
Nenek Yati meminta izin pada Rhihana untuk ke luar negeri karena ada urusan penting yang harus ia lakukan. Rhihana mengizinkan nenek Yati untuk melakukan urusannya.
"Ana, nenek mau keluar negeri karena ada pekerjaan dan juga ada yang saat ini nenek harus lakukan." Ucap nenek Yati.
"Tidak apa nenek, kan masih ada sarah yang akan menjaga kami" Ujar Rhihana.
"Baiklah, kalau begitu besok nenek akan berangkat dengan penerbangan pertama. Tetap hati-hati di rumah dan jangan berangkat ke perusahaan dulu sampai nenek kembali lagi ke tanah air." Nenek Yati mengingatkan pasangan ini lalu kembali ke kamarnya.
Sarah menghampiri nenek Yati karena ia ingin tahu mengapa nenek itu tiba-tiba berangkat ke luar negeri.
"Tujuan negara mana yang akan nenek datangi?" Sarah mulai mencari tahu.
"Nanti saja kalau nenek sudah sampai tujuan, nenek akan menghubungimu. Sekarang tugasmu menjaga keluarga ini terutama Rhihana karena nenek tidak ingin dia sampai terluka. Jika ada meeting penting perusahaan lakukan dengan zoom meeting karena zaman sudah canggih, tidak perlu harus keluar rumah untuk bekerja. Dari rumah kita masih berkomunikasi dengan orang lain dan semua tugas bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Nenek mau tidur dulu jangan di ganggu." Ucap nenek Yati yang sudah merebahkan tubuhnya.
"Baik nenek, Sarah mau ke bawa dulu mau hubungi anggota lain untuk tetap siap di tempatnya." Sarah meninggalkan kamar nenek Yati, menghampiri anak buahnya yang berada di depan gerbang utama mansion.
Keesokan harinya nenek Yati sudah berada di bandara internasional Soekarno-Hatta. Dengan sangat jeli ia memperhatikan semua gerak gerik penumpang yang dianggapnya musuh.
Walaupun sudah berada di dalam pesawat nenek Yati tetap waspada. Ia duduk di kelas bisnis dan memastikan keadaan di dalam pesawat aman. Instingnya sangat kuat, ia tahu wajah-wajah penjahat yang berpenampilan ekslusif.
"Kita akan bertemu nyonya Arimbi. Jika kamu tahu putramu pernah di asuh oleh bajingan yang pernah menyuruhmu menggugurkan kandunganmu, mungkin kamu sekarang akan mengangkat senjata untuk menghancurkan tuan Robert." Gumamnya membatin lalu memejamkan matanya, menikmati perjalanannya ke luar negeri untuk bertemu dengan ibu kandung dari Roby.
š·š·š·š·
Nenek Yati tiba di soanyol pukul 11 siang, ia menginap di salah satu hotel mewah yang merupakan milik orangtua Rhihana.
Di kamar hotel ia menghubungi nomor kontak Nyonya Arimbi. Wanita paruh baya itu menerima panggilan telepon yang tidak ia kenal.
"Hallo, selamat siang!" Sapa Nyonya Arimbi dalam bahasa Spanyol.
"Hallo selamat siang Nyonya Arimbi!" Sapa Nenek Yati dengan bahasa Indonesia.
"Ini dengan siapa saya bicara?" Tanya Nyonya Arimbi.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, saya salah satu informan anda yang menetahui keadaan putra anda yang saat ini anda sedang mencarinya." Ucap nenek Yati.
Mendengar nama putranya disebut oleh nenek Yati, Nyonya Arimbi langsung berdiri dari kursinya. Ia sedikit menjauh dari para pelayannya dan menyuruh semuanya keluar dari kamarnya.
"Bisakah kalian keluar sebentar!" Pintanya pada tiga orang pelayan yang sedang melakukan pedicure pada tubuhnya.
Ia kemudian melanjutkan lagi percakapannya dengan nenek Yati.
"Bagaimana saya bisa mempercayai anda sebagai informan putra saya." Tanya Nyonya Arimbi.
"Aku ingin bertemu dengan anda Nyonya Arimbi dan aku tidak mengambil keuntungan apapun dari anda. Aku hanya ingin mempertemukan anda dengan putra anda.
Hanya itu saja. Boleh saya bertandang ke istana anda Nyonya?" Nenek Yati ingin tahu tanggapan ibu kandung dari Roby ini. Ia tidak ingin langsung menemui wanita cantik ini, tapi ia ingin Nyonya Arimbi sendiri yang mengundangnya secara pribadi.
