
Setelah memastikan keadaan aman dan terkendali. Kehamilan Rhihana yang kini sudah memasuki usia sembilan bulan hanya menunggu kelahirannya.
Roby sebagai suami siaga sudah mempersiapkan apa saja yang perlu ia bawa ketika istrinya nanti sudah mengalami kontraksi.
Walaupun ini pengelaman pertamanya, Roby menikmati perannya sebagai ayah untuk menantikan kelahiran bayi keduanya.
Setiap pagi Rhihana berolahraga di sekitar mansion. Nenek Yati melarang putri majikannya itu untuk berolahraga di luar komplek karena takut mendapatkan serangan tiba-tiba dari Tuan Robert dan komplotannya yang saat ini sulit dijaring keberadaannya oleh anak buahnya nenek Yati.
"Sayang, nanti kalau sudah terasa sakit, kita langsung ke rumah sakit ya, supaya kamu bisa ditangani lebih cepat oleh dokter." Ucap Roby, menasehati istrinya.
"Iya sayang."
Seminggu kemudian, saat itu hujan turun dengan derasnya. Jam satu pagi Rhihana merasakan kontraksi mulai menyerang pinggang dan perutnya yang datang bersamaan.
"Ya Allah, kenapa rasa sakitnya datang, saat musim hujan dan di tengah malam juga?" Roby mengeluhkan kedatangan bayinya yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Ayo Roby kita berangkat!" Titah Rhihana geram melihat suaminya hanya bengong melihat hujan.
"Iya sayang!" Roby buru-buru masuk ke mobilnya, menemani istrinya yang merasa makin sakit pada perutnya.
Nenek Yati dan Sarah menggunakan mobil yang berbeda untuk mengawal mobil Rhihana.
Hujan petir makin menggila. Banjir menghadang mobil mereka, hingga sopir harus mencari jalan lain untuk menghindari banjir.
"Ya Allah, ini di mana-mana banjir, bagaimana ini Tuan, jika kita nekat mobil akan mogok karena terendam banjir.
Roby makin panik melihat keadaan ini. Selama ini mereka takut di kejar musuh, namun sekarang mereka harus berusaha menghindari banjir yang sudah melanda kota Jakarta, hingga bolak balik mencari jalan alternatif lainnya.
"Sayang, apakah kamu masih kuat menahannya?" Tanya Roby melihat keadaan Rhihana yang sudah kepayahan.
Walaupun saat ini hujan deras dan angin kencang, di tambah AC mobil yang makin dingin, tidak mempengaruhi keadaan Rhihana yang sudah banjir dengan peluh di sekujur tubuhnya karena merasakan sangat sakit.
Darahnya terus mengalir menggenangi betisnya yang putih. Melihat keadaan istrinya, Roby memeluk Rhihana yang sudah pucat karena terlalu menahan sakit.
"Pak, biar saya yang bawa mobilnya!" Roby meminta sopirnya pindah ke samping dan dia bergantian untuk membawa mobilnya sendiri.
Nenek Yati yang tahu itu, langsung turun dari mobilnya, pindah ke mobil Rhihana untuk menemani gadis itu yang saat ini mengalami kontraksi yang sudah datang berkali-kali. Itu berarti Rhihana sudah siap melahirkan bayinya.
Nenek tolong pegang istriku, kita harus nekat menerobos banjir untuk menyelamatkan istriku." Ucap Roby dengan menekan pedal gas sekuatnya.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
Semua berdoa agar mesin mobil itu tidak mati ditengah jalan. Berkat kenekatan Roby, dengan mengandalkan instingnya bahwa ia bisa melewati banjir yang setinggi satu meter lebih itu.
Mobil berhasil melintasi banjir yang hampir sepanjang jalan dengan tingkat ketinggian berbeda.
Sekitar tiga ratus meter hampir mendekati gerbang rumah sakit mobilnya mogok karena kelamaan terendam banjir.
Karena tidak bisa hidup mesinnya. Roby turun dan mengambil baju mantel untuk istrinya dan juga dirinya.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku harus menggendongmu menuju rumah sakit." Ucap Roby seraya memakai mantel hujan ke tubuh Rhihana.
