SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
18. TANGIS


__ADS_3

Sore harinya, ditemani pengawalnya, Rhihana berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya ke dokter, karena mualnya tidak mau berhenti.


Ia menyampaikan keluhannya tentang kondisi tubuhnya pada dokter yang saat ini sedang menangani sakitnya. Ia yang tidak paham dokter mana yang akan ia tuju untuk konsultasi sakit yang dideritanya saat ini.


Dokter umum yang saat ini ia sedang berkonsultasi. Dokter Laila tersenyum saat memeriksa keadaan pasiennya. Rhihana sedikit heran dengan ekspresi dokter yang tersenyum saat memeriksanya.


"Dokter bagaimana dengan kondisi saya dokter?" Tanya Rhihana yang sedang mengancing lagi baju atasannya.


"Selamat nona, saat ini anda sedang hamil. Apakah suami anda tidak ikut?"


"Suamiku tadi pagi baru berangkat keluar negeri." Rhihana merasakan sangat sedih, berita sepenting ini suaminya tidak ikut mendengarkannya.


"Sebaiknya anda ke dokter kandungan, mungkin anda bisa mengetahuinya lebih lanjut kehamilan anda langsung dengan dokter spesialis kandungan." Ucap dokter Laila yang merekomendasikan dokter Andra yang saat ini sedang praktek.


"Terimakasih dokter, kalau begitu saya permisi." Ucap Rhihana langsung meninggalkan ruang praktek dokter Laila menuju ruang praktek dokter Andra.


Sekitar tiga ratus meter, Rhihana berjalan menuju ruang dokter Andra. Kebetulan pasien ibu hamil yang tersisa hanya satu orang, jadi prosesnya begitu cepat dan Rhihana tidak perlu menunggu lama.


"Selamat sore dokter!" Ucap Rhihana yang sudah duduk di depan meja dokter Andra.


"Ada keluhan apa nona?" Tanya dokter Andra yang usianya tidak jauh berbeda dengan usia Rhihana saat ini.


"Saya baru memeriksakan kondisi saya ke dokter Laila dan beliau merekomendasikan Anda untuk saya berkonsultasi dan ini surat dari beliau tentang laporan medis saya." Ucap Rhihana seraya menyerahkan amplop putih pada dokter spesialis kandungan yaitu dokter Andra.


Dokter Andra membaca surat dari dokter umum yaitu dokter Laila. Ia kemudian meminta Rhihana berbaring.


"Silahkan nona!" Titah dokter Andra.


Rihanna membaringkan tubuhnya dan menunggu apa yang dilakukan oleh dokter muda ini.


Dokter Andra mengkondisikan perut Rhihana untuk bisa diolesi jeli untuk mendeteksi perkembangan janin yang saat ini ada dalam rahimnya.


"Kandungan anda sudah berjalan dua bulan nona, sesuai dengan laporan terakhir menstruasi Anda." Ucap dokter Andra kemudian membersihkan kembali perut Rhihana dari jeli.


"Alhamdulillah, apakah semuanya baik-baik saja dokter?"


"Sejauh ini sangat baik kondisi calon janinnya. Nanti dua bulan lagi anda bisa menemui saya untuk konsultasi lagi lebih lanjut untuk mengetahui perkembangan janinnya." Dokter Andra menuliskan resep obat penghilang mual dan vitamin untuk ibu muda ini.


"Terimakasih dokter, saya permisi dulu." Rhihana pamit kepada dokter muda tersebut.


Sepeninggalnya Rhihana, dokter Andra merasa hatinya sangat lega karena sepanjang memeriksa Rhihana, hatinya berdebar sangat kencang melihat kecantikan dan kelembutan Rhihana. Jiwa mudanya seakan tersihir oleh pesona Rhihana yang begitu mengagumkan.


"Ada apa dengan diriku ini? Mengapa aku tiba-tiba merasa sangat gugup menghadapi gadis itu? Apakah dia hamil di luar nikah? Mengapa dia datang sendiri kalau dia sudah menikah?" Ah!" lebih baik aku pulang. Suster tolong beresin semuanya, aku duluan ya." Dokter Andra segera meninggalkan ruangannya.


Rhihana yang di temani dua pengawal wanita yang saat ini berjalan dibelakangnya. Dokter Andra sempat melihat pasiennya itu merasa kalau Rhihana bukanlah orang sembarangan.


