SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
15. First Time


__ADS_3

Rhihana menikmati resort mewah yang view-nya menghadap ke pantai. Rona bahagianya tidak habis-habisnya ketika suaminya memanjakannya dengan menginap di resort mewah tersebut dengan bayaran permalamnya yang bernilai fantastis.


"Ini sangat sempurna sayang, aku hampir mati bahagia karena kamu memperlakukan aku lebih dari seorang putri raja." Rhihana melompat ke tubuh suaminya yang sedang berdiri dengan bertel*njang dada.


Rhihana berkoala dalam gendongan suaminya. Roby memutar tubuh istrinya sesaat lalu menjatuhkan tubuh itu di atas kasur king size itu.


Kecupan kembali terjadi dipermukaan wajah cantik Rhihana dan berakhir pada bibir sensual itu. Rhihana menyerahkan dirinya sepenuhnya pada lelaki yang sangat dicintainya selama ini.


Kesetiaannya terbalas malam itu. Roby menjalani kewajibannya sebagai suami, sekaligus menebus kerinduannya yang bertahun-tahun ia tinggalkan gadis ini yang telah menjadikan dirinya, pria yang paling beruntung.


"Akhhh," des*h Rhihana ketika penjelajahan bibir suaminya sudah bertumpu pada dua gundukan kembar miliknya.


Roby bermain lama di sana, mereguk dua ujung kenyal itu secara bergantian, tangan yang satunya berusaha menggapai bagian bawah perut istrinya dan merasakan tempat itu sudah basah karena terbakar birahi.


Roby duduk diatas tubuh cantik itu, memperhatikan seksama tubuh polos tanpa sehelai benangpun. Rasa kagumnya berubah menjadi liar, ia seperti harimau buas yang sedang menikmati mangsanya.


Setiap inci tubuh itu tak terlewatkan hingga berlabuh di tempat tersembunyi dan terjaga dari jamahan laki-laki lain.


Rhihana menjadikan dirinya pertama dan sekaligus terakhir, satu lelaki yang dipertahankannya tanpa tahu bagaimana hatinya terpelihara demi kesetiaan pada sang kekasih.


"Oh baby!" Kata-kata serak nan berat keluar juga dari mulut Roby yang kini sudah memasuki nikmatnya surga dunia.


Rhihana mengigit ujung bibirnya menahan rasa sakit sekaligus bercampur geli. Teriakannya akhirnya menggema karena portal pertahanannya telah dijebol oleh lelaki yang mendapatkannya secara terhormat. Bulir bening itu menetes dari sudut matanya.


Rasa bangga dan bahagianya yang tak terlukiskan malam ini. Memberikan mahkota yang terpelihara tanpa cela hanya untuk pangeran impiannya.


"Apakah sakit sayang?" Tanya Roby yang sudah memasuki tubuh istrinya dengan sempurna.


Ia mendiamkannya beberapa saat, merasakan sensasi yang luar biasa ini dalam hidupnya. Bibir keduanya kembali bertautan, meresapi setiap hentakan nikmat dengan ritme yang pelan dan berakhir dengan kecepatan untuk mengejar puncak kenikmatan dan akhirnya keduanya mengeluarkan suara erangan dan lenguhan bersamaan.


Roby jatuh diatas tubuh istrinya setelah melepaskan cairan benih yang akan tertanam dirahim Rhihana. Senyumnya mengembang tat kala melihat noda merah menghiasi seprei putih itu. Sekali lagi ia mengecup bibir istrinya dan merebahkan tubuhnya ke samping.


"Sayang, apakah kamu bahagia menikah denganku?" Tanya Roby setelah nafasnya kembali teratur.


Keduanya saling tidur berhadapan dengan tubuh yang masih polos tanpa ditutupi selimut.


"Ini adalah obat hatiku mendapatkan kembali dirimu dan menikah denganmu, itu khayalan yang sering bermain indah dalam imajinasiku" Sahut Rhihana menanggapi pertanyaan suaminya.


Setelah beberapa saat istirahat, keduanya kembali lagi mengulangi sesi selanjutnya dalam mereguk kenikmatan duniawi itu, melepaskan semua kerinduan yang belum tuntas selama jauh terpisah.


