
Robby dan Rhihana kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Sejalannya waktu membuat keduanya tidak ingin mengenang lagi satu sama lain.
Tidak terasa pendidikan yang ditempuh oleh Rhihana telah berakhir, itu berarti Rhihana akan kembali lagi ke tanah airnya. Seminggu terakhir di Amerika, ia merapikan semua barang bawaannya.
Tapi di saat angannya ingin kembali ke tanah air, ia melihat ajang pencarian bakat yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta di negara Adi daya tersebut.
"Apa aku ikut audisi aja dulu ya, mumpung ada kesempatan." Ucapnya lalu mulai mengisi pendaftaran melalui suatu aplikasi yang sudah disiapkan oleh panitia acara bergengsi tersebut.
Seminggu kemudian, Rhihana bersama dengan para peserta lainnya sudah memenuhi gedung penyelenggaraan acara tersebut.
Tidak ada sanak saudara yang menemaninya mengikuti audisi tersebut, ia hanya nekat datang ke tempat itu dengan penuh percaya diri, bahwa dirinya mampu melakukan apapun untuk mencapai apa yang sangat ia inginkan.
Nomor peserta yang sudah tergantung di dadanya. Ia masuk ke panggung setelah pembawa acara memanggil namanya.
Di audisi pertamanya itu Rhihana sengaja menyanyikan lagu ciptaan Roby. Niatnya ikut ajang pencarian bakat tersebut hanya ingin Roby mengenali dirinya melalui lagu ciptaan kekasihnya itu.
Lagu yang sudah disadur oleh dirinya dalam bahasa Inggris itu, tetap tidak mengubah notasinya. Lagu itu tetap mengalun indah yang membuat para juri sangat takjub ketika Rhihana menyanyikan lagu itu diiringi oleh gitarnya sendiri.
Acara tersebut sedang live, jadi seluruh dunia bisa menikmatinya bila memiliki jalur stasiun televisi tersebut.
Di Paris Perancis, kebetulan Roby sedang mengikuti acara live itu. Ia sangat kaget ketika melihat yang tampil dipanggung itu gadis yang sangat ia kenal yang pernah ia taksir namun sayang cintanya telah ditolak.
"Lidya?" Gumamnya lirih.
Rhihana menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hatinya dengan petikan gitarnya.
"Tunggu!" Bukankah itu lagu ciptaan aku dan Ana, mengapa malah Lydia yang menyanyikannya? Apakah Ana yang memberikan lagu itu untuk Lydia hingga gadis itu sangat mengusai lagunya.
Baru saja Roby menanyakan hal itu. Di telivisi Rhihana malah mengatakan sesuatu yang membuat Roby langsung tersentak mendengar pengakuan gadis itu.
"Aku menyanyikan lagu ini hanya ingin mencari keberadaan kekasihku Roby. Aku tidak tahu di mana dia berada saat ini, tapi aku berharap dia bisa mendengarkan lagu kami yang sering kami nyanyikan bersama ketika aku pulang sekolah. Robby sayang datanglah padaku, akulah gadis yang pernah ada dalam hidupmu. Jika dengan lagu ini, kamu tidak datang menemuiku, aku tidak tahu dengan cara apa lagi agar aku bisa meyakinkanmu bahwa akulah cinta sejatimu.
Aku sangat merindukanmu sayang." Ucap Rhihana sambil menangis membuat para penonton ikut terharu mendengar perkataan Rhihana untuk kekasihnya yang sudah terpisah lama tanpa tahu keberadaannya.
__ADS_1
"Astaga!" Mengapa aku sangat bodoh sampai tidak mengenalinya, tapi mengapa wajahnya berubah tidak seperti Ana yang aku kenal? dan mengapa pula namanya berubah menjadi Lydia? apa yang sebenarnya terjadi pada gadisku itu?" Roby terus bertanya tanpa menemukan satu jawaban apapun dari misteri yang terjadi pada kekasihnya itu.
Tepuk tangan penonton begitu riuh saat Rhihana menyampaikan kata-kata terakhir pada juri. Ia sangat lega karena sudah menyelesaikan tugasnya.
Wawancara kecil dilakukan oleh pembawa acara sebelum Rhihana meninggalkan gedung penyelenggaraan acara tersebut.
Disaat itu juga Roby berulang kali menghubungi gadisnya, namun ponsel milik Rhihana dalam keadaan sibuk. Tanpa pikir panjang, Roby kembali ke negara Amerika untuk menemui pujaan hatinya. Kebetulan Roby memiliki pesawat jet pribadi jadi muda baginya untuk cepat sampai ke Amerika tanpa harus transit ke negara lain.
š·š·š·š·
Keesokan harinya Rhihana yang ingin bertolak ke Indonesia sudah berada di bandara internasional setempat. Ia melakukan boarding lalu memasukkan semua barang bawaannya ke bagasi kecuali tas tangannya.
Di sisi lain Roby yang sudah mengetahui alamat apartemen milik Rhihana, mendatangi tempat itu dan ternyata gadis itu sudah tidak ada di apartemennya.
"Ya Allah, bagaimana ini jika aku tidak bertemu dengannya lagi." Roby mulai merasa putus asa.
