SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
17. TUAN ROBERT


__ADS_3

Setelah Roby mengetahui bahwa pembunuh kedua mertuanya adalah ayah angkatnya sendiri, ia makin membenci dan tidak berniat lagi untuk menemui ayah angkatnya tersebut.


Ia baru ingat, lima tahun yang lalu ayahnya pernah pamit kepadanya untuk berpergian ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya.


Rupanya ia hanya pamit kepada Roby untuk menyusun rencana jahatnya yang ingin mengusai bisnis keluarga Rhihana. Yang lebih menyakitkan lagi, Tuan Robert tega membunuh orangtua kekasihnya dan juga melukai kekasihnya tersebut.


Rhihana yang sangat takut jika Tuan Robert akan datang mencari Roby di kediamannya, meminta suaminya untuk menemui ayah angkat dari suaminya itu.


"Lebih baik kamu pulang sayang daripada ayahmu datang dan mengetahui jika aku adalah istrimu, tidak menutupi kemungkinan ia akan membunuh kita berdua." Pinta Rhihana sambil memeluk suaminya dari balik punggung kekar itu.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian sayang, aku tidak ingin lagi berpisah denganmu setelah sekian lama kita tidak tidak bertemu. Aku sangat takut hal itu terjadi lagi." Ucap Roby lalu membalikkan tubuhnya menghadap istrinya.


"Sayang, aku mohon temuilah dia sebentar, katakan niat baikmu bahwa kamu tidak akan lagi berurusan dengannya dan lebih fokus dengan keluarga kita." Rhihana terus membujuk suaminya agar menuruti kata-katanya.


"Baiklah, aku akan menemui Tuan Robert dan akan kembali kepadamu untuk selamanya. Berjanjilah padaku, setelah aku berangkat ke Paris, kamu harus menjaga keselamatanmu!" Roby mengecup bibir istrinya.


"Nah itu baru suamiku, kamu harus belajar menghadapi suatu masalah dengan menyampingkan rasa egomu. Dengan cinta kita yang besar, insyaallah kita tidak akan berpisah lagi, kita doakan semoga Tuan Robert mau mengerti bahwa kamu punya kehidupan sendiri di sini bersamaku. Kamu tahukan aku tidak mungkin menemuinya karena jantungku tidak akan kuat melihat wajahnya yang menakutkan itu." Rhihana menyampaikan alasannya yang sangat masuk akal agar suaminya mengerti.


Setelah memikirkan matang-matang, langkah yang akan diambilnya, seminggu kemudian Roby berangkat ke Paris dengan menggunakan pesawat komersil.


Ia tidak ingin menggunakan pesawat jet milik istrinya yang sudah ia hadiahkan pada Rhihana kecuali mereka berangkat bersama.


Dengan berat hati, Roby harus meninggalkan istrinya ketika mereka sudah berada di bandara Soekarno Hatta.


"Jaga dirimu sayang, tetap makan teratur dan kabari aku terus setiap dua jam sekali agar aku mengetahui keadaanmu." Ucap Roby seraya memeluk erat tubuh istrinya.


"Kabari aku juga setelah sampai di bandara setempat." Timpal Rhihana lalu mengecup suaminya dengan mesra.


"Setelah urusanku selesai aku akan langsung pulang. Muuuaaacchhh!" Kecupan terakhir itu sebagai tanda perpisahan mereka.


Roby mengantri diantara para penumpang ketika petugas memeriksa tiketnya untuk menuju ruang boarding pass.


Roby terus menatap wajah istrinya sampai melewati pemeriksaan. Rhihana melambaikan tangannya ketika punggung suaminya sudah tidak terlihat.


Di saat suaminya sudah berada di pesawat, Rhihana baru menumpahkan bulir bening yang sudah penuh menyekat tenggorokannya. Ia menangis sesenggukan di di dalam mobilnya.


Perpisahan yang kedua ini seakan lebih menyakitkan, karena Roby pergi di saat mereka sudah menikah. Tidak lama ada pesan masuk ke ponselnya, Rhihana membuka pesan itu dan membacanya yang ternyata dari suami tercinta.


