SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
36. KETAHUAN


__ADS_3

Tuan Robert yang sudah mengetahui Nyonya Arimbi adalah ibu dari Roby. Seorang wanita yang sangat ia cintai di masa mudanya. Saat itu, ia yang sudah berhasil memisahkan Tuan Fernandez dan Nyonya Arimbi dan ingin menikahi wanita itu, malah harus menelan pil pahit, karena Nyonya Arimbi dalam keadaan hamil dan ia meminta wanita itu mengugurkannya karena ia hanya mencintai Arimbi bukan anaknya Arimbi.


Karena niatnya yang tidak kesampaian saat itu, membuat dirinya tidak ingin menikahi wanita manapun karena cintanya hanya pada Arimbi seorang.


"Arimbi... Arimbi, usiamu boleh tua sayang tetapi kecantikanmu tidak pernah pudar dengan berlalunya waktu. Malah kecantikanmu terawat dengan sangat baik." Tuan Robert bermonolog. Hatinya seketika hancur mengenang kembali kisah asmaranya yang hanya sekejap saja dengan nyonya Arimbi.


"Jack!" Basmi semua keluarga itu tanpa terkecuali!" Titahnya pada anak buahnya.


"Baik bos, siap!" Ujar Jack singkat.


Jack hendak meninggalkan ruang kerja bosnya, namun langkahnya terhenti karena tuan Robert memanggilnya lagi.


"Tunggu!" Jika kamu gagal, ancamanku kali ini akan berlaku. Keluargamu yang mati ditanganku atau keluarga Roby dan juga anak laknat itu yang mati ditanganmu atau anak buahmu, aku tidak mau mendengar kata gagal." Ujar Tuan Robert kepada anak buahnya dan menendang tubuh Jack hingga terpental.


Jack pun langsung berlari dan membuka pintu itu untuk menyelamatkan diri dari amukan Tuan Robert yang saat ini dilanda emosi jiwa.


Ia harus berhadapan lagi dengan cerita masa lalunya yang sudah ia kubur dalam relung hatinya terdalam.


Di Denpasar Bali, Indonesia. Keluarga Roby sudah tidak berada di sana. Nenek Yati yang sudah bisa membaca pergerakan musuhnya, meminta keluarga Roby untuk berpindah liburannya ke Manado Sulawesi Utara.


Keluarga itu yang sudah paham dengan instruksi dari nenek Yati, menuruti nenek itu.


Pesawat milik Rhihana, diambil alih oleh nenek Yati sedangkan pesawat milik Tuan Fernandez mengangkut keluarga itu menuju kota yang terkenal dengan masakan dabu-dabu dan bubur Manado.


Mereka pun menikmati liburannya dengan melihat taman Bunaken Manado yang terkenal dengan keindahan lautnya.


Keadaan Rhihana yang sudah lebih baik saat ini, membuat keluarga itu sangat senang. Keceriaan putrinya Tania mengundang tawa mereka yang suka berbicara seperti orang dewasa.


"Ayah, kalau jalan tidak usah terlalu dekat dengan bunda," ucap Tania yang sangat cemburu jika ayahnya terlalu dekat dengan Rhihana.


"Bunda kan lagi hamil sayang, ada ade bayi di dalam perut bunda, nanti kalau bunda jatuh gimana." Ujar Roby yang lagi merayu putrinya yang lagi ngambek.


"Oh jadi ayah tidak takut kalau Tania jatuh." Tania mengomeli ayahnya.

__ADS_1


"Yah jangan sampai jatuh dong, sayang!" Tania kan sudah besar, sudah bisa jaga diri." Ujar Roby.


" Emang nggak kebalik Ayah? .... yang sudah besar itu bunda bukan Tania." Tania masih saja protes.


"Tania sama opa saja ya, opa bisa jaga Tania." Ujar Tuan Fernandez.


Baru saja mereka sedang bersenda gurau di salah satu restoran di Manado, tiba-tiba ada peluru yang mengenai gelas yang ada dihadapan mereka.


Seketika, Sarah dan anak buahnya langsung mengamankan keluarga Roby. Tania yang mendengar amukan itu, begitu syok dan ingin menangis namun mulutnya ditutup sama opanya.


"Tania cantik, sekarang kita lagi main petak umpet, jika Tania menangis, kita akan ketahuan oleh musuh. Tania tidak maukan kita ketahuan oleh musuh?" Ucap Tuan. Fernandez yang mencoba melindungi cucunya sambil berlindung di bawa meja.


Tania mengangguk dengan cepat, Roby menyelamatkan dua wanitanya. Tangan ibunya dan istrinya di gandeng bersama berlari cepat menuju mobil.


Sarah dan lima orang anak buahnya menghalau musuh untuk melindungi keluarga itu.


"Cepat naik ke mobil Tuan!" Titah Sarah seraya memberikan ranselnya ke Roby yang isinya rompi anti peluru yang sengaja dibawa olehnya.


Mobil yang dikendarai oleh Roby membawa keluarganya menuju hotel tempat mereka menginap. Beruntunglah restoran itu sudah disewa oleh mereka untuk berjaga-jaga agar tidak menganggu pengunjung lain jika mereka diserang.


"Apa yang aku kuatirkan Sarah, akhirnya terjadi juga," ucap nenek Yati yang sedang bermain dengan kamera drone miliknya untuk melihat keberadaan musuh.


