
Hampir enam bulan Rhihana berada di villa milik ibunya, dia tidak hanya bermalas-malasan di villa itu, kini dia harus belajar ilmu bela diri dari nenek Yati sebelum dirinya dipercayakan untuk menjalankan semua bisnis perusahaan milik ayah dan juga ibunya.
Nenek Yati yang dipercayakan oleh ibunya mendidik gadis ini untuk tidak gentar menghadapi musuh. Walaupun saat ini perusahaan milik keluarganya diambil alih oleh orang-orang kepercayaan orangtuanya.
Usai berlatih ilmu bela diri, mereka pun kemudian beristirahat sejenak.
"Nenek sudah merubah semua dokumen pribadimu yang tidak lagi menggunakan nama aslimu agar musuh orangtuamu tidak mencium keberadaanmu nanti. Besok kamu akan ke Amerika untuk melakukan operasi plastik pada pipimu agar kembali normal." Nenek Yati menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh putri majikannya ini.
"Apakah saya harus mengembara seorang diri ke negeri orang nenek?" Tanya Ana sedikit kuatir dengan keberadaannya.
"Dengar!" Kamu tetap dalam pengawasan kami, hanya saja kamu tidak tahu anggotaku yang mengawasi dirimu di mana saja kamu berada. Jika sesuatu terjadi pada dirimu, anak buahku yang akan bertindak untuk melindungimu, mengerti!"
Rhihana hanya mengangguk dan menikmati roti hangat buatan nenek Yati.
"Apakah semua akomodasiku sudah disiapkan nenek?" Tanya Ana untuk memastikan semuanya tidak terlupakan oleh nenek Yati.
"Semuanya sudah diatur. Apartemen dan juga tempat kuliahmu yang baru sudah kami persiapkan. Kamu harus hidup mandiri di sana. Jangan terlalu dekat dengan bule di sana, bisa jadi mereka akan menjebakmu. Kamu bisa mengeluarkan ilmu bela dirimu jika dalam keadaan terdesak." Nenek Yati menasehati Rhihana.
"Nenek jika aku tidak membuka diri diri dengan teman baru di tempat baru, bagaimana aku bisa bersosialisasi dengan mereka, mereka akan menganggapku gadis aneh dan bahkan mencibirku." Ucap Rhihana sedih.
"Lebih baik tidak ada yang mengenal kehidupan pribadimu sayang dari pada kamu sendiri yang akan mendapatkan masalah. Ingat sayang anak buah pembunuh orangtuamu berkeliaran di hampir semua negara, bisa jadi diantara teman-temanmu itu adalah anak dari kelompok mafia yang bekerja sama dengan pembunuh itu, nenek tidak mau keberadaanmu di ketahui oleh mereka sayang." Ucap nenek Yati.
"Di sini aku bahkan tidak punya teman selain Roby, tapi ia juga pergi entah kemana dan di Amerika nanti aku juga tidak akan punya teman." Ucap Rhihana.
"Lebih aman begitu sayang dari pada kehilangan nyawa sia-sia sebelum kamu bisa membalaskan dendammu pada pembunuh orangtuamu.
Nenek Yati selalu mendoktrin otak Rhihana agar gadis ini tetap istiqamah dalam tujuannya. Ia sebenarnya tidak tega memperlakukan Rhihana seperti ini tapi apa daya demi keselamatan putri majikannya ini, ia harus tega pada Rhihana.
"Sekarang kamu tidur sayang dan istirahatkan otakmu karena besok kamu harus meninggalkan tanah airmu untuk menuntut ilmu. Tetap jaga kesehatan, jaga diri dan jaga iman. Setelah berhasil menempuh pendidikanmu kembali lagi ke Indonesia dan mulailah dengan membangun lagi bisnis orangtuamu dan memikirkan cara untuk membalas dendam pada pembunuh orangtuamu.
Keesokan harinya, Rhihana dibawa oleh nenek Yati dengan menggunakan kuda menuruni bukit yaitu jalan rahasia tidak seperti jalan yang di datanginya pertama kali dulu ketika melarikan diri dari kejaran musuh.
