SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
42. BABY AZRIL


__ADS_3

Anggota baru dari keturunan Fernandez sudah di sambut keluarga dengan suka cita.


Kedua orangtua Roby yang ikut hadir dalam acara aqiqah cucu mereka merasa sangat bangga karena hadirnya pewaris kerajaan mereka saat ini.


Guntingan rambut pertama yang dilakukan oleh Tuan David dan diikuti istrinya. Baby Tania menyambut kehadiran adik bayinya dengan meminta ayahnya untuk mengambil foto mereka berdua.


"Tania mau gendong dede sambil foto ayah." Pinta Tania manja.


"Tania belum bisa gendong dedenya. Nanti adiknya bisa jatuh." Ucap Roby yang kuatir dengan permintaan Tania.


"Gendongnya sambil duduk ayah jadi nggak bakal jatuh, percaya deh sama Tania." Ujar gadi kecil ini yang kini sudah berusia empat tahun.


"Astaga!" Mengapa anak ini selalu memaksakan kehendaknya." Roby sedikit emosi dengan putrinya Tania.


"Oma yang bantuin Tania gendong baby AZRIL ya." Ucap Nyonya Arimbi lalu meletakkan cucu keduanya itu ke tangan Tania sesuai arahan Omanya.


Tania melakukannya dengan baik. Tim fotografer yang di sewa oleh Roby mulai mengambil foto pertamanya pada Tania dan baby Azril.


"Sekarang, aku akan mengambil foto keluarga besar terlebih dahulu, lalu foto keluarga inti dan foto berdua masing-masing, ayah dan bundanya bersama si baby." Ucap Fotografer itu memberi arahan terlebih dahulu kepada keluarga Roby.


Keluarga besar itu siap dengan gaya terkeren mereka dengan senyum terbaik yang mereka perlihatkan.


Usai pemotretan, baby Azril di gunduli rambutnya oleh opa David Fernandez. Roby yang menggendong putranya itu agar tidak terlalu banyak bergerak.


"Roby, putramu Azril mirip denganmu saat kamu bayi dulu sayang. Mommy melahirkanmu di rumah sakit umum karena keluarga mommy saat itu tidak merestui pernikahan mommy dengan ayahmu karena kami berbeda keyakinan saat itu.


Kami akhirnya menikah secara catatan sipil di Australia. Mommy meninggalkanmu saat kamu berusia tiga bulan karena saat itu mommy di kejar oleh anak buahnya Tuan Robert. Dalam keadaan bingung mommy meninggalkanmu di panti asuhan itu." Ujar mommy Arimbi dengan wajah sendu.


"Mommy, dapat bertemu lagi dengan kalian adalah suatu anugrah, jadi tidak perlu di bahas lagi hal yang sudah berlalu." Roby menghibur mommy Arimbi agar tidak lagi mengenang kesalahannya di masa lalu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Tiga bulan pertama, baby Azril di bawa oleh Rhihana dan nyonya Arimbi untuk mendapatkan imunisasi ke dua.


Roby yang belum mendapatkan tempat parkir mencari tempat parkir yang sulit untuk memarkirkan mobilnya karena terlalu penuh. Akhirnya dia memarkirkan mobilnya di parkiran lantai atas gedung rumah sakit itu.


Rhihana dan mommy Arimbi berjalan duluan ke ruang praktek dokter spesialis anak. Karena mendapatkan nomor urut yang terakhir, Rhihana minta izin ke ibu mertuanya ke toilet wanita.


Tuan Robert yang kebetulan hari itu sedang berkunjung ke rumah sakit yang sama dengan Rhihana, untuk memeriksa keadaan gula darahnya yang lagi kambuh begitu kaget melihat nyonya Arimbi dan seorang gadis yang pernah berpapasan dengannya dan bertabrakan dengannya sekitar enam bulan yang lalu.


"Ada hubungan apa antara Arimbi dengan gadis itu?" Tanya tuan Robert yang tidak mengerti bahwa Rhihana adalah istri Roby.


Ia melihat Rhihana berjalan ke arah toilet, namun baru beberapa langkah berjalan suaminya Roby memanggilnya.


"Rhihana!"


Rhihana berbalik melihat suaminya menghampirinya.


