
Dengan wajah terluka, Ana mengambil semua harta milik orangtuanya yang berada di brangkas itu dengan menggunakan koper besar. Ia mengemas semuanya lalu mengembalikan posisinya seperti semula.
Ia kemudian mengemudikan mobilnya meninggalkan kediamannya dengan tetap waspada karena takut para penjahat itu masih mengintai keberadaannya.
Sekitar dua jam setelah memasuki pintu tol, Rhihana menghubungi polisi dan melaporkan kejadian mengerihkan itu di kediamannya tanpa menyebutkan namanya.
"Hallo selamat pagi pak!" Sapa Ana pada petugas polisi sambil menyetir mobilnya.
"Selamat pagi nona, apakah ada yang bisa kami bantu?" Tanya polisi dari seberang telepon.
"Ada perampok yang terjadi di kediaman Tuan Gahral, tolong ditindak lanjuti pak," ucap Ana dengan menyebutkan alamat lengkap rumahnya.
"Ini dengan siapa kami bicara?" Polisi itu ingin tahu informan mereka.
"Saya adalah salah satu pelayannya." Rhihana menutup ponselnya lalu menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai ke villa yang di katakan oleh ibunya, walaupun ia sendiri belum pernah ke tempat itu, namun dengan alamat yang diberikan ibunya dan juga ia sudah mendapatkan denah villa itu dari brangkas milik orang tuanya.
Di puncak perbukitan ia hanya melihat deretan villa yang pemiliknya tidak begitu ia kenal sampai suatu villa pribadi yang pintunya terbuat dari bambu dan juga pagar yang menjulang tinggi hampir tiga meter. Ia membuka gembok pagar itu dan memasukkan mobilnya.
Betapa terkejutnya Rhihana melihat villa yang sangat luas itu ditumbuhi berbagai macam sayur dan buah bahkan ada saung yang dibawahnya hidup beberapa ikan air tawar. Sekitar jam sembilan pagi ia tiba di villa itu. Villa itu terlihat terawat dengan baik hanya saja tidak ada penghuni membuat ia sangat kuatir.
"Apakah anda nona Ana sapa seorang nenek yang berusia sekitar 70 tahun membuat Rhihana begitu kaget.
"Astaghfirullah, dari mana ini nenek, tiba-tiba muncul di sini?" Ucapnya sambil mengelus dadanya.
"Saya penjaga Villa Nyonya Maya," Ucap nenek itu lalu menarik tangan Rhihana masuk ke dalam villa yang dari luar tidak kelihatan mewah namun sangat asri.
Ana mengikuti langkah nenek tua itu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.
"Nenek, apakah kamu tinggal sendirian di sini?"
"Ini villa milik kakekmu dan tidak ada satu orangpun yang tahu tempat ini kecuali ibumu, ia berpesan agar suatu saat nanti putrinya akan datang ke sini bila keadaan tidak aman yang terjadi pada keluarganya, aku adalah pelayan mendiang kakek dan nenekmu." Ujar nenek Yati tanpa menjawab pertanyaan Maya.
__ADS_1
Rhihana yang masih syok dengan kejadian yang baru saja di alaminya dini hari, dengan wajah yang masih sangat sakit dan belum di obati ia masuk ke kamarnya dan membawa koper besarnya.
"Istirahatlah dulu nona Ana, nanti nenek akan mengobati luka pada wajahmu." Nenek Yati berlalu pergi tanpa bertanya peristiwa yang menimpa pada diri Ana saat ini.
Ana menyimpan kopernya dalam lemari dan menguncinya. Ia juga menyimpan kunci itu dan mengambil ponselnya lalu membuang kartu chip untuk menghilangkan jejaknya.
"Nona makan dulu sebelum tidur, anda pasti lelah. Jenasah orangtuamu sudah diurus oleh polisi jadi kamu sudah aman di sini." Nenek Yati berkata seakan semuanya biasa aja.
"Tunggu nenek! bagaimana nenek tahu jika keluarga saya baru saja terjadi pembantaian? siapa anda sebenarnya? apakah anda juga tahu jika penjahat itu datang dan menyerang keluarga saya?" Rihanna mulai ketakutan dengan nenek Yati yang kelihatan begitu datar ekspresinya.
"Jika kamu banyak bertanya, maka nyawamu akan terancam, kamu cukup mendengarkan apa yang aku katakan, tanpa harus banyak bertanya lebih jauh, mengerti!" Nenek Yati meninggalkan makanan yang sudah ia siapkan untuk Ana.
Nenek Yati adalah pengawal pribadi ibu dari nyonya Maya, ia juga memiliki para informan yang saat ini menyebar di berbagai kota. Nenek Yati bukan orang biasa, tubuhnya yang sudah terlatih dari muda sebagai pengawal pribadi. Ilmu bela dirinya cukup ampuh untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Ayah nyonya Maya yang merupakan seorang mafia membuat keluarga ini selalu dalam keadaan yang tidak aman hingga tempat villa ini di rancang khusus untuk mereka jika dalam keadaan terdesak dan akan melarikan diri dari kejaran musuh.
Rhihana menghabiskan makanannya dan tidak lama kemudian matanya dikuasai rasa ngantuk. Ia pun berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya yang masih sangat lelah.
Sekitar dua jam ia tidur tidak sadarkan diri, ketika mengerjapkan matanya, ia mendapati pipinya sudah dibalut kain kasa dan kelihatannya sangat rapih.
"Nona silahkan keluar, makan siang anda sudah tersedia di gazebo!" Titah nenek Yati dengan wajah datarnya.
