
KALA ITU mereka berpapasan di ujung pustaka, Farida baru saja memulangkan buku yang dipinjamnya beberapa minggu yang lalu sementara Harlian muncul dari taman belakang, habis merokok bersama teman temannya. Beberapa hari ini ia selalu mengawasi Farida mencari kesempatan. Kendati kesempatan yang bagus tidak kunjung datang ia tetap sabar. Ia tidak ingin perjuangannya kandas dan tidak mencapai titik darah penghabisan dan berakhir begitu saja. Tidak, ia tidak ingin begitu!
Begitu melihat gadis itu berjalan sendirian buru-buru ia menyusul dan memanggil.
"Rida!"
Farida berhenti melangkah dan menoleh, anak itu lagi. Pasti mau minta jawaban, minta kepastian .. minta balasan surat itu, tapi ia pura pura tidak tahu padahal ia tahu pasti.
"Ada apa?"
"Seharusnya aku yang nanya kamu, bukan sebaliknya. Kamu baca bukan? atau dibuang?"
"Baca apanya?"
"Ihh bikin gemas, ya baca suratnya! Gimana? Kapan kamu bisa jawab?"
"Kenapa harus lewat surat? Bicara saja langsung! Maaf ya aku nggak bisa balas!"
Harlian tercenung, wajahnya berubah murung. Farida jadi iba melihatnya.
"Ya, aku nggak bisa balas surat kamu Har, nggak pandai! Dan nggak ada yang bisa ngajari... Aku hanya aneh saja, padahal kita ketemuan tiap hari, eh kamu malah ngirimi aku surat!'
__ADS_1
"Ini beda! Aku tak bisa menyampaikan perasaanku langsung dan akan jadi tidak syahdu hehehe..."
"Sebaiknya kita berteman saja, sahabatan, kita masih SMP, masih terlalu kecil untuk bercinta-cintaan, toh nanti kalau kita merasa cocok persahabatan bisa lanjut menjadi pasangan kekasih seperti Melly, seperti Elyda.... Tapi mereka sering cekcok, sering musuhan, sering tidak bertegur sapa... Enak sahabatan tidak ada sakit hati, tidak ada benci, dan tidak ada....putus! Lalu nyambung lagi, putus lagi dan ganti sama yang lain, aku tidak ingin seperti itu!" Begitu lancar gadis itu bicara, entah dapat dan belajar dari mana... Ia berkata sembari memandang anak lelaki di depannya, justru anak lelaki itu yang salah tingkah, jadi grogi dan harus menunduk memandang rumput liar yang tumbuh sepanjang pinggiran tembok.
"Kamu sudah punya pacar?"
"Ngaco kamu Har... Belum saatnya kita mengenal itu, tadi kan aku sudah bilang panjang lebar, ku harap kamu mengerti aku!"
"Tapi aku mencintaimu!"
Ganti Farida yang termangu, ia ingat keadaannya yang juga sedang tidak baik. Ia bisa beri nasehat dan kata kata menghibur yang memberi semangat sementara ia sendiri... Mungkin tidak ada bedanya dengan Harlian. Yang beda Harlian berani mengutarakan sebagai seorang anak lelaki sedang dirinya seorang anak perempuan yang punya banyak keterbatasan. Ah, tiba tiba pikirannya jadi mumet sendiri.
Sebelumnya setiap hari Harlian menagih balasan dari Farida kadang lewat bahasa isyarat kadang dengan kode, namun Farida tetap cuek atau pura pura tidak mengerti. Akhirnya Harlian berencana akan memberi ultimatum, sebuah pilihan yang dibutuhkannya, kalau tidak dibalas berarti gadis itu menerima cintanya, cinta anak SMP, kalau ada balasan berarti cintanya diterima.. Ahayy.. itu akan lebih baik. Hanya menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan ultimatum itu.
