
Rhihana tegang di tempatnya ketika berpapasan dengan Tuan Robert, orang selama ini mereka cari dalam persembunyiannya, tiba-tiba saja muncul tepat dihadapannya.
Karena Tuan Robert tidak mengenali wajah barunya, Rhihana berusaha mengendalikan perasaannya dan hanya mengangguk hormat kepada Tuan Robert yang telah memungut tasnya yang tadi sempat terjatuh.
Iapun tidak bisa mengucapkan rasa terimakasihnya pada tuan Robert karena jika ia bersuara, mungkin tuan Robert akan ingat pada suaranya dan itu akan membahayakan dirinya.
Tuan Robert, meneruskan langkahnya sedangkan Rhihana langsung menghubungi Roby karena takut Tuan Robert akan menemuinya.
Ketika menghubungi ponsel Roby, ternyata ponsel Roby mati. Rihanna pun mulai gelisah, ia kemudian beralih menghubungi nenek Yati dan Sarah.
"Hallo Nenek Yati!" Sapa Rhihana dengan gugup.
"Hallo sayang!" Mengapa suaramu terdengar gemetar?" Tanya nenek Yati.
"Nenek dengarkan aku, saat ini keadaanku tidak baik-baik saja karena aku baru saja berpapasan dengan Tuan Robert. Aku tidak sengaja bertabrakan dengannya dan beruntungnya dia tidak mengenali wajahku." Ujar Rhihana.
"Di mana Roby, sayang?" Tanya nenek Yati yang juga ikutan gugup.
"Dia saat ini sedang makan es krim dengan Tania di salah satu restoran di mall ini, tadi aku menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif. Aku baru habis belanja nenek mau menyusul mereka.
Karena tidak bisa menghubungi Roby, makanya aku langsung menghubungi nenek." Ucap Rhihana terburu-buru.
"Nenek sudah mengirim pengawal untuk mengawasimu dari jauh. sekitar sepuluh menit mereka sampai di tempatmu. Segera temui suamimu dan cepat pulang!" Kamu mengerti Rhihana? Tanya nenek Yati.
"Iya nenek, Rhihana mengerti."
Rhihana berjalan cepat menuju tempat janjian mereka di tempat es krim. Tidak lama kemudian, ia melihat Roby dan Tania masih menikmati es krim mereka.
Roby begitu serius memperhatikan putrinya yang makan es krim belepotan di sekitar mulut Tania dan Roby berusaha mengusap mulut mungil itu dengan tisu.
Rhihana sudah melambaikan tangannya ke arah Roby, namun lelaki itu tidak melihat ke arahnya sama sekali.
"Roby!" Bentak Rhihana kesal.
"Hei sayang!" Apakah sudah selesai belanjaannya?" Tanya Roby dengan tetap bersikap santai dan itu membuat Rhihana begitu gregetan.
"Roby!" Berhenti makan es krimnya sayang, ayo kita pulang. Nanti di rumah kita bisa meminta pelayan yang belikan untuk Tania. Rhihana menarik tangan suaminya dan meminta segera menggendong Tania.
"Ada apa sayang, kenapa kamu kelihatan sangat terburu-buru?" Tanya Roby heran.
"Keadaan ini sangat genting. Aku baru saja berpapasan dengan Tuan Robert karena dia tidak mengenali wajahku yang baru jadi aku selamat darinya tapi tidak denganmu, dia pasti akan langsung mengenalimu jika dia melihatmu sekarang. Dia akan menemukan kita." Ayo cepat pulang sayang, tinggalkan tempat ini!" Titah Rhihana.
Bukannya cepat pergi dari tempat itu, Roby malah mencari keberadaan tuan Robert yang mungkin masih berada di sekitar mereka.
"Apa yang kamu lakukan sayang?" Kamu mau kita tertangkap di sini?" Tanya Rhihana kesal.
"Di mana kamu bertemu dengannya?" Aku hanya ingin menangkapnya." Ucap Roby sambil mengedarkan pandangannya ke sana kemari.
"Sayang, aku lagi hamil anakmu, ingat itu!" Ucap Rhihana lalu berjalan dengan cepat menuju tempat parkiran.
Tidak lama kemudian, Sarah sudah menemukan Rhihana dengan mengikuti mobil Rhihana yang sengaja mereka sadap untuk mengetahui posisi keberadaan majikannya.