Rhihana begitu takjub, Perkebunan teh miliknya melewati pintu rahasia untuk sampai di sebuah Villa utama di mana villa itu di komersilkan untuk para pengunjung.
Di tempat itu Rhihana berkemas untuk menuju bandara internasional Soekarno-Hatta dengan di antar oleh pengawal pribadi seorang wanita.
"Nenek aku pasti akan merindukanmu." Rhihana memeluk nenek Yati.
"Hati-hati sayang, jaga dirimu, jika urusan pendidikanmu sudah berakhir, kembalilah segera untuk mengurus bisnis orangtuamu." Pesan nenek Yati dan melepaskan kepergian putri majikannya dengan perasaan sedih.
__ADS_1
Keduanya berpelukan dan mengakhiri dengan kata-kata yang saling menguatkan.
Rhihana menggunakan hijab serta masker wajah untuk menutupi penyamarannya. Setelah tiba di bandara, ia melakukan segala urusannya sendiri mulai dari boarding pass sampai barang bawaannya.
Saat ini, ia sedang menunggu kedatangan pesawatnya. Pesawatnya sedang delay dua jam. Sambil menunggu pesawatnya datang ia membaca beberapa artikel yang di muat di dalam tabloid online yang ada dalam ponselnya. Ia juga rajin mencari tahu jurusan kuliah yang akan di ambilnya nanti di sana yang berhubungan dengan dunia bisnis.
Banyak pasang mata yang menatapnya heran karena Rhihana menutup semua wajahnya dengan masker dan kaca mata hitam di tambah syal tebal yang melilit di leher jenjangnya.
Di ruang tunggu itu ia harus berjuang sendiri untuk tidak terlihat oleh para mata-mata pembunuh orangtuanya.
"Apakah kamu sedang sakit nona?" Tanya salah satu ibu muda yang duduk di sebelahnya.
"Iya!" Jawab Rhihana singkat dan kembali melihat layar ponselnya.
"Apakah kamu sendirian?" Tanya ibu itu lagi.
"Saudaraku sedang terlambat menuju bandara, mungkin ia saat ini sedang boarding. Sebentar lagi ia akan menyusulku di ruang tunggu ini." Ucap Rhihana berbohong.
"Kenalkan namaku Silla, siapa namamu nona?"
"Lydia!" Ucap Lydia lalu menjabat tangan Silla.
"Apakah kamu sedang hamil?" Rhihana melirik ibu muda ini karena sedang hamil sekitar empat bulan."
Hingga tiba di dalam pesawat dan duduk di kelas bisnis, ia masih saja tidak membuka kaca matanya dan masker agar musuh tidak memperhatikan wajahnya.
Pesawat itu mulai tinggal landas menuju negara Paman Sam, tempat di mana ia akan mengawali hidup barunya. Ia memasang headset dan berusaha memejamkan matanya ketika pesawat itu sudah menembus awan biru, terbang mengangkasa melewati rute lalu lintas udara berdasarkan panduan menara ATC.
š·š·š·š·š·š·
Tiba di kota new York city, Rhihana mencari apartemennya yang sudah dibeli oleh orang-orang kepercayaannya. Tidak butuh waktu lama ia berkemas setelah tiba di apartemen miliknya. Ia melihat lagi bekas luka diwajahnya. Dua hari lagi ia akan melakukan jadwal operasi plastik.
Hari yang dinanti pun tiba, Rhihana yang sudah berada diruang operasi siap menjalani bedah wajah untuk memperbaiki permukaan kulit wajahnya.
Sekitar tiga jam menjalani operasi plastik pada wajahnya, Rhihana di bawah ke ruang inap VVIP untuk menunggu perawatan pada wajahnya berangsur membaik.
"Dokter kira-kira berapa lama perban diwajah saya dilepas?" Tanya Rhihana kepada dokter Caroline.
