempat gelap. "


"Aku juga nggak kenal, entah siapa."


Ketika Firdaus melihat Dewi dan Farida keluar dari lapau Firdaus mendatanginya dan berkata dengan suara pelan.


"Maaf mengganggu, sebetulnya ada yang mau kami omongkan sama kalian.... Tapi nantilah sepulang dari surau... Kami juga mau ke mudik.. Kalian pulang atau tidur di surau?"


"Pulang,.... kami tidur di simpang." spontan Dewi menjawab.


"Kenapa nggak sekarang aja?" lanjut Dewi bersemangat.


"Nanti saja, Nani mana, kok dia tidak bersama kalian?"


"Nani tidak datang.."


"Ooo..."


"Kenapa dengan Nani? Apa yang mau diomongin ada hubungan dengan Nani?"


"Tidak! nggak enak aja, kami berdua sementara kalian ada bertiga kalau dia ada..."


"Emangnya kita mau ngapain?"


"Tidak ngapain-ngapain... Kalau ganjil tidak enak aja!"


"Gitu ya."


"Mau goreng?" akhirnya Farida bicara juga menawari.


"Ini ambil, tadi memang sudah dilebihkan." Katanya lagi sambil membuka bungkusnya dan menyodorkan pada Daus.


"Benar nih, Ida!"


Daus mencomotnya sebuah.


"Eh, panas!"


"Pakai kertas ini!" Farida merobek kertas pembungkus dan menyerahkan pada Firdaus.


"Kok cuma satu, kasih juga temannya. Masa makan sendiri" Akhirnya Firdaus mengambil dua, dan berbisik.


"Aku enggan berbagi, apa yang kamu kasih Ida..."


"Hanya gorengan..."


"Terima kasih Ida, Dewi..." lanjut Daus.


Akhirnya anak surau Belok, anak siam buya Kutar selesai juga mangaji. Sebelum pulang mereka sholat Isya berjamaah. Berebutan anak-anak itu mengambil udhu di kulah dan di tabek disamping dan didepan surau.


Sementara di lapau dan di tembok polongan para ayah atau kakak mereka sudah ramai berkumpul menjemput anak atau adiknya. Setelah selesai sholat mereka pulang, Firdaus dan Mustapa ikut pula bergabung dengan mereka tentu saja dibelakang sekali. Mereka berempat, berjalan bersisian, bukan berpasangan...

__ADS_1


Jarak sekilo lebih, terasa begitu pendek, mereka sudah hampir sampai tapi sepatah pun belum tersampaikan oleh Firdaus pada anak perempuan itu. Padahal ia telah berkali-kali menghafalnya di kamarnya di Lantai Batu, kemudian senja tadi sehabis magrib di biliknya juga diulang lagi. Semua Itu sirna, mengirap entah kemana. Masih mending Mustapa, ia sudah berani memuji-muji Dewi. Dan Dewi tipe gadis periang dan supel, umpan yang dilepaskan Mustapa langsung disambarnya. Sehingga suasana jadi cair tidak tegang seperti tadi.


Melewati Luak duo tiada lagi rumah di pinggir jalan, makanya daerah ini dikenal angker karena sepinya. Sementara rombongan anak-anak tadi sudah jauh di depan bukit calagi atau mungkin sudah sampai di Pauh Angik.... Mustapa terdiam, mungkin kehabisan bahan, Dewi juga diam, apalagi Farida dan Firdaus, yang bercerita hanya dalam hati mereka masing-masing sedang mulut mereka terkunci rapat.


"Hati-hati, batunya besar-besar nanti kamu jatuh.."


"Iya, disini angker... Jadi takut."


"Hidupkan saja senternya, nanti keinjak batu besar, bisa jatuh..."


"Nggak usah takut, kan ada kita..." Kata Mustapa menghibur, padahal ia juga ngeri, sampai bulunya merinding, tapi gengsi mau berterus terang, lagian tentu akan membuat kedua anak perempuan itu semakin takut. Justru Firdaus yang bisa santai, ia sudah terbiasa dan sering berjalan di malam hari melalui jalan setapak naik bukit turun lurah bersama ayahnya saat berangkat menunggu padi di sawah Siriah Aie.


"Kenapa harus cemas, kenapa mesti takut, kita lewat di jalan kita, kita tidak berbuat salah, kalian pulang ngaji, mau pulang ke rumah ..."


"Betul Daus..."