__ADS_1
"Nona Lidya!" Teriak Sarah ketika Rhihana sedang buru-buru menuju mobilnya.
"Sarah!" Cepat kawal kami pergi dari sini!" Pinta Rhihana kepada pengawal pribadinya tersebut.
Sarah langsung masuk ke mobil menemani Tania dan Rhihana. Dan Roby yang terakhir masuk ke dalam mobilnya.
Ketika melihat sosok Roby yang baru masuk ke mobilnya, Tuan Roby langsung mengenalinya. Ia yang awalnya ingin menembak Roby dengan pistol kedap suara namun urung dilakukannya karena ingin mengetahui arah kediaman Roby, walaupun dia sudah tahu Roby tinggal di mansion milik mendiang Tuan Gahral.
Mobil itu meluncur dengan cepat. Rhihana dan Tania yang sangat kesal melihat ayahnya membawa mobil seperti preman jalanan.
"Ayah jangan terlalu ngebut, kita bisa tabrakan ayah, kasihan bunda sama adik bayi dalam perut bunda." Ucap Tania.
"Iya sayang, maafkan ayah!" Ucap Roby sambil melihat putrinya melalui kaca spion dalam.
"Tuan sepertinya mobil kita diikuti oleh Tuan Robert." Ucap Sarah yang menengok terus kearah belakang melihat pergerakan mobil musuhnya.
Tidak lama kemudian, mobil pengawal lainnya masuk di antara mobil Rhihana dua depan dan dua di belakang serta beranda di kiri kanan mengapit mobil Rhihana untuk melindungi bos mereka itu.
dua mobil lainnya sengaja menghalangi mobil Tuan Robert sehingga lelaki tua bangka ini sangat kesal karena mobil yang ia incar tidak terlihat olehnya karena dihalangi oleh mobil pengawal Rhihana.
"Akhhhh, sial...!" Tuan Robert memukul setirnya dengan kasar.
Tepat memasuki wilayah perumahan mewah milik Rhihana, mobil Tuan Robert dihadang oleh para pengawal yang membuka kaca mobilnya.
"Hai Tuan Robert!"
Tuan Robert baru menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan para pengawal bengis yang merupakan anak buah nenek Yati. Ia pun memundurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi lalu memarkirkan mobilnya dengan sangat kasar sehingga deritan ban mobilnya terdengar menderu kencang. Mobil itu bergerak dengan cepat tapi pengawal Rhihana tidak tinggal diam, mereka juga mengejar mobil Tuan Robert dan ingin menangkap lelaki itu.
Tuan Robert yang merupakan mantan pembalap dulu, begitu lihai membawa mobilnya kabur dari kejaran musuhnya. Iapun tertawa terbahak-bahak saat bisa lolos dari kejaran musuhnya.
Di mansion Rhihana dan Roby saling berpelukan karena sudah terlepas dari pengejaran tuan Robert.
"Kamu tidak apa sayang?" Apakah perutmu sakit?" Tanya Roby seraya memeriksa bagian tubuh istrinya yang lain.
"Saya tidak apa sayang, hanya merasa sangat sakit ketika kamu terlalu ngebut hingga tidak melihat beberapa polisi tidur yang ada di sekitar jalan komplek." Ucap Rhihana.
"Astaga!" Maafkan aku sayang, aku terlalu memikirkan keselamatan kalian bertiga sehingga tidak ingat ada baby di dalam sini." Ucap Roby.
"Rihanna, sekarang kamu menyesalkan karena tidak mendengar nasehat nenek. Kamu kira kalian sudah terbebas dari incaran Tuan Robert, ternyata diam-diam dia sudah berada di Jakarta. Entah bagaimana cara orang itu bisa masuk ke Indonesia, padahal nenek sudah bekerjasama dengan pihak bandara untuk mencekalnya, jika dia berani masuk ke Indonesia." Ucap nenek Yati.
"Dia bisa melakukan apa saja nenek untuk bisa datang ke Indonesia, mungkin lewat laut dengan menggunakan kapal-kapal kargo yang memuat barang logistik yang merupakan import untuk Indonesia." Ucap Sarah yang sangat cerdas dalam membaca gerak gerik musuhnya.
"Hebat kamu Sarah, aku sampai tidak kepikiran ke arah itu." Nenek Yati memuji anak buahnya Sarah.