Nenek Yati dan sopir yang tidak membawa perlengkapan jas hujan hanya menggunakan payung untuk mengantar Rhihana dan Roby.
Hujan deras yang makin awet tidak kunjung berhenti. Roby tetap nekat berjalan kaki hingga masuk ke pintu gerbang rumah sakit.
Melihat ada pasien yang butuh pertolongan, dua satpam rumah sakit mengambil brangkar menghampiri Roby yang sedang menggendong istrinya di tengah derasnya hujan dan melewati banjir yang sudah hampir menenggelamkan tubuh mereka.
"Sayang kita sudah sampai di rumah sakit, tolong bertahanlah!" Pinta Roby lalu membaringkan tubuh Rhihana yang sudah lemas karena pendarahan hebat yang dialaminya saat ini.
Brangkar di dorong oleh dua orang suster dan Roby menuju ruang bersalin.
"Tolong dokter, istrinya sudah sangat lemah!" Ucap Roby dengan nafas tersengal.
Roby mengecup bibir istrinya lalu menunggu di luar kamar bersalin.
"Semoga selamat kamu dan juga bayi kita." Gumam Roby di depan kamar bersalin.
Tidak lama, dokter keluar lagi menemui Roby.
"Permisi Tuan!" Keadaan istri anda tidak memungkinkan ia melahirkan secara normal karena tubuhnya sangat lemah. Kami harus melakukan operasi sesar padanya saat ini untuk menyelamatkan bayinya." Ucap dokter membuat Roby sangat syok.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya dokter." Ujar Roby pasrah.
Dokter memberikan berkas pernyataan untuk tindakan operasi sesar untuk ditandatangani oleh Roby.
Dokter kembali ke dalam kamar operasi untuk menyelamatkan nyawa Rhihana dan bayinya.
"Tuan!" Tolong ganti baju anda." Ucap Sarah yang sudah berdiri di depan Roby dengan ransel yang berisi baju ganti milik Roby dan Rihanna.
"Bagaimana kamu bisa tahu kita bakal kehujanan seperti ini Sarah?" Tanya Roby yang sangat terharu dengan perhatian Sarah padanya.
"Maaf Tuan!" Itu bukan saya yang menyiapkan tapi nona muda Rhihana sendiri yang menyiapkan semuanya untuk anda dan dirinya tiga hari yang lalu. Tadi sebelum berangkat, bibi Lala yang memberikan ini pada saya. Katanya di suruh Nona Rhihana untuk diberikan kepada Tuan." Ujar Sarah.
"Ya Allah, apakah dia sudah tahu bakal mengalami kontraksi di saat musim hujan dan angin kencang yang saat ini sedang melanda ibukota Jakarta?" Gumam Roby sedih.
"Tolong segera ganti baju anda Tuan!" Walaupun pakai mantel tapi celana panjang anda basah kuyup." Ucap Sarah.
"Baiklah, saya tinggal dulu Sarah, saat ini Rhihana sedang menjalani operasi sesar karena dia tidak memiliki tenaga lagi untuk melahirkan secara normal." Ucap Roby sebelum meninggalkan Sarah menuju ke toilet rumah sakit untuk menyalin bajunya yang sudah basah tekena hujan saat membawa istrinya ke rumah sakit.
Nenek Yati dan pak Ramli baru sampai rumah sakit dengan nafas terengah-engah.
"Apakah Rhihana sudah melahirkan Sarah?" Tanya nenek Yati dengan tubuh gemetar.
"Maaf nenek Yati!" Nona muda saat ini sedang menjalani operasi sesar karena pendarahan hebat." Ucap Sarah.
"Astaghfirullah!" Tahu kalau berakhir seperti ini, lebih baik nginap di rumah sakit lebih awal dan tidak perlu menunggu datangnya kontraksi." Ujar nenek Yati yang menyesali semua yang telah terjadi pada putri majikannya itu.
"Ini di luar kehendak kita nenek, mungkin jalannya sudah seperti ini. Kita nggak tahu bakalan mengalami ini semua." Ucap Sarah.
__ADS_1
"Baiklah, kita hanya bisa berdoa semoga keduanya bisa selamat Sarah." Ucap nenek Yati yang sudah duduk di sebelah Sarah.
