
Malam itu, Roby menemui tuan Robert yang merupakan ayah angkatnya. Kedatangan Roby yang tiba-tiba cukup mengagetkan tuan Robert. Tapi hati lelaki tua itu terlihat bahagia.
"Oh my so, how are you!"
Roby tidak menjawab, hatinya seakan sudah mati ketika mengetahui Tuan Robert adalah seorang pembunuh.
"Ada apa denganmu Roby?" apakah kamu tidak senang bertemu denganku?" Tanya tuan Robert yang melihat ekspresi wajah Roby yang begitu datar padanya.
"Ayah, aku tidak bisa berada lama di Paris, aku sudah memiliki kehidupanku sendiri, aku mohon ayah mengerti, aku sudah memiliki istri dan saat ini, ia sedang mengandung anak kami, aku harus menjaganya setiap saat." Roby menyampaikan alasannya agar ayahnya lebih mengerti posisinya saat ini yang sudah berkeluarga.
"Tidak, kehidupanmu disini bersamaku, aku tidak akan membiarkanmu tinggal di tanah airmu dengan istrimu itu, kecuali kamu membawa ia ke sini dan hidup bersama kita." Ujar Tuan Robert tegas.
"Ayah, aku hanya anak angkatmu, bukan putra kandungmu, aku punya hak untuk memilih mana yang lebih baik untukku dan aku memilih istriku karena sebelum aku mengenal ayah, aku sudah lebih dulu mengenalnya." Roby masih bersikeras dengan pendiriannya.
"Kalau begitu, kamu tidak akan mendapatkan satu sen pun dari hartaku. Aku akan menghapus namamu sebagai pewarisku." Tuan Robert mengancam putranya.
"Aku tidak butuh semua itu ayah. Tanpa ayah datang dalam hidupku, aku sudah bahagia dengan apa yang aku miliki, jika suatu kemewahan yang pernah ayah berikan kepadaku dan diambil kembali dariku itu tidak masalah. Bagiku istriku segalanya. Permisi ayah, aku mau kembali ke tanah kelahiranku Indonesia." Ujar Roby lalu meninggalkan mansion ayah angkatnya dan kembali ke hotel untuk memesan penerbangan kembali ke Jakarta.
"Roby berhenti!" Teriak ayah angkatnya yang langsung memukul kepala Roby dengan tongkat kasti hingga darah segar keluar dari kepala belakang Roby dan suami dari Rhihana ini jatuh tersungkur ke lantai dengan tidak sadarkan diri.
Melihat Roby yang tidak sadarkan diri, Tuan Robert menyuruh anak buahnya memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Roby. Tubuh pria tampan ini dibawa ke kamarnya.
Tuan Robert tidak ingin Roby meninggalkan dirinya begitu saja. Dengan cara memukul kepala Roby, ia mampu menghentikan lelaki itu untuk kembali ke tanah air.
Ponsel milik Roby diambil dan di hancurkannya lalu dibakar di tong sampah yang ada dalam ruang kerjanya.
"Kamu tidak akan kemana-mana Roby, kamu tetap disini bersamaku." Ucap Tuan Robert dengan menarik ujung bibirnya.
Tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa luka Roby akibat pukulan benda tumpul. Luka itu dibersihkan dan dijahit oleh dokter tersebut. Roby diberi obat penenang agar kepalanya tidak terlalu berat jika sudah sadar.
Setelah menangani luka pada kepala Roby, dokter itu pamit kepada Tuan Robert. Di saat itu Tuan Robert memiliki ide cemerlang untuk menghentikan Roby agar tidak memikirkan istrinya.
"Sebentar dokter, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda." Ucap Tuan Robert pada dokter Felix.
"Hal penting apa tuan?" Tanya dokter Felix yang tidak mengerti maksud dari tuan Robert.
