
Tidak terasa pernikahan Rhihana dan Roby sudah berjalan tiga bulan. Rhihana yang baru menetap lagi di mansion orangtuanya yang sudah rapi tanpa merasa takut sedikitpun. Ia menjalani hidupnya dengan mulai memimpin bisnis kedua orangtuanya.
Sejalannya waktu, ia sudah menguasai bisnis keluarganya tersebut. Rihanna juga memberikan mandatnya pada suami untuk mengolah bisnis sang ibu. Roby bersedia membantu istrinya mengembang perusahaan tersebut.
Tapi ditengah perjalanan pernikahan mereka, Roby dipanggil pulang oleh tuan Robert. Roby yang tidak memberi tahu ayah angkatnya itu bahwa dirinya sudah menikahi kekasihnya Rhihana.
Roby begitu kuatir akan keselamatan istrinya, ia tidak memberitahu nama asli Rhihana kepada ayahnya karena banyak hal yang Roby pertimbangkan.
"Hallo Roby, kapan kamu akan kembali ke Paris Perancis, memimpin perusahaanmu sendiri?" Tanya tuan Robert dari seberang telepon.
"Mohon maaf ayah, saat ini saya belum bisa meninggalkan istri saya, karena dia lagi hamil muda." Jawab Roby berbohong.
"Biarkan saja dia ikut menetap di Paris Roby karena ayah tidak mampu lagi mengelola perusahaan ini tanpa kamu." Tuan Robert protes keras pada anak adopsinya itu.
"Nanti saya akan diskusikan dulu dengan istri saya ayah." Ujar Roby sambil merotasi mata malas.
Ia sendiri sudah merasa lebih betah tinggal di Jakarta karena ia menemukan kembali jati dirinya yang hilang selama jauh dari tanah air.
"Baiklah, ayah akan menantikan kepulangan kalian di sini." Ucap tuan Robert mengakhiri pembicaraannya dengan Roby.
Roby kembali menemui istrinya di kamar setelah menerima panggilan telepon dari ayahnya di balkon kamar.
"Ada apa Roby?"
"Ayah ingin bertemu denganmu, ia meminta aku membawamu ke Paris dan menetap di sana."
"Bagaimana menurutmu? apakah kamu mau kembali ke Paris sayang? tapi maaf aku tidak bisa menetap di sana karena tanggung jawabku sangat besar disini." Rhihana menyampaikan keberatannya pada suaminya tentang permintaan ayah angkat suaminya tersebut.
"Aku tidak memaksamu sayang, aku tahu keadaanmu di sini. Semua orang banyak bergantung kepadamu, tapi aku akan berusaha pelan-pelan meninggalkan ayah dengan semua kemewahannya yang sudah ia berikan kepadaku. Karena kemewahanku sebenarnya adalah dirimu." Roby mengecup tengkuk istrinya.
"Tapi ayahmu ingin bertemu denganku, apakah kamu memberi tahu semua riwayat hidupku termasuk identitas asliku pada ayahmu?" Tanya Rhihana.
"Tentu saja tidak baby, aku tidak akan membocorkan rahasia pribadimu kepada ayahku." Ujar Roby meyakinkan istrinya.
"Syukurlah, kamu bilang kamu dibesarkan oleh seorang mafia dan mendiang ayahku juga ternyata seorang mafia, jika dunia mafia mengetahui keberadaan aku, mungkin keselamatan diriku akan terancam Roby." Rhihana bergidik ketakutan membayangkan lagi peristiwa yang merenggut nyawa kedua orangtuanya.
"Aku akan melindungimu dengan segenap jiwa ragaku sayang. Selama ada aku, kamu jangan cemas sayang." Roby mengecup bibir istrinya yang sekarang sudah menjadi kebiasaannya.
"Apakah kamu tidak lelah seharian mengunjungi proyek sayang?" Tanya Rhihana.
