
Roby sudah berada di mansion bersama putrinya Tania. Ia meminta pelayan untuk menyiapkan acara ulang tahun Rhihana yang cukup sederhana di mansion milik mereka.
Tania sudah berdandan cantik untuk menyambut bundanya, begitu pula Roby dengan tuxedo warna hitam, siap dengan gitarnya karena ia ingin memberikan hadiah sebuah lagu ciptaannya untuk Sang istri tercinta.
Sudah hampir pukul tujuh malam, Rhihana baru tiba di mansion. Semua mobil pengawal yang mengawalnya kembali ke markasnya, mereka hanya mengantar Rhihana hanya sampai depan pintu gerbang utama.
"Kenapa lampunya digelapkan?" Tanya Rhihana yang heran melihat mansionnya hanya dinyalakan lampu luarnya saja dan penerangannya sangat temaram.
Karena rasa kuatir ia mengambil pistol miliknya yang berada di mobilnya berjalan menuju pintu utama mansion. Ketika di buka pintunya, lampu itu langsung dinyalakan dan Rhihana yang kaget dengan kejutan dari para penghuni mansion, buru-buru menyembunyikan pistolnya di belakang punggungnya.
"Surprise!" Ucap penghuni mansion itu bersamaan. Roby mendong kue ultah yang bertingkat itu sambil menggendong putrinya Tania ke arah Rhihana.
"Selamat ulang tahun sayang!" Ucap Roby di ikuti oleh putrinya.
"Selamat ulang tahun bunda!"
Roby mencium pipi sebelah kiri dan Tania mencium pipi sebelah kanan Rhihana.
Lilin ditiup oleh ketiganya. Kue ulang tahun pun dipotong dan di berikan potongan pertama pada suaminya lalu putrinya Tania dan potongan berikutnya untuk nenek Yati.
Momen itu diabadikan oleh fotografer yang sudah disewa Roby. Nenek Yati dan Sarah memberikan ucapan selamat mereka, dengan menyerahkan kuntum bunga mawar yang dipetik oleh nenek Yati di kebun bunga di villa pribadi milik Rhihana.
"Semoga bahagia selalu sayang," ucap nenek Yati lalu mencium kening Rhihana yang sudah ia anggap cucu sendiri.
"Terimakasih nenek." Rhihana mengecup tangan nenek Yati yang ia sudah anggap neneknya sendiri dan pelindungnya.
Lagu cinta di mainkan oleh Roby. Putrinya ikut duduk di samping ayahnya sambil menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Petikan dawai gitar yang di mainkan oleh Roby saat ini membuat Rhihana dikembalikan ke masa lalunya.
Ia seakan melihat lagi Robby sepuluh tahun yang lalu. Roby sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Menyampaikan lagu bait demi bait dari hatinya untuk menghibur Rhihana dan orang yang hadir di acara ulang tahunnya ini.
Air matanya berderai menghiasi pipinya yang mulus. Lagu baru itu adalah bagian dari puisi Rhihana sendiri yang digubah oleh Roby dengan notasi melodi yang ia buat dengan petikan dawai gitarnya.
Sentuhan melodi cinta begitu terasa kala cinta dinyanyikan dengan iringan dawai gitar melantunkan semua syair cinta dari bibir sang kekasih jiwa.
Cukup Kau Bagiku
"Betapa aku beruntung memilikimu kasih, berapa purnama ku lewati tanpa dirimu disisiku saat itu. Namun kesetiaanku yang tak ternilai kau hargai dengan kehadiranmu di sini.
Cukup kau bagiku kini, tak akan tergantikan dengan kemilau dunia yang mereka tawarkan padaku.
Cukup kau bagiku kasih..
Deritaku terbayar dengan cinta yang kau jaga untukku di setiap waktu..
__ADS_1
Cukup kau bagiku kasih...
Air mataku ku seka setiap saat, kala rindu merengkuh kesepianku tanpa kau di sisiku.
Wahai kasihku..
Jangan memilih lagi kata pisah karena sakitnya itu tak terlukiskan dengan kata...
Lagu berakhir, tepuk tangan meriah terdengar riuh memberikan apresiasi mereka pada suara indah milik Roby. Rhihana berlari memeluk suaminya.