"Ternyata jadi orang kaya itu nggak enak ya nek, ke mana-mana dikejar musuh." Seru Sarah.


"Lebih nggak enak lagi, jadi orang miskin Sarah, mau makan yang enak nggak bisa, mau pergi ke luar negeri hanya dalam mimpi, mau sekolah tinggi kudu pintar supaya dapat bea siswa, enaknya di mana?" Coba orang kaya, lagi setress belanja ke mall, lagi bosan keliling Eropa. Mau sekolah tinggi nggak perlu putar otak, semuanya sudah tersedia." Ujar nenek Yati untuk mengubah manset Sarah menilai kehidupan berdasarkan jenjang sosial.


"Tapi jadi orang kaya itu terlalu beresiko nek." Sarah masih membantah pernyataan nenek Yati.


"Lebih beresiko lagi! dari pada harus utang sana sini, nipu sana sini, belum lagi dikejar rentenir atau ditindas orang lain karena kita miskin." Ujar nenek Yati.


"Ah nenek, emang miskin itu dosa?" Tanya Sarah.


"Miskin itu karena orang yang malas, miskin memang nggak salah tapi fakir yang lebih baik karena Allah itu menjadikan manusia itu kaya dan cukup. Itu ada dalam Al-Qur'an.

__ADS_1


"Ya sudah nenek Sarah kalah deh kalau berdebat sama nenek. Sarah mau lihat dulu keadaan nona Rhihana dan keluarganya." Sarah meninggalkan nenek Yati yang masih mempelajari pergerakan musuhnya.


Di kamar Nyonya Arimbi, keluarga itu berkumpul jadi satu. Trauma yang dirasakan oleh Rhihana kembali menghantuinya. Biasanya gadis ini kuat, mungkin kebawa hamil, membuat dirinya gampang terserang panik.


Rihanna masih memeluk Roby de tubuh gemetar, sementara Tuan Fernandez menghubungi para anak buahnya untuk bekerja sama dengan anak buahnya Rhihana.


Nyonya Arimbi menidurkan cucunya Tania.


"Apakah kamu mau kita ke kamar kita?" Sarah sudah berdiri di depan pintu kamar kita, jadi sebaiknya kita pindah!" Roby pamit kepada ibunya.


"Apakah nona muda baik-baik saja?" Tanya Sarah ketika melihat Roby menggendong istrinya.


"Dia hanya syok Sarah. Tolong hubungi saya kalau ada apa-apa." Ucap Roby, ketika Sarah membuka pintu kamar hotel untuknya.


"Baik Tuan!" Ucap Sarah kembali ke tempatnya untuk berjaga-jaga jika mendapat serangan.


Nenek Yati meminta satu lantai hotel itu tidak boleh menerima pengunjung. Dan pintu lift tidak boleh sampai lantai mereka karena berada paling atas gedung itu.


"Sebaiknya kita naik helikopter untuk sampai bandara, jangan menggunakan mobil atau jalan darat untuk sampai bandara." Ucap Tuan David Fernandez kepada Roby melalui ponselnya.


"Siap Daddy, terimakasih." Ucap Roby.


Dua hari mereka bertahan di hotel, menunggu situasi aman dan terkendali sampai bala bantuan datang dari Spanyol. Rhihana yang saat ini sedang hamil muda, di prioritaskan terlebih dulu di evakuasi bersama Tania dan Nyonya Arimbi. Sementara Roby dan ayahnya akan menunggu kedatangan helikopter berikutnya.


Sambil menunggu kedatangan helikopter berikutnya, Roby dan ayahnya saling berdiskusi untuk mencari solusi agar bisa membunuh Tuan Robert.


"Ayah jika kita bisa membunuh bajingan itu, hidup keluarga kita akan aman" Ucap Roby.


"Daddy tidak akan tinggal diam sayang karena saat ini, ayah tidak mau kehilangan kamu dan keluarga kecilmu." Ungkap Tuan David Fernandez sangat sedih mengingat ia baru bertemu dengan putranya. Jika terjadi sesuatu pada putranya, ia tidak memiliki lagi penerusnya.


"Roby, jika kamu tidak keberatan, tolong kunjungi daddy dan mommy kamu ke Spanyol. Kamu memiliki banyak harta yang diwarisi oleh kakekmu. Sebelum ia meninggal dunia, ia meminta kepada kami untuk mencarimu dengan cara apapun agar bisa menemukanmu lagi nak. Walaupun saat itu kami sudah pasrah karena diantara anak-anak yang di bawa oleh orang yang kami kirim untuk mencarimu, ternyata tidak ada kecocokan sama sekali DNA milik mereka dengan kami.


Jadi tolong jangan salah paham kalau kami tidak mencarimu sayang. Kami sudah berusaha sebaik mungkin hanya saja nasib baik belum berpihak kepada kami." Ujar Tuan David Fernandez.

__ADS_1


"Tidak usah merasa bersalah seperti itu Daddy karena aku sudah mengetahui semuanya apa yang pernah kalian lakukan untuk menemukanku." Ucap Roby menghibur ayahnya.


Tidak lama kemudian, helikopter untuk mereka datang menjemput Roby dan ayahnya untuk di bawa ke bandara setempat.


__ADS_2