SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
33. PENGAKUAN


__ADS_3

"Apakah kamu mengenal Tuan Robert?"


"Ada apa dengannya dan ada hubungan apa dia dengan putraku?" Tanya Nyonya Arimbi.


"Putramu diadopsi olehnya dan dia telah melakukan hal buruk pada putramu, tapi tenang saja, dia tidak tahu, jika Roby adalah putra kandungmu." Ujar nenek Yati.


"Lantas Dalam hal apa aku harus menolong putraku?"


"Tuan Robert, tidak menyetujui pernikahan putramu dengan putri majikan aku, ia berusaha memisahkan pasangan itu dengan cara yang sangat keji. Tuan Robert memberikan obat penghapus memori Roby yang berhubungan dengan masalalunya, hingga putramu benar-benar melupakan istrinya yang saat itu sedang hamil muda.


Ketika Roby, membuang semua obat yang diberikan oleh tuan Robert padanya, ia pun akhirnya mengingat lagi masa lalunya walaupun hanya sebagian." Ucap nenek Yati.


"Jadi maksud anda, Roby melarikan diri darinya dan ia ingin membunuh putraku?" Nyonya Arimbi mencoba menebak kelanjutan cerita nenek Yati tentang putranya.


"Bukan hanya putramu yang akan dibunuh oleh tuan Robert, tapi istrinya dan anaknya akan menjadi targetnya juga." Nenek Yati menceritakan semua sepak terjangnya Tuan Robert yang telah membunuh keluarga Rhihana.


"Sepertinya saya mengenal Tuan Gahral dan Nyonya Maya. Bukankah mereka mengusai kerajaan bisnis sampai ke mancanegara? apakah karena itu yang menjadi tujuan Tuan Robert untuk menghabisi keluarga putraku?"


"Bukan hanya itu saja nyonya Arimbi tujuan Tuan Robert, tapi lebih kepada niatnya ingin menghabisi putra anda karena Roby menarik semua uang dan saham milik tuan Robert dengan kata sandi yang diketahui oleh Roby dan belum sempat ia menggantikan kata sandi itu, karena dia mengira Roby masih lupa akan segalanya." Terang nenek Yati.


"Putraku memang hebat, ia benar-benar keturunan Fernandez sejati. Baik Nyonya, aku akan meminta suamiku untuk menolong putra kami beserta keluarga kecilnya, tapi apakah dia sudah tahu, jika aku adalah ibunya?" Nyonya merasa tidak percaya diri jika berhubungan dengan putranya, ia sangat takut, putranya akan menolaknya.


"Sebelum aku menemui anda walaupun mereka tidak tahu tujuanku ke luar negeri, aku sudah menceritakan semuanya pada Roby tentang masa lalu anda dan alasan anda yang sudah meninggalkan dirinya di panti asuhan saat dia masih bayi." Ujar nenek Yati.


"Terimakasih atas kemurahan hatimu, karena kamu sudah membantu meringankan bebanku walaupun aku tidak tahu, jika bertemu nanti, apakah dia mau memaafkan aku atau tidak." Wajah nyonya Arimbi berubah muram.


"Tidak perlu kuatir, kerinduannya kepada anda, menghapuskan rasa dendamnya pada anda." Nenek Yati mencoba meyakinkan Nyonya Arimbi.


"Aku sangat merindukannya, Nyonya. Aku ingin menebus semua kesalahanku kepadanya dan menggantikan waktu yang hilang selama 28 tahun." ujar Nyonya Arimbi.


"Nyonya, mungkin besok saya akan kembali lagi ke tanah air, karena urusan saya dengan anda sudah selesai." Ujar nenek Yati yang ingin melangkah pergi.


"Tunggu Nyonya Yati! berangkatlah dengan kami besok lusa dan saya harap anda mau menginap di sini, aku ingin tahu banyak tentang perjalanan hidup putraku Roby." Nyonya Arimbi mencegah kepergian nenek Yati.


"Apakah kehadiran saya tidak menganggu anda Nyonya?" Tanya nenek Yati.


"Kamu tamu istimewaku, dan aku belum sempat mengajakmu makan malam. Mari silahkan ikut denganku! kita akan ke ruang makan." Nyonya Arimbi mempersilakan tamu agungnya itu, untuk lebih dulu melangkah namun nenek Yati lebih memilih berjalan di belakang nyonya Arimbi.


Akhirnya nyonya Arimbi berjalan beriringan dengan nenek Yati menuju ruang makan sambil memperkenalkan beberapa ruangan yang ada di dalam istananya.


Malam itu, nenek Yati menginap di istana milik nyonya Arimbi. Usai makan malam keduanya saling bertukar cerita.


Nyonya Arimbi ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang kehidupan putranya.


"Nyonya Yati, saya belum begitu paham perjalanan hidup putraku Roby. Bagaimana bisa dia menikahi putri majikanmu yang sangat tajir itu?" Tanya Nyonya Arimbi.


"Tuan Roby itu sangat hebat Nyonya Arimbi. Dia hidup sebatang kara ketika panti asuhannya di gusur dan pengurus panti itu kabur membawa uang donasi untuk anak panti asuhan, di mana Roby kecil bernaung.


