SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
26. CEMBURU


__ADS_3

Dokter Andra meninggalkan kamar inap milik putrinya Rhihana. Nenek Yati hanya tersenyum sinis ketika melihat gelagat dokter Andra yang ingin mendekati putri majikannya.


"Bagaimana keadaan suamimu sayang?" Tanya nenek Yati setelah dokter Andra pergi.


"Belum sadar nenek, tapi dia tadi merespon ketika aku bermain gitar dan bernyanyi untuknya dengan lagu kesukaan kami. Maksudnya lagu ciptaannya nenek." Ucap Rhihana dengan wajah sumringah.


"Alhamdulillah, kalau ada perkembangannya, setidaknya dengan air matanya menunjukkan bahwa dia sudah mengingatmu hanya saja belum bisa sadar sepenuhnya. Bersabarlah sayang, semua ada jawabannya. Ia akan sembuh dalam waktu dekat ini, hanya saja belum kuat untuk bangkit dan melihatmu." Ujar nenek Yati.


"Aku menyesal nenek, sudah menambah sakitnya Roby karena amarahku yang spontan menamparnya." Ucap Rhihana lalu menyenderkan kepalanya di pundak nenek Yati.


"Sayang, seorang ibu akan melakukan apapun ketika nyawa anaknya terancam. Kamu hanya menggunakan naluri keibuanmu untuk melindungi putrimu." Imbuh nenek Yati.


"Aku rindu pada suamiku nenek, aku takut dia akan melupakan aku selamanya." Seru Rhihana.


"Hussstt!" Nggak boleh ngomong begitu sayang." Nenek Yati mengusap kepala Rhihana.


"Aku putus asa nenek, kita bisa mendapatkannya kembali tanpa bersusah payah mencarinya karena dia sendiri yang datang padaku." Rihanna bersyukur atas pertemuannya dengan Roby walaupun kembali dalam keadaan lupa ingatan.


"Jadi orang tuh harus sabar kalau pingin hidup bahagia selamanya. Neng Rhihana harus bersyukur, walaupun neng Rhihana itu yatim-piatu, tapi tidak kekurangan apapun, nah sekarang Tuhan sedang mengujimu melalui suamimu, agar kamu lebih kuat menjalani hidup.


Tuhan itu selalu kasih masalah kepada hambaNya dengan di sertai solusi dengan mudah, percaya deh sama nenek." Nenek Yati membesarkan lagi hati Rhihana yang sempat jatuh karena keadaan suaminya yang tak kunjung sadar.


Keesokan harinya, baby Tania sudah diijinkan pulang oleh dokter. Rhihana membawa pulang putri kecilnya itu dengan sangat bahagia.


Gadis kecil itu terus berceloteh tentang ayahnya yang tidak menemaninya sampai saat ini. Rhihana mencoba mencari alasan agar putrinya mengerti.


"Bunda, Tania pingin ketemu ayah." Tania merengek pada ibunya.


"Sayang, ayah perginya jauh banget, jadi sulit untuk ketemu Tania sekarang." Ujar Rhihana menenangkan putrinya.


"Terus kapan ayah pulang?" Tanya Tania.


"Yah paling dua hari lagi ayah pulang, gimana kamu senang?" Rhihana memberi harapan palsu pada putrinya.


Ia sendiri bingung harus menjawab apa pada putrinya yang terus-menerus merengek minta bertemu dengan ayahnya.


"Roby sayang, tolong cepat sadar dan sembuh, putri kita dan aku merindukanmu." Ucap Rhihana lalu mengajak putrinya bermain boneka di kamarnya.


🌷🌷🌷🌷


Tiga hari kemudian, Rhihana kedatangan seorang tamu yang merupakan Tuan Rafly yang masih mengharapkan cinta Rhihana.


Lelaki itu dengan percaya diri mendatangi mansion Rhihana dengan alasan membesuk putri kecil Tania.


"Adik cantik siapa namanya?" Tanya Rafly so kebapakan.