Tiba tiba angin bertiup agak kencang, dari atas tebing terdengar bunyi seperti orang bertepuk tangan, suara mendesau dan suara suara aneh, bagi orang yang sudah terbawa rasa takut. Ada rasa penyesalan bagi kedua anak perempuan itu, kenapa mereka tidak tidur di surau saja, kenapa mesti pulang dan tidur di rumah Farida, namun sebaliknya ada juga rasa bahagia karena bisa jalan bergandengan dengan orang orang yang selalu ada dalam pikirannya.


Bagi Firdaus semua suara suara itu bukanlah suara yang menakutkan, yang ia dengar suara klepak daun pisang ditiup angin dan suara daun ranting pohon yang patah... suara musik yang paling alami, natural. Sekarang mereka berjalan agak merapat, Dewi dan Farida saling bergandengan, dikiri kanan Mustapa dan Firdaus saling mengapit...


"Tidak ada yang aneh.... Sudah kubilang tidak perlu takut, semua suara itu karena angin, kalian liat kalau angin reda suara suara itu hilang... Atau perlu aku tengok ke atas tebing itu? "


"Aku takut....."


"Sini senter mu Ida, Kalau kalian tidak percaya aku akan panjat tebing itu dan naik ke parak gaek Tailun... Buat meyakinkan kalian karena memang tidak ada apa apa...."


Tiba tiba angin reda, yang tinggal hanya tiupan pelan dan perlahan suara suara aneh itu juga hilang. Mereka berempat terus berjalan, Firdaus berusaha berceritakan dengan suara yang agak keras yang kadang ceritanya lucu... Firdaus menyenter jalan dengan tangan kanan, sementara'tangan kirinya dipegang erat oleh Farida... Sekali sekali Firdaus mengarahkan senternya ke tebing, sekali sekali kepuncak pohon kelapa selebihnya ia menyenter jalan yang akan mereka lalui. Sebelum simpang empat Firdaus mengembalikan senter Farida, dan dengan malu-malu Farida melepaskan pegangannya. Saking takut dan cemas, tanpa sungkan ia telah memegang tangan anak lelaki itu.


"Terima kasih kalian telah mengantar kami, senter ini bawa saja, besok titip di lapau ateh..."


"Tidak usah, Kami bisa jalan ditempat gelap... oh ya aku belum sempat bilang sesuatu... Padahal ini penting, tetapi situasinya tidak bagus... Kapan-kapanlah waktu masih lama...."


Mereka berpisah, Daus dan Mustapa putar kepala, mereka balik kanan, kembali ke Belok. Angin bertiup cukup kencang, di langit tak satupun bintang. Sepertinya hujan deras mau turun. Mereka mempercepat langkah, setengah berlari membelah malam.


Sementara itu Farida dan Dewi sekarang sudah di bilik, tapi mereka belum berniat tidur, mereka tengah asik maota. Dewi mengeluarkan sapu tangannya dan membuka gulungannya dan terjatuhlah sebuah amplop berwarna-warni bergambar setangkai bunga, lalu Dewi memungutnya.


"Tadi Daus ngasih..."


"Surat buat Kamu Dewi?"


"Ngga, Dia hanya titip, entah buat siapa.. Mari kita baca ..."


Farida meraih lampu semprong menerangkan nyalanya dengan memutar benda bulat disampingnya. Lalu berdua mereka membaca surat yang beraroma bunga melati itu dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu yang besar.


Sepertnya surat tentang..... perasaan seseorang, yang hatinya bergelora, siang tidak bisa makan, kalau malam tidak bisa tidur, karena wajah seseorang bidadari yang selalu ada, menggoda. Dan seseorang itu berniat mengungkapkannya, mengutarakan tapi ia takut tidak diterima, takut ditolak, bersama waktu berlalu akhirnya seseorang itu tak kuat lagi..dan ia ingin berterusterang.. terakhir ia menyuruh bidadarinya bersabar.....


"Aneh.... surat apa ini?"


"Buat siapa? Tapi bahasanya indah sekali, seperti sanjak!"


Dewi bingung, ia pikir itu surat cinta dari Daus untuknya atau buat Farida, tapi kayaknya ia salah, itu bukan surat cinta, hanya sebuah sanjak, kata-kata mutiara. Namun Farida berpendapat lain. Ada sesuatu yang menghunjam hatinya kala ia membaca dengan perasaan. Maka ketika Dewi membuangnya, secara diam-diam Farida memungut dan menyimpannya.


*


Terimakasih telah berkunjung,

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya


terimakasih atas dukungannya.


__ADS_2