"Jika kamu bisa membantuku untuk melakukan sesuatu pada putraku dengan membuat ingatannya lupa akan bagian dari masalalunya, maka saya akan menghadiahkan anda pesawat jet pribadi dan anda memiliki akses dan perawatan pesawat tetap di hanggar milik saya, bagaimana?" Tuan Robert sedang bernegosiasi dengan dokter Felix atas tawarannya.
Mendengar tawaran yang menggiurkan, dokter Felix kelihatan kalap, ia langsung menyanggupinya dan bersedia membantu Tuan Robert untuk memberikan obat kepada Roby agar lelaki itu lupa ingatan.
"Baik Tuan, saya siap membantu anda." Ucap dokter Felix seraya mengulurkan tangannya pada tuan Robert sebagai bentuk kesepakatan kerja sama mereka.
__ADS_1
"Saya senang dengan pandangan anda dokter Felix, anda mempertimbangkan segala sesuatunya yang menguntungkan kepribadian anda daripada sumpah jabatan anda sebagai dokter." Ucap Tuan Robert lalu terkekeh.
Wajah kedua iblis ini sama-sama menyeringai karena saling menguntungkan satu sama lain.
Dokter Felix kembali ke rumah sakit di mana ia sedang bertugas disalah satu rumah sakit termewah di Paris.
š·š·š·š·š·
Di Jakarta, Rhihana mencoba menghubungi suaminya berkali kali namun tidak bisa. Iapun mulai curiga dengan tuan Robert yang telah sengaja membuat suaminya saat ini sedang dalam bahaya.
Rhihana menghubungi nenek Yati untuk meminta nenek tua itu menyelidiki suaminya di kediaman Tuan Robert di Paris Perancis.
"Hallo nenek!" aku boleh minta tolong?"
"Ada apa Ana, apakah ada masalah?"
"Nenek, ponsel suamiku tiba-tiba tidak bisa dihubungi, aku sangat curiga, jika saat ini suamiku sedang dalam bahaya. Ini pasti ulah tua bangka itu." Ucap Rhihana kesal dan juga kuatir.
"Baiklah, nenek akan meminta anak buahku mencari tahu keberadaan suamimu di Paris, tolong kamu tenang dan pikirkan kehamilanmu saat ini karena calon bayimu lebih penting." Nenek Yati menasehati Rhihana.
"Nenek aku tidak mau kehilangan Roby. Aku dan anakku sangat membutuhkannya nenek." Tangis Rhihana tak terbendung. Hujan air mata itu terus menetes pada pipinya yang mulus.
"Terimakasih nenek, saya mengandalkan kalian semua." Ucap Rhihana lalu mengakhiri pembicaraannya dengan nenek Yati.
Rhihana terus saja menangis, ia merasa sangat bersalah telah memaksa suaminya menemui tuan Robert.
"Maafkan aku Roby, aku telah membawamu ke jurang kematian, Roby bertahanlah untuk anak kita sayang, aku mohon semoga cintaku menguatkan dirimu untuk kembali lagi kepadaku." Ucapnya bermonolog.
Satu bulan kemudian, keadaan Roby sudah mulai pulih namun ia tidak mengingat apapun termasuk Tuan Robert. Ia seperti ponsel yang kembali ke aplikasi pabrik yang belum tersentuh dengan hal-hal yang berupa memory kehidupannya.
"Siapa aku, mengapa aku tidak mengingat apapun. Oh kepalaku, mengapa sangat pusing seperti ini?" Gumamnya perlahan.
"Kamu sudah bangun sayang, ini makan obatmu dulu." Ucap Alicia yang merupakan teman kuliah Rhihana di Amerika dulu.
Rupanya ayah Alicia adalah sahabat dengan tuan Robert. Ketika mengetahui Alicia sudah beranjak dewasa, tuan Robert meminta Alicia untuk menikah dengan Roby.
Alicia yang saat itu sangat kaget melihat Roby yang merupakan kekasih Lydia, tapi gadis ini mengambil keuntungan ketika menyadari jika Roby sedang amnesia. Ia yang sudah dicampakkan oleh kekasihnya Harry kini beralih pada Roby. Perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya diterima dengan baik oleh Alicia.