Ia baru menyadari Roby pamit pulang lebih cepat karena ingin menyiapkan semua ini untuknya.
"Thank you dear for making me happy today. You are everything to me, never leave me again." Ucap Rhihana sambil memeluk suaminya.
"Aku mencintaimu Rhihana, tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah! karena ketulusanmu lah, yang membuat aku jatuh cinta kepadamu, sayang." Bisik Roby disisi bahu istrinya ketika masih berpelukan.
Rihanna meminta semuanya untuk menikmati makan malam bersama, padahal tamunya adalah para pelayan dan pengawalnya sendiri.
Roby memang tidak mengundang para karyawan atau pun para relasi perusahaan Rhihana karena keamanan yang sangat ketat yang diterapkan oleh nenek Yati pada keluarganya.
Mereka menikmati hidangan yang dimasak oleh tiga orang chef dan di bantu para pelayan mansion.
Para pelayan merasakan kekeluargaan yang terjalin antara Rhihana dan mereka.
Rasa salut mereka pada pasangan ini, yang tidak memperlakukan mereka seperti pelayan tapi sebagai keluarga.
Mereka berbincang di perpustakaan pribadi milik Rhihana.
"Ada apa nenek?" Tanya Rhihana dengan hati yang berdebar.
"Tuan Robert sudah mengetahui kalau Roby menikahi Rhihana, putri dari musuh utamanya." Ucap nenek Yati.
"Apakah mereka sudah tahu identitas saya yang baru nenek?" Tanya Rhihana.
"Mereka belum tahu perubahan wajahmu Rhihana, hanya saja nenek sangat kuatir dengan karyawan perusahaan kalian yang akan mengkhianati kalian.
"Tidak akan nenek, karena ponsel mereka tidak di perkenankan untuk dibawa selama bekerja kecuali istirahat dan pulang. Jika ketahuan aku tidak segan untuk meminta mereka keluar dari perusahaanku." Ujar Rhihana tegas.
"Kalau begitu, kalian harus tetap waspada, nenek akan tingkatkan lagi keamanan dan lebih selektif dalam memilih pengawal." Nenek Yati mewanti-wanti keduanya.
"Kami akan ingat pesan nenek." Ucap Roby.
"Roby tolong tetap bersama dengan pengawal dan usahakan agar pistol milikmu selalu menempel ditubuhmu. Kamu beruntung karena Tuan Robert sudah membekalimu dengan ilmu bela diri dan mengusai semua jenis persenjataan, itu berarti kamu sudah siap menghadang musuh yaitu ayah angkatmu sendiri beserta anak buahnya." Nenek Yati memperingatkan suami Rhihana ini.
__ADS_1
"Nenek, dulu mereka menyerang orang tuaku di pagi dini hari dalam keadaan hujan lebat dan angin kencang. Aku takut mereka akan melakukan hal yang sama karena sebentar lagi akan musim hujan." Rhihana mengenang lagi bagaimana peristiwa yang terjadi delapan tahun yang lalu.
"Kita akan menjebak mereka. Kita juga harus menghubungi mafia lain yang merupakan musuh dari Tuan Robert. Mungkin kamu banyak tahu Roby siapa musuh ayah angkatmu itu." Nenek Yati ingin mengetahui musuh dari musuh keluarga majikannya melalui Roby.
"Iya nenek aku masih ingat musuh-musuh tuan Robert, aku akan menghubungi mereka agar bisa menyusun rencana bersama, untuk menghancurkan tuan Roby dengan para Klan-nya.
"Apakah kita akan menyerang mereka ke markas Tuan Robert yang ada di Paris?" Tanya Rhihana.
"Kita harus menyerangnya terlebih dahulu sebelum mereka yang menyerang duluan kita. Lagi pula markas Tuan Robert itu, aku sudah tahu seluk beluknya dan pertahanan markas itu aku sendiri yang buat." Ucap Roby.
"Begini saja, untuk menyerang tuan Robert tidak harus dengan kekerasan, aku akan menyerangnya melalui akun bisnisnya dengan mengirim virus ke semua perangkatnya dan aku perlu bantuanmu sayang" Imbuh Rhihana pada suaminya Roby.