__ADS_1
"Tidak ada di dalam kamusku untuk menolak ini." Ujar Roby seraya menunjuk bagian sensitif milik istrinya.
"Kamu ingin melakukannya?" Rhihana mulai menggoda suaminya dengan lebih dulu memperlihatkan miliknya.
"Oh sayang, kamu selalu menggetarkan hati dan jiwaku setiap saat." Roby melebarkan pangkal paha istrinya untuk membenamkan wajahnya di sana.
"Akhhh!" De*ah Rhihana menikmati permainan lidah Roby pada area terlarangnya. Rhihana merasa sangat lemas ketika mendapatkan puncak klimaksnya.
Roby bangkit dan membalikkan tubuh istrinya. Penyerangan dari belakang sangat ia sukai. Tidak berapa lama, Roby melepaskan kerinduannya dengan lebih mempercepat permainan mereka.
Kelelahan sangat terasa dan kepuasan lebih mendominasi. Senyum merekah dibibir Rhihana menggambarkan dirinya sangat merasa beruntung memiliki suaminya yang sangat tahu apa yang ia inginkan.
š·š·š·š·
Sebulan kemudian telepon dari ayah angkat Roby kembali terdengar. Rupanya tuan Robert tidak bisa toleransi lagi kepada anak angkatnya itu.
"Roby, jika kamu tidak kembali ke Paris maka ayah yang akan mendatangi kamu ke Jakarta." Ancam tuan Robert yang sangat marah pada putra angkatnya itu.
"Aku tidak tergiur sama sekali dengan harta ayah, aku sudah nyaman hidup dengan istriku di sini ayah." Ucap Roby yang tidak takut dengan ancaman ayahnya.
"Anak sialan tidak tahu diuntung, kamu lebih memilih perempuan itu dibandingkan ayah yang telah mengangkat derajatmu hingga kamu sehebat sekarang ini." Tuan Robert mengungkit semua kebaikannya yang pernah ia lakukan untuk Roby.
Roby kembali menemui istrinya, kali ini sangat marah dan meninju tangannya ke dinding kamar mereka.
"Roby, apa yang kamu lakukan sayang?" Pekik Rhihana lalu memeluk suaminya.
"Aku benci dengan Tuan Robert, aku tidak suka diatur lagi hidupku Rhihana. Dia telah membuatku seperti kuda yang tidak pernah berhenti bekerja. Dan sekarang dia ingin aku tetap di sampingnya, aku punya kehidupan sendiri sekarang, tidak mungkin selamanya aku bersama dengan si tua bangka itu." Teriak Roby histeris.
"Sayang selama kita menikah, aku belum pernah melihat wajah ayah angkatmu yang bernama Tuan Robert itu, apakah kamu memiliki fotonya?" Tanya Rhihana disela-sela suaminya sedang mengamuk.
Roby kembali menyalakan ponselnya, membuka semua memori foto dirinya dan tuan Robert. Ia tidak pernah memiliki foto Tuan Robert yang sendiri.
Roby menyerahkan ponselnya pada Rhihana, gadis itu mengamati foto-foto suaminya dengan ayah angkatnya. Sesaat kemudian ponsel milik Roby dilempar oleh Rhihana. Rhihana begitu takut dan langsung gemetar usai melihat foto itu.
"Sayang, ada apa?" Mengapa kamu melempar ponselku?" Tanya Roby seraya memeluk tubuh istrinya yang kelihatan sangat syok setelah melihat foto ayah angkatnya.
"Dia...dia.. apakah dia ayahmu Roby?" Tanya Rhihana terbata-bata.
"Ada apa dengan dia sayang?" Katakan kepadaku jangan membuatku takut seperti ini sayang." Roby mendekatkan wajahnya dan wajah istrinya yang masih sangat ketakutan.
__ADS_1
"Roby, dia yang telah membunuh kedua orangtuaku dan dia juga yang telah merusak wajahku." Rihanna berkata-kata dengan penuh emosi.
