
Operasi yang dijalankan oleh Roby berhasil dengan baik, ia di pindahkan ke ruang Inap VVIP. Keadaannya yang harus mendapatkan perawatan intensif membuat dirinya diperlakukan secara khusus dari pada pasien lainnya.
Rhihana yang menyaksikan suaminya tergolek lemah diatas brankar hanya bisa pasrah dan menangis. Ia tidak tahu apakah memori suaminya akan hilang selamanya ataukah kembali lagi seperti yang dulu. Ia hanya berharap ada keajaiban dari Allah untuk suami tercinta.
Nenek Yati yang baru tiba di rumah sakit langsung ke kamar Tania. Di sana Sarah sedang menunggu Tania yang masih tidur nyenyak.
"Bagaimana keadaan bayi Tania?" Tanya nenek Yati pada anak buahnya itu.
"Sekarang sudah lebih baik nenek, mungkin besok sudah boleh pulang." Ujar Sarah sambil memperhatikan balita yang berusia satu tahun enam bulan itu.
"Di mana Rhihana?"
"Ia sedang berada di kamar inap suaminya. Sampai saat ini Tuan Roby belum sadar." Sambung Sarah.
"Ada-ada saja kejadian ini Sarah, kapan kelurga ini tenang. Rasanya dari nenek seumur kamu, keluarga itu sering saja mengalami hal-hal yang berhubungan dengan nyawa. Kami harus begadang setiap malam karena setiap saat musuh datang kapan saja. Berurusan dengan orang kaya itu menakutkan Sarah." Ucap nenek Yati pada anak buahnya.
"Mengapa nenek masih mengabdi pada keluarga ini? Padahal usia nenek harusnya menikmati hidup bukan lagi berurusan sama mereka." Ucap Sarah.
"Banyak hal yang kamu tidak tahu dalam perjalanan hidupku yang berkaitan erat dengan keluarga ini Sarah. Mungkin kalau aku tidak diselamatkan oleh kakeknya Rhihana, saat itu aku sudah dijual oleh bapak tiriku sendiri. Lelaki bajingan itu menjualku ketika ibuku baru saja di makamkan. Ternyata ibuku meninggal dunia karena ia yang meracuni ibuku agar bisa menjualku hanya untuk membayar utang judinya." Seru nenek Yati mengisahkan kehidupan pribadinya kepada Sarah.
"Jadi nenek Yati diselamatkan kakeknya nona Rhihana dari penjualan anak dibawah umur?"
"Begitulah sayang ceritanya. Aku sangat berhutang budi dengan keluarga ini. Jika aku masih mampu melindungi keluarga ini, aku dengan senang hati mau melakukannya sampai aku mati untuk melindungi keluarga hebat ini.
Di kamar Roby, Rhihana sedang bermain gitar dengan menyanyikan lagu ciptaan Roby.
Saat dawai gitar itu dipetik Rhihana, Roby melihat semua peristiwa yang pernah terjadi antara ia dan istrinya. Alam bawah sadarnya bercerita dengan memperlihatkan semua bagaimana ia mengetahui Lidya itu Rhihana atau Ana. Ia menikahi gadisnya dan berbulan madu ke Bali dengan pesawat jet yang ia berikan pada sang istri sebagai hadiah pernikahan.
Sudut mata Roby mengeluarkan bulir bening yang jatuh menetes ke samping ketika mendengar suara merdu istrinya mendendangkan lagu yang ia ciptakan.
"Roby, kamu dengar aku menyanyikan lagu kita sayang?" Rhihana mengusap air mata yang jatuh menetes di sudut mata suaminya.
Roby tidak merespon panggilan dari istrinya. Hanya air matanya yang bisa menjawab pertanyaan istrinya. Rihanna memencet tombol panggilan dokter untuk ke kamar inap suaminya.
Dokter dengan dua orang suster datang ke kamar tersebut. Rhihana menceritakan apa yang terjadi pada suaminya.
"Dokter tadi saya menyanyikan lagu yang pernah ia ciptakan untukku, terus aku lihat ia meneteskan air matanya. Apakah dia mendengarkan aku?" Rhihana menceritakan semuanya dengan menatap wajah dokter agar pengakuannya menjadi sebuah perkembangan kondisi suaminya yang belum sadar juga pasca operasi penyumbatan darah di otak bagian belakang.