Hingga waktu menunjukkan pukul dua pagi, keduanya akhirnya menyerah dan terlelap saling berpelukan dibawah selimut tebal.

__ADS_1


Suara ombak yang terdengar memecah dibibir pantai. Seakan menjadi instrumen alam sebagai pengantar tidur keduanya. Mimpi indah malam ini menjadi suatu kesatuan yang utuh, karena cinta keduanya menyatu karena restu illahi Robby, yang maha mengatur atas segala sesuatu.


🌷🌷🌷🌷


Rona wajah keduanya nampak bahagia menyambut pagi setelah semalaman bercinta tanpa kenal lelah melewati malam yang makin menyepi.


Rhihana duduk diantara meja restoran yang menghadap ke laut lepas. Roby mengambil break fast mereka dan menikmatinya sambil memandang laut lepas pagi itu.


Dari kejauhan terlihat para nelayan yang sedang beradu dengan riak ombak untuk mendapatkan keberuntungan hari itu.


Roby mendoakan untuk para nelayan itu agar mendapatkan hasil tangkapan mereka hari ini melimpah. Rhihana begitu bersyukur karena Roby tidak lupa dengan orang-orang yang bernasib malang seperti dirinya dulu.


Rhihana menyuap suaminya yang masih bengong menatap para nelayan di kejauhan dari tempat mereka duduk.


Roby menyambut pelayanan pertama dari istrinya. Ia mengalihkan perhatiannya sekarang ke ratunya yang sedang memanjakan dirinya.


"Kamu juga makan sayang, karena sebentar lagi kita akan kembali ke arena perang." Ucap Roby seraya menyuap istrinya juga.


Kedua saling suap satu sama lain, kadang minum pun dibuat menyilang agar terlihat keren. Sepasang pengantin baru ini menghabiskan sarapan mereka dengan canda tawa dan sesekali membahas kehidupan orang bawah.


Rihanna mengerti perasaan Roby yang mudah tersentuh dengan kaum papah. Iapun berjanji untuk lebih aktif dalam menyalurkan dana sosial untuk pengusaha kecil dan menengah. Hanya hatinya yang tahu niat mulianya ini.


Rhihana mengikuti langkah suaminya berlari kecil menuju kamar mereka.


Baru saja membuka pintu kamar, Roby sudah menarik tubuh istrinya dengan menggendong tubuh itu membawanya ke ranjang empuk mereka.


Semua pakaian telah ditanggalkan. Keduanya sudah berguling diatas kasur saling memberi sentuhan-sentuhan ringan, sebagai pemanasan awal.


Dalam sekejap pergumulan itu makin seru, Roby yang lebih mendominasi permainan panas itu, memberikan kenikmatan berkali-kali kepada istrinya.


"Kamu mau bergantian di atas sayang?" Roby menunggu jawaban Rhihana.


Gadis ini langsung bertukar posisi, melakukan gerakan dengan Liukan tubuh yang makin menggoda suaminya. Roby meremas bukit kembar milik istrinya dan Rihanna makin makin memacu dengan cepat kala dirinya sudah mulai mendapatkan sesuatu siap dilepaskannya dibawah sana.


"Kamu sangat mengagumkan sayang, aku seperti dibawa ke awan biru menikmati indahnya panorama alam." Ucap Roby kala keduanya sudah melewatkan setiap sesi percintaan mereka.


"Berapa anak yang kamu inginkan sayang?" Tanya Rhihana.


"Semampumu cantik, karena kamu yang akan mengalami semua penderitaannya, aku tidak akan menuntutmu sebanyak anak yang bisa kamu lahirkan.


"Terimakasih atas pengertiannya sayang, aku sangat mencintaimu suamiku." Rhihana kembali bangkit ingin melanjutkan permainan mereka.

__ADS_1


Roby tersenyum melihat semangat istrinya yang tetap berkobar walaupun barusan ia hampir kehabisan nafasnya.


"Kamu tahu Roby bercinta setelah menikah jauh lebih nikmat ketimbang melakukannya tanpa komitmen apapun dengan pasangan." Ucap Rhihana sambil mencium wajah suaminya.