"Sekitar satu minggu, tunggu saja dengan sabar nona semoga hasilnya sangat memuaskan." Ucap dokter Caroline usai mengecek kondisi gadis yang kini sudah berusia 20 tahun.
__ADS_1
Rihanna berusaha meyakinkan dirinya, bahwa semuanya akan berjalan dengan baik, karena hanya permukaan pipinya saja yang tidak akan mengubah tampilan wajahnya.
Ia berharap suatu saat nanti ia bisa bertemu dengan kekasihnya Roby dengan wajah yang sama tanpa malu pada lelaki itu.
"Roby aku sangat merindukanmu, di mana kamu saat ini? Semoga kamu berada di negara yang sama denganku karena aku ingin sekali kita bertemu secepatnya. Ini sudah empat tahun sayang, aku tetap setia menunggumu." Ucapnya membatin.
Di sisi lain, Roby yang ternyata ada di kota yang sama dengan Rhihana, hanya saja saat ini dia sedang mengurus bisnis tuan Robert yang merupakan ayah angkatnya.
Robby memandang gedung rumah sakit yang berseberangan dengan gedung perusahaan milik ayahnya. Seakan memiliki kontak batin ia menatap gedung itu yang merupakan rumah sakit tempat Rhihana dirawat.
"Bos apa yang sedang anda lihat?" Tanya asistennya yang bernama Calvin.
"Tidak apa, hanya saja aku tidak tahu mengapa aku senang melihat gedung rumah sakit itu." Ujar Roby.
"Apakah bos sedang merindukan seseorang? Bisa jadi orang yang bos rindukan ada di rumah sakit itu." Ujar Calvin yang sudah berdiri di samping bosnya.
"Aku tidak mengenal siapapun di sini, mana mungkin ada seseorang yang aku rindukan berada di rumah sakit itu." Roby kembali ke kursi kebesarannya.
Ia memeriksa semua dokumen perusahaan dan menandatangani perjanjian kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan besar yang ada kota tersebut.
Pikirannya kembali terusik dengan kehadiran wajah kekasihnya Ana. Rindunya seakan lebih kuat saat ini. Ingin rasanya ia kembali ke Indonesia untuk bertemu dengan Rhihana, hanya saja ayahnya belum mengizinkan dirinya menginjakkan kakinya lagi di tanah kelahirannya.
"Ana, apa kabar dirimu? apa yang sedang kamu lakukan di sana? apakah kamu masih setia menungguku?" Roby berkhayal bisa bertemu lagi dengan kekasihnya itu suatu saat nanti.
Seminggu kemudian, dokter Caroline mendatangi kamar inap Rhihana yang sekarang berganti nama Lydia, ia ingin melepaskan perban diwajah gadis itu.
"Selamat pagi Lydia!" Sapa dokter Caroline sangat ramah pada pasien nya itu.
"Pagi dokter!"
"Sudah siap untuk membuka perbannya?"
"Sudah tidak sabar dokter."
"Baiklah, saya akan memperlakukannya secara perlahan, tolong tutup mata anda sampai saya meminta anda untuk membukanya pelan-pelan dan menatap ke cermin ini." Ucap dokter Carolin seraya menyerahkan kaca kecil pada pasiennya.
Perlahan-lahan Dokter Caroline membuka balutan perban pada wajah Rhihana lalu iapun tersenyum karena hasilnya sangat memuaskan. Luka pada kulit wajah Rhihana tidak terlihat sama sekali. Iapun meminta gadis itu membuka matanya dan menatap wajah cantiknya di cermin kecil yang ada dalam genggaman tangan Rhihana.
"Ok silahkan buka matanya!" Titah dokter Caroline.
__ADS_1
Dengan perlahan-lahan Rhihana menatap wajahnya pada cermin dan ia sangat kaget dengan apa yang di lihatnya sekarang ini, berulang kali ia berkaca memastikan apa yang dilihatnya saat ini. Wajahnya mulai berubah pucat, kesedihannya mulai merambah masuk dalam pikirannya.
"Tidakkkk!" Pekiknya tak percaya.