Ia pun bergegas ke bandara siapa tahu Rhihana masih berada di bandara.
Dan kebetulan sekali, pesawat Rhihana sedang deley jadi mudah bagi Roby untuk mencari kekasihnya. Tidak lama kemudian ia melihat Rhihana sedang duduk menunggu pesawat dengan memainkan ponselnya.
Roby buru-buru masuk menemui gadis yang sangat dirindukannya itu.
"Ana!" Panggil Roby dengan menyebutkan nama asli Lydia.
Lydia mengangkat wajahnya perlahan dan melihat laki-laki yang memanggil nama panggilan masa kecilnya sangat kaget mengetahui seseorang yang ingin ia lupakan malah muncul dihadapannya.
"Radit? Apa kamu mengenal nama asliku?" Tanya Rhihana yang merasa tidak percaya, Radit bisa mengetahui nama aslinya.
"Ana, aku Roby, aku bukan Radit, aku berbohong kepadamu saat kita pertama kali bertemu lagi setelah sekian lama kita berpisah. Aku berbohong karena aku tidak mengenali wajahmu tapi ternyata kau adalah Ana gadisku." Roby memegang wajah Rhihana dengan kedua tangannya dengan mata berkaca-kaca.
"Benarkah ini kamu Roby, kekasihku? mengapa aku tidak bisa mengenali dirimu?" Rihanna juga mulai menitikkan air matanya.
"Ana... kekasihku." Roby langsung memeluk Ana tanpa mempedulikan para penumpang yang menatap mereka dengan heran namun juga ikut terharu.
__ADS_1
"Bukankah itu gadis yang semalam menyanyi di ajang pencarian bakat?" Tanya salah satu penumpang pada teman sebangkunya.
"Iya benar itukan gadis yang sedang mencari kekasihnya dengan menyanyikan lagu mereka sendiri." Ujar gadis yang sebelahnya.
Merasa diperhatikan oleh banyak pasang mata, Roby langsung melindungi wajah kekasihnya dengan menutupi wajah Rhihana dengan jaket kulit miliknya.
"Hai nona, bukankah kamu gadis yang semalam menyanyi ditelevisi? apakah itu kekasihmu?" Beberapa penumpang langsung menggerubuti Rhihana dan Roby.
Beruntungnya, para keamanan pihak bandara langsung mencegah kerumunan para penumpang yang ingin minta foto bareng dengan Rhihana. Roby yang tahu Rhihana tidak terlalu suka ada orang yang ingin menganggu dirinya walaupun saat ini ia sudah menjadi gadis yang sedang viral setelah mengikuti ajang pencarian bakat tersebut.
Rhihana dan Roby diamankan oleh petugas bandara sebelum mereka masuk ke pesawat yang saat ini sudah mulai antri menuju pesawat.
"Apakah kamu ingin ikut aku ke Jakarta?" Tanya Rhihana yang melihat Roby memiliki tiket yang sama dengannya.
"Iya sayang, aku ingin pulang bersamamu dan aku juga rindu dengan negaraku Indonesia." Timpal Roby.
Rihanna tersenyum bahagia karena saat ini ia tidak pulang sendirian ke tanah airnya, tapi ia akan ditemani oleh kekasihnya Roby yang telah ia temukan melalui acara ajang pencarian bakat di negeri paman Sam tersebut.
Rihanna bercerita banyak pada kekasihnya selama mereka berpisah, wajah cantik Rhihana yang sudah berubah tidak menyurutkan cinta Roby pada gadis ini.
Kesetiaan Rhihana pada dirinya sudah teruji oleh Roby sendiri, ketika dekat dengan gadis ini dan memperkenalkan dirinya sebagai Radit.
"Mengapa kamu tidak jujur tentang identitasmu sesungguhnya, saat pertama kali kita bertemu Ana?" Tanya Roby.
"Tidak semudah itu Roby, karena aku harus menutup mulutku rapat-rapat untuk tidak bicara pada sembarang orang yang belum pernah aku kenal dekat." Ucap Rhihana.
"Aku paham alasanmu sayang, tapi andai saat itu kita sama-sama membuka identitas kita sebenarnya, mungkin aku akan segera menikahimu agar bisa melindungi dirimu." Ujar Roby.
"Kadang kita harus diam untuk menyelamatkan diri sendiri atau orang yang kita cintai. Tidak peduli seberapa besar penderitaan yang kita alami, tersisih dari teman-teman bahkan harus memasang wajah jutek untuk mengusir orang yang berusaha mendekati kita. Aku mengalami itu semua namun aku tidak pernah merasa sedih karena aku yakin, pasti ada hikmahnya dibalik ujian Allah." Rhihana menghembuskan nafasnya lembut.
Roby hanya mencium punggung tangan kekasihnya. Menatap wajahnya lebih dalam, lalu memeluk gadisnya dengan penuh kehangatan.
Rhihana meresapi pelukan hangat yang diberikan Roby padanya, begitu menenangkan. Roby begitu sabar dalam mengendalikan dirinya agar tidak melakukan lebih dari pada pelukan hangat ini.
__ADS_1