
Tanggal pernikahan sudah ditentukan oleh kedua pihak keluarga. Sarah nampak sumringah melihat ketampanan calon suaminya. Cinta yang sudah lama ia pendam kepada lelaki pujaannya itu kini sudah terbalas, pasalnya Tuan Raffa sudah mengagumi sosok Sarah sejak dulu.
"Niat baik harus secepatnya dilakukan karena keduanya sepertinya sudah tidak sabaran untuk menikah." Ucap Tuan David.
Tuan Ruslan menyetujui permintaan keluarga mempelai wanita." Bagaimana jika di lakukan bulan depan." Ujar Tuan Ruslan.
"Itu lebih baik" Ujar Nyonya Arimbi.
Kedua keluarga itu terkekeh lalu mengakhiri dengan mengikat Sarah dengan sebuah cincin berlian sebagai tunangannya Tuan Raffa.
Keluarga itu lalu beranjak ke meja makan untuk makan malam bersama.
Sarah dan Rhihana menjamu tamu itu. Tapi Sarah merasa risih karena masih ada Calvin yang ikut duduk di meja makan. Calvin tidak jadi balik ke hotel karena Rhihana memintanya menginap di mansionnya.
Roby yang dari tadi melihat wajah cantik istrinya, tak berhenti mengikuti gerak gerik Rhihana ke manapun gadis itu mondar mandir untuk memastikan hidangan untuk tamunya tidak mengalami kekurangan apapun.
"Selamat menikmati!" Ujar Rhihana lalu duduk di sebelah suaminya.
"Sayang, mengapa malam ini kamu sangat cantik?" Tanya Roby.
"Apakah hanya malam ini saja aku kelihatan sangat cantik?" Imbuh Rhihana.
"Aku tahu setiap hari bahkan setiap saat selalu cantik, hanya saja kamu jarang memakai kebaya sayang. Kamu sangat anggun malam ini, itu yang buat aku suka." Roby terus berbisik di kuping istrinya.
"Bisakah mesranya nanti saja nona Ana?" Kalian membuat saya sangat cemburu karena saya belum menghalalkan Sarah." Seloroh Tuan Raffa pada pasangan Roby dan Rihanna.
Rhihana mencubit paha suaminya untuk berhenti menggodanya karena semua mata menatap mereka.
"Auhhhgg!" Roby pura-pura merasa sakit.
"Kalau kamu teriak lagi, aku akan gigit," ancam Rhihana kesal dengan tingkah Roby seperti pengantin baru.
"Nggak usah malu Rhihana, karena kami sudah mengalami hal konyol saat kami dulu masih muda, iya nggak jeng Walida?" Ujar Nyonya Arimbi yang menggoda menantunya Rhihana.
Wajah cantik Rhihana sudah seperti kepiting rebus saat ini, karena diserang oleh ibu mertuanya.
"Kamu makin menggemaskan sayang kalau tersipu malu seperti itu." Ucap Roby membuat Rhihana makin mati gaya.
"Nona muda, baby Azrilnya menangis." Ucap bibi Lala sambil menenangkan Azril.
Rhihana mengambil baby Azril lalu membawanya ke kamarnya karena ingin menyusui putranya itu.
__ADS_1
Roby pamit dari tamunya menyusul istrinya ke kamarnya. Semua pada menggoda Roby.
Tidak lama, para tamu itu pamit pulang pada keluarga Tuan David Fernandez.
Merekapun saling bersalaman satu sama lain dengan mengucapkan kata-kata yang sangat manis sebagai ungkapan terimakasih.
š·š·š·š·š·š·š·
Dua Minggu kemudian Calvin kembali ke Amerika karena tidak ingin menyaksikan pernikahan mantan kekasihnya itu. Ia sudah menyerah karena harapan untuk kembali pada Sarah sudah pupus.
Sarah kembali ke aktivitasnya sebagai pengawal pribadi Rhihana. Semuanya tampak kembali normal setelah kematian Tuan Robert. Sarah selalu mendapat tugas dari Rhihana, jika gadis ini membutuhkan sesuatu.
"Sarah bisa kamu antarkan berkas ini ke pengacara Tuan Raffa?" Titah Rhihana.
"Siap Nona, tapi tolong jangan kabarin dia kalau aku akan ke kantornya." Ucap Sarah.
"Baik Sarah!" Rhihana mengerti kalau Sarah ingin membuat kejutan pada tunangannya itu.
Sarah berangkat ke kantor firma hukum itu dengan senang hati.
"Sambil menyelam minum air, sambil bekerja bertemu kekasih." Sarah bermonolog.