"Iya sayang, kita bahkan melakukannya dengan tenang, tanpa takut ketahuan orang lain ataupun dosa yang menghantui setiap saat." Timpal Roby.


"Kita tidak bisa menyalahkan setiap prinsip hidup orang lain. Karena mereka yang akan menanggung segala resikonya jika mereka curang dengan diri mereka sendiri." Lanjut Rhihana yang kembali berperan aktif di permainan kali ini.


Permainan itu berlangsung seru, tidak ada keluhan maupun protes, satu sama lain saling mengenali tempat sensitif mereka.


Keterbukaan dalam sebuah hubungan percintaan sangat dibutuhkan, apa lagi pasangan baru menikah, lebih butuh adaptasi dalam berbagi dan menerima.


Jika tidak ingin menyesali suatu pernikahan hanya karena ketidakpuasan pasangan dalam urusan ranjang, perselingkuhan adalah jalan penyelesaiannya.


Orang selalu mengambil jalan pintas ketika tidak menemukan kepuasan dari pasangannya, akibatnya akan melihat rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput di pagar rumah sendiri.


"Akkkkhh!" Teriakan kenikmatan kala gelora cinta menghantarkan arus kebahagiaan ke seluruh tubuh.


Nafas keduanya memburu dengan ganas, dihiasi senyum yang tampak menawan dari wajah pasangan. Kesabaran yang begitu mahal untuk di jaga hingga akhirnya berbuah manis dengan ikatan suci pernikahan.


Di luar sana, masih banyak pasangan yang melakukan hanya karena suka sama suka. Komitmen hanya sebuah fatamorgana bagi mereka yang berpikiran sempit.


Mungkin jiwa muda didukung dengan tubuh sempurna yang mempesona tanpa mereka sadari waktu akan terus berjalan meninggalkan jejak luka yang akan disesali dihari tua.


"Sayang, bagaimana dengan pasangan yang sudah duluan melakukan hubungan intim di luar nikah? apakah setelah menikah mereka akan bosan ataukah lebih bersemangat untuk melakukan percintaan panas mereka?" Tanya Rhihana ketika sudah lebih tenang.


"Ujian mereka sudah di uji duluan, bulan madu sudah mereka rasakan, sisanya di malam pengantin tidak seseru lagi seperti yang kita rasakan saat ini." Timpal Roby.


" Ah, Biarkan mereka dengan kehidupan nya, semua orang mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya di dunia. Kita dengan prinsip hidup kita sendiri, sebagai amal untuk bekal di akhirat." Ujar Rhihana.


"Iya sih sayang, karena neraka terlalu murah untuk di dapatkan dengan mudah, sedangkan surga begitu indah bagi orang-orang menjaga kesucian dirinya, bukankah hadiah surga tak tertandingi dengan apapun di dunia ini." Imbuh Roby.


"Cukup kamu bagiku sayang, karena satu orang Roby ku menggantikan seluruh kesedihan yang pernah ku alami dalam hidupku karena cinta tulus mengalahkan segalanya." Sambung Rhihana.


"Sayang, aku tidak tahu apa jadinya diriku jika saat itu, kamu hanya mengucapkan terimakasih padaku ketika aku mengembalikan buku diary milikmu." Roby mengenang lagi masa-masa indah saat pertama kali mereka bertemu.


"Iya sayang, saat itu entah mengapa aku tiba-tiba bersumpah jika seorang pria yang mengembalikan buku diary milikku, aku akan menjadikan ia seorang kekasih. Baru saja menyebutkan itu, aku malah ditantang Allah dengan mempertemukan dirimu dan diriku.


Karena sudah bersumpah, makanya aku nekat mengubah penampilanmu dan saat itu, aku langsung jatuh cinta melihat tubuh yang sudah bersih dan gaya rambutmu yang sudah rapih membuat seketika jatuh cinta benaran." Ucap Rhihana sambil tersenyum dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Jadi karena aku tampan kamu jadi tergila-gila padaku?" Roby menggelitik tubuh istrinya hingga Rhihana berteriak minta ampun.

__ADS_1


__ADS_2