SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
22. PERTEMUAN


__ADS_3

"Apakah dia berlibur di Seoul dengan istrinya Alicia nenek?" Rhihana kelihatan sedih.


"Sayang, hubungan Alicia dan Roby tidak lebih dari sahabat, karena yang nenek dengar Roby tidak pernah mau tidur dengan wanita itu. Kita tidak tahu apa niat Roby mau berlibur ke Seoul, yang jelas ini kabar baik untuk kita sayang." Ucap nenek Yati agar Rhihana harus banyak bersabar menghadapi suaminya yang lupa ingatan.


"Nenek bagaimana cara kita untuk bertemu dengannya?" Sedangkan dia sendiri saat ini lupa ingatan." Rhihana masih saja protes dengan keadaan Roby.


"Masih banyak cara untuk dia bisa mengingatmu, yang jelas kita harus menculiknya." Ucap nenek Yati yang sudah menyusun rencana untuk menculik Roby di Seoul Korea Selatan.


Dua hari kemudian, Roby bersama rombongannya bertolak ke Jakarta. Roby sudah menghubungi pilotnya untuk ke Indonesia bukan ke Seoul Korea Selatan.


Sarah, Alicia dan Calvin sangat kaget dengan perubahan tempat liburan yang tidak sesuai dengan rencana awal.


"Apa yang kau lakukan Roby, bukankah kita mau ke Seoul? Mengapa tiba-tiba beralih ke Jakarta? Tanya Alicia dengan nada kesal.


"Kita akan ke Jakarta dulu, baru ke Seoul Alicia, tidak usah kuatir sayang." Roby pura-pura merayu Alicia dan memperlakukan gadis itu semesra mungkin agar tujuannya melarikan diri tercapai.


"Benarkah?" Baiklah kalau begitu aku ikut ke manapun kamu akan membawaku sayang." Alicia masuk dalam perangkap Roby.


Sekitar 17 jam lebih pesawat mereka mendarat ke Jakarta. Roby yang sangat cerdas memberikan obat tidur pada Alicia dan Calvin agar keduanya tetap tidur dan kembali lagi ke Paris Perancis.


Pilot pribadi Roby yang sudah tahu rencana bosnya itu mengikuti semua arahan Roby. Setibanya di bandara setempat, Roby hanya mengajak Sarah untuk menemaninya. Sarah yang tidak tahu rencana ini, merasa terkecoh.


"Ya Tuhan, kenapa lelaki ini mengecoh semua rencanaku. Bagaimana ini, semua anak buahnya sudah ia kerahkan ke Seoul.


Ia buru-buru mengirimkan pesan kepada nenek Yati bahwa tujuan mereka adalah Jakarta. Nenek Yati yang tidak menyangka itu terjadi, langsung meminta para personil untuk kembali ke Jakarta. Beruntunglah Rhihana belum terbang ke Seoul Korea karena putrinya saat itu tiba-tiba demam.


"Tuan kenapa anda tiba-tiba berubah pikiran menuju ke Jakarta?" Tanya Sarah ketika mereka sudah berada di taksi.


"Aku sedang mencari kekasihku Ana, dia gadis SMA yang aku kenal beberapa tahun yang lalu, mungkin sekarang dia sudah dewasa. Dulu aku tinggal di apartemennya. Sekarang kita akan ke sana." Ucap Roby sangat semangat.


"Ya Tuhan, bagaimana ini, memorinya malah mundur. Dia bahkan tidak tahu, kalau dirinya sudah menikah dengan nona Ana." Gumam Sarah yang saat ini merasa sangat mumet.


Sarah kembali mengirim pesan pada nenek Yati agar meminta Ana tunggu di apartemen miliknya karena Roby akan menuju ke sana.


"Tuan aku juga orang Indonesia sama sepertimu. Aku adalah anak buah dari nona Ana, aku bekerja pada Tuan Calvin atas perintah nona Ana supaya bisa bertemu dengan Tuan.