Dokter memeriksa keadaan Roby lalu menyimpulkan diagnosanya kepada keluarga pasien suami dari Rhihana.
__ADS_1
"Alam bawah sadarnya sudah mengingat lagi setiap peristiwa indah yang pernah dilalui dalam hidupnya. Mungkin lagu itu salah satu pemicunya. Semoga ketika dia sadar, memorinya sudah kembali normal." Ucap dokter Gina.
"Berarti ini belum tentu berhasil ya dokter?" Tanya Rhihana.
"Ini bukan masalah berhasil atau tidaknya, tapi ini lebih kepada bagaimana cara dia mampu bertahan hidup. Jika dia mengingat semuanya, berarti terapi kita berhasil." Imbuh dokter Gina.
"Jadi aku harus menunggu lagi dokter?" Wajah Rhihana tertunduk sedih.
"Mohon doanya saja Rhihana, tolonglah jangan pesimis begitu, saya yakin ia pasti sembuh dan mengingat lagi kenangan kalian bersama. Biarkan waktu yang akan menjawabnya." Dokter Gina menepuk pundak Rhihana lalu meninggalkan kamar inap Roby.
"Tunggu dokter, anda belum menceritakan kepada saya hasil operasinya. Apa yang terjadi sebenarnya pada otaknya sehingga harus dilakukan operasi?" Rhihana menghentikan langkah dokter Gina yang baru mau melangkah keluar kamarnya.
"Setelah kami lihat, gumpalan darah yang sudah lama membeku tanpa perawatan intensif. Sepertinya ada yang sengaja memukul kepalanya dengan benda tumpul dan memberikan obat-obatan yang merusak memorinya secara perlahan." Dokter Gina menjelaskan hasil operasi Roby kepada Rhihana.
"Terimakasih dokter untuk penjelasannya, saya rasa sudah cukup pertanyaan saya untuk dokter." Ujar Rhihana.
"Baiklah Rhihana, jika kamu masih menemukan hal-hal yang mencurigakan dari Roby, katakan saja, mungkin kami bisa membantumu untuk mengatasinya." Ucap dokter Gina.
"Terimakasih dokter."
Dokter Gina hanya mengangguk sambil tersenyum pada Rhihana.
Pintu dibuka, Sarah memanggil Rhihana karena putrinya mencarinya.
"Nona, Baby Tania mencari anda, sekarang ia sedang ditemani oleh nenek Yati." Sarah memberi tahukan kedatangan nenek Yati.
"Apakah kamu bisa menunggu suamiku sebentar Sarah.
"Dengan senang hati nona." Ujar Sarah.
Rhihana berjalan setengah berlari, tanpa sengaja ia menabrak seorang dokter.
"Maaf dokter, maaf...!" Ucap Rhihana tanpa melihat wajah dokter itu.
"Nona Rhihana!" Sapa dokter Andra.
"Eh dokter. Maaf saya harus buru-buru ke kamar putri saya." Ucap Rhihana yang tidak ingin memberi kesempatan kepada dokter Andra untuk menanyakan keadaannya.
"Kamar berapa baby Tania di rawat?"
__ADS_1
"701 dokter," jawab Rhihana yang langsung meninggalkan dokter Andra.
Keesokan harinya, dokter Andra menjenguk Tania. Ia sangat senang melihat Tania tumbuh sehat.
"Baby Tania sudah sehat?" Tanya dokter Andra sambil membelai rambut Tania.
Tania hanya mengangguk, gadis kecil ini lebih fokus pada ponsel ibunya karena sedang melihat film kesukaannya di YouTube.
Dokter Andra yang masih menyimpan perasaannya pada Rhihana, berharap suatu hari nanti ibu dari baby Tania ini menerima cintanya.
Dokter Andra yang tidak tahu bahwa suami Rhihana saat ini sedang di rawat di rumah sakit yang sama dengan putrinya Tania.
"Rihanna, apakah aku boleh main ke rumahmu?" Tanya dokter Andra.
"Maaf dokter, saya sedang sibuk di perusahaan dan jarang ada di rumah paling malam mau tidur saja." Rhihana mengerti arah pembicaraan dokter Andra padanya.
"Apakah kamu kerja di perusahaan?" Di mana perusahaannya?" Tanya dokter Andra yang ingin tahu aktivitas Rhihana dan tempat kerja gadis ini.