"Apakah dia istri seorang pejabat atau konglomerat?" Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


Rhihana ingin mengabari suaminya tentang kabar kehamilannya, tapi mengingat pesan Roby yang berjanji akan pulang secepatnya membuat ia mengurungkan niatnya untuk mengabarkan kebahagiaannya saat ini bahwa ia sudah menjadi calon seorang ibu.


Keesokan harinya, Roby langsung menghubungi istrinya ketika sudah sampai di Paris Perancis. Ia tidak segera ke mansion Tuan Robert tapi, ia menginap dulu di hotel mewah yang ada di kota yang terkenal romantis itu.


"Hallo, apakah aku boleh bicara dengan nona Rhihana?" Roby sedang bercanda dengan istrinya.


"Apakah ini suaminya Nyonya Roby?" Balas Rhihana.


"Sampaikan kepadanya, bahwa cintaku sangat besar untuknya." Roby terlihat cekikikan di seberang telepon.


"Tolong sampaikan kepada suamiku, rinduku saat ini sudah meluber hingga ujung seluas samudera." Rhihana makin menggoda suaminya.


Karena tidak tahan hanya lewat suara Rhihana melakukan sambungan via call.


Rhihana yang sengaja menggunakan lengerie se*si, di tambah lagi dengan aksesoris cantik berupa kalung berlian dari suaminya sebagai maharnya waktu mereka menikah.


Tubuh Rhihana yang sangat indah walaupun saat ini sedang hamil muda. Rihanna memperlihatkan dirinya di hadapan suaminya.


"Apakah kamu sedang menggodaku baby?" Tanya Roby yang sudah panas dingin menatap keseluruhan tubuh istrinya.


" Kamu suka sayang?" Suara Rhihana terdengar makin manja nan menggoda. Ia kemudian mulai membuka lengerie dan sekarang hanya tersisa pakaian dalam.


"Jangan menyiksaku sayang, apakah kamu ingin aku menghukummu nanti?" Timpal Roby yang melihat Rhihana sudah mencopot pakaian dalamnya.


"Oh Baby, aku hampir gila Jika kamu seperti itu." Suara Roby makin berat karena menahan birahinya yang mulai memanas.


Rhihana makin menjadi, ia melakukan gerakan-gerakan erotis seperti penari striping.


"Bagaimana kamu bisa tanggung jawab dengan ini?" Roby menunjukkan miliknya yang sudah nampak bangun.


"Aku ingin kamu cepat pulang, kalau tidak aku akan terus menyiksamu dengan melakukan seperti ini." Rhihana makin mendoktrin suaminya dengan hal-hal yang menggoda dirinya.


"Aku akan pulang secepatnya sayang, tunggulah aku." Roby mengakhiri percakapan mereka karena tidak kuat lagi melihat tubuh molek istrinya.


Keduanya saling memberikan kecupan mesra dari jarak jauh dan menyampaikan kata-kata rindu yang kian menantang.


Jiwa ibu hamil ini merasa sangat kacau karena tidak bisa memberi tahukan suaminya bahwa dirinya saat ini sedang hamil. Ia menahan dirinya agar memberi tahunya secara langsung supaya mereka bisa merayakan kebahagiaan mereka dengan sesuatu hal yang romantis.


"Rhihana, oh sayang!" Aku makin gila dibuatmu. Apa aku tidak perlu menemui pembunuh itu. Aku lebih membutuhkan istriku saat ini dari pada menyenangkan Tuan bren**k itu." Ungkapnya sambil mencium foto istrinya.


Di kediaman Rhihana, gadis itu hanya menangis tersedu karena tidak kuat berpisah dengan suaminya. Sekarang ia baru merasa menyesal telah membiarkan suaminya menghadapi pembunuh itu.


"Roby, cepat pulang!" Teriaknya dalam kesepian.


Ia menangis semalam hingga tertidur.

__ADS_1


Roby yang masih merindukan istrinya, menghubungi lagi wanitanya Keesokan harinya. Namun Rhihana yang tidak tahu suaminya saat itu menelepon dirinya, menyimpan ponselnya di laci meja kerjanya karena saat ini ia sedang memimpin rapat dengan para pemegang saham.


"Kenapa tidak diangkat, apakah saat ini dia sedang meeting." Roby pun beringsut dari kasur empuknya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Rencananya ia akan menemui ayah angkatnya itu dan ingin menyelesaikan semua urusannya agar ia bisa kembali lagi ke Indonesia secepatnya.


Rhihana yang baru selesai meeting siang itu, buru-buru membuka tasnya untuk mengambil ponselnya. Ia ingin sekali menghubungi suaminya karena ia sangat rindukan pada pangeran tampan itu.


