SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
8. DENTINGAN MELODI


__ADS_3

"Kenapa nona?" Tanya dokter Caroline panik ketika mendengar teriakan histeris Rhihana.


"Ini bukan wajah aku dokter, wajahku tidak seperti ini. Anda telah melakukan kesalahan....hiks..hiks!" Rhihana memeluk kedua kakinya dan menangis dalam pangkuan pahanya.


"Nona kami melakukan sesuai dengan sketsa wajah yang diperintahkan oleh wali anda." Dokter Caroline tidak ingin disalahkan oleh Rhihana.


Rhihana mengangkat wajahnya dan menatap wajah dokter Caroline dengan mengernyitkan dahinya.


"Apa yang anda katakan dokter? wali aku yang meminta dokter melakukan sesuai sketsa wajah yang diberikan oleh mereka?" Tanya Rhihana.


"Suster ambil sketsa wajah nona Lydia di kantorku!" Perintah dokter Caroline pada suster yang membantunya.


Tidak lama berselang, suster Anabel memberikan sketsa wajah Rhihana pada gadis yang kelihatan sangat kecewa itu.


"Ini nona, lihatlah sendiri, bukan cuma bekas luka pipi Anda saja yang kami perbaiki, tapi kami juga merubah struktur wajah anda sesuai dengan sketsa ini." Dokter Caroline berdalih membela diri.


"Nenek Yati, mengapa kamu tega melakukan ini semua tanpa bertanya kepadaku?" Jerit Ana yang sangat kesal dengan tindakan nenek Yati yang sudah mengatur kehidupan pribadinya terlalu jauh.


"Permisi nona Lydia saya harus mengontrol pasien lain. Mengenai wajah anda, tolong bicarakan dengan wali anda karena ini diluar wewenang saya sebagai dokter ahli kecantikan." Dokter Caroline meninggalkan Rhihana dengan setumpuk pertanyaan dibenaknya.


Tiga hari kemudian, Rhihana meninggalkan rumah sakit. Ia pulang ke apartemen dengan perasaan kecewa. Ia lalu menghubungi nenek Yati, namun wanita tua itu tidak mau mengangkat panggilan darinya.


"Apa yang diinginkan oleh perempuan tua itu? mengapa dia tega membuatku seperti ini? siapa dia sehingga tega menghancurkan hidupku. Dengan wajah seperti ini, bagaimana caranya Roby mengenali diriku jika suatu saat nanti kami bertemu. Oh tidak!" Ini lebih gila yang aku bayangkan, ini lebih mengerikan dari pada penjahat-penjahat yang membunuh kedua orangtuaku.


Aku anak seorang pengusaha hebat tapi harus diatur oleh nenek tua yang hanya seorang pelayan. Bre**k!" Rhihana berdiri menuju balkon dan melihat lalu lintas dibawah sana seperti deretan semut beriringan.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Di salah satu Cafe yang cukup mewah Rhihana duduk seorang diri tanpa ada teman yang menjadi temannya saat itu karena ia belum aktif kuliah.


Pemilik Cafe seorang wanita berbadan besar menghampirinya ketika melihat Rhihana tampak melamun sendirian.


"Nona, apakah anda orang Asia?" Tanya nyonya Carrie.


"Oh iya," ujar Rhihana dengan senyum di paksakan.


"Dulu aku pernah berkunjung di Asia tenggara, tepatnya di kota Bali." Ucap nyonya Carrie mengenang perjalanan wisatanya.

__ADS_1


"Apakah anda pemilik tempat ini?" Rhihana mengalihkan pembicaraan nya karena dia tidak ingin wanita ini banyak menanyakan kehidupan pribadinya.


"Iya benar sekali."


"Pengunjungnya sangat banyak, tapi mengapa cafemu seperti kuburan, tidak ada yang bermain musik atau bernyanyi di sana.


"Biduannya belum datang dan juga pemain musiknya, mereka ada urusan, mungkin sebentar lagi mereka akan datang." Ujar nyonya Carrie.


"Boleh aku memainkan salah satu alat musikmu?" Rhihana meminta izin kepada pemilik Cafe itu.


"Silahkan, dengan senang hati nona, anda sangat baik!" Ucap pemilik Cafe itu tersenyum cerah mendengar tawaran gratis dari gadis cantik di depannya.


Rhihana bangkit dari duduknya menuju ke tempat alat musik yang digantung indah di dinding Cafe yaitu gitar.


Ia mengambilnya lalu duduk di atas kursi tinggi khusus untuk pemain gitar. Rhihana mulai memetik setiap dawai gitarnya dengan sentuhan yang sangat indah bagi yang mendengarnya. Ia memainkan instrumen lagu yang sering dinyanyikan bersama kekasihnya Roby.


Disalah satu meja, duduk seorang lelaki tampan yang menikmati musik Rhihana, ia merekam permainan itu untuk disimpan di ponselnya. Rupanya sampai instrumen musik itu berakhir banyak pasang mata pengunjung Cafe tersebut menikmati musiknya.


