
Nyonya Arimbi dan Tuan Fernandez, ingin sekali berkunjung. ke Bali, Palembang, dan Manado. Roby yang mengetahui keinginan kedua orangtuanya, mengajak keluarga kecilnya ikut serta.
"Roby, mumpung kami masih di sini, kami ingin sekali berlibur di beberapa kota besar yang ada di Indonesia, terutama kota Denpasar Bali." Ucap Nyonya Arimbi.
"Kalau begitu kita sekeluarga berangkat bersama untuk liburan, yah setidaknya melepaskan setress yang selama ini sangat mengganggu. Bagaimana sayang, apakah kamu setuju dengan ideku?" Tanya Roby pada Rhihana yang sedang menyuapkan makan untuk putrinya Tania.
"Boleh sayang, lagi pula mommy dan Daddy sudah lama tidak berkunjung ke Indonesia, lebih baik mengisi liburan ini ke beberapa tempat yang kaya akan kulinernya. Daddy dan mommy pecinta kuliner, jadi Indonesia adalah tempatnya Daddy." Ucap Rhihana sangat antusias menyambut ajakan suaminya.
"Apakah aman, jika kami berlibur bersama, nyonya Yati?" Tanya Tuan Fernandez yang ingin mengetahui posisi musuh yang saat ini masih berkeliaran dengan penyamaran mereka di area Jabodetabek.
"Saya akan memastikan terlebih dahulu, sebelum kita berangkat berlibur Tuan, karena anak buah saya terus mengawasi gerak-gerik para anak buah Tuan Robert yang memiliki banyak sekutu." Ujar nenek Yati.
"Lakukan tugasmu dengan sebaik mungkin nyonya Yati! karena kami sangat mengandalkanmu." Titah Nyonya Arimbi kepada nenek Yati.
"Siap Nyonya Arimbi!"
Nenek Yati berkoordinasi dengan anggotanya, untuk memastikan keamanan keluarga besar Roby melakukan perjalanan ke luar kota. Semuanya menyanggupi dan siap melakukan pengawalan ketat kepada keluarga besar itu.
Dua hari kemudian, keduanya bertolak ke Denpasar Bali, dengan bekal izin dari dokter, untuk bisa melakukan perjalanan antar kota tersebut, Rhihana menikmati liburannya kali ini bersama sang suami dan putri tercinta dan tidak ketinggalan, kedua mertuanya.
Mereka sudah melihat destinasi wisata yang saat sedang gencar dilakukan oleh duta pariwisata Indonesia yang sedang memamerkan keindahan alam Indonesia yang kaya akan budaya dengan keragaman suku bangsa.
Dua pesawat pribadi dan sudah terbang menuju Denpasar Bali. Resort mewah yang sudah di booking oleh nenek Yati, sudah di sterilkan terlebih dahulu untuk seminggu ke depan atau sepuasnya mereka menikmati liburan di sana.
The Westin resort Nusa dua Bali, menjadi pilihan mereka untuk menginap di tempat romantis itu.
__ADS_1
Resort ini berada tak jauh dari Nusa Dua Beach Hotel & Spa. Lokasinya cukup strategis karena berada di kawasan pariwisata Nusa Dua. Menawarkan berbagai kemewahan yang akan memanjakanmu dan keluarga besar Roby, yang saat ini bermalam di sana.
Pantai pribadi yang indah dan tenang pun tidak akan mengecewakan. Bahkan, mereka sangat menikmati pulau Dewata itu dan akan betah di sana, meski berada seharian di resort ini.
"Wah, ini sangat hebat dan indah sayang, aku tidak menyangka dua puluh tahun meninggalkan Indonesia dan terakhir kalinya mommy dan Daddy berkunjung di pantai ini, tidak semewah seperti sekarang ini." Ucap Nyonya Arimbi yang sudah duduk bersama putra dan cucunya di pinggir pantai.
"Berarti lumayan lama mommy tidak berkunjung ke Indonesia. Apakah mommy tidak rindu dengan keluarga mommy yang ada di Solo?" Tanya Roby.