Ketika mengutak-atik tasnya ia tidak menemukan ponselnya.


"Ya Allah, di mana aku meletakkan ponselku?" Rihanna mencoba lagi mengingat di mana terakhir kalinya ia menaruh ponselnya.


"Ya Allah, sepertinya tadi aku menaruhnya di laci meja kerja." Gumamnya lalu meninggalkan ruang meeting itu dan berlari menuju ruang kerjanya.


Rihanna sangat berharap suaminya menghubungi dirinya. Dengan semangat empat lima, ia kemudian mengambil ponselnya lalu membaca beberapa notifikasi pesan dan panggilan telepon yang masuk ketika ia sedang meeting.


Sesaat ia tersenyum melihat semua isi notifikasi yang ada di ponselnya hanya datang dari satu nama kekasihnya yang telah membuat dirinya kurang fokus memimpin rapat hari ini. Ia kemudian melakukan panggilan ulang pada suaminya melalui video call.


Roby yang belum berangkat ke mansion tuan Robert dikejutkan dengan bunyi ponselnya. Ia langsung meraih ponselnya yang ada diatas meja nakas itu.


Melihat wajah sang istri tercinta yang sudah hadir dilayar ponselnya itu, lalu tersenyum senang dan memberikan beberapa kali ciuman pada layar ponselnya, seakan ia sedang berhadapan langsung dengan istrinya saat ini.


Sindy cukup nakal dengan menggoda dirinya di dalam ponsel itu. Ia dengan sengaja membuka beberapa kancing bajunya dengan memperlihatkan belahan dadanya, yang merekah sesak memenuhi kap berwarna merah yang ada di balik blazer hitamnya yang ia pakai saat ini.


Roby meneguk liurnya berkali kali, ketika melihat suguhan yang terpampang indah dibalik blazer hitam yang dipakai Rhihana saat ini.


"Apakah kamu sedang menggoda diriku sayang atau mau menyiksaku?" Tanya Roby dengan suara berat menahan hasrat, menatap lepas pada pemandangan indah saat ini secara live.


Kini Roby makin tergoda imannya pada milik wanitanya yang ada di nun jauh di sana. Kepalanya seakan makin berat dengan miliknya yang sudah membengkak di bawah sana. Ia mengigit bibir bawahnya.


Melihat kegelisahan suaminya, Rhihana merasa sangat puas, untuk memancing hati suaminya agar cepat kembali menemui dirinya di tanah air tercinta.


"Cepatlah kembali untukku sayang! jika tidur ingin merasa tersiksa seperti itu." Sindy berucap dengan sedikit menahan tangis yang tercekat di kerongkongannya saat ini.


Ia sebenarnya tidak tega melihat keadaan suaminya dengan cara memberikan hukuman secara tidak langsung pada suaminya, namun hanya cara ini agar suaminya cepat menyelesaikan urusannya dengan penjahat yang sudah membunuh kedua orangtuanya.


"Tunggulah sebentar lagi sayang, kita akan bertemu lagi, kamu tidak perlu cemas karena aku milikmu, selamanya milikmu." Roby menghibur istrinya yang terlihat tenang namun ia sangat paham bahwa istrinya saat ini sedang membutuhkan dirinya.


"Kapan kamu akan kembali sayang?" Jangan terlalu lama membuat aku menanti, nggak enak semuanya apa yang kulakukan di sini. Kecuali aku tidur bisa melupakanmu sesaat tapi itu juga sangat sulit harus baca buku atau buat puisi, baru bisa tidur." Ucap Rhihana yang menceritakan keadaannya saat ini pada suaminya.


"Lakukan aktivitas yang berat yang membuat dirimu lelah sayang." Titah Roby memberi saran pada istrinya agar bisa cepat tidur.


"Aktivitas yang bisa membuat aku cepat tidur adalah bercinta dengan dirimu sayang." Ucap Rhihana dengan sangat gamblang.


Roby tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia kemudian menatap jam di tangannya dan waktunya ia untuk menemui tuan Robert, ayah angkatnya itu.


"Sayang aku harus pamit untuk menyelesaikan urusanku, setelah ini aku langsung pulang." Ujar Roby lalu memberikan kecupan mesra untuk terakhir kalinya pada sang istri tercinta.

__ADS_1


Keduanya saling melambaikan tangan dengan perasaan yang begitu berat, seakan tidak rela untuk menyudahi percakapan mereka.


__ADS_2