
Tiga bulan berlalu, terapi yang dilakukan oleh Roby sudah mulai sedikit berangsur membaik. Ia mulai mengingat Lydia yang merupakan istrinya sendiri.
"Dokter sepertinya aku sudah mengingat sesuatu." Ucapnya tersenyum senang.
"Siapa yang kamu ingat Tuan Roby?" Tanya dokter Gina.
"Seorang gadis yang pernah aku kenal di taman kampus dan sekarang dia sedang berada di rumahku." Roby menceritakan identitas Rhihana.
"Syukurlah kalau Tuan sudah mengingat istri Tuan." Dokter Gina ikut senang mendengarnya.
"Dia bukan istriku dokter, dia pernah menolak cintaku karena dia mencintai seorang lelaki dan itu bukan aku, tapi mengapa aku harus tinggal dengannya?" Tanya Roby sedikit heran.
"Kamu mau mendengar nasehat dariku Tuan Roby?" Dokter Gina menarik nafas panjang.
"Silahkan dokter!"
"Jika kamu mempercayai wanita muda yang saat ini sedang menjagamu dengan baik, mungkin kamu akan menemukan kebenarannya.
Sayangnya kamu menggunakan bagian-bagian ingatanmu yang hanya sedikit terlintas di memorimu, kamu akan kehilangan kesempatan untuk memiliknya lagi Tuan Roby." Ucap dokter Gina.
"Apa maksudmu dokter, aku tidak mengerti arah pembicaraanmu." Tukas Roby bingung.
"Rhihana, Ana dan Lydia adalah gadis yang sama yang kamu cintai sebelumnya dan selamanya. Banyak hal yang ia lalui dalam hidupnya, ia harus kehilangan kedua orangtuanya yang dibunuh di hadapannya dan wajahnya yang dirusak oleh bajingan itu hingga ia harus melakukan operasi wajah dengan menggantikan wajah yang lain hanya untuk menghindari kejaran musuh." Dokter Gina menceritakan tentang kehidupan Rhihana.
Dokter Gina adalah dokter keluarga Rhihana, ia sudah mengenal keluarga itu dengan baik. Dokter Gina berhutang budi pada keluarga Rhihana. Ia menempuh pendidikan kedokteran sampai mendapatkan gelar dokter itu semua atas kebaikan orang tua Rhihana.
"Dokter, apakah aku harus membuka hatiku pada wanita itu?"
"Terserah padamu Tuan, jika kamu tidak ingin melihat Rhihana menderita menunggumu sampai ingatanmu kembali." Ucap dokter Gina membuat Roby merasa serba salah.
"Aku akan memikirkan perkataanmu dokter, tolong beri aku waktu untuk membujuk hatiku agar menerima semua cerita mereka adalah suatu kebenaran bukan suatu direkayasa." Roby masih meragukan cerita semua tentang Rhihana.
"Orang tidak punya kepentingan untuk merekayasa sesuatu hanya untuk menjebakmu. Jika mau, Rhihana sudah menerima laki-laki lain yang selalu mengharapkan cintanya, sayangnya ia hanya menjaga hatinya hanya untuk kamu.
Jangan terlalu lama berpikir sebelum ia menyerah pada keadaan dan menerima cinta laki-laki lain dalam hidupnya. Ingat Tuan Roby, Rhihana hanya butuh kepercayaanmu." Terimakasih selamat siang.
Dokter Gina meninggalkan ruang prakteknya dan kembali ke kantornya.
Roby hanya menatap kepergian dokter Gina dengan wajah yang masih tercengang. Ia masih mencerna setiap ucapan dokter Gina padanya tentang Rhihana.
Apa yang disampaikan oleh dokter Gina persis dengan cerita Rhihana padanya. Mungkin saat ini yang ia butuhkan hanya menerima kebenaran dari orang lain tanpa mengandalkan ingatannya yang belum pulih sepenuhnya.
"Apakah aku harus mempercayai perkataan dokter itu, ya Allah tolong aku, aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa menerima gadis itu adalah Ana kekasihku." Roby kembali ke mansion yang dikawal oleh tiga orang body guard.