"Apa?" Kamu tidak salah mengenali wajah Tuan Robert bukan?" Roby masih bingung dengan pengakuan istrinya.
"Aku berani bersumpah dengan nyawaku di tangan Tuhanku, dialah orang yang telah membunuh orang tuaku dihadapanku, makanya mengapa dia ingin memburuku, karena aku telah melihat wajahnya.
Roby menenangkan istrinya yang makin histeris, jiwanya seketika sangat terguncang karena melihat lagi musuh keluarganya adalah ayah angkat suaminya sendiri.
"Roby, ku mohon jangan beritahu keberadaan kita, ia pasti akan ke sini mencarimu, ku mohon kita harus tinggalkan rumah ini, sebelum ia mengetahui kebenarannya bahwa aku putri dari ayahku Tuan Gahral dan Nyonya Maya." Rhihana memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Sayang, dengar kita akan menambahkan penjaga untuk mengawasi mansion ini. Jika ia ke sini, aku sendiri yang akan menyeretnya ke penjara atau aku yang akan membalaskan dendammu." Roby menenangkan istrinya untuk tidak terlalu memikirkan keselamatan dirinya yang saat ini sedang mengancam jiwanya.
"Roby justru aku tahu pembunuhan sadis yang dilakukannya kepada kedua orang tuaku membuat aku sangat trauma sampai saat ini. Mendengar namanya saja, hatiku langsung bergidik, apa lagi harus berhadapan lagi dengan bajingan itu Roby, aku takut sayang...hiks.. hiks!" Rhihana memeluk tubuh suaminya ketika mengenang lagi peristiwa yang mencekam itu.
"Apakah kamu mau aku membunuhnya agar hatimu bisa tenang?" jika kamu ijinkan aku akan meminta anak buahku yang akan membunuhnya karena, banyak anak buahnya yang lebih senang dengan perintahku daripada melakukan sesuatu, apa yang dia pinta." Ujar Roby.
"Mengapa seperti itu sayang?"
"Karena dia selalu memaksa anak buahnya untuk membunuh yang ia tidak sukai. Jika tidak menuruti perintahnya, maka keluarganya yang akan menerima hukuman. Entah diperkosa jika sudah punya istri atau pacar atau punya saudara perempuan, kalau laki-laki langsung di bunuh.
"Separah itu kekuasaannya dalam menangani setiap masalah?"
"Iya sayang, makanya banyak anak buahnya minta kerja denganku dari pada dengannya. Jika hari ini kamu meminta aku membunuhnya, maka aku akan menghubungi beberapa anak buahku untuk segera membunuhnya.
"Jangan dulu sayang, aku tidak ingin kematiannya semudah itu, karena aku ingin dia menderita perlahan-lahan hingga ia tahu bagaimana rasa sakitnya menuju kematian.
"Dia pantas mendapatkan apa yang pernah ia lakukan pada banyak orang yang sudah dia bunuh tanpa belas kasih. Hatinya sudah dikuasai oleh iblis." ujar Roby.
"Bukankah dia iblisnya?" Rhihana masih sempat bercanda walaupun saat ini hatinya sangat kalut.
"Kamu bisa saja, masih bisa melucu juga. Sekarang lebih baik kita jalan-jalan, menikmati kuliner di luar. Aku pingin rasain makanan khas Indonesia." Ucap Roby.
"Ok, siapa takut."
Rhihana dan Roby berangkat ke tempat kuliner yang menjajakan makanannya di depan ruko.
Roby memesan somay, bakso dan es teller kesukaannya sedangkan Rhihana lebih memilih empek-empek Palembang.
Walaupun pesanan mereka berbeda, namun tetap dimakan bersama.
__ADS_1
"Sebegitu rindukah kamu dengan makanan Indonesia?" Rihanna merasa kasihan melihat suaminya yang saat ini dendam dengan kuliner Indonesia. Mungkin Paris Perancis, tidak bisa mengubah lidahnya untuk melupakan makanan khas tanah air ini.