Tepuk tangan tamu Cafe terdengar riuh. Rihanna memberi hormat dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia kemudian beralih kembali ke tempat duduknya.


"Silahkan duduk Tuan!" Rhihana berkenan menerima Calvin menemaninya duduk di Cafe tersebut.


"Permainan gitar anda sangat indah, hanya sayang saya tidak mengetahui lagunya, mengapa anda tidak menyanyikan lagunya sekalian." Ucap Calvin memberikan pendapatnya.


"Lagu itu tidak dinyanyikan didepan sembarang orang karena lagu itu punya pemiliknya. Aku belum bertemu pemiliknya jadi aku tidak bisa menyanyikan lagunya." Rhihana memberikan alasannya kepada Calvin.


"Apakah dia kekasihmu?" Aku sangat iri padanya karena kamu sangat memujanya." Imbuh Calvin sambil memainkan korek apinya.


Rihanna sedikit ogah meladeni ocehan Calvin, karena dirinya sendiri lagi suntuk, ia pun mendengarkan saja pria tampan ini menceritakan apa saja padanya.


Rhihana sengaja melihat ponselnya dan pura-pura membuka notifikasi pesan dan berujar sesuatu pada Calvin agar bisa pergi dari Cafe itu.


"Sorry Sir I have an appointment with my professor, I have to go.


"Tunggu siapa namamu nona?" Tanya Calvin saat Rhihana mulai melangkah meninggalkannya.


"Lidya!" Jawab Lidya singkat.

__ADS_1


"Terimakasih nona Lydia, senang bertemu denganmu." Tuan Calvin membungkuk hormat.


"Dia sangat cantik, namun sayang dia sudah memiliki kekasih." Calvin menghabiskan minumannya lalu meninggalkan cafe itu.


Ia kemudian kembali ke perusahaannya menemui bosnya Roby karena sebentar lagi mereka akan mengadakan meeting.


"Selamat siang Tuan Roby!" Ucapnya lalu duduk di sofa sambil membuka lagi ponselnya.


"Kamu dari mana saja Calvin, dari tadi aku menunggumu." Gerutu Roby kesal dengan asistennya ini, karena menghilang begitu saja.


"Aku dari Cafe Tuan, aku makan siang di sana." Ucap Calvin serius sambil memutar video rekaman Rhihana yang tadi ia rekam ketika gadis itu bermain alat musik.


Calvin sengaja memperbesar volume suara melodi gitar yang dimainkan oleh Rhihana. Sesaat kemudian Roby sangat kaget mendengar musik itu persis miliknya yang selalu ia mainkan bersama Rhihana.


"Calvin, dari mana musik itu?" Tanya Roby, buru-buru menghampiri Calvin dan merebut ponsel asistennya itu.


"Ada apa Tuan, itu milik saya." Calvin mencoba merebut kembali ponselnya di tangan Roby.


"Tunggu siapa gadis ini? wajahnya tidak begitu kelihatan dan musik ini, bagaimana bisa gadis ini memainkan musik ini?" Roby mencoba memperbesar gambar gadis itu namun sayang wajahnya tertutup dengan rambut panjangnya.


"Namanya Lidya, sepertinya dia gadis Asia, hanya saja dia bilang pada saya, bahwa dia hanya bisa memainkan melodinya tanpa bisa menyanyikan lagunya, karena pemilik lagu itu belum bisa ia temukan." Ucap Calvin santai.


"Apa maksudmu dia berkata seperti itu?" Roby makin penasaran dengan jawaban Calvin.


"Dia sedang menantikan kekasihnya yang lama menghilang, dia ingin menyanyikan lagu itu dari melodi tadi jika pencipta lagu itu hadir dihadapannya." Ucap Calvin kepada Roby.


"Calvin di mana caffe itu? dia gadisku, dia gadis yang selama ini aku cari, dia cintaku, tolong beritahu aku di mana kamu bertemu dengannya?" Teriak Roby seperti orang gila karena mengetahui gadisnya berada di Amerika.


"Kamu yakin, kalau gadis yang aku temui di cafe itu adalah gadis yang selama ini tinggal dan menetap di hatimu sampai kamu tidak ingin membuka hati untuk wanita manapun?" Tanya Calvin penasaran.


"Iya...iya...iya!" Ucap Roby dengan menghentakkan dua tangannya di hadapan Calvin.


"Bagaimana jika nanti kita bertemu dengannya kamu malah tidak mengenalnya dan dia juga menolakmu karena sudah melupakanmu." Canda Calvin yang melihat sahabatnya ini sangat tegang.


"Bisakah kamu membantuku mencarinya di Cafe tanpa harus mencelaku terus?" Ujar Roby gusar.


"Ok, kita ke sana sekarang tapi aku tidak menjamin dia masih ada atau tidak." Ucap Calvin cuek.

__ADS_1


__ADS_2