"Apa?" Gadis yang pernah bertabrakan denganku adalah Rhihana?" Tapi wajahnya tidak seperti Rhihana yang ku kenal sepuluh tahun yang lalu. Mengapa wajahnya berubah?" Oh iya!" Aku baru ingat sekarang, aku pernah merusak wajahnya dan dia melakukan operasi plastik untuk mengelabuhi aku agar tidak mengenalinya. Gadis yang sangat cerdas.


Tuan Robert lalu bersembunyi. Ia melihat Rhihana hanya sendirian pergi ke toilet dan Roby dan putrinya menemani Nyonya Arimbi yang sedang menggendong bayi Roby.

__ADS_1


Tuan Robert tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membunuh Rihanna. Kebetulan ia selalu membawa pistolnya yang ia selipkan di kakinya.


Tuan Robert mengikuti langkah Rhihana yang sedang masuk ke toilet wanita. Agar tidak di curigai oleh orang lain. Ia juga ikut masuk ke toilet pria yang kebetulan bersebelahan dengan toilet wanita.


Melihat keadaan toilet pria lengang, ia pun ingin melakukan aksinya untuk membunuh musuh yang selama ini ia cari. Seorang musuh yang telah merebut anak angkatnya Roby dari sisinya.


Tuan Robert, belum bisa melakukannya karena masih banyak wanita lain yang keluar masuk di toilet wanita.


Di depan ruang tunggu pasien balita yang akan melakukan imunisasi dan berobat, nenek Yati dan Sarah yang baru tiba menanyakan keberadaan Rhihana.


"Nyonya Arimbi, di mana Rhihana?" Tanya nenek Yati.


"Tadi lagi pamit ke toilet." Ujar nenek Yati.


"Di mana Tuan Roby?" Tanya Sarah.


"Lagi temanin Tania ke kantin rumah sakit.


"Astaga!" Kenapa Roby sangat ceroboh membiarkan nona Rhihana ke toilet sendirian?" Nenek Yati sangat kesal dengan Roby.


"Sarah, kawal Roby, aku mau menyumpal Rhihana." Titah nenek Yati lalu berjalan cepat menuju toilet wanita.


*


*


"Rihanna!" Sapa Tuan Robert pada musuh besarnya itu.


"Apa kabar cantik!" Ternyata wajahmu kini sudah berubah, aku hampir tidak mengenalimu sama sekali. Jika aku tahu Rhihana dengan wajahmu seperti ini dari awal kita berpapasan di Mall, mungkin saat itu akan langsung membunuhmu cantik." Ucap tuan Robert makin mendekati Rhihana yang terus mundur tapi sulit untuk menyelamatkan diri.


"Tidak, kamu salah orang Tuan, aku bukan Rhihana, namaku Lydia." Ucap Ana yang makin terpojok.


"Dasar wanita ja**ng!" Tuan Robert membentak Rhihana karena Rhihana terus menipunya.


"Sekarang sambutlah ajalmu hari ini, ja**ng!" Bunyi pistol kedap suara itu meletus dan di saat yang sama, nenek Yati menghalangi tembakan itu mengenai putri majikannya.


Dor... dor!" Peluru itu menembus kulit keriput nenek Yati yang menjadi tameng untuk putri majikannya.


"Tidakkkk..!" Teriak nenek Yati langsung memeluk tubuh Ana.


"Tuan Robert!" Roby datang bersama Sarah yang begitu kaget melihat tuan Robert melepaskan tembakannya ke arah istrinya walaupun sudah dihalangi oleh nenek Yati.


Dengan cepat Rhihana mengambil pistol dari tangan nenek Yati dan mengarahkan ke arah punggung Tuan Robert yang sedang menengok ke arah suaminya.


"Dor...dor...dor!" Tuan Robert seketika tumbang dan terkapar di lantai rumah sakit dengan darah yang mengalir deras dari punggungnya.


"Nenek.... Nenek!" Rihanna menangis histeris.


Rihanna membuang pistol nenek Yati lalu memangku nenek Yati yang sudah terkapar di lantai.


"Nenek bertahan nenek sayang, kamu harus hidup demi aku. Aku masih membutuhkanmu nenek." Ucap Rhihana sambil terisak.

__ADS_1


Roby mengangkat tubuh nenek Yati membawanya ke ruang IGD.