"Orangtua mommy sudah meninggal dan juga saudara mommy satu-satunya juga sudah meninggal. Yang ada hanya ponakan, hanya saja mommy tidak begitu dekat dengan mereka. Jika mommy berkunjung ke sana, mereka tidak begitu menyukai mommy karena sangat takut warisan milik mommy yang ditinggalkan oleh kakekmu untuk mommy saat ini mereka yang kuasai.
Mommy tidak tergila-gila dengan harta sayang, apa lagi warisan barang panas, jadi mommy tidak peduli. Karena harta mommy yang paling berharga adalah kamu dan keluarga kecilmu saat ini." Nyonya Arimbi mengisahkan kembali masa lalunya di mana keluarganya tidak menyetujui dirinya menikah dengan Tuan David Fernandez.
Roby sedang menemani putrinya Tania yang saat ini sedang bermain pasir. Rhihana yang tidak ikut bergabung karena masih merasa mual karena kehamilannya, sementara Tuan Fernandez masih melakukan urusan bisnisnya dengan laptop miliknya sambil menikmati deburan ombak pantai.
"Mataharinya sudah mulai meninggi, sebaiknya kita kembali ke resort." Nyonya Arimbi bangkit dari duduknya.
"Daddy, kami mau ke kamar dulu, apakah Daddy mau ikut?" Tanya Roby yang melihat ayahnya sedang serius dengan laptopnya.
"Silahkan duluan masuk, nak!" Ucap Tuan Fernandez tanpa melihat wajah putranya.
Walaupun ditinggalkan sendirian di pantai, Tuan Fernandez masih tetap di awasi oleh pengawal pribadinya.
"Kamu sudah pulang sayang?" Tanya Rhihana yang tidak melihat putrinya bersama suaminya.
"Tania bersama mommy. Putri kita lagi dekat dengan Omanya. Sekarang dia di kamar mommy. Kebetulan Tania sangat pengertian pada ayahnya agar bisa mengunjungi ade bayinya, hmm!" Ucap Roby sambil mencium ceruk leher jenjang milik istrinya.
__ADS_1
"Aku masih pusing sayang, tolong jangan di ganggu dulu." Rhihana merengek manja dalam pelukan suaminya.
"Kalau sudah bercinta, mungkin pusingnya akan hilang sayang." Ucap Roby yang terus merayu istrinya.
"Nanti saja sayang, pandanganku masih kabur dan perutnya dari tadi mual terus. Apapun yang di makan pasti akan dimuntahkan kembali." Rhihana mengeluh pada suaminya.
"Apakah dulu kamu hamil Tania, mengalami hal yang sama sayang?" Tanya Roby yang belum tahu keadaan istrinya pada kehamilan pertamanya.
"Lebih parah pada kehamilan pertama sayang. Karena saat hamil baby Tania, saya nggak mau makan sama sekali seafood, dari usia kandungan dua bulan sampai melahirkan." Ujar Rhihana.
"Apa yang kamu tidak sukai pada kehamilanmu yang sekarang ini?" Tanya Roby.
"Aku suka mual bau masakan berkuah bening, seperti sup dan bakso atau sejenisnya."
"Kalau begitu aku akan meminta manajer hotel ini untuk memasak makanan yang kamu sukai." Ujar Roby.
"Aku mau tidur Roby, aku masih pusing."
"Sini, aku peluk sayang!" Tidur saja di dadaku." Pinta Roby.
Rhihana merebahkan tubuhnya dalam pelukan suaminya. Rhihana merasakan kenyamanan saat sudah bersama suaminya. Sekarang ia benar-benar tidur karena sudah melihat suaminya.
Di sisi lain, Tuan Robert menerima informasi dari anak buahnya bahwa Roby adalah putra kandung Tuan Fernandez dan Nyonya Arimbi. Ia begitu murka saat mengetahui anak yang ia adopsi ternyata anak yang ingin ia buang.
"Kurangajar!" Ternyata janin itu yang ingin aku minta gugurkan kandungannya justru datang sendiri padaku dan aku rawat sebaik mungkin dan kini ia juga berbalik melawan diriku. Ha....ha...ha!" Dunia ini ternyata terlalu kecil, sesuatu yang ingin kita singkirkan malah kita jaga seperti permata berlian." Ujar Tuan Robert dengan senyum menyeringai seperti iblis.
__ADS_1