"Sayang, pesawatku sebentar lagi akan tinggal landas, aku berangkat ya, aku sekarang sudah merindukanmu, rasanya ingin turun lagi menemuimu, sekarang ku mohon kamu pulang karena setiap saat musuh bisa saja sedang mengintaimu." Tulis Roby pada pesan WhatsApp.


"Cepatlah kembali untukku, aku akan menunggumu dengan setumpuk rinduku. Aku mencintaimu jiwaku." Balas Rhihana melalui pesan WhatsApp.

__ADS_1


"Aku pasti merindukan sesi percintaan panas kita, aku mencintaimu hatiku." Pesan terakhir itu di tambahkan dengan banyak emoticon.


Bukannya merasa senang mendapat pesan dari suaminya, Rhihana malah menangis sejadi-jadinya. Hal ini juga dirasakan oleh Roby yang tidak sadar telah menitikkan air matanya di dalam pesawat.


Pesawat itu sudah mengudara, meninggalkan lagi tanah air menuju negara tujuan Paris Perancis. Kota yang membesarkan namanya Roby yang merupakan bagian dari mafia.


🌷🌷🌷🌷


Tiba di mansion, Rhihana seakan kehilangan semangatnya untuk melakukan sesuatu. Baru saja ia menghempaskan tubuhnya. Nenek Yati menghubungi dirinya. Rhihana mencari ponsel didalam tasnya. Ia pun melihat panggilan masuk dari nenek Yati.


"Hallo!" Sapa Rhihana dengan nada malas.


"Ana, dengar sayang, kamu telah menikahi lelaki yang salah karena dia adalah anak dari ketua mafia yang telah membunuh kedua orangtuamu." Ucap nenek Yati dari seberang telepon.


"Aku sudah tahu nenek, Roby sudah menceritakan semuanya padaku dan aku sudah memberitahu suamiku bahwa Tuan Robert lah yang telah membunuh ayah dan bundaku." Timpal Rhihana.


"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya, jika kamu sudah tahu mengapa nekat menikah dengannya."


"Tolong nenek jangan marah dulu, Roby itu hanya anak angkat dan aku mengenal Roby saat kami masih remaja, aku juga baru tahu Tuan Robert itu belakangan ini ketika aku ingin melihat sosok ayah angkat suamiku di galeri foto di ponsel Roby.


Awalnya aku sangat syok, tapi ketika didesak Roby untuk menceritakan mengapa aku sangat takut ketika melihat foto ayah angkatnya itu." Imbuh Rhihana lagi.


"Awalnya dia ingin memutuskan hubungannya dengan Tuan Robert begitu saja, tapi ketika Tuan Robert menghubunginya agar Roby segera pulang ke negaranya atau dia yang akan mendatangi Roby.


Mendengar itu, aku sangat takut jika ia tahu aku adalah putri dari ayahku Tuan Gahral, aku pun memintanya untuk menemui ayah angkatnya itu, sebelum tuan Robert mengetahui aku putri dari musuhnya yang masih ia incar saat ini." Ungkap Rhihana panjang lebar.


"Apakah dia sudah menemui ayahnya itu?" Tanya nenek Yati.


"Barusan suamiku kembali lagi ke Paris Perancis nenek, aku mohon jangan ganggu aku karena saat ini hatiku lagi sedih karena berpisah lagi dengan suamiku." Ucap Rhihana yang sudah tidak betah mendengar ocehan nenek Yati.


"Baiklah, istirahatlah sayang, nenek akan menambahkan penjagaan ketat di kediamanmu dan kamu akan dikawal ke manapun kamu pergi." Ucap nenek Yati mengakhiri sambungan teleponnya dengan putri majikannya itu.


Rhihana menghempaskan lagi tubuhnya, ia pun berusaha untuk memejamkan matanya namun sangat sulit untuk terpejam.


Ia kemudian mengambil buku diary miliknya untuk menulis lagi puisi untuk sang suami.


Kata-kata indah nan sedih tertoreh indah di atas kertas putih itu, air matanya terus jatuh setiap kali pena itu menari lincah diatas kertas yang menjadi tumpahan semua perasaannya entah sedih, kecewa maupun sakit hati, puisi itu telah mengobati perasaannya.


Puisi


..."Aku harap bukan aku yang menjadi penghalang cinta kita, antara kau dan jarak yang terbentang cukup jauh, namun aku tak mampu marah, untuk menyekat jarak itu agar lebih dekat dengan ku kini....