Para satpam langsung membawa Tuan Robert yang masih sadar ke ruang IGD.


Tempat kejadian perkara di amankan oleh pihak berwajib dengan memberikan garis polisi.


Nenek Yati dan Tuan Robert segera di operasi pengangkatan proyektil yang bermuara pada punggung mereka.


Nenek Yati tidak kuat bertahan dan meminta kepada dokter ingin bertemu Rhihana dan Sarah. Dokter mengabulkan permohonan nenek Yati usai proyektilnya di angkat dari tubuh rentanya.


Sarah dan Rhihana masuk bersamaan mendekati nenek Yati yang sedang menghadapi sakratul maut.


Sarah dan Rhihana menangis melihat nafas nenek Yati yang sudah mulai tersendat-sendat.


"Nenek Yati!" Rhihana mencium tangan kuat itu, yang selalu membelai rambutnya jika dirinya sedang sedih.


"Rhihana, pengabdian nenek padamu hanya cukup sampai di sini saja sayang. Nenek minta maaf tidak bisa menjagamu sebaik mungkin. Hanya ini yang bisa nenek lakukan untuk melindungimu dari serangan musuh. Jika nenek bertemu dengan kedua orangtuamu dan kakek dan nenekmu, nenek tidak malu karena sudah berusaha melindungimu sayang." Ujar nenek Yati yang berusaha bertahan untuk mengucapkan kata perpisahan kepada kedua gadis yang sangat ia cintai ini.


"Rhihana jadikan Sarah pengganti nenek untuk terus menjaga keluargamu, tapi jika dua ingin berkeluarga, ijinkan dia untuk mendapatkan kebahagiaannya.


Sarah sayang!" Tolong mengabdikan dirimu pada keluarga Rhihana. Walaupun dia sudah berkeluarga, tapi dia masih membutuhkan kita sayang, semoga kalian saling menjaga satu sama lain. Selamat tinggal Rhihana." Ucap nenek Yati untuk terakhir kalinya lalu mengucapkan dua kalimat syahadat yang dituntun oleh Rhihana.


Nenek Yati menghembuskan nafas terakhirnya dengan damai.


"Nenek Yati.... hiks...hiks!" Sarah dan Rhihana saling berpelukan.


Suster menutup wajah nenek Yati dengan selimut rumah sakit. Suster meminta kedua gadis ini, untuk meninggalkan kamar operasi karena jenasah akan di bawa ke ruang jenazah.


Rihanna meminta pihak rumah sakit untuk mengurusi jenazah nenek Yati sampai rapi dan langsung di makamkan hari itu juga.


Pihak rumah sakit siap melakukan permintaan Rhihana. Sarah yang merasa sangat kehilangan atas kepergian nenek Yati. Gadis ini tidak berhenti menangis hingga nenek Yati di masukan ke dalam mobil jenazah siap di antarkan ke pemakaman umum.


Rhihana tidak bisa ikut mengantar jenasah nenek Yati ke pemakaman karena masih sangat syok.


Roby membawa keluarganya kembali ke mansion ketika sudah melepaskan kepergian nenek Yati dari rumah sakit.


Hanya Sarah dan para anak buahnya nenek Yati dan beberapa pelayan mansion yang mengantar ke pemakaman nenek Yati.


Keluarga besar Roby berkabung atas meninggalnya nenek Yati.


Sementara di rumah sakit, kamar inap Tuan Robert di jaga ketat oleh pihak keamanan.


Tuan David Fernandez meminta kepada pihak berwajib untuk mendeportasikan Tuan Robert ke negara asalnya Paris Perancis.


Dua hari kemudian, Tuan Robert meninggal dunia. Jenazahnya langsung di terbangkan ke Paris Perancis.


Keluarga Roby akhirnya bernafas lega atas kematian Tuan Robert.


"Alhamdulillah, akhirnya orang itu mati juga." Ucap Nyonya Arimbi.


"Sekarang kita tidak perlu merasa tertekan lagi setiap kali beraktivitas karena biang masalahnya sudah tewas." Ucap Roby yang masih kesal dengan Tuan Robert.

__ADS_1


Rhihana dan Sarah masih belum move on atas kepergian nenek Yati. Roby dan orangtuanya memaklumi keadaan kedua gadis itu yang sangat menyayangi nenek Yati.


__ADS_2