"Apakah Ana sudah berkeluarga?" Tanya Roby.

__ADS_1


"Ya Allah, ini lagi dia tanya, kamu itu suaminya bodoh." Sarah bermonolog.


"Dia tidak menikah dengan siapapun karena dia berharap anda adalah jodohnya." Ujar Sarah.


"Benarkah, dia setia padaku, apakah kamu punya nomor teleponnya, bisa aku bicara dengannya." Roby begitu senang sampai tidak sabar ingin bicara dengan kekasihnya itu.


Sarah langsung menghubungi nomor nenek Yati agar ia bisa bicara dengan nona Ana. Nenek Yati memberikan ponselnya pada Rhihana, gadis itu menerima panggilan dari Sarah.


"Hallo, nona Ana tuan Roby ingin bicara dengan anda, tapi tuan Roby tidak tahu kalau anda dan dia sudah..?" Sarah belum menyelesaikan perkataannya, Roby langsung merebut ponsel Sarah.


"Hallo Ana, ini aku sayang, kekasihmu, sebentar lagi aku akan sampai ke apartemen kita. Tolong tunggu aku di sana." Pinta Roby.


"Sayang, kamu langsung ke mansion saja jangan ke apartemen, apartemen itu sudah dijual, aku tunggu kamu di mansion, ok!" Titah Rhihana pada suaminya.


"Apakah orangtuamu tidak marah jika aku langsung ke mansionmu. Mereka akan menolak aku jika mereka tahu aku hanya pengemis jalanan sebelum bertemu denganmu." Roby sedikit takut dengan kedua orangtua Rhihana.


"Roby, apakah kamu lupa kalau kita sudah menikah?" Tanya Rhihana yang bingung dengan perkataan Roby.


"Menikah?" Hei kita masih sepasang kekasih, aku meninggalkanmu saat kamu masih SMA dan sekarang aku belum pernah bertemu denganmu bagaimana bisa kita sudah menikah sayang. Ujar Roby.


"Baiklah, aku tunggu kamu di mansion, aku akan membahas ini nanti sayang." Ucap Rhihana lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


Rhihana yang sudah berdiri di depan teras menunggu suaminya sambil menggendong putri mereka. Mobil taksi itu langsung masuk menuju halaman utama mansion.


Roby segera turun dari taksi dan memberikan sopir taksi itu uang seratus dollar Amerika.


"Tuan ini uang Amerika dan ini seratus ribu dollar." Ujar sopir itu bingung pada Roby.


"Bang ambil saja uang itu dan anda boleh tukar di money changer kalau mau uang rupiah. Anggaplah kalau hari ini keberuntungan anda." Ucap Sarah lalu menyuruh sopir itu pergi.


Roby menatap gadis yang sedang menggendong seorang bayi perempuan yang tidak ia kenali.


"Maaf di mana nona Ana?" Tanya Roby seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling mansion.


Deg!


"Astaga dia tidak mengenali wajahku yang sekarang tapi dia mengenali wajah Ana yang dulu." Rihanna merasa sangat sedih melihat suaminya tidak bisa mengenalinya.

__ADS_1


"Bawa masuk dia dulu Ana, sebaiknya bicaralah di dalam." Pinta nenek Yati.


"Ayo masuk dulu Roby." Ana mencoba menggandeng tangan suaminya tapi ditolak oleh Roby.


"Maaf nona, aku tidak ingin, nona Ana salah paham padaku kalau kamu menggandeng tanganku." Ucap Roby lalu menepis tangan Ana.


"Astaga, mengapa jadi begini?" Ana membatin.


Roby masuk ke ruang keluarga dan dia masih bingung belum bertemu dengan gadis yang ia cari. Ana sangat tertekan karena Roby tidak bisa mengenalinya. Nenek Yati ikut turun tangan dan sudah menghubungi dokter psikiater untuk menangani ingatan Roby yang hilang.


Sarah menceritakan bahwa Roby selama ini diberi obat untuk menghilangkan sebagian memorinya.