Roby mengambil obat yang diberikan oleh Alicia kepadanya. Ia meminum obat itu yang dikiranya untuk menghilangkan rasa sakit pada kepalanya. Melihat Roby menghabiskan obatnya, Alicia makin sumringah ketika Roby bisa dikuasainya dengan mudah.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Roby kepada Alicia yang sedang mengupaskan jeruk untuknya.
__ADS_1
"Kita ini sudah menikah sayang," ucap Alicia serius.
"Apakah kamu istriku?"
"Yah, kalau sudah menikah, pastinya memiliki hubungan suami istri Roby." Ujar Alicia sambil menyuapkan jeruk untuk Roby.
"Oh iya, kenapa aku bisa lupa, tapi aku merasa kita belum pernah menikah Alicia." Roby mengingkari hubungannya dengan Alicia.
"Itu karena kamu mengalami amnesia karena kecelakaan mobil. Mobil milikmu bertabrakan dengan mobil lainnya hingga kepalamu terbentur benda keras, akhirnya kamu melupakan semua kenanganmu, makanya kamu harus rajin minum obat, agar keadaan kamu cepat pulih." Ucap Alicia menasehati Roby dengan segala kebohongannya.
Alicia bangkit dari duduknya, ia menanggalkan bajunya dan mendekati Roby yang sedang menatap tubuh polosnya.
Roby seperti patung hidup yang tidak memiliki ekspresi apapun ketika melihat tubuh polos Alicia. Miliknya sendiri tidak bergeming dan tetap tidur di bawah sana.
Alicia yang langsung nyosor untuk lebih membuat Roby bergairah, namun Roby menolak dan menepis tangan Alicia yang ingin menjamah miliknya.
"Maafkan aku Alicia!" Aku tidak bisa." Ucap Roby membuat Alicia sangat kecewa karena tubuh indahnya tidak mampu menghipnotis pria tampan ini untuk menyentuh dirinya.
"Apa yang salah denganmu Roby? apakah aku tidak begitu menggairahkan buatmu, hah!" Alicia makin sewot.
"Aku tidak bisa melakukannya, hatiku menolakmu, aku merasa kita belum menikah dan aku tidak mau berbuat zinah." Ucap Roby tidak kalah sengitnya dengan Alicia.
"Ternyata kamu sangat menyebalkan Roby, kamu selalu mengutamakan nilai moral dan agama padahal kamu tinggal dilingkungan yang tidak mementingkan semua omong kosong itu!" Teriak Alicia di depan wajah Roby.
Ingin rasanya, Roby menampar wajah wanita yang menjijikkan ini, tapi ia merasa tidak pernah menyakiti wanita. Ia mengurungkan niatnya dan hanya mengepalkan kedua tangannya kuat, hanya untuk mengendalikan amarahnya pada Alicia.
"Tinggalkan kamarku Alicia, aku minta kamu keluar dari sini!" Roby membentak Alicia yang masih sangat keras kepala.
"Kamu akan menyesal Roby, sudah memperlakukan aku seperti sampah!" Ancam Alicia lalu meninggalkan kamar Roby dengan amarah yang sudah memenuhi rongga dadanya.
Ia kemudian pergi taman, meluapkan amarahnya sambil melemparkan beberapa bola tenis yang ada di atas meja tenis itu.
"Apakah kamu mau bermain tenis meja Alicia?" Tanya Tuan Robert yang langsung memeluk tubuh Alicia dari belakang.
"Aku sangat membenci putramu itu Tuan Robert." Ucap Alicia kesal.
"Apakah dia menyakitimu sayang?" Tanya Tuan Robert dengan membalikkan tubuh Alicia ke hadapannya.
"Dia tidak ingin menyentuhku sama sekali dan itu membuatku sangat sakit." Ucap Alicia jujur.
"Maukah kau bercinta denganku Alicia?" Tanya tuan Robert yang sudah menggerayangi tubuh Alicia.
__ADS_1