SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
43. KESEDIHAN SARAH


__ADS_3

Setelah tiga bulan meninggalnya nenek Yati, Sarah belum bisa move on dari rasa kehilangannya atas kematiannya nenek Yati.


Sore itu pengacara nenek Yati mendatangi kediaman Rhihana. Roby dan istrinya menyambut pengacara itu dengan tangan terbuka.


"Selamat sore Tuan Roby dan Nyonya Rhihana!" Tuan Raffa menyapa sang tuan rumah.


"Sore Tuan Raffa. Ada berita apa nih untuk kami." Tanya Roby berbasa-basi dengan pengacara nenek Yati yang merupakan pengacara perusahaannya juga.


"Begini Tuan dan Nyonya Roby, saya ditunjuk oleh nyonya Sumiyati sebagai pengacaranya yang mengatur harta warisan yang ia tinggalkan untuk seseorang yang bernama Alya Sarah Rahmawati. Apakah ada nona Sarah di sini?" Tanya pengacara Raffa.


"Sebentar Tuan Raffa, saya akan memanggil dia. Dia lagi ada di kamarnya." Ujar Rhihana lalu beranjak ke kamar Sarah.


Sarah yang lagi duduk termenung di depan foto sang guru dengan masih terisak.


Tok..tok!"


"Masuk!" Sahut Sarah dari dalam kamarnya.


"Sarah!" Panggil Rhihana lembut.


Sarah bergegas berdiri ketika melihat yang datang adalah bosnya Rhihana.


"Maaf nona, saya tidak tahu kalau itu anda." Ucap Sarah dalam sikap sempurna.


"Tidak apa Sarah, jangan terlalu sungkan padaku. Sarah ada yang mencarimu." Ujar Rhihana kemudian.


"Siapa nona?" Tanya Sarah yang bingung.


"Lihat saja sendiri Sarah!" Pinta Rhihana.


Kedua gadis itu turun menemui pengacaranya nenek Yati, yaitu Tuan Raffa.


Melihat Tuan Raffa, Sarah buru-buru merapikan rambutnya yang acak-acakan.


Pengacara muda ini tersenyum melihat tampang Sarah yang berantakan.


"Sarah, kamu tetap cantik sayang walaupun penampilanmu berantakan." Gumam pengacara Raffa.

__ADS_1


"Silahkan duduk Sarah!" Tuan Raffa ingin bicara denganmu." Ucap Roby.


Sarah duduk di sofa tunggal dan menatap wajah tampan pengacara Raffa. Mata keduanya beradu hingga membuat keduanya sama-sama salah tingkah.


"Ada perlu apa Tuan dengan saya?" Tanya Sarah santun.


"Sarah, saya ditunjuk oleh nenek Yati sebagai pengacaranya yang mengurus semua harta warisannya yang ia serahkan semua kepadamu sebagai ahli waris." Ucap Tuan Raffa membuat Sarah terhenyak.


"Apa? saya sebagai ahli warisnya nenek Yati?" Tanya Sarah setengah tak percaya.


"Iya nona Sarah karena Nenek Yati tidak memiliki keturunan dan juga tidak memiliki kerabat dekat karena dia tidak tahu siapa keluarganya." Ucap Tuan Raffa.


Sarah kembali menangis mengetahui kasih sayang nenek Yati kepadanya.


"Sarah, menangisnya nanti saja kalau saya sudah membacakan hak-hak anda sebagai ahli waris dari nenek Yati. Tapi sebelumnya, ada surat dari nenek Yati untukmu. Ia menulis surat ini dan menyerahkan kepada saya ketika dia berkunjung ke negara Spanyol untuk bertemu dengan keluarga Tuan Roby." Ucap Tuan Raffa seraya menyerahkan amplop besar berwarna coklat kepada Sarah.


Sarah menerimanya dengan tangan gemetar dari tangan Tuan Raffa.


"Apa boleh saya membacanya sekarang?" Tanya Sarah.


"Bulan depan juga nggak apa." Ujar Tuan Raffa yang sangat gemas dengan Sarah, gadis yang ia incar selama ini.


Sarah membuka surat itu hati-hati. Kemudian membacanya dengan serius.


Surat nenek Yati


"Untuk mu ananda Sarah yang nenek cintai. Jika kamu membaca surat ini, berarti nenek Yati sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Dengarkan ini sayang!"


Sarah kamu adalah putri dari sahabatku yang bernama Reni. Ia melahirkanmu ketika dia tertembak saat ingin menyelamatkan nyawaku. Saat itu usia kandungannya baru delapan bulan dan kamu harus diselamatkan sebelum nafasnya berhenti.