"Ia ingat kembali kenangannya setelah menyadari obat yang diminumnya, yang sudah menghapus sebagian memorinya dan ia membuangnya.


Sayangnya, yang dia ingat justru saat nona Rhihana masih berpakaian sekolah SMA. Bukan masa dia sudah menikah dengan nona Rhihana." Begitulah ceritanya nenek.


Nenek Yati dan Rhihana baru mengerti kondisi Roby saat ini.


"Nenek, bagaimana ini kalau di melihatku dengan wajah yang sudah berubah seperti ini. Roby pasti tidak mengenalku dan dia menolak aku nenek!" Rhihana mulai gelisah karena keadaan Roby yang saat ini membuatnya seperti pisau bermata dua.


Wanita yang sama yang di cintai Roby namun memiliki dua wajah yang sudah berbeda bentuk. Bahkan tidak sama sekali mirip dengan wajahnya yang dulu karena dokter merombak total wajahnya untuk membuat penyamarannya tidak ketahuan oleh Tuan Robert.


Rihanna menahan tangisnya karena saat ini Tania berada di hadapannya. Foto-fotonya yang dulu saat ia masih memiliki wajahnya yang asli sudah di selamatkan oleh nenek Yati di villa milik keluarganya.


Sekarang tidak ada kenangan yang tersisa di rumah ini kecuali foto kedua orangtuanya yang tergantung indah di ruang keluarga.


"Rhihana, kita tidak tahu bagaimana reaksinya nanti saat bertemu denganmu nanti, kita akan mencoba memberikan penjelasan kepadanya dengan meyakinkan dirinya bahwa kamu adalah Ana, gadis yang sangat ia cintai ketika kalian masih usia remaja." Ujar nenek Yati.


"Nenek, aku takut dia tidak akan mempercayainya diriku, apa lagi nenek Yati, yang belum ia kenal sama sekali." Rihanna masih kuatir dengan ingatan Roby yang mundur beberapa tahun yang lalu.


"Setidaknya dia sudah bertemu denganmu terlebih dahulu sayang, sebelum kamu menjelaskan apapun keadaanmu pada dirinya. Kita harus bersyukur, dia datang sendiri ke sini ke Jakarta tanpa harus bersusah payah menculiknya di Seol." Gerutu Rhihana sambil menggenggam tangan nenek Yati.


"Ya Allah tangan kamu dingin sekali Rhihana, kamu sangat takut karena dia menolakmu?" Tanya nenek Yati yang prihatin dengan keadaan Rhihana yang saat ini menjadi serba salah.


"Iya nenek, harusnya dia memelukku dengan sangat mesra dan kami sudah menangis terharu karena lama tidak bertemu tapi, melihat sikapnya seperti ini sangat membuatku tersiksa karena aku sangat merindukan dirinya nenek." Rhihana mulai menangis.


"Sayang, tolong perlakuan dia sama halnya saat kalian masih remaja dulu, jangan memaksakan dirinya untuk mengingatmu apalagi bercerita tentang perubahan wajahmu, kita tidak tahu apa yang dialaminya saat bersama dengan Tuan Robert. Mungkin lelaki itu pernah berbuat kasar kepadanya sehingga ingatannya jadi lupa." Nenek Yati terus memberi pengertian kepada Rhihana.

__ADS_1


"Nenek, aku tidak sanggup hidup seperti ini, jika suamiku sendiri menganggap aku orang asing. Dia akan mengira aku ini hanya seorang penipu dan sedang memanfaatkan dirinya yang saat ini mengalami lupa ingatan. Ini sangat membuatku aku muak nenek." Ujar Rhihana.


"Kita sama-sama berdoa dan berharap semoga semua ujian ini cepat berlalu dari hidupmu. Suatu saat nanti dia akan mengenalimu dan lebih mencintaimu." Nenek Yati menguatkan hati Rhihana yang sudah pesimis pada keadaan yang tidak berpihak kepada dirinya.


__ADS_2