"Maaf dokter, sayalah pemilik perusahaan itu." Ujar Rhihana membuat dokter Andra menjadi sangat minder dengan ibu super women ini.
"Aku tidak menyangka bahwa anda adalah seorang pengusaha hebat. Anda adalah paket lengkap yang menjadi impian pria manapun, nona Rhihana." Ucap dokter Andra yang memuji kehebatan ibu satu anak ini.
"Biasa saja dokter, tidak ada yang begitu istimewa yang ada pada pribadi saya. Saya hanya sedikit beruntung yang mendapatkan kesempatan dari Allah untuk membuka lapangan pekerjaan untuk banyak orang yang membutuhkan uluran tangan saya.
Dan kewajiban saya adalah mengentaskan kemiskinan sebanyak-banyaknya dan tidak tebang pilih pada orang lain ketika mereka mengharapkan untuk membantu saya dalam mengembangkan perusahaan yang sekarang ini saya jalani dengan potensi yang mereka miliki." Ujar Rhihana dengan tetap rendah hati dihadapan dokter Andra.
"Pasti karyawan yang bekerja di perusahaan milikmu sangat bangga memiliki pemimpin seperti anda, karena bukan hanya mendapatkan upah yang akan mereka dapatkan setiap bulannya, tapi mereka juga sangat puas dengan setiap kebijakan perusahaan anda pimpin untuk memperhatikan semua apa yang menjadi kebutuhan mereka sudah dipenuhi oleh anda, misalnya layanan kesehatan." Ujar dokter Andra.
"Iya dokter, itu adalah hal yang sangat fundamental yang saya harus perhatikan. Memiliki karyawan yang berkualitas dalam kinerjanya sesuai dengan bidang mereka masing-masing itu sangat dibutuhkan di perusahaan saya. Jika mereka sakit atau kecelakaan, perusahaan saya akan menanggung semua pengobatan mereka sampai hal yang remeh remeh, seperti transportasi dan kebutuhan keseharian keluarganya ketika kepala keluarga sedang dirawat di rumah sakit.
Kadang perusahaan hanya memperhatikan keadaan karyawannya saja dengan memberikan biaya seratus persen dalam pengobatan mereka, tapi lupa jika keluarganya butuh pengeluaran untuk biaya hidup sehari-hari ketika kepala keluarga sedang sakit." Ucap Rhihana.
"Pantas saja semua perusahaan anda makin jaya karena anda tidak memperhitungkan segala sesuatunya yang akan merugikannya anda seperti banyaknya pengeluaran tambahan untuk para karyawan yang sedang dirawat intensif di rumah sakit jika mengalami sakit parah." Ujar dokter Andra.
"He..he..he..!" Tahukah anda dokter, ketika melakukan sesuatu yang membuat orang lain bahagia dan mereka senang atas perbuatanmu karena kita hadir di saat genting mereka mereka membutuhkan uluran tanganmu, tahu-tahu kita datang dan menolong mereka, di situ, saya merasakan kepuasan batin yang amat sangat ketika saya bisa menghibur mereka dengan meringankan sebagian besar beban hidup mereka." Ucap Rhihana yang selalu mendapat apresiasi dari setiap keluarga karyawannya, hingga dia dinobatkan sebagai ibu untuk kaum papah khusus keluarga karyawannya.
"Itulah sebabnya nona Rhihana, aku sangat mencintaimu dan sangat mengagumimu. Kecantikan fisik yang mempesona dan kecantikan hati yang mengagumkan yang tidak dimiliki setiap wanita diluar sana seperti dirimu, nona Rhihana. Jika diberikan kesempatan untuk bisa mengenalmu lebih dekat, aku akan sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah bisa memiliki dirimu suatu saat nanti." Ucap dokter Andra dengan penekanan pada kata-katanya.
"Mohon maaf dokter saya rasa anda harus menguburkan perasaan anda itu dalam-dalam karena sebenarnya saat ini suami saya juga ada di sini dan dirawat di rumah sakit ini. Ia sekarang masih dalam keadaan koma dan belum sadar sampai saat ini pasca operasi. Hal ini membuat saya sangat sedih dan hampir putus asa karena sakitnya." Ucap Rhihana sedih.
__ADS_1
Dokter Andra seketika tercengang mendengar pengakuan dari wanita yang baru saja ia kagumi ini, kini masih memiliki suami yang masih hidup.