SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
28. KENANGAN


__ADS_3

Tayangan perdana berupa puisi telah disimak oleh Roby, kini tayangan hasil tas pack yang menunjukkan kehamilan Rhihana. Tayangan kedua adalah perkembangan hasil USG calon baby Tania dari satu bulan hingga delapan bulan dan di tayangan itu foto-foto Rhihana saat masih hamil dari bulan kedua sampai bulan kesembilan hanya menggunakan bikini membuat nyali Roby bergetar melihat pose demi pose se*si milik istrinya.


Berkali-kali ia menelan salivanya sambil menarik nafas panjang. Rhihana yang melihat posisi duduk suaminya yang terlihat gelisah menatap foto-foto yang merangsang libidonya. Tawanya pecah dimulut karena tidak tahan dengan sikap lucu Roby.


Selanjutnya tayangan Rhihana mengalami kontraksi hebat yang hanya ditemani Sarah dan nenek Yati. Melihat tayangan itu perasaan Roby berubah, wajah seketika berubah menjadi mendung, air matanya sudah memenuhi kelopak matanya yang tajam.


Ia mengepalkan kedua tangannya menyaksikan kesakitan istrinya yang menangis dalam pelukan nenek Yati menahan rasa sakit karena kontraksi.


Tayangan selanjutnya, kelahiran baby Tania. Wajah Roby berubah menjadi rona bahagia lalu menitikkan air mata haru.


Tayangan selanjutnya, saat pertama kali Rhihana menyusui baby Tania, pertumbuhan baby Tania dari bulan ke bulan hingga terakhir kali Roby baru bertemu dengan putrinya.


Tayangan itu berakhir juga dengan sebuah puisi. Roby menatap lekat wajah istrinya.


"Maafkan aku sayang, di saat kamu hamil aku tidak ada untukmu. Aku sangat menyesalkan hal itu. Tapi kamu begitu hebat menyimpan semua kenangan dari waktu ke waktu walaupun harapanmu dalam penantian panjang belum tentu terwujud.


Sebesar itukah cintamu itu padaku sayang?" Bagaimana kalau aku tidak bisa kembali? bagaimana jika aku tidak bisa mengingatmu? Apa yang akan kau lakukan sayang?" Roby mencoba menanti jawaban kekasih jiwanya, kekasih yang membuatnya tidak berhenti mengagumi sosok wanita hebat ini.


"Cintamu terlalu kuat, daya pesonamu terlalu memikat, aku tidak tahu kapan hatiku telah dibelenggu karena kesetiaan, namun aku yakin cinta sejati itu masih hadir ditengah kemilaunya kehidupan, yang menawarkan sejuta rayuan dan pengorbanan yang ditawarkan padaku.


Mereka datang silih berganti dengan segala bentuk cinta yang mereka punya hanya ingin mendapatkan empatiku. Jawabanku hanya satu, nilai kesetiaan tak dapat ditukar dengan nilai dunia, karena semua yang mereka miliki, aku sudah punya.


Jika cinta yang mereka persembahkan untukku, hatiku tak akan terbetik sedikitpun karena hanya ada satu nama yang terukir indah dalam hati seorang Rhihana dia adalah Roby ku, ayah dari putriku, cinta pertamaku tanpa memikirkan statusnya apa saat itu, karena yang memilih dia adalah hatiku bukan mataku." Ucapan seorang Rhihana menyanjung pangeran hingga terlena hingga sang empunya tak bisa berkata-kata, hanya matanya yang bicara bahwa saat ini aku ada untukmu selalu tanpa menunggu waktu yang telah memisahkan mereka.


"Aku tidak tahu harus berkata apa sayang, rasanya aku ingin mengunyahmu saat ini." Roby terlalu gemas dengan istrinya karena saking hebatnya Rhihana baginya.


Wanita cantik yang lahir dikalangan bangsawan. Dimanjakan dengan limpahan kemewahan, terjaga kehormatan ditengah tergerusnya arus zaman, hatinya tak tergoyahkan pada cinta pandangan pertama pada pengamen jalanan yang ditemuinya pertama kali dengan wajah dekil dan pakaian kumal, namun lelaki ini tetap suci dimatanya sampai hatinya tak berpaling pada lelaki lain. Cinta yang hebat. Ternyata nilai setia itu lebih mahal yang tidak lagi dimiliki wanita lajang saat ini.


🌷🌷🌷🌷🌷


Setelah mengetahui Roby sudah pulih sepenuhnya, nenek Yati lebih mengoptimalkan kinerja para pengawalnya untuk mengawasi pergerakan musuh yang akan di kirim oleh tuan Robert pada pasangan ini.


Setiap kali Roby ke perusahaan ibunya Rhihana, yang sengaja diangkat Rhihana menjadikannya seorang CEO perusahaan besar itu.


Walaupun bekerja di perusahaan yang berbeda dengan tempat yang berbeda, keduanya saling melakukan panggilan video call setiap satu jam sekali.

__ADS_1


Saking kangennya mereka setiap kali terpisah karena pekerjaan, Rhihana membuat meeting zoom berupa layar lebar di ruang kerja keduanya agar saling berkomunikasi setiap saat.


"Aku mau makan siang sayang, kita ketemu di mana?" Tanya Rhihana.


"Di restoran seafood area Ancol." Ujar Roby.


"Ok aku yang akan menjemputmu." Ucap Rhihana.


Roby yang masih sibuk dengan pekerjaannya hanya mengangguk. Mobil Rhihana meluncur ke perusahaan Roby. Lima mobil mengawal mobil Rhihana depan dan belakang, dua di depan dan tiga lagi di belakang. Setiap mobil sudah di pasang kaca anti peluru. Rhihana juga harus memakai rompi anti peluru setiap kali berpergian.


