
Baru satu minggu, Roby dan Rihanna berada di Indonesia, keduanya sudah mendaftar pernikahan mereka di kantor agama Jakarta Selatan. Keduanya ingin melangsungkan pernikahan di kantor agama setempat karena tidak ingin mengundang banyak tamu, mengingat setiap saat keadaan Rhihana yang selalu terancam keselamatannya dari musuh kedua orangtuanya yang mengincar kerajaan bisnis miliknya.
Hanya orang-orang kepercayaan kedua orangtuanya, yang menjadi saksi pernikahan mereka. Sedangkan dari pihak Roby, ia hanya meminta kesediaan pihak kantor agama untuk mencari saksi untuk dirinya karena ia adalah seorang yatim-piatu dan satu orang pun hampir ia tidak begitu dekat dengan mereka, sedangkan orangtua angkatnya sendiri berbeda keyakinan dengan dirinya.
Ucapan sah dari kedua saksi yang menyaksikan pernikahan mereka tanpa ada upacara adat apapun. Hanya restu dari Allah yang mereka butuhkan.
Keduanya saling menyematkan cincin kawin dan Rhihana mengecup tangan suaminya sedangkan Roby mencium kening istrinya.
Rhihana sebenarnya sangat sedih saat ini, pasalnya kedua orangtuanya tidak berada di sisinya untuk melihatnya memasuki dunia baru untuk membina rumah tangga dengan pangeran impiannya karena telah meninggal dunia.
Roby menyerahkan seperangkat alat sholat dan juga perhiasan sebagai mas kawinnya untuk sang bidadarinya. Rhihana tersenyum bahagia dan menerima semua pemberian suaminya dengan ikhlas.
"Kita langsung ke bandara ya sayang." Ujar Roby yang ingin memberikan kejutan lanjutan untuk Rhihana.
"Apakah kita akan bulan madu?" Rihanna mempertegas permintaan Roby.
"Pastinya dan kita tidak melakukannya di luar negeri, kita akan menuju ke suatu tempat dan ini kejutan." Roby mempercepat laju kendaraannya.
Rhihana sedikit heran melihat Roby tidak menuju ke bandara pesawat komersil yang biasa ia tumpangi.
"Kita ke mana sayang?" Rhihana makin penasaran.
"Lihat saja nanti ratuku," Ucap Roby yang sudah memarkirkan mobilnya tepat di samping hanggar di mana pesawat jet berada di tempat itu.
Roby membuka pintu mobilnya. Rhihana turun dari mobil dengan gaun pengantin yang sangat cantik.
"Lihatlah itu hadiah untukmu, pasawat jet dengan nomor tanggal pernikahan kita dengan inisial belakangnya RR( Roby dan Rhihana) Itu untukmu sayang, mulai saat ini kamu menggunakan transportasi ini dan jangan lagi menggunakan pesawat komersial karena keselamatanmu sangat penting untukku." Roby menuntun istrinya ke pesawat dengan dibantu dua pramugari yang memegang ekor gaun pengantin milik Rhihana.
Rhihana dan Roby berdiri sebentar di tangga pesawat untuk mengabadikan momen indah itu dengan pesawat baru milik Rhihana hadiah pernikahannya dari sang suami.
Fotografer yang disewa Roby membidikkan kameranya dengan berbagai sisi, sampai di ruang pesawat. Setelah cukup fotografer kembali turun karena kedua mempelai akan segera melakukan penerbangan.
"Suamiku ini sangat keren, aku suka dengan desain interiornya." Rhihana memuji hadiah dari suaminya.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau kamu menyukainya sayang." Roby mendekati istrinya yang sudah duduk di salah satu kursi yang bisa diatur posisinya.
"Aku tidak menyangka kamu membahagiakan aku diawal pernikahan kita dengan hadiah sehebat ini." Ucap Rhihana yang masih takjub dengan pemberian suaminya.
__ADS_1
"Kau segalanya bagiku sayang, aku ingat pertama kali kita bertemu, kamu sedikitpun tidak angkuh, kamu menerimaku dan merubah diriku menjadi manusia seutuhnya.
Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan ketulusanmu padaku dan lebih hebatnya lagi kamu menutup hatimu untuk pria lain dan setia menantiku walaupun kamu tidak tahu keberadaanku." Roby kembali mengenang awal pertemuan dirinya dengan istrinya saat itu.
"Semua sudah takdir Allah sayang, kita cukup bersyukur dan tidak perlu mengingat kebaikan siapapun. Bagiku kau adalah jodoh yang dipilihkan Allah untukku." Rhihana tidak ingin Roby merasa berhutang kepadanya.
"Terimakasih cintaku, sekarang kamu mau minum apa ratuku? Biar aku yang akan melayanimu.
"Apa saja sayang, oh ya..aku ganti gaun ini dulu ya... Astaga, aku lupa aku tidak membawa baju." Ucap Rhihana sedih.
"Semuanya sudah ada di dalam sana sayang, kamu bahkan belum melihat kamarmu." Ujar Roby lalu membuka pintu kamar pribadi yang menjadi tempat bulan madu Keduanya.
Lagi-lagi, Rhihana dibuat takjub dengan keindahan yang ditata begitu apik dalam kamarnya kini. Ia kembali memeluk suaminya.
Roby memberanikan dirinya untuk mengecup bibir istrinya. Ia merasakan pertama kalinya mencium bibir wanitanya. Bibir Rhihana yang sangat sensual dengan lipstik yang masih menempel membuat Roby memberikan ciuman terbaiknya.