š·š·š·š·š·
Di mansionnya, Rhihana sudah menunggu kedatangan Roby dengan putri mereka. Roby tersenyum hambar kepada Rhihana.
"Bagaimana dengan terapinya?" Tanya Rhihana hati-hati kepada suaminya.
Roby duduk di taman belakang dan pandangannya tertuju pada air kolam renang.
"Aku ingin berenang Rhihana." Ucapnya lalu melepaskan semua bajunya dan tersisa hanya celana pendek.
__ADS_1
Rhihana membiarkan suaminya berbuat sesukanya tanpa merasa sakit hati.
"Ayah, Tania mau renang." Ucap Tania menghampiri ayahnya yang tidak mendengarkan perkataan putrinya karena sedang berenang.
Rihanna meninggalkan putrinya sebentar karena ia ingin mengambil makanan untuk Tania. Tidak disangka Tania sudah masuk ke kolam renang dan seketika tubuh balita itu langsung megap-megap.
"Tania!" Pekik Roby lalu menghampiri putrinya dan membawa Tania ke atas.
Rhihana buru-buru keluar dan melihat putrinya pingsan karena sempat tenggelam.
"Apa yang kamu lakukan pada putrimu bodoh!" Bentak Rhihana sangat keras di depan suaminya.
"Aku tidak tahu dan tidak melihatnya menghampiriku." Ucap Roby seraya membantu putrinya yang sedang pingsan.
Rhihana menampar wajah Roby sekencang mungkin hingga pria itu jatuh tersungkur ke lantai dan kepalanya terbentur tempat duduk yang terbuat dari marmer di sekitar kolam renang.
"Ahk!" Roby merasakan sakit pada bagian kepalanya yang berdarah.
Ia melihat Rhihana sudah berlari keluar membawa putrinya ke rumah sakit.
"Tania sayang!" Ucap Rhihana ketakutan melihat putrinya tidak sadarkan diri ketika sudah berada di mobil.
Roby ditolong oleh para pelayan dan mengantarkan suami Rhihana itu ke rumah sakit.
Dalam perjalanan darah Roby tidak berhenti membuat pria itu tiba-tiba pingsan.
"Cepatlah bawa mobilnya, Tuan Roby pingsan." Ucapnya Romi ketakutan.
"Iya ini sudah ngebut." Ujar Arif.
Kebetulan Rhihana ada di ruang IGD dan pelayannya memberi tahukan apa yang terjadi pada Roby. Rhihana begitu kaget dan menemui dokter yang menangani Roby.
"Dokter bagaimana dengan suami saya?" Tanya Rhihana gugup karena dia yang menyebabkan suaminya terjatuh.
"Kebetulan anda di sini nona, kami minta paraf untuk melakukan tindakan operasi pada pasien Roby." Ucap dokter seraya menyerahkan berkas yang perlu ditandatangani oleh Rhihana.
Rhihana segera menandatangani berkas pernyataan untuk tindakan operasi pada kepala Roby.
Tidak lama suara tangis putrinya sambil memanggil namanya.
Rihanna segera masuk ke tempat putrinya sedang dirawat.
"Tania sayang!" Gumam Rhihana lirih.
"Bunda!" Panggil Tania.
"Sayang, putri cantik bunda." Rhihana memeluk putrinya. Ia berusaha tidak menangis di hadapan putrinya.
"Bunda Tania nggak bisa berenang seperti ayah."' Ucap Tania yang sudah mulai segar kembali.
"Tania mau belajar berenang sayang?" Tanya Rhihana sambil menatap wajah cantik putrinya sambil tersenyum.
"Iya, tapi sekarang Tania takut." Ucap Tania polos.
__ADS_1
"Nanti kalau Tania sudah besar baru belajar berenang jangan sekarang ya." Rhihana mencium pipi putrinya.
"Mana ayah, bunda?" Tania mau ketemu ayah." Pinta Tania manja.