"Tania." Jawab Tania dengan lidah cadelnya.

__ADS_1


"Tania sudah sembuh?"


"Sudah."


"Ini om bawakan Tania hadiah." Ucap Rafly sembari menyerahkan paper bag kepada Tania.


"Terimakasih om." Ucap Tania tanpa ekspresi.


"Tania mau nggak kalau om jadi ayah Tania?" Rafly nekat melamar Rhihana di depan putri kecil Rhihana.


"Ayah siapa yang anda maksud?" Suara menggelegar dari belakang tubuh Rhihana dan Rafly yang melihat sumber suara itu.


"Ayahhh!" Teriak Tania melompat ke pelukan Roby.


"Sayang...putri ayah.. muuuacch!" Roby mengecup kedua pipi Tania.


Rafly dan Rhihana hanya termangu melihat kedatangan Roby yang tiba-tiba.


"Kamu tidak memeluk suamimu ini Ana?" Roby merentangkan kedua tangannya agar istrinya datang menghampirinya.


"Roby... hiks...hiks..!" Rhihana menghamburkan pelukannya kepada pria yang selama ini yang sudah membuat hatinya merindu setiap saat.


Rafly diam-diam meninggalkan tempat itu, ia tidak mau jadi nyamuk diantara pasangan yang dilanda kangen berat ini.


Roby sibuk memeluk dua bidadarinya sambil menangis. Roby mengecup bibir Rhihana dan pipi Tania secara bergantian.


Para pelayan mansion Rhihana yang melihat itu ikut terharu. Nenek Yati hanya mendongak wajahnya ke langit dengan ucapan syukur tak terhingga.


Tania seakan takut kehilangan lagi ayahnya, ia terus bergelayut di leher ayahnya dan tidak memberikan kesempatan kepada bundanya untuk ikut merasakan pelukan hangat itu.


"Tania mau main boneka?" Tanya bundanya.


"Tania mau sama ayah, nggak mau sama boneka." Jawabnya mengundang tawa kedua orangtuanya.


Mereka pun tidur bertiga di kasur. Roby berada ditengah diapit oleh dua bidadarinya.


"Bagaimana kamu bisa pulang sayang? Bukankah kamu masih terbaring lemah di brangkar kemarin saat aku melihatmu terakhir kali?" Rhihana penasaran dengan kesembuhan suaminya.


"Sarah mengatakan kepadaku bahwa banyak cowok yang mengantri melamarmu. Itu yang membuat aku sangat takut." Ujar Roby mengisahkan bagaimana Sarah meledeknya.


**FLASH BACK


Di ruang inap VVIP**


"Tuan Roby, kamu tidur dengan tidak sadarkan diri dan juga dalam keadaan amnesia, sedangkan istrimu jadi incaran para pria hidung belang. Mereka akan melamar wanitamu jika kamu tidak cepat sadar." Sarah membisikkan kata-kata yang menusuk hati Roby.


Seketika mata Roby terbelalak, ia langsung menangkap tangan Sarah ketika gadis itu hendak berbalik untuk duduk lagi disofa.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan nona?" Tanya Roby dengan memegang erat pergelangan tangan Sarah.


"Tuan Roby apakah anda sudah sadar?" Sarah membekap mulutnya merasa tidak percaya Roby langsung bangun dan duduk menanyakan istrinya pada Sarah.


"Katakan kepadaku siapa yang berani melamar istriku di saat aku masih hidup dan aku masih sah menjadi suaminya." Roby berujar dengan mengatupkan rahangnya hingga terdengar gemeretuk giginya terdengar nyaring.


"Alhamdulillah, berarti Tuan Roby sudah ingat pada nona Rhihana sebagai istri Tuan?" Sarah ingin memastikan apa yang di dengarnya barusan.


"Aku mau pulang sekarang, aku ingin bertemu dengan istri dan putriku." Roby turun dari brangkar dan meminta Sarah menyiapkan bajunya.