"Aku kalau sudah besar ingin seperti kakak Sarah!" Ucap Tania yang ikut mendengarkan pembicaraan orang-orang dewasa itu padahal mereka tadi melihat anak ini sudah tidur.
"Tania!" Ucap mereka serentak.
"Tania sudah bangun dari tadi bunda, cuma Tania malas untuk membuka mata." Ucap Tania membuat mereka terkekeh.
"Ya ampun anak ayah, suka ngerjain ayah." Roby mengecup pipi tembem putrinya.
__ADS_1
"Kamu memang kepingin menjadi polwan?" Tanya Rhihana pada putrinya.
"Bukan polisi bunda, tapi mau menjadi pengawal seperti kakak Sarah, supaya Tania bisa mengawal ayah dan bunda ketika pergi ke manapun." Ujar Tania dengan niat tulusnya.
"Kasihan dong kak Sarah nggak punya kerjaan kalau Tania mengawal orangtuaku kamu sendiri." Ucap Sarah dengan mimik sedih.
"Nanti kak Sarah makin tua seperti nenek Yati, mana mungkin bisa melindungi ayah dan bunda." Ucap Tania polos.
"Tania jahat!" Sarah pura-pura ngambek.
Orangtuanya terkekeh mendengar celotehan Tania dengan Sarah.
"Tania mau lanjut tidur atau main?" Tanya ayahnya.
"Tania mau makan es krim bunda."
"Astaga!" Tadi Tania sudah makan es krim di Mall, masa makan es krim lagi, nanti sakit perut sayang." Ucap Rhihana.
"Tapi Tania masih mau makan es krim bunda, tadi di Mall belum habis es krimnya karena bunda janji akan kasih es krim lagi untuk Tania. Sekarang bunda harus tepati janjinya." Tania merajuk.
"Baiklah, sayang tapi janji dalam tiga hari ini Tania tidak boleh makan es krim!" Rhihana memberi peringatan kepada putrinya.
"Janji bunda!" Tania menunjukkan jari kelingkingnya sebagai bentuk sumpahnya pada bundanya.
"Bibi Lala tolong berikan Tania es krim!" Pinta Rhihana kepada bibi Lala.
"Tania di sini dulu ya, ayah dan bunda mau ke kamar." Pinta Rhihana lalu menuju kamarnya bersama dengan suaminya.
"Hati-hati sayang, naik tangganya!" Roby memperhatikan langkah istrinya menapaki satu persatu anak tangga saat Rhihana melangkah.
"Aku bisa sayang." Ujar Rhihana yang sudah berada di ujung tangga.
"Kalau keserimpet karpet tangga bakalan fatal sayang, jangan terlalu menganggap remeh hal yang sepele karena wanita hamil rentan dengan segala macam resiko yang dihadapinya." Ucap Roby.
"Iya Tuan suami, kamu makin bawel deh saat aku hamil."
"Karena aku sangat sayang kepada kamu dan calon bayi kita. Rumah kita akan makin ramai jika sang baby sudah lahir." Ucap Roby semangat.
Roby membantu merebahkan tubuh istrinya. Agar Rhihana lebih rileks karena baru melewati ketegangan hari ini.
"Tidurlah sejenak sayang, supaya tubuhmu lebih bugar saat bangun nanti." Ucap Roby.
"Tapi aku tidak mau tidur sendiri sayang, tolong di temani!" Pinta Rhihana manja.
"Siapa yang membiarkan kamu tidur sendiri, sayang. Aku tetap ada di sampingmu sampai kamu bangun lagi." Ucap Roby lalu mengecup bibir Rhihana.
Ketika memastikan keadaan istrinya sudah nyenyak, Roby beranjak dari tempat tidurnya menuju balkon. Ia ingin menghubungi Ayahnya untuk melaporkan kejadian yang dialami oleh mereka harus ini.
"Selamat malam ayah!"
"Malam sayang!"
__ADS_1
"Ayah hari ini Rhihana tidak sengaja berpapasan dengan Tuan Robert di Mall. Beruntungnya dia tidak mengenali wajah Rhihana yang sekarang, jadi istriku bisa selamat." Ucap Roby.
"Apa?" Si kunyuk itu sudah berada di Indonesia?" Bagaimana caranya dia bisa masuk Indonesian dengan mudah?" Tuan David merasa sangat aneh mendengar Tuan Robert yang saat ini masuk dalam jaringan intelijen.