"Cih, jadi nenek tapi wajahnya itu lebih dingin dari pada puncak salju di Himalaya." Gerutu Rhihana lalu meninggalkan kamarnya menuju gazebo yang sangat indah, atapnya terbuat dari genteng coklat dan pinggirnya ditumbuhi bunga mawar merah di sekitarnya ada pohon jeruk Santang atau biasa di sebut jeruk Imlek yang makin membuat orang yang berada di tempat ini akan betah berlama-lama berada di tempat itu.
Ada lagi taman yang indah dengan berbagai tanaman cabe dan tomat dan masih banyak lagi yang terdapat dekat gazebo tersebut.
"Duduklah dan nikmati makan siangmu!" Titah nenek Yati yang sudah duduk ikut makan bersama dengan Ana.
"Nenek, bagaimana aku bisa menelan makanan ini jika sikapmu seperti itu, kamu nggak kelihatan ramah seperti nenek-nenek orang lain, siapa sebenarnya kamu di keluarga bundaku?" Ana masih penasaran dengan nenek Yati yang masih tidak mau membuka jati dirinya.
"Saya hanya seorang pelayan nona dan menjaga villa ini." Jawaban nenek Yati masih sama saja.
"Jika kamu pelayan dan tinggal di sini, mengapa harus menggembok pintu dari luar? bagaimana caramu bisa keluar jika kamu ingin pergi ke suatu tempat?"
__ADS_1
"Jika tidak di gembok dari luar maka orang akan mengetahui pemiliknya ada di dalam sini. Habiskan makan siangmu, aku akan menunjukkan sesuatu padamu." Nenek Yati menikmati makan siangnya tanpa ingin berbicara lagi.
"Wah, makanannya enak banget nek, kamu sangat jago memasak ini semua, tolong ajari aku masak ya nek, oh iya tempat ini sangat bagus dan banyak sekali buah dan sayuran, sepertinya kita tidak butuh lagi apa-apa dari luar karena semuanya tersedia di sini tapi aku kehilangan orangtuaku, aku sendirian nenek, bagaimana aku bisa hidup tanpa mereka." Ana kembali menangis mengingat kedua orangtuanya yang harus meregang nyawa di hadapannya.
"Sayang, aku tahu kamu sedih, tapi orangtuamu tidak akan kembali sebanyak apa kamu mengeluarkan air mata untuk mereka. Kamu harus kuat dan meneruskan kembali bisnis keluargamu, kamu masih muda dan harus melanjutkan kembali hidupmu.
Sekarang aku adalah walimu saat ini, jika kamu bisa balaskan dendammu pada pembunuh orangtuamu, maka kamu butuh fisik yang kuat dan otak yang cerdas agar kamu tidak terkalahkan oleh musuhmu." Ucap nenek Yati dengan wajah serius.
"Nenek apakah aku mampu melawan para bajingan itu? apakah aku mampu menjalani bisnis kedua orangtuaku? Bagaimana kalau mereka masih mengincarku dan membunuhku?... hiks... hiks."
"Rihanna sayang, mungkin orangtuamu selama ini tidak memberi tahumu bahwa mereka adalah keturunan mafia. Permainan mereka terselubung. Gerak gerik mereka sulit terbaca oleh para lawan karena mereka sudah terlatih. Tapi kesalahan mereka adalah membiarkanmu tumbuh tanpa dibekali oleh ilmu bela diri apa lagi mengajarimu banyak hal agar kamu mempersiapkan sedini mungkin." Ucap nenek Yati.
"Apakah keluargaku mengambil harta mereka nenek? hingga mereka dengan tega mau merampasnya kembali dengan cara membunuh?" Ana mencari tahu semuanya asal harta keluarga nya.
"Para leluhurmu bukan maling sayang, justru kekayaan mereka yang menjadi buruan para pemburu dikalangan mafia. Hanya saja perjanjian diantara mereka yaitu jika keluargamu mati dan tidak memiliki keturunan, otomatis harta keluargamu akan diambil alih oleh mereka." Ucap nenek Yati.
"Kalau begitu benar adanya, aku akan mempertahankan apa yang sudah dijaga oleh keluargaku agar para bandit itu tidak seenaknya merampas dariku." Ucap Rhihana.
"Hanya kamu keturunan mereka satu-satunya sayang karena om dan Tantemu dari kedua orangtuamu sudah dibunuh oleh mereka sebelum mereka menikah." Nenek Yati memberi tahu silsilah keluarga besar Rhihana yang saat ini, Rhihana lah satu-satunya yang tersisa karena yang lain sudah tewas terbunuh oleh mafia lainnya.
"Apakah orang-orang kepercayaan orangtuaku tidak akan berkhianat kepadaku nenek?" Tanya Rhihana.
"Tidak ada yang mau bekerja sama dengan bangsa lain sayang, walaupun ini bukan harta negara namun mereka tetap setia kepada keluarga besarmu." Ucap nenek Yati.
Rhihana menarik nafas lega. Ia sudah makin yakin dengan jalan hidupnya bahwa ia harus berjuang bukan untuk dirinya saja tapi untuk semua orang yang mengabdi pada keluarganya.
"Tanpa mereka, belum tentu kejayaan keluargaku bisa bertahan di puncak kesuksesan." Ucap Rhihana membatin.
"Apakah masih yang ingin kamu tanyakan sayang?" Tanya nenek Yati.
"Tidak nenek, semuanya sudah cukup jelas. Aku harus banyak belajar dari nenek dalam menghadapi para mafia itu. Aku sangat awam dengan dunia mafia kecupan nenek tidak merahasiakan lagi sepak terjang mereka dariku." Ana memeluk nenek Yati.
__ADS_1
Keduanya berbincang apa saja dari masa lalu nenek Yati yang bekerja di keluarga ibunya hingga peran kakeknya yang mengusai kerajaan bisnis hingga bertahan sampai saat ini. Semuanya tidak terlewatkan oleh Rhihana.