Roby sudah menggantikan bajunya yang tadi basah dengan baju kering yang sudah disiapkan oleh Istrinya.
Ia menghampiri lagi kamar operasi, di mana saat ini istrinya Rhihana sedang menjalani operasi sesar untuk mengeluarkan bayi mereka.
Roby yang dari tadi kelihatan gelisah hanya berdiri dengan tangan bersedia di sudut dinding tanpa ingin duduk. Wajah terus mendongak ke seakan sedang memohon pertolongan Allah untuk menyelamatkan istrinya.
"Ya Allah, mudahkanlah semua urusan istriku ya Robby dan selamatkan anakku." Ujar Roby kepada RobbNya.
"Tuan, apakah anda ingin makan sesuatu?" Ini sudah hampir masuk waktu subuh." Ucap Sarah.
"Tolong Belikan saya kopi hitam dan roti saja Sarah!" Ujar Roby.
"Baik Tuan!" Saya akan segera kembali.
"Nenek kenapa lama sekali, apakah operasi sesar itu sangat lama?" Tanya Roby yang sudah tidak sabaran ingin mendengar kabar istri dan putranya selamat.
"Tolong sabar Tuan Roby, sebentar lagi akan selesai. Jika Rhihana melahirkan secara normal, mungkin hanya menunggu satu jam sudah selesai. Ini operasi sesar jadi kudu sabar karena dokter harus membedah perut secara perlahan-lahan karena lapisan perut itu terdiri dari tujuh lapis.
Begitulah cara Allah menciptakan tujuh lapis tanah, tujuh lapis langit dan tujuh lapis perut." Nenek Yati menerangkan bagaimana Allah menciptakan alam dan hambaNya yang bernama manusia.
Tidak lama kemudian, Sarah datang dengan membawa satu kotak roti dan tiga cup kopi hitam untuk mereka bertiga.
Sarah menyerahkan roti dan kopi untuk Tuannya terlebih dahulu baru untuk nenek Yati dan dirinya.
Mereka menikmati roti dan segelas kopi untuk menghangatkan perut mereka yang tadi sangat lapar karena kehujanan semalaman dan sampai sekarang belum reda juga.
"Nenek, aku tidak mengerti, kenapa Rhihana harus mengalami kontraksi di saat musim hujan seperti ini ya nek?" Tanya Roby.
"Yah memang takdir putramu yang harus lahir disaat musim penghujan, mungkin kedatangannya bersama derasnya hujan, membawa keberkahan untuk keluarga kalian. Memang cara Allah menguji hambaNya ya seperti itu, nak Roby.
Anggaplah setiap ujian yang Allah berikan kepada kalian memiliki kisah tersendiri untuk kalian bisa menceritakan lagi kepada anak cucu kalian nanti. Yakinlah Roby, Istri dan putramu akan selamat.
Cek lek...
Pintu kamar operasi itu di buka setelah lampu merah itu sudah mati di kamar itu. Roby langsung menghampiri dokter yang sudah siap memberikan kabar baik untuk mereka.
"Selamat Tuan Roby!" Istri anda melahirkan bayi laki-laki dan keduanya selamat dan sehat. Bobot tubuh bayinya 3,5 dan panjang 58 cm." Ucap Dokter Endra yang pernah naksir Rhihana.
"Alhamdulillah terimakasih ya Allah!" Ujar ketiganya serentak.
"Sebentar lagi bayi dan ibunya akan dipindahkan ke kamar inap VVIP khusus untuk ibu melahirkan dan bayi anda untuk sementara harus berada di ruang bayi." Ucap dokter Endra lalu meninggalkan Roby dan dua pengawalnya.
"Terimakasih dokter!" Ucap Roby lalu memeluk nenek Yati.
"Terimakasih nenek, karena sudah menemaniku menunggu istriku melahirkan putra kami." Ucap Roby haru.
"Ini sudah tugas kami Tuan Roby. Selamat atas kelahiran putra keduanya, semoga menjadi anak yang sholeh." Ucap Sarah.
__ADS_1
"Terimakasih Sarah!" Ucap Roby.
Tidak lama kemudian mereka menemui Rhihana dan bayinya yang sudah di antar ke kamar inap VVIP.