"Ayah lagi kerja belum pulang. Tania tunggu ya." Rhihana membujuk putrinya sambil menahan air matanya.
"Permisi nona!" putri anda mau dipindahkan ke kamar inap." Ucap suster yang mau mendorong brangkar milik Tania.
"Silahkan suster!"
Rhihana mengikuti langkah suster dan ikut mendorong brangkar putrinya. Ia sangat bingung memikirkan keadaan nasib suaminya di ruang operasi. Ia hanya meminta dua orang pelayannya untuk menunggu suaminya sampai kelar operasi. Rhihana juga menghubungi nenek Yati yang sekarang sedang berada di rumahnya yang di puncak.
"Nenek, Roby dan putriku sedang berada di rumah sakit. Tolong datang segera ke rumah sakit karena Tania tidak mau ditemani sama pelayan selain nenek dan aku." Ucap Rhihana.
"Astaghfirullah!" Kenapa dua-duanya sampai dirawat Rhihana?" Tanya nenek Yati.
Rhihana menceritakan kronologi mengapa keduanya dirawat di rumah sakit yang sama. Nenek Yati hanya mendengar dengan perasaan yang sangat sedih.
"Bagaimana dengan keadaan Roby sekarang?" Tanya nenek Yati.
"Aku belum tahu perkembangannya nenek, mungkin sebentar lagi operasinya kelar." Ujar Rhihana.
"Baiklah nenek akan turun gunung besok. Di sini lagi hujan deras, kabutnya sangat tebal. Nenek tidak bisa turun sekarang. Apakah pengawalan diantara kalian sangat ketat?" Tanya nenek Yati.
"Semua pada posisinya nenek." Rhihana mematikan keadaannya sangat aman di rumah sakit itu.
"Aku akan meminta Sarah untuk menemanimu menjaga putrimu. Kamu yang sabar ya, ini ujian sayang." Nenek Yati menasehati Rhihana.
"Iya nenek, tapi kadang aku lelah menghadapi Roby yang selalu bersikap dingin padaku." Rhihana menangis sedih.
"Tolong jangan salahkan keadaannya, kita tidak bisa memaksanya untuk mempercayai ucapan kita padanya." Timpal nenek Yati.
"Gara-gara dia, putriku hampir kehilangan nyawanya. Rhihana kesal nenek." Rhihana. menangis pilu.
"Mungkin tadi dia tidak melihat putrimu masuk ke kolam. Coba kita lihat CCTV, mungkin kita bisa tahu kronologinya." Ucap nenek Yati menghibur Rhihana.
Rihanna yang baru ingat jika setiap sudut mansion miliknya ada CCTV yang di pasang dari segala arah kecuali kamar pribadi untuk menjaga privasi masing-masing penghuni mansionnya.
Ia menelepon satpam yang biasa mengawasi CCTV di mansionnya.
"Hallo Raka!" Sapa Rhihana.
"Iya nona muda!"
"Tolong kamu kirim rekaman CCTV saat kejadian tadi pagi ke ponselku!" Titah Rhihana.
"Siap nona, tolong beri saya waktu sepuluh menit untuk meng-upload video dari rekaman CCTV." Ucap Raka.
"Baik saya tunggu Raka, jangan pakai lama!" Rhihana menutup ponselnya lalu menghampiri putrinya.
Dalam waktu sepuluh menit, rekaman CCTV itu sudah masuk ke ponsel Rhihana. Ibu satu anak ini buru-buru membukanya. Ia melihat lagi adegan di mana putrinya yang ingin berenang bersama suaminya dan Roby sedang berenang ke sana kemari tanpa memperhatikan Tania yang sudah jatuh dan kelelap karena tidak bisa berenang.
"Ya Allah, rupanya begini kejadian sebenarnya." Rhihana sangat menyesal telah membuat suaminya terluka karena amarahnya yang tidak terkontrol.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, aku telah membuat sakitmu makin parah. Aku mohon hiduplah untuk kami Roby, kami sangat merindukanmu sayang." Ucap Rhihana sambil menangis.