
SEKARANG ia menjadi jamaah subuh masjid raya Lantaibatu di pagi buta itu, mau tidak mau, suka tidak suka. Langkahnya terasa ringan walau mata mengantuk, berjalannya pun tidak lurus. Tadi sebelum azan, saat dari masjid masih melantunkan ayat ayat suci Alquran andung sudah membangunkan lewat lobang empat persegi selebar separoh niru.
"Daus... Dausss!" suara Andung memanggil, perlahan saja. Tidurnya tidak tidak tidur ular, walau suara Andung pelan tapi ia bisa mendengar.
"Iya Andung... awak sudah bangun!"
"Ke masjid ya, sholat subuh!"
"Awak siap Andung!"
"Bagus, tidurmu cukup tipis sehingga tidak susah membangunkan, andung berangkat duluan! Jangan sampai diulang tidurnya, nanti ketiduran,
Andung mau ikut pengajian habis sholat!"
Rumah Andung Nureka hanya beberapa puluh meter saja jaraknya dari masjid. Disebelah rumahnya tinggal wali kelasnya Buk Masnijal, itu diketahuinya ketika mereka sama-sama pulang dari masjid.
"Kamu anak yang pindah itu, bukan?" ibuk itu menegur duluan, Firdaus tidak begitu jelas melihatnya walau beberapa buah lampu di setiap sudut rumah masih menyala tetap saja remang-remang apalagi ibuk yang menyapa itu mukanya dibalut mukena, tentu akan semakin sulit dikenali.
"Ya, buk, saya Firdaus ...!"
"Kamu tinggal di rumah Andung...?"
"Ya, buk, untuk sementara, malakik dapat rumah!, dulu kakak yang tinggal disini, sekarang sudah tamat dan pindah ke kota lain, Payakumbuh melanjutkan ke sekolah Guru"
"SPG? "
"Ya Buk... "
"Siapa kakakmu..?!"
"Miati, buk...."
"Oooo, kamu adiknya, dia anak yang ramah dan suka menegur... oh ya... kamu kelas satu A bukan, Ibuk walikelasmu...! Kalau ada kesulitan kamu bisa cerita ke ibuk... belajar sungguh-sungguh yaa. "
"Makasih buk, Insyaallah saya akan belajar dengan baik. mari buk, saya permisi... "
Kebiasaan buruk, kebiasaan yang kurang baik yang telah terbiasa ia lakukan di kampung, karena tinggal di tempat dan suasana yang baru bisa juga berubah dan tanggal. Buktinya sekarang ia sudah bisa dan terbiasa pula bangun sebelum subuh. Kadang Andung belum membangunkan tetapi ia sudah bangun duluan. Jangan jangan karena toa masjid yang cukup keras mendengungkan ayat-ayat suci Alquran sebelum azan berkumandang? Bukan karena kesadaran dari lubuk hati yang paling dalam? Entahlah, semuanya bisa menjadi penyebabnya.
Sebuah bangunan tua, kokoh dan berwibawa berdiri dengan angkuh tetap bersih karena dirawat dengan baik, mirip-mirip gedung peninggalan kolonial Belanda. Di depan sekolah banyak sekali bunga yang identik dengan perempuan. Enam bulan yang lalu semua murinya memang perempuan, satupun tidak ada yang laki-laki, tahun ini setelah dilebur menjadi SMP dan sekolah kejuruannya dihapuskan barulah ada penerimaan murid laki-laki.
__ADS_1
Di sepanjang lorong dipenuhi oleh bunga. Bunga-bunga itu segar dan subur. Lantainya bersih mengkilap, suasana sungguh sangat nyaman.
"Sungguh menyenangkan ..." gumamnya sendiri.
Tentu saja kalau ia bandingkan dengan sekolahnya yang lama. Bukan apa-apa. Lantai saja licin mengkilap bisa untuk bercermin. Ia terus memasuki komplek sekolah lewat pintu disamping kantor kepala sekolah yang kemaren didatangi bersama ayahnya. Udara yang menyengat siang itu didalam komplek sekolah tetap terasa adem.
"Eeiiiy... kamu bajunya!!! " tegur seorang guru. Firdaus bukan lupa, ia memang tidak berniat untuk memasukkan bajunya karena ia tidak punya ikat pinggang. Ia tidak tahu kalau itu peraturan sekolah.
"Siang buk... nama saya Firdaus, maaf saya baru, belum tahu peraturan buk. Ditempat yang lama boleh saja buk, kalau tidak pake baju baru tidak boleh..."
Guru itu tersenyum sabar.