Roby yang saat itu tidak ingin diadopsi oleh orangtua manapun. Ia lebih memilih menunggu anda, untuk menjemputnya kembali di panti asuhan tersebut hingga, panti asuhan itu sudah rata dengan tanah.

__ADS_1


Ia tidak ingin jadi pengemis jalanan. Ia berusaha menghidupi dirinya sendiri daripada menjadi pengemis.


Dia memilih menjadi pengamen di dalam bus kota untuk sesuap nasi. Panas dan hujan menjadi sahabatnya sehari-hari. Kadang harus menahan lapar jika uang yang didapatnya hanya cukup untuk beli teh manis hangat untuk menghilangkan rasa dahaganya.


Ia tinggal di atas rumah pohon dia area tanah kosong milik sebuah pabrik yang belum di bangun oleh pemiliknya.


Jika hujan angin menerpa pohon itu, ia tetap bertahan sambil berdoa agar hujan petir itu segera berhenti."


"Tidakkk....!" Nyonya Arimbi teriak histeris ketika mendengar kisah memilukan tentang putranya.


"Aku adalah ibu yang paling buruk di dunia ini. Putraku harus menderita menjalani kehidupan ditengah kerasnya Ibukota, sementara aku disini makan dan tidur dengan nyaman tanpa terganggu oleh siapapun. Mungkin dia akan sangat membenciku


Nyonya Yati." Ucap Nyonya Arimbi sambil menangis.


"Roby adalah pemuda yang sangat tampan dan sangat bijaksana, saya rasa anda tidak perlu cemas karena ia sangat pemaaf nyonya.


Kerasnya kehidupan yang dijalaninya selama ini, telah menempa pribadinya yang lemah menjadi kuat. Dia tidak akan menyalahkan anda hanya karena anda sudah meninggalkannya sendirian di panti asuhan itu." Nenek Yati berusaha menghibur nyonya Arimbi.


"Itu malah membuatku makin tersiksa nyonya Yati."


"Terus nyonya maunya bagaimana?" Tanya nenek Yati bingung dengan sikap nyonya Arimbi yang tidak jelas saat ini.


"Entahlah nyonya, aku tidak mengerti. Walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi nantinya, setidaknya aku tidak ingin mendapat penolakan dari putraku Roby." Ujar Nyonya Arimbi sendu.


Nenek Yati tidak ingin lagi meneruskan ceritanya, ia meminta ijin kepada sang pemilik rumah untuk istirahat.


Nyonya Arimbi mengantar sendiri tamu istimewanya ini ke kamar tamu yang akan ditempati oleh nenek Yati.


"Terimakasih banyak Nyonya Arimbi, untuk sambutan yang terlalu berlebihan seperti ini, pada diri saya yang hanya seorang pengawal pribadi." Ucap nenek Yati.


"Selamat beristirahat dan selamat malam Nyonya Yati." Nyonya Arimbi langsung menuju kamarnya setelah mengantarkan nenek Yati ke kamar tamu.


Di kamar tamu itu, nenek Yati sedang merebahkan tubuh tuanya yang sudah makin renta. Ia merasa lega karena telah mempertemukan kembali Roby dan ibu kandungnya.


Walaupun saat ini, ia ingin sekali menghubungi Roby untuk memberitahukan pria tampan itu bahwa saat ini, ia menginap di istana mewah milik nyonya Arimbi, namun hatinya tidak mengijinkan dirinya melakukan itu.


"Ya sudahlah, nanti juga mereka akan bertemu, sebaiknya aku tidur


" Ucap nenek Yati lalu memejamkan matanya karena terlalu lelah.


🌷🌷🌷🌷🌷


Pesawat jet milik pribadi Tuan David Fernandez tiba di Indonesia sekitar jam 6 sore. Sarah yang mengetahui kepulangan nenek Yati meminta beberapa personelnya untuk menjemput nenek Yati dan kedua orangtua Roby.


Nenek Yati belum mengabarkan kepada Rhihana dan Roby, jika dia pulang dengan orangtuanya Roby. Walaupun Roby sudah mengetahui cerita masalalunya dan juga mengetahui kedua orangtuanya, namun Nenek Yati masih takut reaksi Roby yang tidak sesuai dengan prediksinya.


Untuk itu, ia meminta Nyonya Arimbi untuk bersabar dan mau menunggu dulu di hotel sementara waktu, sampai ia yakin Roby bersedia menerima orangtuanya yang sudah berpisah dengannya selama 28 tahun lamanya.


"Maaf Nyonya dan Tuan Fernandez, saya tidak bisa membawa kalian ke mansion saat ini karena saya butuh waktu untuk bicara dulu dengan Roby tentang kalian yang saat ini sudah berada di Jakarta." Ujar nenek Yati.

__ADS_1


"Tidak apa nyonya Yati, kami sangat paham dengan posisimu saat ini." Ujar Tuan David Fernandez.


