
"Sayang, mengapa wajahmu jadi berubah dan kamu juga menggantikan identitasmu?" Tanya Robby yang masih penasaran dengan perubahan yang terjadi pada gadisnya ketika mereka sudah tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Sayang, banyak sekali malapetaka di keluargaku, semenjak kita berpisah. Keluargaku dibantai oleh mafia saingan bisnis orangtuaku. Mereka menyerang ke kediaman kami di saat hujan deras dan angin kencang, hingga tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi pada keluargaku.
Orangtuaku dibunuh didepanku, tapi sebelumnya itu mereka menyenderaku dan meminta ayahku menandatangani berkas penyerahan semua aset kekayaannya pada mafia itu, jika tidak mereka akan merusak wajahku. Saat itu ayahku tetap menolaknya karena ia tahu akan dibunuh juga setelah ia menyerahkannya pada penjahat itu.
Karena ayahku keras kepala, penjahat itu menggores wajahku dengan pisaunya. Aku berhasil melarikan diri dan hijrah ke Amerika. Aku melakukan operasi plastik dan dokter mengubah wajahku atas perintah orang kepercayaan ibuku.
Hasilnya wajahku seperti ini dan semua identitas pribadiku diganti agar keberadaanku tidak terendus oleh musuh keluargaku." Rhihana menceritakan semuanya kepada Roby tentang apa yang dialaminya beberapa tahun yang lalu.
Roby sangat sedih mendengar kisah memilukan yang terjadi kepada gadisnya. Ia tidak menyangka jika hidup gadisnya sangat tragis setelah mereka berpisah.
"Maafkan aku sayang, kamu melewati semua kesedihan ini sendirian tanpa ada yang menghiburmu. Sekarang bagaimana dengan nasib perusahaan orangtuamu?" Roby masih ingin tahu banyak tentang aset milik kekasihnya.
"Alhamdulillah orangtuaku mempertahankan semuanya hingga titik darah terakhir. Perusahaan keduanya saat ini dikelola dengan baik oleh orang-orang kepercayaan orangtuaku sampai aku kembali lagi ke tanah air. Semua apa yang mereka miliki sudah terdaftar atas namaku." Ucap Rhihana.
"Aku sudah menceritakan semuanya tentang hidupku, bagaimana dengan dirimu sendiri, mengapa kamu tiba-tiba menghilang begitu saja dan hanya meninggalkan sepucuk surat untukku?" Sekarang giliran Rhihana yang ingin mengetahui kehidupan kekasihnya selama mereka berpisah.
"Aku dibesarkan oleh seorang ayah angkat bernama Tuan Robert. Aku bertemu dengannya ketika dia sedang terluka parah. Saat itu aku baru pulang kerja. Ketika aku mengambil motorku, aku melihat Tuan Robert sedang diincar oleh musuhnya, sialnya lagi asistennya telah mengkhianatinya.
Malam itu aku yang membawanya ke rumah sakit. Karena sudah menyelamatkan hidupnya, ia mengajak aku ke Paris Perancis untuk ikut dengannya mengelola bisnisnya, aku dilatih ilmu beladiri dan menguasai semua persenjataan agar aku bisa menghadapi musuh, jika hidupku dalam keadaan terancam. Itulah sebabnya kamu tidak lagi mengenaliku karena badanku sangat besar dan aku juga mengubah penampilanku seperti ini." Roby menceritakan kisah hidupnya pada Rhihana.
"Ya Allah, pantas aku benar-benar tidak mengenalimu, tapi tunggu dulu!" Berarti pertama kali kita bertemu, yah pertemuan pertama kita ditaman kampus itu, berarti saat itu kamu sedang berbohong kepadaku jika kamu tahu aku orang Asia, bagaimana ceritanya kamu bisa menemuiku?" Rhihana meragukan pengakuan Roby yang sudah membohonginya kala pertemuan pertama mereka di taman kampus.
"He...he...itu?" Awalnya aku pertama kali melihat dirimu viral di media sosial karena kamu menendang seorang lelaki yang mencoba melecehkanmu.
Aku mendatangi Club tempat temanmu yang merayakan ulang tahunnya. Pemilik Club itu memberiku alamat Alicia, teman kelasmu, dari dialah aku mengetahui dirimu. Tapi setelah melihatmu lebih dekat, aku tidak mengenalimu karena wajahmu itu, makanya aku memperkenalkan diriku sebagai Radit yang berasal dari Indonesia." Ujar Roby menceritakan secara jujur pada Rhihana.
"Sebaiknya kita ke apartemenku yang dulu, tempatmu dulu menginap," ucap Rhihana ketika mereka sudah berada di dalam taksi.
"Baiklah sayang!"
Keduanya memilih tinggal di apartemen milik Rhihana. Gadis ini tidak ingin kembali ke mansionnya karena belum mengetahui bagaimana kondisi mansionnya saat ini.
Sebelumnya itu, Roby mengajak gadisnya mampir ke restoran karena mereka belum makan siang.
"Kita makan siang dulu sayang sebelum tiba di apartemen." Ajak Roby.
__ADS_1
"Apa yang paling kamu rindukan dengan makanan Indonesia?" Tanya Rhihana.
"Pecel lele." Sahut Roby.
Keduanya menuju kedai pecel lele dan tidak jadi ke restoran.
"Sayang, banyak sekali perubahan kota Jakarta selama aku pindah di Paris." Roby melihat ke sekelilingnya dan mengenang kembali hidupnya yang dulu sempat berada di jalanan menjadi seorang pengamen untuk menghidupi dirinya.
Kota ini memang banyak berubah Roby, tapi tidak dengan cintaku, aku selalu berjuang untuk tetap setia padamu." Ucap Rhihana menatap wajah kekasihnya dengan penuh kerinduan.