Satu orang Rhihana meninggal, maka semua nasib para karyawannya akan berpindah status pada mafia lainnya karena rantai perusahaan itu akan diwariskan jika pemegang tampuk kekuasaan pertama meninggal.


Walaupun memiliki seorang pewaris seperti Tania, ia harus menunggu sampai usia tujuh belas tahun untuk memimpin kerajaan bisnis milik kakek buyutnya itu.


Roby berjalan cepat menuju mobil Rhihana, kedua sudah bergerak menuju Ancol. Area sekitar Ancol sudah disterilkan oleh para pengawal sehingga keduanya memasuki area itu tanpa rasa kuatir.


Makanan yang mereka pesan harus di kawal oleh pengawal ketika koki restoran itu sedang memasak. Makanan dicoba terlebih dahulu oleh pengawal sebelum di makan oleh majikan mereka.


"Kamu kangen dengan tempat ini sayang?" Tanya Roby pada istrinya.


Ia juga harus menyuap untuk Rhihana karena wanitanya lebih sibuk memisahkan daging kerang dan kepiting dari cangkangnya.


"Kita bisa ke sana Minggu depan karena pekerjaanku sudah sedikit longgar." Ucap Roby.


"Jangan pernah merencanakan perjalanan kita kemana pun, jika ingin pergi ke suatu tempat lakukan dengan secara mendadak karena kita tidak tahu mana lawan mana kawan di antara pengawal kita itu yang diajarkan ayah saya ketika masih hidup, karena nyawa mereka setiap saat terancam.


"Ternyata jadi orang hebat itu nggak enak juga ya, semuanya harus diawasi." Roby mengeluhkan kondisi Rhihana yang setiap saat harus berurusan dengan para mafia yang ingin merebut kekuasaannya.


"Aku tidak lagi kembali ke perusahaan sayang setelah makan siang, aku ingin ketemu dengan putriku." Ucap Roby.


"Baiklah, kita akan bagi tugas untuk menemaninya agar Tania tidak merasakan kesepian." Timpal Rhihana.


Keduanya sudah menyelesaikan makan siang mereka. Roby naik ke salah satu mobil pengawal, sedangkan Rhihana dengan mobilnya kembali ke perusahaan karena ada meeting mendadak hari itu.


Roby menuju mansion menemui putri kecilnya Tania.

__ADS_1


"Ayah...ayah..!" Teriak Tania semangat dan langsung melompat ke tubuh Ayahnya.


"Putri cantik ayah lagi main apa?" Tanya Roby sambil menggendong putrinya.


"Tania lagi nonton lagu ayah. Lagu anak-anak. Lagu bagus. Tania ingin menjadi penyanyi seperti ayah dan bunda." Ucap Tania serius.


"Uhmmm!" Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang Tania belajar bernyanyi dengan ayah. Hari ini ulang tahun bunda, Tania mau bantu ayah, buat surprise untuk bunda?"


"Berarti nanti ada banyak balon di rumah kita?" Tania sangat senang bermain balon ayah." Ujar Tania.


"Ayah sudah beli banyak balon, kita buat balon yang banyak terus dihias di atas sini, nanti pelayan yang akan bantu kita." Ucap Roby lalu menurunkan lagi putrinya dan ia memberikan bungkusan balon itu pada tiga orang pelayan untuk mengembangkan balon itu dengan pompa gas.


Roby menuju ke kamarnya untuk mengganti baju. Ia juga memesan buket bunga mawar segar dan bunga lainnya sebagai hiasan di ruang keluarga.


Para pelayannya sudah mulai memasang lampu kelap-kelip di sepanjang tangga.


Tania sangat suka dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini.


"Wah, bagus sekali ayah. Bunda pasti suka." Ucap Tania dengan memegang dua buah balon di tangannya.


"Bibi Lia, apakah kuenya sudah siap?" Tanya Roby pada pelayannya yang dipinta untuk membuat kue ulang tahun untuk sang istri tercinta.


"Lagi dihias Tuan Roby, sebentar lagi selesai. Jam berapa nona Rhihana pulang Tuan?" Tanya pelayannya.


"Mungkin sekitar jam tujuh malam bibi, lakukan saja semuanya sesuai dengan permintaanku, aku ingin Rhihana pulang, kita hanya menyambutnya dengan meriah.


"Makanannya sudah ada yang matang duluan Tuan, yang lain masih proses." Ucap bibi Lia.


"Bagus kalau begitu persiapkan diri kalian dengan baju terbaik yang kalian punya, malam ini kita pesta." Ucap Roby membuat para pelayannya sedikit bengong mendengar ucapan Roby.


"Mohon maaf Tuan!" Bukankah banyak tamu undangan yang akan hadir malam ini?" Tanya bibi Lia yang takut menyimpulkan permintaan Roby.


"Aku tidak mengundang siapapun untuk hadir di acara pesta ulang tahun istriku. Kalian adalah tamu kami. Jadi persiapkan diri kalian juga, kita malam ini akan merayakan ulang tahun istriku. Jangan merasa sungkan karena kalian di sini adalah keluarga kami bukan pelayan biasa." Ucap Roby membuat para pelayan yang membantunya saat ini merasa sangat terharu.


"Ya Allah Tuan, terimakasih banyak, sudah menganggap kami keluarga dan mau mengundang kami menjadi tamu undangan di pesta ulang tahun nona muda Rhihana." Ucap bibi Lia yang mewakili teman-temannya sesama pelayan.

__ADS_1


"Ok, tunggu apa lagi, sekarang sudah hampir jam lima sore, sebaiknya kalian bergegas untuk tampil terbaik di acara pesta ulang tahun istriku." Ucap Roby lalu mengajak Tania menghias balon yang masih tersisa.


__ADS_2