"Kamu sangat cerdas baby, kenapa dari tadi aku tidak memikirkan hal itu." Roby memuji kemampuan istrinya yang bermain secara halus.
"Nenek senang dengan kehebatan kalian bisa mengusai pertahanan kandang lawan. Kita kibarkan bendera perang!" Pekik nenek Yati semangat.
Roby dan Rihanna terkekeh melihat tingkah nenek Yati yang begitu bersemangat untuk menumpaskan musuh keluarganya.
Pesta ulang tahun itu berakhir dengan indah. Para tamu undangan yang merupakan pelayan mansion dan juga para pengawal, menikmati pesta majikan mereka.
"Aku sangat bersyukur bekerja di sini, walaupun hanya seorang pelayan, aku ada merasakan derajatku serendah itu karena rumah ini seakan surga bagiku." Ucap bibi Lia kepada teman pelayannya yang lain.
"Benar bibi Lia, kita memegang pekerjaan kita masing-masing, bagian loudry sendiri, cuci piring sendiri, merapikan rumah ini dua lantai dua orang yang berbeda dan semuanya menggunakan alat canggih, kudu ditungguin aja tuh mesin yang ngerjain kita hanya merapikannya saja." Ucap pelayan Neneng.
"Begitu pun dengan dua chef yang kerja di sini, semua olahan makanan yang akan di masak, sudah di siapin dalam keadaan sudah bersih oleh tiga orang pelayan yang membantu mereka. Jadi tidak ada yang begitu kelihatan lelah melayani majikan kita." Ucap bibi Lia.
"Tapi lucu juga ya, kita yang siapin terus kita yang melayani diri kita sendiri di pesta ulang tahun nona Rhihana. Belum lagi makanan yang kita makan ini adalah makanan untuk tamu istimewa yang berkelas tinggi bukan untuk kelas kita." Ucap Andin.
"Itu membuktikan bahwa majikan kita memperlakukan kita sama derajatnya dengan para relasi perusahaan milik mereka." Ucap Bibi Rani.
Usai ngobrol dengan Roby dan nenek Yati, Rhihana menghampiri para tamunya karena sudah membuat acaranya sangat meriah hari ini. Rhihana bicara di atas lantai dua, dekat tangga yang ada di ruang keluarga itu.
"Assalamualaikum semuanya! saya mengucapkan terimakasih atas terlaksananya acara kejutan pesta ulang tahun untuk saya hari ini.
Terimakasih atas pelayanan kalian yang sudah membantu saya dan keluarga kecil saya dalam kurun waktu tiga tahun ini. Semoga kalian nyaman bekerja dengan saya dan semoga kalian puas dengan upah yang saya berikan. Jika ada keluhan atau pun kepentingan mendesak yang tidak bisa dicover oleh kalian, silahkan hubungi saya atau nenek Yati, insya Allah kami akan membantu kalian untuk menyelesaikannya.
Tolong jangan merasa sungkan dengan urusan kalian yang sangat urgent karena kita disini adalah keluarga. Sampaikanlah dengan santun tanpa ada kekerasan karena saya tidak ingin ada yang mengeluh dengan cara yang tidak pantas misalnya, tahu-tahu sudah ngamuk atau ngambek dan berani mengancam keluarga saya.
Jika kalian melakukan itu, saya tidak segan menyingkirkan kalian dari mansionku."Ucap Rhihana sambil memperhatikan wajah para pelayan dan sebagian pengawalnya.
"Tidak ada keluhan dari kami nona muda, karena keluarga ini sangat baik pada kami, memperlakukan kami sama seperti keluarga, itu sudah membuat kami sangat dihargai nona Rhihana." Ucap bibi Lia.
"Baiklah sekarang sudah malam kita akhiri pesta ini dengan membaca hamdalah." Ujar nenek Yati.
__ADS_1
Pesta itu berlalu, para pelayan membersihkan lagi semuanya dan mengatur kembali sofa dan hiasan yang ada di ruang keluarga itu pada tempatnya.
Tania di bawa ke kamarnya karena sudah tidur sejak tadi. Begitu pula Rhihana dan Roby melanjutkan pesta mereka di arena tempur yang paling empuk untuk mendapatkan hadiah dari sang suami berupa surga dunia yang memberikan kenikmatan tiada tara.