"Baiklah!" Saya akan menunggu anda saat makan malam, saya harap berita yang akan anda sampaikan itu adalah suatu kebenaran. Dan saya tidak ingin kecewa untuk terakhir kalinya." Ujar Nyonya Arimbi lalu mengakhiri pembicaraannya.
"Cih, dia bahkan belum mendengarkan kata-kata terakhir dariku," ucap nenek Yati kesal dengan Nyonya Arimbi yang menutup teleponnya secara sepihak.
Di tempat nyonya Arimbi, Nenek Yati berada saat ini. Istana megah dengan sinar lampu taman yang sangat syahdu. Bunyi gemericik air mancur yang panjang berada di hamparan halaman luas dengan taman bunga tertata rapih.
Para pengawal istana berdiri di beberapa tempat dengan jarak yang telah ditentukan. Semuanya seperti patung dengan senjata ditangannya. Tanpa ekspresi untuk menyambut kedatangannya, hanya beberapa pelayan yang sudah menjemputnya atas perintah nyonya Arimbi.
Nenek yang berusia 70 tahun ini, mengikuti langkah kaki dua pelayan yang mendampinginya hingga. sampai ke pintu utama menuju ruang tengah di mana Nyonya Arimbi sedang menunggunya.
"Selamat datang, Nyonya!" Sapa Nyonya Arimbi dengan menunjukkan sikap kebangsawanannya.
Nenek Yati tampak tenang dan tidak ingin duduk sampai pemilik istana itu memintanya duduk.
"Apakah kamu seorang informan itu?" Tanya Nyonya Arimbi.
"Iya, saya yang menghubungi anda tadi siang."
"Saya tidak akan basa-basi, di mana putra saya?" Tanya Nyonya Arimbi to the point.
__ADS_1
Nenek Yati mengeluarkan berkas dokumen yang sudah ia siapkan untuk membuktikan Roby putranya Nyonya Arimbi.
Melihat foto-foto Roby, Nyonya Arimbi langsung jatuh terduduk di sofanya. Wajah Roby persis suaminya saat masih muda.
"Aku tidak butuh bukti yang lainnya nyonya Yati, foto ini sudah mewakili semua buktimu itu." Ujar Nyonya Arimbi dengan terus memperhatikan wajah putranya.
"Inikah putraku Roby? Tanya Nyonya Arimbi dengan terus menatap foto Roby.
"putra anda sudah berkeluarga Nyonya Arimbi. Jika anda tertarik, ini album foto keluarga kecilnya." Ujar nenek Yati sembari mengeluarkan album foto milik Rhihana yang diambilnya di perpustakaan pribadi milik Rhihana.
Nyonya Arimbi meraih album for tersebut dengan cepat.Ia membuka tiap lembar foto tersebut.
"Apakah ini istrinya? Tanya nenek Yati.
"Dia adalah putri majikan aku. Nama menantunmu itu adalah Rhihana dan cucumu itu adalah Tania yang baru berusia hampir dua tahun." Ujar nenek Yati.
"Cucuku.... hiks.. hiks!" Nyonya Arimbi memeluk album foto pernikahan putranya dan juga keturunannya Tania.
"Apakah mereka datang bersamamu?" Tanya Nyonya Arimbi semangat.
"Maaf Nyonya, justru saya sengaja datang ke sini ingin meminta tolong kepada anda bahwa keluarga kecil putramu sedang mengalami masalah." Nenek Yati mulai bercerita tentang para penjahat yang sedang mengincar nyawa keluarga kecil putranya.
"Apakah mereka menetap di Indonesia?" Tanya Nyonya Arimbi.
"Nyonya, anda belum mendengarkan semua penjelasannya, bagaimana mungkin anda begitu yakin bisa bertemu dengan putramu." Ucap Nenek Yati.
"Apa yang ingin anda bicarakan lagi? aku hanya ingin bertemu dengan putraku." Ucap Nyonya Arimbi.
"Putramu tidak akan bisa bertemu denganmu, jika kamu tidak bisa menolongnya!" Bentak nenek Yati kesal.
"Apa maksud Anda Nyonya?" Tanya Nyonya Arimbi yang tidak mengerti dengan ucapan nenek Yati padanya.
"Kamu bahkan tidak sopan padaku, bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya pada anda Nyonya Arimbi."
__ADS_1