Roby meraih tangan Rhihana, mengecup punggung tangan itu dengan lembut.
"Sayang, akulah yang paling bangga memilikimu karena kamu bersedia menantiku, walaupun kau tahu mungkin sangat nihil untuk kita bisa bertemu lagi." Roby merasa terharu dengan kesetiaan Rhihana padanya.
"Jika Allah tidak memberikan kesempatan aku untuk bertemu denganmu, aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku, tapi kamu jahat, kamu tidak setia padaku." Ucap Rhihana seraya memukul lembut dada bidang kekasihnya.
Roby menangkap tangan Rhihana lalu memeluk lagi kekasihnya itu.
"Maafkan aku sayang, ternyata aku jatuh cinta kedua kalinya dengan wanita yang sama. Saat itu aku sangat kagum padamu. Dan lebih kagum lagi ketika kamu menolakku hanya seorang lelaki sepertiku, kamu memilih setia pada Roby, itu yang membuatku sempat cemburu pada Roby mu." Keduanya terkekeh saat mengenang kembali di mana Roby kembali lagi ke Paris Perancis karena cintanya di tolak oleh Rhihana.
Deg!"
"Berani sekali gadis ini menciummu, apa dia tidak takut kalau aku membalas ciuman itu di tempat yang berbeda?" Gumamnya membatin.
"Kenapa termangu begitu?" Tanya Rhihana heran melihat Roby seketika mematung.
"Karena dapat hadiah darimu." Ucap Roby sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu belum pernah mencium wanita sebelum aku?"
"Karena aku tidak tertarik pada mereka sedikitpun." Ucap Roby.
"Terimakasih Roby, aku tidak merasa sia-sia menantimu karena kamu tetap menjaga hatimu untukku." Timpal Rhihana.
"Sayang, lebih baik secepatnya kita menikah, aku tidak ingin menyentuhmu sebelum menghalalkanmu." Roby seketika melamar Rhihana di dalam mobil taksi.
"Apakah saat ini, kamu sedang melamarku sayang?" Tanya Rhihana tak percaya.
__ADS_1
Roby mengambil kotak cincin yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari sebelum bertemu dengan Rhihana, walaupun saat itu ia tidak yakin akan bertemu lagi dengan kekasihnya ini.
Roby membuka kotak cincin pasangan itu dan ia menyematkan cincin yang bertahtakan berlian pada jari manis gadisnya. Rhihana sangat terharu melihat keseriusan Roby yang ingin mempersuntingkan dirinya secepat ini.
"Ini indah sekali sayang." Ucap Rhihana dengan wajah berbinar.
Rhihana meraih cincin yang satunya lagi, cincin untuk Roby terbuat dari platinum karena seorang pria dilarang memakai emas bagi yang beragama Islam. Walaupun Roby di besarkan di luar negeri, ia tetap belajar buku-buku kajian Islam untuk menambah wawasan dan ketaatannya kepada Allah.
Kini keduanya sudah memakai cincin yang sama. Tidak lama kemudian mobil mereka sudah tiba di kedai makanan.
Roby turun dari kendaraan dan membuka pintu mobil untuk Ana. Ia melihat makanan kesukaannya yang tergambar di kain yang tergantung di dinding luar bilik makanan Sunda.
"Kamu kangen dengan pecel lele sayang?" Tanya Rhihana ketika mereka sudah duduk di rumah makan Sunda yang model lesehan.
Rhihana memberikan menu pilihan pada Roby agar Roby memesan apa saja yang ingin dimakannya saat ini.
"Aku mau makan lele dua, ayam bakarnya dua dan ikan gurame gorengnya satu." Ucap Roby yang memang porsi makannya lebih besar ketika menetap di luar negeri.
Rhihana menuliskan semua pesanan Roby dan juga untuk dirinya. Rhihana hanya memesan ayam goreng kremes dan udang goreng kesukaannya. Tahu tempe hanya pelengkap beserta lalapannya.
Pelayan mengambil pesanan mereka dan menyerahkannya ke dapur.
"Rhihana, baru kali ini kita makan bersama sebagai kekasih. Dan kita akan terus makan bersama sebagai suami istri." Ucap Roby sambil menatap wajah cantik Rhihana.
Rhihana tersipu malu mendengar kata-kata Roby yang membuat hatinya ingin meledak. Roby yang makin tampan dengan tubuh yang lebih kekar dan berisi membuat hatinya makin mengagumi sosok yang selama ini ia rindukan.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka siap dihidangkan oleh pelayan. Mereka menunggu pelayan itu pergi dan mulai mengeksekusi hidangan yang sudah menggoda lidah mereka.
"Kamu suka sayang?" Tanya Rhihana di sela-sela menikmati makanan mereka.
"Hmmm!" Ini sangat membuatku puas Ana, dulu aku harus menunggu uang dari hasil ngamen ku banyak, baru aku bisa makan enak seperti ini sayang. Tapi aku tidak berani masuk ke kedai yang mahal seperti ini, paling warung pinggir jalan sayang." Ucap Roby jujur.
"Semuanya harus disyukuri Roby, tidak semua apa yang kita impikan itu, mendapatkan dengan cara instan. Semua butuh proses untuk mendapatkan hal yang indah salah satunya makanan kesukaan kita.
"Iya sayang, benar apa katamu, kita harus bekerja keras dulu untuk bisa makan, apa lagi untuk mendapatkan hidup lebih layak." Timpal Roby.
Keduanya menghabiskan makanan mereka dengan cepat, karena ingin cepat sampai ke rumah mereka.
__ADS_1