"Pindahan dari Bengkawas yaa. "
"Iya buk, kelas satu A mana lokalnya buk? "
"Di sebelah ruang majelis guru, nomor tiga dari sini... tolong bajunya... Dirapikan yaa... "
"Ya buk, terima kasih... "
Gurunya juga cantik, ramah dan tidak suka marah.
Sesuai dengan petunjuk Yusri sang ketua kelas, ia duduk di tempat yang katanya masih kosong sebangku dengan Epion, duduk di kursi nomor dua dari belakang.
"Kamu tidak keberatan kalau aku duduk disini? "
"Ah... Ngakk, senang malah dapat teman. Kamu sudah tau kan Aku Epion, Kamu Firdaus? "
"Udah! Tadi Ketua yang bilang... "
Ada perasaan risih berada ditengah-tengah murid yang sudah saling kenal, mereka begitu ceria dan riang. Ia merasa tersisih. Maklum murid baru.
Ada empat banjar meja berderet, duduk tidak beraturan antara perempuan dan laki-laki, sepertinya suka-suka mereka. Kursi di depan Firdaus duduk perempuan, dan di depannya lagi juga perempuan, paling depan laki-laki lagi. Disamping kanannya laki-laki dan di samping kiri perempuan lagi.
"Yang dibelakang Dedi Hendra disebelahnya Nusyirman, kemudian Aman Safri dan Edi Jafri di samping kanan, sementara yang didepan kita Anita Marlina dan Yulidarwati" Firdaus memutar kepalanya kedepan, dua orang gadis sedang asyik mengerjakan tugas.
"Yang duduk paling depan, Mafrialdi dan Arsukman Edi, mereka berdua juara kelas kita!! Apalagi yang pingin kamu ketahui? Tanya saja jangan ragu kawan...!!" begitu Epion memperkenalkan beberapa teman yang duduknya berdekatan.
"Dan cewek yang rambut dikepang dua. yang sudut paling luar kau pasti sudah tahu... Iya kan??? " Evion balik bertanya. Ia melengok ... Rupanya Silvi, temannya di sekolah Bengkawas. Anak itu rupanya pindah juga ke sekolah ini, batin Firdaus.
__ADS_1
"Oh ya...! Wali kelas kita Ibuk Masnijal, orangnya baik dan ramah, nanti jam terakhir Dia masuk ke lokal Kita...!"
"Aku sudah kenal sama buk wali kelas, aku tinggal di sebelah rumahnya."
"Kalian tetanggaan"
"Ya, kebetulan. Tapi ngga lama karana Aku tinggal sementara menjelang dapat rumah... "
"Oo gitu. "
"Rumahku bisa, apa Kamu mau? "
"Benar! Tapi jauh sekitar empat kilo dari sekolah... "
"Gila kamu... "
"Kalau Kamu mau... Gratis...."
"Terima kasih, Aku pikir pikir dulu... "
Guru masuk dan pelajaran pun dimulai. Dengan tertib mereka belajar kendati udara cukup panas.
Belajar ditempat yang bersih, debu pun hampir tak sempat hinggap, karena setiap pagi dibersihkan, lantai dipel dan meja dilap oleh siswa yang bergantian setiap hari sesuai dengan daftat piket masing-masing dan itu dicek dan diperiksa oleh guru piket pula.
Percaya dirinya yang tinggi selama di kampung tiba di kota jadi hilang. Ia keok. Ia merasa bodoh sekali. Ia merasa tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Setiap guru memberikan materi pelajaran banyak yang asing di telinganya. Biasanya ia hanya mencatat dan mencatat lagi. Sekali sekali guru menerangkan apa yang sudah dicatat. Hanya itu.
Ada beberapa pelajaran yang dapat diikutinya dengan baik, matematika, nama gurunya Rosna, ia wanita paruh baya dan kelihatan tegas kesannya sedikit ketus, ia sering marah terutama kepada anak yang tidak mengerjakan PR. Untung Firdaus selalu membuatnya, salah atau benar itu urusan belakangan. Tapi alhamdulillah, karena ada Syahrial Buya yang sering mengajarinya pekerjaan rumahnya betul semua.
Pelajaran yang lain, bahasa Indonesia, pendidikan agama dan bahasa Inggeris, tidak jauh berbeda, yang berbeda mungkin cara guru menyajikannya. Dan ada pula yang benar-benar baru ditelinganya yaitu pelajaran Memasak dan Menjahit dan pelajaran Pendidikan Keterampilan Keluarga.
Tidak masalah, asal belajar dengan tekun tentu akhirnya ia akan sama dengan murid-murid yang lain, syukur-syukur ia bisa juga jadi pemuncak seperti di sekolah yang lama. Apakah mungkin?
*
Terima kasih telah singgah,
Jangan lupa like dan komennya,
Author sangat berterimakasih,
__ADS_1
Biar nulisnya tambah semangat