Harlianlah yang mengirim surat cinta sama Farida, surat cinta yang luar biasa, karena isinya sungguh amburadul, sungguh sangat tidak mengenakkan hati, sedikit pun juga. Kosa katanya mungkin kalah total jika dilombakan sama anak SD, kalimatnya setengah jadi, tiada yang lengkap, seperti sajak yang tidak pernah jadi. Ada dua buah pantun, pantun, pertama:
Bandung dulu baru jakarta
Senyum dulu baru dibaca
kemudian pantun penutup,
__ADS_1
Empat kali empat dua belas
Sempat tak sempat harap dibalas
Hanya dua bait pantun itu yang terurai agak rapih bahasanya, selebihnya kalimat kalimat yang dikarang Harlian sendiri. Tiada inisial, apalagi nama. Andai tercecer ditengah jalan tiada yang bakal tahu, itu surat cinta siapa.
Surat itu sekali buat tidak langsung jadi, mungkin ia telah menghabiskan satu buku hanya untuk menulis selembar surat yang isinya hanya beberapa baris... Dan setelah surat jadi, prosesnya belum selesai karena harus dilipat khusus lagi. Harlian sempat kursus kilat dengan teman temannya yang sudah terbiasa dan mahir. Setelah dilipat kertas itu menjadi lipatan kecil saja baru dimasukkan ke dalam amplop. Saat memberikan pada Farida juga tidak langsung saat bertemu, tapi mencari waktu yang paling tepat, yang paling pas, maka tidak heran surat itu menjadi letoi dan lusuh karena kelamaan dan sering keluar masuk masuk.
Jika harus diacungi jempol mungkin keberaniannya yang mampu mengirimi Farida surat cinta, berani dan tidak mengenal malu....
Farida tidak bisa menolaknya, karena Harlian menyerahkan amplop berbunga itu dengan tiba-tiba tanpa kata pengantar sebelumnya.
"Ada surat, buat kamu!"
"Dari siapa! Dan surat apa?"
"Surat dari seseorang yang menyukaimu, surat tanda cinta, surat berkasih sayang.... Entah surat apa namanya. Ada amplopnya berbunga-bunga seperti hati orang yang mengiriminya. Cepat kamu terima, nanti ada yang liat!"
Farida akan malu kalau ada teman temannya yang melihat, makanya ia buru-buru supaya hal buruk itu tidak terjadi. Sementara Harlian menyangka Farida senang dan memang berharap dengan surat cinta darinya.
Dan surat kertas berbunga itu yang akan diperlihatkan kepada Firdaus saat itu sekalian mau minta dibuatkan balasannya. Ia tahu pasti, Firdaus pintar mengarang. Tapi keinginannya itu nggak terjadi.... dan tidak akan pernah terjadi. Surat itu telah dimasukkan kedalam tungku saat ia memasak, terbakar habis membuat api bergejolak sesaat dan kemudian menjadi abu bersama dengan kayu api, habislah sudah keberadaan sebuah surat cinta. Surat cinta yang ketika membuka dan membacanya biasa saja, tiada riang yang menggebu, tiada getar menjalar di kalbu yang ada hanya sekedar rasa ingin tahu.
__ADS_1
Jangankan untuk memperlihatkan surat kertas berbunga itu, ngasih tahu saja belum sempat, bahwa ia dikirimi surat oleh Harlian, apalagi untuk minta dibuatkan surat balasan. Tragedi pecahnya pot bunga tua biangnya yang menjadi penyebabnya, begitu mendadak dan mampu mengakhiri semua cerita indah, membuat layu bunga yang kembali mekar.
Semenjak tragedi pot bunga tua itu, mereka sudah tidak pernah bertemu dan bersama duduk berbicara, kalau nampak jauh, saling bertukar pandang dan berbagi senyum ada walau tidak sering cuma beberapa kali... Hubungan mereka hilang bagai ditelan bumi. Tiada canda lagi tiada tawa lagi, riang jauh sekali entah sembunyi dimana.