Kebetulan saat itu masuknya jam makan siang. Sarah memarkirkan mobilnya agak sedikit jauh dari gedung yang berlantai sepuluh itu.
"Apakah semuanya keluar makan siang?" Gumamnya dalam hati.
Ia lalu meneruskan langkahnya menuju ruang kerja tunangannya Tuan Raffa.
Sayup-sayup terdengar suara cekikikan dari dalam ruang kerja calon suaminya itu. Sarah makin penasaran dan iapun merapatkan kupingnya mendengar ocehan dua orang di dalam sana.
"Kalau kamu sudah menikahi perempuan tomboi itu, apakah hubungan kita akan berakhir sayang?" Tanya si wanita pada Raffa.
"Tentu saja tidak sayang karena aku hanya memanfaatkan kekayaannya yang saat ini begitu banyak yang ia dapatkan dari Nenek Yati." Ucap Tuan Raffa membuat Sarah sangat syok.
Sarah menendang pintu itu dengan kasar dan ternyata wanita itu sudah bertelanjang dada dan duduk di atas pangkuan Raffa.
Dua orang itu tersentak melihat kemarahan Sarah yang sudah di ubun-ubun.
Sarah mencabut cicin tunangannya lalu melemparnya ke wajah Raffa.
"Dasar bajingan!" Umpat Sarah lalu keluar dari ruang kerja pengacara Raffa.
__ADS_1
Sarah buru-buru masuk ke lift dan menangis di dalam lift itu.
Raffa berusaha mengejarnya namun Sarah sudah masuk ke dalam mobilnya dan kembali ke perusahaan Rhihana.
"Nenek, apa yang kamu katakan itu benar, bahwa lebih baik mendapatkan lelaki yang sangat mencintai kita karena kita adalah satu-satunya wanita yang ada dalam hidupnya. Jika kita yang sangat mencintai pria, maka kita hanya berakhir dengan luka." Sarah bermonolog sambil menangis.
Tiba di perusahaan Rhihana, Sarah menceritakan segalanya kepada bosnya itu tentang Tuan Raffa tunangannya itu. Rhihana sangat syok mendengar cerita Sarah.
Ia lalu memeluk Sarah dan menenangkan gadis itu.
"Nona, saya ingin berangkat ke Amerika hari ini juga, saya ingin bertemu dengan Calvin dan meminta dia menjadi mualaf supaya bisa menikah dengannya." Ucap Sarah.
"Baiklah, berangkatlah menggunakan pesawat jet milikku agar cepat tiba di Amerika." Ujar Rhihana.
Sarah memeluk Rhihana dan pamit dari majikannya itu.
"Maafkan saya nona Rhihana, hari ini saya mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai pengawalmu." Ucap Sarah yang masih menangis.
"Tidak apa Sarah, kejarlah cinta sejatimu karena Calvin sangat mencintaimu." Ujar Rhihana.
Sarah langsung menuju bandara, diantar oleh sopir pribadi Rhihana.
Ia menumpangi pesawat jet pribadi milik Rhihana terbang ke Amerika.
š·š·š·š·š·
Keesokan harinya Calvin berangkat ke perusahaannya. Ia memasuki ruang kerjanya dengan wajah yang masih menyimpan kesedihan karena sebentar lagi Sarah akan menikah.
Ketika ia membuka pintu kerjanya Ia melihat kursi kebesarannya diduduki seseorang yang membelakangi tubuhnya menatap ke arah luar gedung bertingkat dua puluh itu.
"Maaf siapa anda?" Tanya Calvin dengan suara bentakan kepada orang yang duduk di kursi kebesarannya tanpa ijin darinya.
"Selamat pagi Calvin!" Sapa Sarah dengan tersenyum manis kepada lelaki yang mengejarnya sampai Jakarta.
"Sarah!" Wajah Calvin langsung berubah cerah melihat wanita impiannya berada di hadapannya saat ini.
"Apakah cintamu masih ada untukku?" Tanya Sarah kepada lelakinya.
"Lebih dari yang kamu inginkan sayang." Ucap Calvin sangat terharu.
"Maukah kamu menjadi mualaf untuk bisa menikah denganku?" Tanya Sarah lagi.
__ADS_1
"Tidak ada batasan untukku jika menyangkut dirimu Sarah, aku rela melakukan apapun asal bisa bersama denganmu sayang." Ujar Calvin lalu merentangkan kedua tangannya.
Sarah menghamburkan pelukannya di dada bidang lelaki yang pernah ia tolak karena cinta semu dari seorang Tuan Raffa.