"Selamat beristirahat Tuan dan Nyonya Fernandez, saya akan mengabari anda jika mereka sudah siap menerima kalian." Nenek Yati pamit dan kembali ke mansion bersama anak buahnya Sarah.


Perjalanan dilanjutkan menuju mansion.


"Nenek Yati!" Panggil Tania ketika melihat nenek Yati memasuki ruang keluarga.


Nenek Yati langsung menggendong Tania.


Roby dan Rihanna segera turun ketika mendengar nenek Yati pulang.


"Bagaimana nenek? apakah urusan nenek lancar selama di luar negeri?" Tanya Rhihana setelah memeluk nenek Yati.


"Alhamdulillah, semuanya lancar Ana. Ku harap tidak ada kabar buruk dari kalian selama nenek meninggalkan kalian." Ujar nenek Yati.


"Kami di sini sangat aman nenek, semua permintaan nenek agar kami bekerja dari rumah, sudah kami lakukan." Ujar Roby.


.


"Alhamdulillah, nenek senang mendengarnya. Tapi nenek ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada kalian berdua, tapi sebelumnya nenek minta maaf karena sudah lancang untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian."


"Ada apa nenek?" Sepertinya sangat serius." Rhihana menatap nenek Yati dengan tatapan serius.


"Ini mengenai orangtuamu Roby, Minggu lalu nenek sudah sampaikan kepadamu kalau kamu masih memiliki orangtua yang saat ini sedang mencarimu dan sekarang mereka sudah berada di Jakarta, hanya saja nenek tidak berani mengajak mereka ke mansion karena nenek takut Roby akan menolak kedatangan mereka."


"Nenek Yati, sedikitpun aku tidak menolak mereka. Aku malah senang bertemu dengan mereka sekarang." Ucap Roby semangat.


"Kalau begitu, sebaiknya besok saja kita menyambut mereka karena mereka pasti sangat lelah saat ini. Nenek akan segera mengabarkan kabar baik ini pada keduanya karena mereka sangat gugup dengan pertemuan ini." Nenek Yati mengambil ponselnya dan segera menghubungi orangtua Roby.


"Selamat malam Nyonya Arimbi!"


"Malam Nyonya Yati."


"Besok pagi persiapkan diri kalian, jika ingin bertemu dengan putra kalian karena Roby dan keluarganya siap menerima kedatangan kalian." Ucap nenek Yati dengan hati gembira.


"Benarkah kalau putraku Roby mau menerima kedatangan kami? Apakah dia mengakui keberadaan kami sebagai orangtua kandungnya?" Nyonya Arimbi begitu bahagia namun masih mempertanyakan perasaan putranya kepada mereka berdua.


"Nyonya, anda hanya butuh keberanian saat ini, jangan berpikir yang macam-macam." Ujar Nenek Yati lalu mengakhiri pembicaraannya.


Di kamar, Rhihana yang belum begitu jelas dengan cerita hidup Roby dengan kedua orangtuanya Roby. Ia menanyakan lagi kepada suaminya, bagaimana nenek Yati bisa mengetahui bahwa Roby masih memiliki orangtua yang masih hidup.


"Sayang, kenapa aku tidak diberitahu olehmu kalau kamu sudah mengetahui orangtuamu masih hidup?" Tanya Rhihana dengan wajah cemberut karena suaminya tidak memberikan tahukan dirinya mengenai hal yang sepenting itu.


"Sayang, bukannya aku tidak ingin memberi tahumu, aku hanya takut apa yang disampaikan oleh nenek Yati itu masih bersifat sementara, belum ada kepastiannya, apa lagi status orangtuaku yang ia katakan itu adalah orang hebat, penguasa yang memiliki wewenang di negaranya, itu yang membuatku takut untuk bermimpi, jika tidak sesuai dengan kenyataan yang nenek Yati sampaikan.


Apakah aku ini benar-benar putra mereka atau tidak. Walaupun saat ini, kehidupan ku sudah berubah, tapi aku tidak akan lupa di mana asalku dulu yang hidupnya di jalanan dan harus bersaing untuk mendapatkan rejeki ditengah kerasnya Ibukota." Roby masih tetap merendah dihadapan istrinya, walaupun kehidupannya saat ini bergelimang harta.


Memiliki istri cantik, anggun, cerdas bahkan kaya raya merupakan impian setiap laki-laki dewasa seperti dirinya. Walaupun begitu ia tidak ingin terlena dengan kekayaan istrinya. Ia tetap mengandalkan tenaga dan otaknya untuk membantu bisnis keluarga istrinya yang saat ini dibawah pengawasannya.

__ADS_1


"Roby, inilah yang membuatku bangga memilikimu, kamu tetap hati-hati dalam bertindak, kamu tetap tegas dalam mengambil keputusan. Aku tidak cepat berpuas diri pada sesuatu yang belum jelas. Kamu sangat hebat sayang." Rhihana memeluk suaminya erat.


Keduanya sama-sama berbagi dalam setiap kesempatan namun untuk urusan yang terlalu beresiko keduanya lebih memilih untuk menunggu kejelasannya terlebih dulu tanpa mengumbarnya pada orang lain.


__ADS_2