Ia menyerahkanmu kepadaku untuk aku rawat seperti putriku sendiri. Sebenarnya kami saat itu saling bermusuhan karena memperebutkan ayahmu.


Ayahmu adalah kekasihku, tapi ibumu mengambilnya dariku. Sekian lama kami terpisah setelah ayahmu menikahinya.


Saat pertama kali bertemu lagi dengannya secara tidak sengaja di sebuah acara pernikahan. Kami bertengkar hebat. Aku melupakan kalau aku ini pengawal untuk Tuan Gahral dan nona Maya, orang tua dari Rhihana. Di saat yang sama ada pembunuh bayaran yang ingin menembak Tuan Gahral tapi aku menghalanginya, tapi tidak di sangka ibumu yang malah menghalangi tubuhku sehingga ia yang tertembak. Aku pikir persahabatan itu tidak ada di dunia ini, tapi melihat ketulusan ibumu pandanganku berubah, bahwa persahabatan sejati itu masih ada, tapi urusan cinta membuat nilai persahabatan menjadi berkurang kadarnya. Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah melahirkanmu, nak.

__ADS_1


Sarah, maafkan nenek karena sudah merahasiakan identitasmu. Nenek mohon terimalah semua harta warisan nenek untuk bekal hidupmu. Menikahlah dengan lelaki yang sangat mencintaimu bukan kamu yang mencintainya karena kalau kamu yang terlalu mencintainya hatimu yang akan terluka jika ia menduakan cintamu.


Terimakasih sayang, sudah menemani nenek seumur hidupku. Semoga selalu bahagia.


Ada foto orangtuamu yang nenek selipkan di dalam amplop ini.


Yang mencintaimu....


Nenek Yati."


Sarah termangu membaca surat dari nenek Yati. Ia baru mengetahui bahwa dirinya adalah anak dari sahabatnya nenek Yati.


Tapi ia begitu bangga dengan kedua ibu yang telah berjasa dalam hidupnya. Ibu yang telah melahirkannya dan ibu yang telah membesarkannya.


Ayah Sarah yang saat itu seusia dengan nenek Yati tapi lebih memilih Reni yang lebih mudah darinya yang beda lima tahun dengan nenek Yati.


Sarah mengeluarkan foto orang tuanya. Wanita yang di dalam foto itu, wajahnya persis dengan dirinya sedang berpelukan mesra dengan ayahnya.


"Pantas jadi rebutan, ayahku setampan ini." Ujar Sarah membuat Rhihana dan dua lelaki tampan di depannya saling berpandangan mendengar ucapan Sarah.


"Ada apa Sarah, mengapa kamu tiba-tiba tersenyum?" Tanya Rhihana yang melihat Sarah tersenyum setelah membaca surat dari nenek Yati.


"Ini nona, bacalah surat ini! setelah itu anda akan tahu mengapa saya tersenyum." Ucap Sarah lalu menyerahkan surat itu kepada bosnya.


"Emang kami boleh membacanya?" Tanya Rhihana.


"Silahkan nona Rhihana, karena tidak ada rahasia diantara kita." Ucap Sarah lalu menatap wajah Tuan Raffa malu-malu.


Rhihana dan suaminya membaca surat itu secara bersamaan. Usai membacanya mereka melihat foto orangtua Rhihana. Tapi Rhihana masih bingung apa yang membuat Sarah tersenyum setelah membaca surat itu.


"Sarah aku masih bingung mengapa kamu bisa tersenyum? sedangkan aku tidak melihat hal yang lucu di sini tapi hal yang menyedihkan." Ucap Rhihana.


"Kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupku ini, memperebutkan pria tampan yang ada di foto itu, tapi ibuku yang memenangkan hati ayahku sehingga mereka bisa memberiku kehidupan." Ucap Sarah.


"Kamu juga sudah memenangkan hatiku nona Sarah." Ucap Tuan Raffa yang langsung tembak gadis pemberani ini.


"Apaan sih, nggak jelas banget deh." Ucap Sarah yang menyembunyikan perasaannya kepada Tuan Raffa.

__ADS_1


"Kalau anda bersedia, saya akan melamar anda sekarang dihadapan Tuan Roby dan nyonya Rhihana." Ujar pengacaranya nenek Yati ini.


"Ehmm... ehm!" Tuan Roby pura-pura batuk mendengar lamaran Tuan Raffa pada pengawalnya.


__ADS_2