Sarah buru-buru mengambil stelan kemeja dan celana panjang untuk Tuannya dan menyerahkannya pada Roby. Walaupun kepalanya masih terbalut perban, Roby tetap kelihatan tampan.


"Sarah jangan kabarkan kepada siapapun kalau akan pulang, apa lagi istriku tidak boleh tahu kalau aku sudah sembuh. Kamu mengerti?" Roby memperingatkan pengawal pribadi istrinya ini.


"Iya Tuan Roby, saya paham, silahkan ikut saya. Mobilnya sudah di siapkan." Sarah membuka pintu kamar rumah sakit itu untuk Tuannya. Roby melangkah keluar dan Sarah mengikuti langkahnya dari belakang.


Di dalam mobil, Roby masih menahan geram. Ia ingin cepat sampai mansion untuk bertemu istri dan putrinya.


Sarah menambah kecepatan mobilnya agar Tuannya cepat tiba di mansionnya.


Setibanya di mansion, para pelayan begitu kaget melihat Roby. Ketika ingin memberi tahukan kedatangan Roby, pria tampan itu mencegahnya karena sudah melihat ada mobil lainnya yang merupakan milik tamu penting yang saat ini sedang menemui Rhihana.


"Tuan Roby!" Ucap para pelayan itu serentak sambil memandang diantara mereka.


"Aduh bagaimana ini?" Hari ini bisa ada keributan besar di mansion ini." Ucap Bibi Rani.


"Kenapa tidak ada informasi sebelumnya jika Tuan Roby sudah sadar dari komanya?" Setidaknya kita bisa menyiapkan diri untuk menyambutnya secara formal." Ucap Andin.


"Sudahlah, tugas kita di sini melayani majikan kita bukan untuk mengurus rumah tangga mereka. Kalau dipikirin lama-lama aku juga kena amnesia seperti Tuan Roby." Ucap Rani.


"Hustt!" Kalau ngomong itu hati-hati, jangan asal ucap, setiap kalimat keburukan yang keluar dari mulut kita bisa jadi doa, jika malaikat lewat, bakal di aminin sama para malaikat." Ujar Andin kesal dengan teman seprofesinya ini.


"Yuk kita kembali ke pekerjaan kita saja dari pada melihat kejadian yang bakalan heboh hari ini." Ajak Andin.


Mereka membiarkan Tuan Roby yang sedang memperhatikan gerak gerik rivalnya yang saat ini sedang melakukan pendekatan dengan istri dan putrinya.


"Sialan!" Gue masih hidup orang ini bisa-bisanya merayu bini gue, apakah dia mau cari mati?" Roby mengepalkan kedua tangannya erat dengan mengatupkan rahangnya mengeras, sehingga bunyi gemeretuk giginya terdengar jelas.


"Tuan apakah saya harus memberi tahu nona Rhihana bahwa anda sudah pulang dari rumah sakit?" Tanya pelayan itu ragu.


Roby enggan untuk meladeni tawaran pelayan padanya karena saat ini ia sedang fokus dengan Tuan Rafly yang masih getol untuk melancarkan rayuan mautnya pada Rhihana, istrinya.


Roby hanya berdiri di luar sambil berpikir keras apa yang harus ia lakukan untuk bisa melabrak laki-laki yang tidak tahu malu itu yang ingin merebut perhatian istrinya.


"Cih, dia kirain dia siapa hingga percaya diri sekali ingin menaklukkan hati istriku. Tampang bodohnya saja sudah membuat Ana muak apa lagi berusaha untuk menerima begitu saja tawaran dia. Ini sangat menyebalkan sekali." Ucap Roby kesal.


Setelah dipikirkan baik buruknya, ia lalu berusaha menenangkan dirinya dalam menyelesaikan masalahnya dengan istrinya dengan cara mengusir lalat pengganggu itu dengan cara yang gentleman.

__ADS_1


Roby menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan lembut lalu melangkah dengan gagah menemui tamu bren*sek itu dan kedua bidadarinya.


__ADS_2