Walaupun ini pertama kali mereka melakukannya, keduanya sama-sama saling memberi kehangatan dengan pemanasan ringan melalui ciuman bibir. Semua dilakukan berdasarkan insting. Roby yang pernah menonton film dewasa baru mengaplikasikannya di istrinya sendiri.
Rhihana mencoba mengimbangi permainan lidah suaminya. Keduanya nampak tenggelam dan bergairah dalam melakukannya. Hanya dengan ciuman bibir, keduanya sudah merasakan kepuasan. Roby tidak ingin menjurus ke tempat yang masih tersembunyi di area tubuh istrinya.
"Sayang, kita cukupkan dulu ini, kamu harus mandi dan berganti pakaian, setelah itu kita akan makan siang. Kita bisa melakukannya kapan saja, karena tidak ada lagi larangan untuk kita, semuanya sudah pasti saat ini, kau adalah istri Roby." Roby menatap lekat wajah istrinya dan mengecup bibir sensual itu sekali lagi, sebelum ia meninggalkan Rhihana untuk membersihkan dirinya.
Rihanna mengikuti perintah suaminya. Iapun masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Setelah cukup, Rhihana beralih ke tempat penyimpanan baju yang dijanjikan Roby padanya.
Di situ sudah tersedia berbagai lengerie dan juga baju lainnya yang akan digunakannya selama di pesawat. Dalam waktu sepuluh menit ia sudah rapi dan kembali keluar menemui suaminya yang saat ini sedang menunggunya untuk makan siang bersama.
"Wow, kamu sangat cantik sayang, muuuaaacchhh." Roby kembali mendaratkan ciumannya pada sang istri.
Beruntunglah keduanya hanya sendiri karena pramugari duduk bagian depan belakang kabin milik pilot. Pesawat itu yang sudah terbang jauh meninggalkan kota Jakarta menuju Denpasar Bali.
Rihanna dan Roby menikmati makan siang mereka. Keduanya saling mengobrol apa saja, sampai tidak terasa mereka sudah menghabiskan makan siang mereka.
Ko pilot mengabarkan bahwa sebentar lagi pesawat mereka akan mendarat di bandara Ngurah Rai Denpasar Bali.
"Jadi kita bulan madu ke Bali sayang?" Tanya Rhihana ketika mendengar suara ko pilot yang mengabarkan tujuan mereka saat ini.
"Iya sayang, mungkin kamu sudah sering berlibur ke pulau Dewata Bali, tapi ini pertama kali untukku. Roby memberi tahukan impiannya yang ingin sekali berkunjung ke Bali.
__ADS_1
"Apakah, ini adalah impianmu untuk membawaku ke sini, jika kamu berhasil menikahiku?"
"Tepat sekali sayang, selagi di Paris Perancis, aku selalu melihat destinasi pariwisatanya walaupun hanya melalui media YouTube. Setidaknya aku banyak tahu tentang Bali."
"Apakah sudah memesan resort dan semacamnya?"
"Semuanya sudah disiapkan, kamu akan dilayani dengan baik di sana sayang. Ayo kita turun pesawat sudah landing." Roby bersiap-siap untuk turun.
Keduanya sudah dijemput oleh sopir resort yang akan menjadi tempat bulan madu mereka.
Disepanjang jalan, Rhihana dan Roby melihat keadaan kota Denpasar yang begitu kental dengan budaya Hindu. Setiap jalan di sudut kota pasti ada sajen yang diletakkan oleh warga setempat yang beragama Hindu.
Belum lagi banyaknya wisatawan yang datang dari berbagai belahan bumi, yang sengaja berlibur di sini untuk menikmati pulau Dewata ini.
Pulau yang dikagumi seluruh dunia karena keindahan panorama alamnya, keramahtamahan warganya dan kaya akan budaya yang membuat siapapun yang datang ke tempat ini cukup betah berlama-lama tinggal di pulau Dewata ini.
Roby dan Rihanna tidak langsung ke resort karena keduanya ingin menikmati kuliner mereka di kota indah tersebut.
Roby membeli beberapa cendramata untuk istrinya. Rhihana menerimanya dengan senang hati.
"Kota ini sangat indah sayang. Walaupun begitu banyak wisatawan namun terasa sangat tenang dan nyaman." Ucap Roby.
Keduanya sudah duduk di restoran yang berada di sekitar Legian Bali. Memesan makanan khas Bali namun yang halal.
Rhihana memilih menu makanan untuk mereka berdua karena suaminya tidak paham dengan kuliner Bali.
Ayam betutu, sate lilit, tum ayam dan minuman dua butir kelapa muda yang disiapkan dengan batoknya langsung.
Keduanya menikmati makanan mereka, lidah Roby yang tidak begitu asing dengan makanan Indonesia, tidak banyak protes walaupun ia cukup lama tinggal di luar negeri.
"Bagaimana dengan makanan di Paris Perancis dengan makanan Indonesia sayang?" Tanya Rhihana.
"Kuliner Indonesia memang tidak ada duanya sayang karena makanan Indonesia hampir semua negara menyukainya. Lihat saja banyak turis yang pada betah tinggal di sini." Ucap Roby.
Banyak diantara mereka yang menikah dengan wanita lokal, entah sekedar menumpang di Bali atau jatuh cinta benaran sama gadis Bali tapi kelihatannya mereka setia." Ucap Rhihana.
"Setelah ini, kita langsung ke resort sayang," ucap Roby yang tidak sabar lagi bercinta dengan istrinya.
__ADS_1