__ADS_1


...Mungkin sementara waktu aku membiarkan dia ada di antara kita, biarlah dia menjauhkanmu sampai tak terukur, walaupun makin melebar karena waktu yang kini makin menyakitkan, melampaui batas kesabaranku, walaupun hanya sekejap saja karena janjimu untuk kembali lagi padaku....


...Aku akan selalu menyimpan setiap momen kebersamaan kita, agar merasakan kamu masih ada disini, walaupun ragamu menjauh dariku namun tidak perlu harus ku bunuh rinduku....


...Aku akan selalu menantimu dengan berjuta harapanku, biarkan saja seperti ini, agar aku bisa membalaskan dendam kesumat rinduku, menggempur kita hingga terkapar dua tubuh di atas ranjang penantian, yang menjadi saksi di saat kita saling mengecap manisnya kerinduan saat sudah berbagi kasih meleburkan hasrat kita yang belum semuanya kita tuntaskan."...


Baru beberapa bait puisi itu dibuat, tiba-tiba Rhihana merasakan mual yang amat sangat. Ia pun buru-buru ke kamar mandi untuk memuntahkan rasa tidak enak dalam perutnya.


Iapun kemudian meminta pelayannya untuk membantunya. Dengan menggunakan pesawat telepon yang tersedia di kamarnya untuk memanggil pelayan jika ia membutuhkan sesuatu.


"Bibi Lala, tolong segera ke kamar Ana. Aku lagi nggak enak badan bibi, barusan aku muntah." Ucap Rhihana lirih, memberi tahukan kondisinya pada pelayannya.


"Ya Allah non Ana, iya deh bibi sekarang ke kamar nona Ana." Ucap bibi Lala sembari mencari minyak kayu putih di kotak obat.


Bibi Lala masuk ke kamar Rhihana dan mendapati gadis itu dengan wajah yang sangat pucat.


"Nona Ana masuk angin?" Tanya bibi Lala yang sudah siap dengan obat gosok untuk mengolesi perut dan punggung Ana sambil memijit tubuh gadis itu.


Bibi Lala yang terkenal pintar urut ini, di pinta Rhihana sekalian mengurut tubuhnya yang saat ini memang terasa pada pegal.


"Bibi tolong urut badan Rhihana, karena badanku rasanya pada sakit semua." Pinta Rhihana.


"Kalau begitu tanggalkan bajunya dan urutnya di karpet saja, karena lebih enak." Ucap bibi Lala yang memang sudah biasa mengurut tubuh nona mudanya ini.


"Sejak kapan nona sakit?" Tanya bibi Lala.


"Barusan bibi, tiba-tiba saja Rhihana merasa mual dan langsung muntah tadi." Ujar Rhihana.


Bibi Lala seakan mencurigai sesuatu, setelah mendengar pengakuan Rhihana.


"Biasanya pasangan pengantin baru yang baru saja pulang dari bulan madu yang cukup lama waktunya pasti bawa oleh-oleh yang sangat berharga non Ana." Ucap bibi Lala sambil mengurut punggung Rhihana.


"Oleh-oleh apa sih bi?" Kan oleh-olehnya sudah dibagi rata pada kalian semua. Tidak ada yang terlalu berharga bibi Lala." Timpal Ana yang memang belum mengerti tujuan ucapan bibi Lala pada dirinya.


"Ya Allah nona Ana, masa begitu saja nggak mengerti sih maksudnya bibi."


"Maksudnya apa sih bibi Lala, kalau ngomong jangan suka pakai tebak kata, Ana nggak paham." Rhihana protes pada pelayannya ini.


"Maksudnya bibi Lala, kalau nona Ana mual terus muntah, apa lagi baru pulang dari bulan madu, mungkin saja nona Ana saat ini sedang hamil anak Tuan Roby. Itu oleh-oleh berharganya nona Ana cantik." Ucap bibi Lala, lalu cekikikan sendiri.


"Oh itu maksudnya, kalau dari tadi bibi Lala langsung bicara seperti ini, Ana sangat paham." Ucap Ana yang ikut terkekeh walaupun hatinya sangat sedih mengetahui dirinya hamil namun suaminya tidak ada di sisinya kini.

__ADS_1


__ADS_2